Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya

Kaisar Dewa Dalam Tubuh Saudagar Kaya
Chapter 7: Ruang Rahasia


__ADS_3

Api meteor terus berjatuhan, menghujani Dungeon Seron. Menghancurkan seisi ruang, membakar segalanya. Buff light vortex yang membaluti tubuh Dewi Alkyna, mampu membuat Sang Dewi tak merasakan rasa lelah maupun luka sedikitpun, meski dirinya telah mengeluarkan banyak energi dan menerima serangan fisik dari raja zombie. Walaupun light vortex memiliki efek buff yang luar biasa, namun buff dari skill tersebut hanya bisa bertahan selama 70 menit saja.


"....Haahhh.... haaahhh...... haaahhh..."


Raja zombie tampak kelelahan. Begitu banyak energi yang telah ia kerahkan. Sudah berulang kali dia mengeluarkan serangan dan menggenerasikan tubuh yang sangat menguras energi kehidupan.


Tanpa memberi celah untuk beristirahat, Dewi Alkyna terus menyerang raja zombie secara bertubi-tubi.


"Sial! Pusaran gelembung cahaya yang ada di sekeliling tubuh dewi itu benar-benar menggangguku! Aku harus mencari cara untuk menghancurkan pusaran cahaya itu terlebih dahulu!" gumam raja zombie.


Di dalam pusaran light vortex, tubuh Dewi Alkyna meliuk-liuk indah di udara. Kedua kakinya menari-nari, seakan sedang berdansa dalam alunan melody yang indah. Dari gerakannya yang indah itu, muncul kelap kelip cahaya aurora yang mengelilingi tubuh Dewi Alkynia.


Penampilan Dewi Alkyna secara perlahan berubah. Rambutnya yang terurai, kini tampak tertata rapih dalam balutan mahkota berukuran kecil. Gaun pesta yang telah usang, berubah menjadi gaun indah berwarna biru muda berkilau dengan aksesoris bunga di sekelilingnya. Pada bagian punggungnya, terdapat sayap menyerupai sayap kupu-kupu dengan perpaduan warna hitam, biru, dan ungu transparan.


Crystal energi kehidupan yang ada pada kening Dewi Alkyna tampak bersinar terang.


Dewi Alkyna menampilkan wujud aslinya sebagai Ratu Dewi.


"Raja zombie, betapa banyak kejahatan yang telah engkau perbuat selama ini. Aku, Dewi Alkyna, akan menghentikan segala tindakanmu. Meski menghabisimu tidaklah cukup untuk menebus segala dosamu!"


Dewi Alkyna melapangkan kedua tangan, mengumpulkan energi, memusatkan seluruh energi pada satu titik.


Awan hitam muncul di langit dungeon, kilatan petir berwarna merah menyambar, bangunan dungeon bergetar, angin tornado berputar di penjuru ruang.


"Holy tempest!" Badai suci dengan tingkat kekuatan yang sangat tinggi turun dari awan hitam, menghujam tubuh raja zombie.


Dengan seluruh energi yang tersisa, raja zombie berusaha menahan serangan badai suci yang dikerahkan oleh Dewi Alkyna.


"Huaaahhhhh!!!"


Blar! Blar! Blarrrrrr!!!


..........


Sementara itu, di suatu tempat lain dungeon Seron tingkat 1000


Kaisar Quelle terbang mengelilingi seluruh ruang. Mencari keberadaan Dewi Ignia.


Di seluruh ruang, Kaisar Quelle hanya menemukan tulang belulang. Tidak ada jejak keberadaan Dewi Ignia, bahkan aura dari pancaran energi.


Hati Kaisar Quelle semakin merasa cemas. Meski begitu, dia terus berupaya untuk berpikir tenang.


"Vision!" Kaisar Quelle menggunakan teknik peningkatan akurasi pandangan. Dengan menggunakan teknik ini, ia dapat melihat objek tersembunyi dan tak kasat mata.


Pandangan di sekitar tampak begitu terang, layaknya sinar cahaya yang menyorot masuk ke dalam dasar lautan.


Di sepanjang jalan mata memandang, Kaisar Quelle menemukan banyak sekali objek tersembunyi yang tidak dapat dilihat oleh kasat mata. Objek tersembunyi seperti pesan rahasia, senjata pusaka, buku berisi teknik terlarang, dan buku berisi teknik strategi perang. Semua objek itu disembunyikan secara terpisah di portal-portal kecil dimensi ruang yang hanya bisa dilihat dengan kekuatan vision.


Kaisar Quelle mengambil semua benda-benda berharga itu. Karena dia menyakini, bahwa benda-benda itu sangat berharga dan berguna di kemudian hari.


Satu persatu portal, Kaisar Quelle telusuri. Sampai pada akhirnya, ia menemukan portal rahasia yang berukuran sangat besar dan berbeda dari portal-portal rahasia yang ditemui sebelumnya.


Kaisar Quelle menatap portal rahasia yang berukuran besar itu sembari bertanya-tanya "Apakah mungkin dia ada di balik portal ini? Semoga kali ini aku berhasil menemukan dia secepatnya."


Kaisar Quelle memasuki portal rahasia berukuran besar.


Portal yang ia masuki, terhubung dengan suatu ruang yang berasal dari dimensi berbeda. Ruang dari suatu dunia yang memiliki permukaan daratan berupa bebatuan terjal, lahar panas yang terus menyembur. Gelap, tanpa cahaya. Langit-langitnya berupa angkasa raya yang luas, di angkasa raya terdapat batu-batu meteorit yang melayang tak beraturan,  bertebaran di atas sana dalam jumlah yang banyak.


Tap! Tap! Tap!


Kaisar Quelle melompat dari batu meteorit satu ke batu meteorit yang lain.


Mencari dan terus mencari.


Saat di tengah pencarian, tiba-tiba saja ada makhluk aneh yang menyerang.


Swing!


Swing! Swing! Swing!


Makhluk dengan kepala yang sangat besar, sebesar kapal pesiar. Tanpa tubuh, tanpa tangan, dan tanpa kaki. Hanya kepala dengan rambut yang menyerupai selang gas. Masing-masing rambut memiliki kepala menyerupai hewan predator yang ganas. Kepala dan rambutnya tampak seperti makhluk yang terbuat logam.


Swosh!!!! Swosh!!! Swosh!!!


Makhluk aneh itu menggunakan rambut-rambutnya sebagai senjata untuk menyerang. Senjata pembunuh yang telah banyak memakan korban.


Kaisar Quelle terus bergerak maju dan menghindari serangan.


Maju dan terus maju mencari keberadaan Dewi Ignia.

__ADS_1


Makhluk aneh kepala besar tanpa tubuh terpancing emosi karena merasa diabaikan.


"Berani-beraninya kau mengacuhkanku!!! Terimalah ini...!!!" Makhluk aneh itu menembakkan sinar penghancur dari kedua matanya ke tubuh Kaisar Quelle.


Tanpa menolehkan pandangannya, Kaisar Quelle berkata "Berisik!" sembari menghempaskan sedikit auranya. Dalam sekejap mata, makhluk aneh itu hancur seketika. Hancur lebur hingga menjadi serpihan pasir logam yang tidak dapat menyatu kembali.


Tap! Tap! Tap!


Kaisar Quelle melanjutkan pencarian, menambah kecepatan gerak. Kecepatan gerak langkah kakinya menghancurkan batu-batu meteorit yang ia pijaki.


Sebuah bukit yang tinggi menjulang tampak dari kejauhan. Saat dilihat dari dekat, bukit itu terlihat seperti sebuah dungeon dengan pintu masuk menyerupai mulut monster yang menganga.


Tanpa ada penjagaan, tanpa terlihat adanya perangkap. Dungeon itu tampak biasa-biasa saja. Seperti goa layak huni yang bisa dimasuki kapan saja.


Kaisar Quelle berjalan memasuki dungeon dengan penuh waspada.


"Tampaknya ada suatu hal yang tidak beres di tempat ini. Tidak ada penjagaan, tidak ada jebakan. Sungguh aneh." Kaisar Quelle terus melangkah maju sembari mengawasi keadaan sekitar. Dirinya selalu siap siaga untuk menghadapi segala serangan yang datang tiba-tiba.


Tak lama kemudian, Kaisar Quelle tiba di suatu ruang yang berukuran besar. Ruang gelap dan dingin. Permukaan lantainya membeku, di sekitar dinding ruangannya terdapat banyak lubang dan retakan yang telah ditutupi oleh bongkahan es.


Kaisar Quelle memegang dinding berlubang yang telah ditutupi bongkahan es seraya berkata "Tampaknya baru saja terjadi pertarungan di tempat ini."


Dug!


Tiba-tiba saja Kaisar Quelle merasakan pancaran energi yang sangat kuat.


"Pancaran energi ini?"


Selang beberapa saat kemudian, terdengar suara ledakan serangan yang menghantam permukaan lantai dungeon.


Blarrrr!


"Hawa pembunuh ditemukan! Delta siap menghancurkan!" Robot bernama Delta datang memberi sambutan.


Robot yang berasal dari langit Agret. Langit dari planet yang dihuni oleh para robot. Delta adalah salah satu raja dewa dari langit sana.


"Ice Dragon dimana? Ice Dragon dimana? Kemarilah, kemarilah. Delta butuh bantuanmu. Mari kita basmi dewa ini " Delta berteriak, memanggil seekor naga.


"Pancaran energi Ice Dragon! Sang penguasa es yang melegenda di langit Gloxinia! Kenapa dia ada di tempat ini?"


Seekor naga bertubuh silver berpadu biru es berdiri di hadapan Kaisar Quelle. Dalam sekejap mata sang naga menampakan wujudnya sebagai raja dewa dan bertekuk lutut di hadapan Sang Kaisar


"Mohon tenanglah Yang Mulia Kaisar, hamba tidak berani."


"Bagaimana dengan makhluk rongsokan itu? Apakah dia masih berniat untuk menghabisiku?"


Melihat pancaran aura energi milik Kaisar Quelle yang sudah berada jauh tinggi di atas Ice Dragon, robot Delta pun turut bertekuk lutut di hadapan Kaisar.


"Kalau begitu, kalian menyingkirlah dari pandanganku!" perintah Kaisar Quelle.


Ice Dragon dan Delta menyingkir dari pandangan.


Saat berjalan melintasi mereka, tiba-tiba saja Kaisar Quelle melemparkan pertanyaan. "Omong-omong, apakah kalian melihat seorang dewi tempat ini? Maaf, maksudku apakah kalian melihat Permaisuri Ignia di tempat ini?"


Ice Dragon dan Delta saling menatap.


Ice Dragon memberanikan diri menjawab pertanyaan.


"Soal itu...emmm, begini Yang Mulia, pada saat hamba berkunjung menemui Delta di langit Agret. Tiba-tiba saja hamba melihat portal kecil yang muncul di sana. Awalnya kami memasang kuda-kuda, mengantisapasi akan serangan dari balik portal. Namun tanpa diduga, kami mendengar suara minta tolong yang berasal dari dallam portal. Meski suara itu terdengar samar-samar." Ice Dragon menghentikan cerita dari kronologis kejadian yang baru saja dialami. Dia berhenti bercerita, karena takut akan amarah murka Kaisar Quelle jika ia melanjutkan cerita tersebut.


"Lanjutkanlah. Lalu apa yang terjadi dan siapa sosok yang meminta pertolongan itu? Apakah dia istriku, Permaisuri Ignia?"


Ice Dragon memberanikan diri melanjutkan cerita dari kejadian yang baru saja dia alami.


.............


Beberapa saat sebelumnya....


Langit Agret


"Delta, kau sudah berjanji kepadaku untuk mengajarkanku membuat perangkat bertenaga mesin."


"Sabarlah, sabarlah. Delta akan mengajarkanmu. Ice Dragon dimohon bersabar."


"Kau sudah berulang kali mengatakan hal itu kepadaku. Namun hingga detik ini engkau sama sekali belum mengajarkan. Lihatlah, aku sudah sangat tua. Aku butuh benda yang dapat membantu memenuhi segala kebutuhanku."


Di tengah-tengah perbincangan, mereka berdua tiba-tiba saja dikejutkan dengan kemunculan portal dimensi yang muncul entah dari mana.


"Apa? Portal? Kenapa ada portal di tempat ini? Apakah ada serangan penyusup dari pihak musuh? Omong-omong, apakah kau memiliki musuh yang sangat membencimu Delta?"

__ADS_1


Ice Dragon dan Delta memasang kuda-kuda. Bersiap siaga menyambut serangan yang datang tiba-tiba dari balik portal.


"Delta tidak tahu. Delta tidak tahu. Delta hanya tahu, Delta sudah memusnahkan musuh-musuh Delta."


Mendengar jawaban Delta yang seperti itu. Ice Dragon bertanya-tanya penuh kebingungan. "Jika portal dimensi dari musuhmu, lantas portal dimensi ini darimana datangnya?"


Ice Dragon dan Delta saling menatap.


Tak lama kemudian mereka mendengar suara yang terdengar samar-samar dari balik portal.


"T...tttt..to..long...tolong, ku...mohon, to..long a..ku." begitulah suara yang terdengar samar-samar itu.


Ice Dragon dan Delta memasuki portal dimensi, mengikuti arah suara.


Pintu portal tiba-tiba lenyap begitu saja.


Ice Dragon terus berjalan mengikuti arah suara.


Suara yang terdengar seperti seseorang yang tengah menjerit kesakitan.


"Aaaaaaarrrgghh.."


"Ugh...ugh...ugh...." begitulah suara itu terdengar.


Ice Dragon dan Delta melangkah ke sudut ruang.


Saat tiba di sudut ruang, Ice Dragon melihat seorang dewi yang terbujur lemas di lantai. Tubuhnya penuh luka, nafasnya terengah-engah, dan kedua matanya terpejam menahan sakit.


Sebilah pedang menancap di perut sang dewi. Menancap tepat di ulu hati.


"Bukankah dia Permaisuri Ignia? Apa yang terjadi denganmya? Dan kenapa Permaisuri bisa berada di tempat ini?"


"Delta tidak tahu. Delta baru melihat wanita itu."


Ice Dragon memeriksa luka yang ada pada tubuh Permaisuri Ignia. Dari hasil pemeriksaan, dia menemukan beberapa luka berat pada bagian organ vital tubuh yang lain. Luka berat pada bagian dalam dada. Tepat pada bagian dada, dia menemukan lubang bekas tusukan pedang yang menusuk masuk ke jantung.


Darah terus mengalir di sekujur tubuh Permaisuri.


"Gawat, aku harus menghentikan pendarahannya. Jika tidak? Maka kondisinya akan semakin kritis!"


"Cure!" Ice Dragon mengerahkan kekuatan penyembuh, berusaha  sekuat tenaga mengobati luka yang ada pada Permaisuri Ignia.


Goresan luka yang ada pada tubuh Permaisuri Ignia masih terbuka lebar, darah pun masih terus mengalir di sekujur tubuh.


Ice Dragon berpikir keras, berusaha mencari solusi.


"Baiklah! Jika seperti ini kondisinya, maka tidak ada cara lain! Mau tidak mau, aku harus membekukan tubuhnya di dalam zona es. Itulah satu-satunya solusi untuk menghentikan aliran darahnya yang terus memgalir dari tubuh. Ya! Hanya itulah satu-satunya cara yang terlintas di benakku saat ini! Aku harus bisa dan sukses untuk melakukannya! Aku harus bisa! Harus! Ya, harus!!!"


"Divine protection! Frost!"


.............................


"Jadi begitulah Yang Mulia, hamba tidak mampu membantu menyembuhkan luka yang dialami oleh Permaisuri Ignia. Kekuatan hamba masih sangat lemah Yang Mulia. Jadi hamba hanya mampu menjaga tubuhnya di dalam bongkahan es yang hamba buat, agar darah Yang Mulia Permaisuri Ignia berhenti menetes. Hamba mohon maaf atas ketidakmampuan hamba Yang Mulia."


"Kalian berdua, berdirilah!" perintah Kaisar Quelle. "Tetua Ice Dragon, aku sangat berterima kasih kepadamu atas usahamu dalam menyelamatkan istriku. Mohon maafkan aku atas kelancanganku terhadap Tetua."


"Tidak, tidak masalah Yang Mulia. Hamba justru pantas menerima hukuman dari Yang Mulia, atas ketidakmampuan hamba."


"Tetua terlalu sungkan. Omong-omong, bisakah Tetua tunjukkan kepadaku dimana istriku berada?"


"Tentu Yang Mulia."


Ice Dragon mengantar Kaisar Quelle ke tempat Permaisuri Ignia berada.


Dalam kondisi pedang masih terhunus di perut, tubuh Ignia diawetkan di dalam bongkahan es yang sangat besar.


Kaisar Quelle menjentikkan jari.


Tik!


Gerbang portal muncul tepat di belakang  Ice Dragon dan Delta.


Ice Dragon dan Delta melihat portal yang muncul tepat di belakang mereka. Kemudian mereka berdua saling menatap.


Kaisar Quelle memberi instruksi. "Kalian berdua kembalilah ke langit Agret. Aku sudah menyiapkan portal untuk kalian. Jika kalian menggunakan portal itu, maka kalian bisa langsung kembali ke langit Agret, dan bisa melanjutkan kembali urusan kalian seperti sediakala. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih atas kebaikan kalian yang telah berusaha menolong istriku. Sebagai ucapan terima kasih, tolong terimalah hadiah kecilku ini."


Kaisar Quelle memberikan senjata pusaka dan buku teknik rahasia terlarang yang baru saja didapatnya dari Dungeon Seron kepada mereka berdua.


"Terima kasih Yang Mulia. Kami akan selalu mengingat kebaikan Yang Mulia dan menjaga baik-baik hadiah pemberian Yang Mulia." ucap Ice Dragon dengan rasa hormat. "Sekarang kami undur diri. Semoga kebaikan selalu menyertai diri Yang Mulia, tolong Yang Mulia jaga diri baik-baik."

__ADS_1


Ice Dragon dan Delta memasuki portal dan berhasil kembali ke langit Agret dengan selamat.


__ADS_2