Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 31 : Pertunjukan Malam


__ADS_3

"Manusia? Manusia yang menjelma menjadi seekor harimau? Apakah itu mungkin? Ini terdengar tidak masuk akal. Sangat tidak mungkin!" ucap Enzi.


"Apa yang tidak mungkin? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Lihatlah Ghiwa. Sosok serigala yang dapat berubah menjadi manusia." terang Kaisar Quelle.


"Itu beda cerita, karena perubahan yang terjadi pada Ghiwa, engkaulah yang melakukannya. Kalau engkau melakukan suatu hal yang tidak masuk akal menjadi suatu hal yang nyata, aku percaya. Karena aku sudah terbiasa melihat engkau melakukannya. Sedangkan kasus harimau putih? Apakah itu termasuk ulah dewa?" tanya Enzi.


Kaisar Quelle menjawab, "Bukan, itu bukanlah ulah dewa. Apa yang terjadi pada harimau putih itu adalah murni kecelakaan. Atau bisa dikatakan suatu insiden yang berada di luar dugaan maupun di luar kendali."


Enzi tampak semakin bingung tatkala mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Kaisar Quelle.


"Aku semakin tidak mengerti. Hehehe...." ucap Enzi.


Kaisar Quelle menerangkan lagi, "Pada dasarnya, manusia memiliki bakat yang berbeda. Bahkan ada beberapa orang yang berbakat, memiliki kemampuan istimewa sejak lahir. Seperti kemampuan melihat masa depan, kemampuan berbicara dengan hewan, bahkan kemampuan berupa insting dan kekuatan yang menyerupai hewan. Untuk kasus harimau putih, dia adalah manusia yang sejak lahir memiliki kemampuan seperti harimau. Seperti kuku-kuku jarinya yang secara tiba-tiba menjadi tajam, atau kedua taring giginya yang tiba-tiba memanjang. Selama bertahun-tahun, dia mengasah kemampuannya. Terus berlatih menjadi kuat, dengan memanfaatkan kemampuan khusus yang ia miliki. Akan tetapi, ia mengabaikan hal penting dalam peningkatan kemampuannya ini."


Enzi berbaring di atas dipan yang terbuat dari bambu. Menatap langit-langit rumah, berusaha membayangkan segala apa yang Kaisar Quelle jelaskan.


"Apakah dalam meningkatkan suatu kemampuan khusus ada suatu hal penting yang tidak boleh diabaikan? Apakah proses pelatihan yang diterapkannya ini berbeda dengan apa yang telah aku jalani selama ini?" tanya Enzi.


Kaisar Quelle berdiri di dekat kolam, melihat jauh ke depan melalui layar permukaan air kolam. "Tidak jauh berbeda. Sejak awal proses latihan tenaga dalam, aku selalu mengingatkanmu untuk dapat mengendalikan emosi danĀ berpikir tenang. Itulah hal penting dalam mempelajari teknik tenaga dalam. Begitu pula dengan meningkatkan kemampuan khusus. Dalam meningkatkan kemampuan khusus, seseorang harus mampu mengendalikan kemampuan khusus yang ia miliki dan terus mempertahankannya untuk tetap berada di bawah kendali, agar kemampuan khusus yang dia miliki tidak mengendalikan akal pikirannya sendiri. Itulah yang terjadi pada harimau putih itu. Karena dia mengabaikan hal penting itu, maka kemampuan khususnya meningkat di luar kendali dan mengubah manusia itu menjadi seekor harimau putih yang liar."


"Oh~ Aku mengerti sekarang. Ternyata seperti itu permasalahannya!"


Kaisar Quelle bertanya "Jadi engkau sudah tahu apa yang harus engkau lakukan sekarang?"


"Tentu saja." jawab Enzi penuh percaya diri. "Jadi tugasku sekarang adalah membantu orang itu mengendalikan kemampuan khususnya bukan? Karena aku berpikir, kalau aku meminta para warga, prajurit, dan pendekar untuk menghentikan perburuan mereka. Maka itu suatu hal yang tidak mungkin. Bahkan, kemungkinan buruknya, aku akan menerima hukuman karena telah dianggap menentang titah raja! Bukankah begitu?"


"Yap! Benar sekali! Engkau semakin cerdas sekarang." sanjung Kaisar Quelle kepada Enzi.


"Hehehe.. Tentu saja, kan engkau yang mengajarkanku selama ini." ucap Enzi tersenyum manis.


...............


Di tengah hutan yang jaraknya tidak jauh dari kota Rajatapura, sekumpulan pendekar berjalan di seputar area ditemukannya mayat-mayat korban pembunuhan yang dilakukan oleh harimau putih.

__ADS_1


"Sebaiknya kita berpencar!" kata salah satu pendekar dengan senjata celurit. "Kita akan berkumpul kembali di peternakan pada saat matahari mulai tenggelam!"


"Baik!" jawab pendekar lainnya secara serempak.


Dalam perburuan harimau putih, ada beberapa pendekar yang hanya berlari cepat dalam menyusuri area hutan yang sangat licin. Ada juga beberapa pendekar yang melompat dari pohon ke pohon, dengan jarak lompatan yang cukup dekat sehingga terkesan lambat.


Sampai pada akhirnya, ada seorang pendekar dari kelompok tersebut yang berhasil tiba di tepi sungai.


"Sungai? Ya, sungai! Seekor harimau juga butuh air untuk diminum! Tidak salah lagi! Berdasarkan lokasi, harimau itu pasti sempat melintasi area ini!" kata pendekar dengan senjata golok di tangannya.


Sang pendekar terus berjalan menyusuri tepi sungai. Sampai pada akhirnya, dia bertemu dengan seorang pria berpakaian kulit rusa yang tengah membasuh muka.


Sang pendekar mendekati pria berpakaian kulit rusa dan memberanikan diri untuk bertanya padanya.


"Hei pria tua! Apakah engkau tinggal di sekitar area ini?"


Pria berpakaian kulit rusa menolehkan pandangan, menatap diri sang pendekar yang berdiri di dekatnya dengan tatapan tajam.


Sang pendekar merasa tersinggung dengan ucapan yang dilontarkan oleh pria berpakaian kulit rusa kepadanya.


Sang pendekar menghunuskan golok dan berkata "Jahanam! Berani-beraninya engkau mengancamku! Apakah engkau tidak tahu siapa aku?"


"Aku tidak peduli siapa dirimu! Namun yang pasti, engkau harus enyah dari sini, sekarang juga!" perintah pria berpakaian kulit rusa.


"Sial! Tampaknya aku harus memberimu pelajaran!" sang pendekar mengayunkan pedang ke arah pria berpakaian kulit rusa. "Tamatlah riwayatmu! Heyaaaaa!!!"


Whoooosssh!!!


Sang pria berpakaian kulit rusa berhasil menghindari serangan dengan mudah.


"Sial!" sang pendekar tampak semakin kesal. "Aku akan membunuhmu! Haaaaa!!!"


Sang pria berpakaian kulit rusa bergerak dengan cepat, menusuk jantung sang pendekar dengan kukunya yang panjang, dan meremasnya dengan jari-jari tangan.

__ADS_1


Sang pendekar tewas seketika.


Pria berpakaian kulit rusa itu membuang mayat sang pendekar ke sungai, dan membiarkan mayatnya menjadi santapan ikan-ikan yang menghuni di dalamnya.


"Tempat ini sudah tidak aman lagi! Tampaknya aku harus segera pindah dari sini!" pikir pria berpakaian kulit rusa.


Pria berpakaian kulit rusa itu adalah pendekar harimau dari gunung salak, wujud asli harimau putih.


Hari menjelang petang, para pendekar keluar dari hutan. Berkumpul di ladang peternakan, tempat yang memungkinkan bagi harimau putih untuk datang mencari makanan.


Pendekar celurit menghitung jumlah pendekar yang hadir di sana.


"Kurang satu orang! Siapa yang belum kembali?" tanya pendekar celurit.


Para pendekar menolehkan pandangan, ke kanan dan ke kiri. Mencari tahu, siapa rekan mereka yang belum kembali dari perburuan.


"Pendekar tangan golok belum kembali! Tampaknya ia masih berada di dalam hutan! Kita harus menjemputnya!" kata pendekar berkumis.


Pendekar celurit mencegah dengan suara lantang "Jangan! Itu berbahaya! Hewan-hewan buas akan menampakkan dirinya di tengah hutan saat malam menjelang!"


Pendekar berkumis bertanya, "Lantas bagaimana? Apakah kita akan membiarkan dia menjadi santapan empuk bagi hewan-hewan ganas itu?"


"Dalam kasus ini, lebih baik kita mengorbankan satu orang, dibandingkan dengan harus mengorbankan banyak orang!" jawab pendekar celurit dengan tegas.


Matahari tampak tenggelam di balik tirai malam. Bintang-bintang di langit menampakkan sinarnya dari kejauhan.


Dikala malam datang, tubuh pendekar harimau dari gunung salak berubah menjadi seekor harimau putih yang ganas.


Saat berubah menjadi seekor harimau putih, ia tidak bergerak berdasarkan akal pikirannya. Melainkan bergerak berdasarkan insting hewan yang kuat.


Insting hewannya merasakan, keberadaan sekumpulan manusia di daerah peternakan.


Merasakan hal itu, harimau putih secara spontan berkata "Waktunya pertunjukan malam!"

__ADS_1


__ADS_2