
Harimau putih berlari begitu cepat, hingga gerakannya sangat sulit untuk dapat dilihat dengan kedua mata.
Swooossshhh!
Saat keluar dari hutan, ia langsung melompat dan menerkam para prajurit yang berjaga di dekat area peternakan.
"Harimau sialan itu sudah datang! Bersiaplah! Jangan sampai lengah!!!" perintah pendekar celurit.
Dua pendekar bersenjatakan bambu runcing menyerang harimau putih dengan serangan yang menusuk.
Harimau putih bergerak dengan cepat menghindari serangan.
"Sial! Gerakan harimau itu sangat cepat!" kata salah satu pendekar bambu runcing.
"Sebaiknya kita serang dia bersama-sama!" kata pendekar berkumis.
Para pendekar melompat, menyerang harimau putih secara bersamaan.
Harimau putih mengaum.
"Rawwwrrrr!!!"
Aumannya, memiliki tekanan tenaga dalam yang luar biasa. Akibatnya, tubuh para pendekar terpental jauh membentur dinding kandang hewan ternak yang terbuat dari kayu. Sampai pada akhirnya, tubuh mereka terhempas ke permukaan tanah.
"Cough! Cough! Cough!"
Para pendekar terluka parah, dari mulut mereka keluar muntahan darah.
"Sial! Harimau ini kuat sekali!" keluh pendekar bambu runcing. Selang beberapa saat kemudian ia mendongakkan kepala, melihat harimau putih yang sudah berdiri di hadapannya.
Crotttt!!!
Pendekar bambu runcing tewas seketika.
Beberapa pendekar yang menyaksikan kejadian itu lari ketakutan, berusaha masuk ke gerbang kota dan meminta pertolongan.
Penjaga gerbang gemetar ketakutan. Mereka berlari masuk dan menutup pintu gerbang.
"Kenapa engkau lari?" tanya seorang prajurit yang berhasil kabur kepada temannya.
"Engkau sendiri bagaimana? Kenapa engkau lari dan tidak menolong pendekar itu?" sang kawan sesama prajurit itu balik bertanya.
"Aku? Aku tidak melarikan diri. Aku hanya ingin menutup pintu gerbang agar harimau itu tidak masuk ke kota ini!" jawab sang prajurit.
"Begitu juga denganku! Aku masuk karena ingin memanggil balabala bantuan." jawabnya, dan ia benar-benar berlari memanggil bala bantuan pasukan.
Sementara itu di luar pintu gerbang kota....
__ADS_1
"Aaaagghhhh!!!!"
Para pendekar menjeritkan kesakitan, tubuhnya penuh luka cabikan. Mereka telah berupaya menghindari serangan brutal harimau putih, namun kecepatan makhluk jelmaan itu jauh melebihi mereka.
Crotttt!!!
Akibat perbedaan kekuatan yang dimiliki oleh para pendekar dengan harimau putih, tidak sedikit dari pihak pendekar yang tumbang dengan kondisi yang mengenaskan.
Beberapa dari mereka ada juga yang berusaha untuk terus berjuang dan melawan hingga titik darah penghabisan. Mengerahkan seluruh teknik dan kekuatan yang mereka miliki untuk bisa membasmi harimau putih.
"Jangan remehkan kekuatan kami! Rasakanlah ini! Haaaaaa!!!!" teriak pendekar bersenjatakan parang.
Jlebbbb!!
Crotttt!!!
Pendekar itu tewas mengenaskan, dalam kondisi usus keluar dari perut.
Gelapnya malam, menutupi adegan yang mengenaskan itu. Hanya aroma anyir darah yang menyengat, sebagai informasi yang diketahui melalui indra penciuman para pendekar yang tersisa. Dengan sumber aroma itu, mereka dapat mengetahui bahwa satu persatu rekannya telah tumbang.
Sementara itu, tidak jauh dari posisi mereka berada...
Tepat di atas pucuk pohon yang tinggi Enzi berdiri, menyaksikan pembantaian yang terjadi di area peternakan. Ingin rasanya ia menolong, namun akal pikirannya menolak, karena ia tidak ingin jati dirinya sebagai pendekar terbongkar di mata para penduduk kota. Terutama, di mata ibunya yang begitu ia cintai. Ia berpikir, jika sampai jati dirinya terbongkar, maka sang ibu akan merasa khawatir.
Enzi tidak ingin hal itu terjadi. Enzi hanya ingin hidup damai dan bahagia bersama orang-orang yang dicintai.
"Kenapa mereka masih saja di situ? Apakah mereka tidak sadar akan perbedaan kekuatan yang mereka miliki?" gumam Enzi di atas pucuk pohon.
Suasana di peternakan itu memang cukup gelap, hanya api obor di tiang-tiang kayu yang menjadi cahaya penerangnya.
Enzi menolehkan pandangannya ke arah suasana kota, melihat dari kejauhan, akan barisan prajurit yang keluar dari pintu gerbang kota.
"Ah! Apa sebenarnya yang mereka pikirkan? Apakah mereka sedang mengantar nyawa? Jika seperti ini terus, korban akan semakin banyak yang berjatuhan!" gumam Enzi dengan penuh rasa kesal.
"Sudah berulang kali aku katakan kepadamu, semua itu demi kedudukan. Sudah! Engkau tidak perlu bertanya lagi! Lebih baik kita tutup saja pertunjukan ini!" ucap Kaisar Quelle.
"Ta..tapi dewa, jika aku bertarung di hadapan mereka, jati diriku nanti bisa ketahuan..." keluh Enzi.
"Siapa bilang engkau yang akan bertarung?" tanya Kaisar Quelle.
"Ha?" Enzi merasa bingung dengan apa yang baru saja Kaisar Quelle ucapkan.
"Aku akan mengambil alih tubuhmu sekarang!"
Kaisar Quelle mengambil alih tubuh Enzi. Seketika itu juga, muncul simbol Kaisar Dewa langit Gloxinia pada dahi Enzi.
Enzi yang berada di ruang jiwa, duduk di dekat kolam, menyaksikan kejadian yang ada di luar.
__ADS_1
Kaisar Quelle menjentikkan jari.
Tik!
"Sleep!"
Seluruh makhluk hidup yang ada di kota Rajatapura tertidur pulas seperti seorang bayi yang baru saja disusui oleh ibunya.
Termasuk harimau putih yang tertidur pulas di atas jerami.
"De..dewa.. a..apa yang baru saja engkau lakukan?" tanya Enzi dengan rasa was-was.
"Tenang saja, aku hanya membuat mereka tertidur untuk sementara waktu." jawab Kaisar Quelle sambil membelah permukaan bumi dan memasukkan mayat-mayat pendekar itu ke dalamnya, lalu menutupnya kembali, seakan tidak terjadi apa-apa.
Kaisar Quelle menjentikkan jari.
Tik!
"Erase memory!"
Kaisar Quelle menghapus ingatan para manusia di kota Rajatapura, tentang keberadaan harimau putih yang telah mengancam keselamatan mereka.
"Erase memory? Apa itu dewa?" tanya Enzi penasaran.
"Oh, itu.. Aku hanya menghapus ingatan mereka tentang keberadaan harimau putih. Sekuat apapun usaha mereka untuk mengingatnya, mereka tidak akan bisa mengingat tentang peristiwa ini." jawab Kaisar Quelle.
"Lalu, apa yang akan engkau lakukan selanjutnya dewa?" tanya Enzi.
Kaisar Quelle menolehkan pandangannya ke arah harimau putih yang tertidur pulas di atas jerami dengan posisi tubuh menyamping.
"Menyelamatkan orang ini! Tapi Sebelum itu... Aku akan membawanya ke tempat yang aman terlebih dahulu!" jawab Kaisar Quelle.
Tidak lama kemudian, Kaisar Quelle mengangkat tubuh harimau putih, dan membawanya ke lembah yang menjadi tempat Enzi berlatih seni bertarung.
Kaisar Quelle membaringkan tubuh harimau putih di atas batu.
"Harimau ini telah membunuh banyak orang, aku rasa... Dia pantas menerima hukuman darimu, wahai dewa agung.." ucap Enzi.
"Aku tidak berniat untuk membunuhnya. Aku akan membantunya mengendalikan kekuatan khusus yang ia miliki." ucap Kaisar Quelle sambil meregangkan telapak tangan di kepala harimau putih. " makhluk ini bisa berguna di masa yang akan datang. Sangat disayangkan jika aku menghabisinya begitu saja."
Kaisar quelle menyalurkan energi yang dapat meningkatkan kekuatan pikiran dan mental sang pendekar harimau. Sehingga, kekuatan pikiran dan mentalnya dapat mengendalikan tekanan kekuatan khusus yang ada di dalam tubuh.
Tidak lama kemudian, harimau putih berubah wujud menjadi manusia.
"Ternyata dewa benar, dia adalah manusia." ucap Enzi sambil mengamati wajah pendekar itu dengan seksama dari layar kolam.
Tak lama kemudian, Enzi begitu terkejut saat ia menyadari tentang siapa sosok pendekar itu sebenarnya. "Pe...pendekar itu.... Bukankah dia pendekar harimau dari gunung salak yang melegenda itu? Aku tidak menyangka bahwa harimau putih itu adalah dia!"
__ADS_1
"Ternyata engaku mengenalinya." ujar Kaisar Quelle sambil tersenyum.
"Ya. Tentu saja. Karena pendekar harimau adalah pendekar pembasmi kejahatan yang telah dikenal oleh banyak orang. Di mata kami, dia itu seperti seorang pahlawan. Dulu, dia pernah menyelamatkan rombongan pedagang dari serangan hewan buas di tengah hutan. " jawab Enzi dengan mengingat kembali kejadian masa lalu.