Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 18: Satu Raga Dua Jiwa


__ADS_3

Para bandit berhenti melakukan pengejaran, membiarkan para pedagang tewas diterkam hewan buas di tengah hutan.


Di dekat perapian, Enzi masih duduk berlutut memeluk tubuh sang ayah. Memeluk erat dan menangis, meratapi kepergian sang ayah.


Kenangan bersama sang ayah di masa lalu, terus terbayang di benaknya. Terbayang dan terus terbayang, seakan ia tengah menyaksikan rekaman video-video klasik dengan alur cerita yang mampu menderaikan air mata.


Enzi merebahkan tubuh sang ayah.


Dalam posisi tangan mengepal, Enzi berdiri.


Mengeluarkan belati perak dari balik kain yang melilit pinggang.


Dengan segenap keberanian, Enzi berlari ke arah sekumpulan bandit.


"Huuuaaaa!!!!" Enzi mengaum seperti seekor kucing kecil yang tengah mengamuk diantara kerumunan hewan buas.


Enzi menyerang bandit secara membabi buta, dengan gerakan tangan tak beraturan. Tanpa titik target yang jelas, hanya sebatas serangan yang penuh dengan emosional semata.


Para bandit berhasil menghindari serangan Enzi dengan mudah. Salah seorang dari mereka memukul punggung Enzi dengan gagang golok, dan menendangnya hingga terpental jauh membentur dahan pohon yang kokoh.


"Cough!!!" Enzi terluka parah, dirinya jatuh tersungkur di bawah pohon yang tinggi menjulang.


Seorang bandit berdiri di dekat Enzi, dia mencekik leher Enzi dan membenturkan tubuh Enzi ke dahan pohon.


Enzi memberontak berusaha melepaskan diri.


Merasa kesal, sang bandit menusuk perut Enzi dengan golok. Menusuk dalam, hingga mata golok menembus masuk ke dalam dahan pohon yang berdiri kokoh di belakang Enzi.


"Cough...Cough... Cough..... Ughh......hh..."


Enzi berusaha bertahan...


Bertahan untuk hidup.


Namun sayang, tubuhnya yang lemah tidak sebanding dengan tekadnya yang kuat.


Kedua mata Enzi perlahan tertutup dan ia tertidur pulas di dahan pohon dalam kondisi perut terpaku sebilah golok.


..............


Dari atas langit, jiwa Kaisar Quelle turun ke bumi. Mencari raga manusia yang sudah dalam keadaan sekarat ataupun tidak bernyawa untuk dijadikan raga barunya. Hingga pada akhirnya, dia menemukan beberapa raga korban perampokan yang terkapar di tengah hutan.


Kaisar Quelle mencari raga yang paling muda untuk dijadikan raga barunya. Semakin muda suatu raga, maka semakin baik kualitasnya untuk diinangi. Raga yang diinangi, akan terus memiliki wujud yang sama meski usia telah menua.


Kaisar Quelle memutuskan untuk memilih raga seorang anak muda korban perampokan yang sedang sekarat di tengah hutan. Raga seorang pemuda bernama Enzi yang baru saja ditikam dengan golok hingga dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri.


"Pemuda ini? Dia memiliki raga yang ideal untuk aku tempati." Kaisar Quelle melihat secara jelas kondisi raga Enzi dengan keadaan golok yang bersarang di perut, hingga golok itu menancap dalam di dahan pohon.


Dengan kondisi yang seperti itu, Kaisar Quelle merasa yakin, bahwa jiwa pemilik raga itu telah beristirahat dengan tenang.

__ADS_1


Jiwa Kaisar Quelle masuk ke dalam tubuh Enzi tanpa ragu.


Crystal energi kehidupan Kaisar Quelle berhasil bersarang di dahi Enzi.


Seluruh luka, perlahan lenyap dari tubuh. Golok yang bersarang di perut, secara perlahan terlepas dengan sendirinya, dan jatuh ke permukaan tanah.


Tubuh Enzi melayang di udara.


Segala informasi dan pengetahuan yang dimiliki Enzi, diserap dengan baik oleh Kaisar Quelle. Termasuk ilmu perdagangan, bahasa, geografis, dan segala ingatan yang dimiliki oleh Enzi sejak masih dalam buaian hingga berada dalam kondisi kritis di tengah hutan yang gelap itu.


Kaisar Quelle membuka mata, memandangi area sekitar.


Tidak jauh dari posisinya, ia melihat sekumpulan bandit yang menyerang Raju secara beruntun.


Raju tampak lelah dan terluka.


Kaisar Quelle menapakkan kaki di bumi untuk pertama kali. Dia bergerak melangkah, menghampiri sekumpulan bandit yang tengah mengepung Raju.


Raju melirikkan pandangannya ke arah Kaisar Quelle yang berada di dalam tubuh Enzi.


Kedua bola mata Kaisar Quelle dan Raju saling bertemu, sehingga mereka berdua saling menatap.


Pada saat itulah Kaisar Quelle membaca isi pikiran Raju.


"Pria ini, tampak berada dalam dilema. Ia ingin aku lari dari tempat ini, namun ia cemas akan keberadaan hewas buas penguasa hutan ini. Dia ingin aku berada dalam pengawasannya, namun ia khawatir jika ia tidak dapat melindungiku. Berdasarkan dari apa yang ada di pikirannya, aku rasa dia orang baik. Maka tidak ada salahnya jika aku membantunya."


Beberapa bandit bertekad menghabisi Kaisar Quelle yang berdiri tepat di hadapan Raju.


Kaisar Quelle menggerakkan jari-jemari ke atas. Seketika itu juga, sekumpulan bandit yang ada di sekelilingnya melayang di udara.


"A...aa..pa yang terjadi?" para bandit bertanya-tanya. "Kenapa tiba-tiba saja tubuh kita terbang sendiri?"


"Jangan-jangan? Ini ulah hantu hutan ini?!" kata salah satu bandit.


"Bicara apa kau ini?! Di dunia tidak ada yang seperti itu! Berhentilah beromong kosong!" ketus ketua bandit.


Kaisar Quelle menggerakkan jari jemari ke bawah, sekumpulan bandit jatuh tersungkur dengan suara yang begitu keras ke permukaan tanah.


Duaghh!!


Duaghh!!


"Ughh..."


Kaisar Quelle berjalan menghampiri Raju yang terluka.


Raju melangkah mundur dan bertanya-tanya akan kejadian yang tengah terjadi di depan kedua matanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah itu ulah penunggu hutan ini?" Itulah pertanyaan yang terlintas di benak Raju.

__ADS_1


"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Kaisar Quelle sembari mengulurkan tangannya kepada Raju.


Raju terkejut melihat Enzi yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya. Tanpa mengetahui bahwa sosok yang ada di hadapannya adalah sosok Kaisar Quelle yang menempati raga Enzi.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Raju. "Cepat sembunyilah ke tempat yang aman!" sambungnya.


"Aku di sini untuk menyelamatkanmu."


"Apa? Menyelamatkanku? Apakah engkau sedang bercanda nak?"


Ketua bandit bangkit dan menembakkan jarum beracun ke arah Kaisar Quelle.


Swiiiing!!!


Jarum-jarum beracun yang baru saja ditembakkannya itu tiba-tiba saja berhenti di udara saat hampir menyentuh belakang leher Enzi. Jarum-jarum beracun berputar arah, dan melesat dengan sangat cepat ke arah ketua bandit.


Jarum beracun menusuk masuk ke dalam jantung ketua bandit.


"A...aargghh..." Ketua bandit menjulurkan tangan, tidak kuasa membendung rasa sakit.


Ketua bandit tewas seketika.


Gerombolan bandit yang tersisa, menyerang Kaisar Quelle secara bersama-sama.


"Huaaaaa!!!!"


Kaisar Quelle menggerakkan jari-jemari ke atas, gerombolan bandit terbang melambung tinggi di udara.


Kaisar Quelle mengepalkan jari, tubuh gerombolan bandit remuk di udara.


Kaisar Quelle mengayunkan jari-jemari ke bawah, tubuh gerombolan bandit berjatuhan dalam keadaan tak bernyawa.


Raju terperanga seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat oleh kedua matanya.


Kemampuan luar biasa yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


Selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja Kaisar Quelle terbatuk. Terbatuk untuk pertama kalinya setelah sekian lama, walau dirinya sedang tidak terluka.


"Ughh... Cough.. Cough..." Kaisar Quelle terbatuk mengeluarkan darah.


"Tubuh ini masih terlalu lemah! Aku harus meningkatkan kekuatan fisik dan energi dari tubuh ini agar mampu menahan kekuatanku!" gumam Kaisar Quelle dalam hati.


Saat berpikir akan hal yang seperti itu, tiba-tiba saja ia melihat jiwa Enzi yang tertidur lelap di bawah kakinya, tepat di ruang jiwa tempat jiwa mereka berdua bersemayam.


"Bocah ini? Kenapa dia masih ada di sini?" Kaisar Quelle membungkuk, mengelus jiwa Enzi.


Enzi terbangun, ia membuka mata, melihat jiwa Kaisar Quelle yang tengah berdiri di hadapannya.


Kedua bola mata mereka saling bertemu, sehingga mereka berdua saling menatap dalam waktu yang cukup lama.

__ADS_1


__ADS_2