
Enzi melangkah dengan cepat menuju kota Rajatapura. Sambil berlari, ia mengganti pakaian pendekarnya dengan pakaian kulit hewan hasil perburuan. Melepaskan topeng, dan berpenampilan ala kadarnya.
Sesampainya di kota Rajatapura...
"Haahhh...haaahhh...haaahhh.." Enzi kelelahan, setelah menempuh perjalanan panjang, dengan kecepatan langkah kaki secepat anak panah yang menerjang.
Dia berjalan perlahan, dengan kucuran keringat yang membasahi permukaan wajahnya. Membawa kulit macan tutul hasil perburuan, yang diletakkan di atas pundaknya.
Enzi terus berjalan, tanpa melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya. Kedua mata fokus ke depan, memikirkan ibu yang telah lama menanti dirinya di rumah.
Bahkan tanpa disadarinya, ia berpapasan, dengan gadis bangsawan yang telah diselamatkannya.
Demikian pula dengan Anindita, ia tidak menyadari keberadaan akan sosok pahlawan yang dicarinya selama ini. Anindita terus berjalan, sambil berbincang-bincang dengan kakak kandungnya yang bernama Dhatri.
Hari itu, Anindita dan Dhatri berencana ingin mengunjungi ladang buah. Satu diantara ladang buah yang ingin mereka kunjungi adalah ladang buah jeruk milik Keluarga Enzi.
"Wuaaahhh! Indahnya...!" seru Anindita tatkala ia dan kakaknya tiba di ladang jeruk yang luas.
Dhatri memetik sebuah jeruk yang telah panen.
Ia membuka kulit jeruk itu, lalu mencicipinya.
"Mmmmm.. Manisnya..." ucap Dhatri sambil memejamkan mata.
Seorang wanita paruh baya mendatangi mereka berdua dan menyambutnya dengan hangat. Wanita paruh baya itu tidak lain adalah ibu dari Enzi.
"Maafkan Teteh saya Ambu..." ucap Anindita sambil membungkuk meminta maaf karena telah memetik buah dari ladang sang ibu tanpa izin.
Dhatri pun menunduk, meminta maaf.
"Maafkan saya Ambu, Dhitra bersalah telah memetik dan memakan buah jeruk ini tanpa izin dari Ambu..." ucap Dhitra dengan penuh rasa hormat.
"Tidak apa-apa neng, makanlah jeruk-jeruk ini. Ambu masih memiliki banyak jeruk di kebun ini." ucap ibu dari Enzi.
"Terima kasih Bu... Ambu sangat baik sekali kepada kami." ucap Dhatri dengan rasa tulus.
"Ayo, duduk dulu. Biar Ambu siapkan jeruk-jeruk manis buat kalian." Ibu dari Enzi mempersilakan Anindita dan Dhatri duduk di atas saung.
__ADS_1
"Terima kasih Bu..." ucap Anindita.
"Ambu juga sangat berterima kasih kepada keluarga kalian. Berkat jasa ayahanda kalian, ladang dan peternakan Ambu jadi aman dari kejahatan." ucap Ambu sambil memberikan senyuman hangat kepada Anindita dan Dhatri. "Sekarang Ambu ambilkan dulu ya... Kalian duduk dulu di sini.." sambungnya.
"Baik Bu.." jawab mereka berdua.
Seekor burung terbang di atas langit, menatap kota Rajatapura yang tenang dan damai. Enzi yang baru saja kembali dari gunung, menikmati kesegaran pemandian air sungai yang lokasinya tidak jauh dari rumah.
"Tadi Euis bilang, ibu sedang berada di ladang. Berarti selepas mandi aku segera langsung menemui ibu di sana." ucap Enzi sambil membasuh tubuhnya dengan air sungai yang mengalir.
"Bagaimana dengan rencanamu nanti malam? Apakah kau akan pergi ke daerah hutan dukuh itu dan membasmi serangga-serangga kecil yang ada di sana?" tanya Kaisar Quelle sembari bermain gadget.
Kaisar Quelle sudah dapat menggunakan kekuatan melintasi waktu. Kekuatan yang dapat membuat dirinya pergi ke masa depan dan masa lalu di bumi. Saat berkunjung ke zaman inilah, Kaisar Quelle mendapatkan gadget game yang tengah ia mainkan itu.
"Tentu saja dewa.... Lagi pula, aku sudah berjanji untuk segera membasmi gerombolan bandit itu. Jika aku tidak segera menghabisi para bandit ini, maka akan semakin banyak korban yang berjatuhan." jawab Enzi.
"Ternyata engkau ingin bermain sebagai pahlawan seperti yang ada di acara-acara hiburan di masa depan." kesan Kaisar Quelle.
Enzi pun tersenyum mendengarnya, lalu ia bertanya, "Apakah Dewa akan jalan-jalan ke sana lagi?"
"Sepertinya begitu. Ada banyak barang yang bisa aku dapatkan dari zaman itu. Cukup menukar satu pisau usang milik bandit dari zaman ini, kita bisa mendapatkan emas yang cukup banyak dari zaman itu." kata Kaisar Quelle.
Enzi berdiri dan mengenakan Pakaian sederhana yang ia beli dari pedagang setempat dengan harga yang sangat murah.
Enzi berjalan menuju ladang jeruk tempat ibunya berada.
"Aku penasaran, apakah jeruk-jeruk itu sudah panen ya?" pikir Enzi.
Saat Enzi berjalan, tiba-tiba saja ada seorang pemuda yang menyapanya.
"Enzi!" sapa pemuda itu kepada Enzi.
Pemuda itu bernama Surendra. Kerabat lama Enzi yang berprofesi sebagai saudagar sapi.
Enzi baru menyadari bahwa dirinya berada di daerah peternakan sapi milik Surendra.
"Rendra!" sahut Enzi sambil melambaikan tangan. "Sudah lama kita tidak berjumpa! Bagaimana kabarmu kawan?"
__ADS_1
Surendra tertawa bahagia melihat kawan lama melintas di area perladangannya. Dengan perasaan bahagia itu ia menjawab, "Hahaha, seperti yang engkau lihat kawan! Hahaha..." ia berjalan menghampiri Enzi dan merangkulnya. "Sudah lama kita tidak berjumpa, aku senang bisa bertemu denganmu di sini." ucapnya.
"Aku pun demikian kawan! Senang bisa bertemu denganmu lagi!" jawab Enzi.
Mereka berdua berjalan perlahan di area peternakan Surendra yang begitu luas.
Di area peternakan itu, tampak terlihat para peternak memberi makan hewan ternak kesayangan mereka, sambil mengajak hewan-hewan ternak itu berbicara. Meskipun hewan-hewan ternak itu tidak tahu apa yang peternak itu bicarakan, dan tidak dapat berbicara dengan menggunakan bahasa manusia.
Hewan-hewan ternak itu hanya bisa menjawab, "Emooooooo."
"Apakah engkau masih melakukan perdagangan antar Kerajaan?" tanya Surendra pada Enzi.
Enzi menjawab, "Untuk sekarang tidak, untuk ke depannya mungkin iya."
"Apakah itu karena faktor situasi?" tanya Surendra.
Enzi menghela nafas, lalu ia menjawab, "Bisa dibilang begitu. Semua bergantung dari pernikahanku. Selama aku belum menikah, aku tidak dapat melakukan perdagangan antar kerajaan. Jika aku sudah menikah, mungkin aku bisa melakukannya."
"Kalau begitu cepatlah menikah kawan! Carilah istri secepatnya, agar engkau bisa melakukan perdagangan antar kerajaan lagi! Aku mendukungmu!" ucap Surendra dalam memberi dukungannya kepada Enzi.
"Terima kasih kawan atas dukungan yang engkau berikan kepadaku." ucap Enzi dengan rasa syukur karena memiliki seorang kawan yang berhati baik. "Setelah ini, aku akan bertemu dengan ibuku, dan membicarakan rencana pernikahanku dengan putri dari kerabat baik ibuku." sambungnya
"Wohohoho.... Itu berita baik kawan! Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu! Sampaikan berita baik itu kepadaku lagi, usai engkau menikah nanti." pesan Surendra.
"Tentu kawan, aku akan menyampaikan berita baik itu kepadamu. Terima kasih atas dukunganmu, dan sampai bertemu lagi. Aku sangat bersyukur bisa berkawan denganmu dan bertemu denganmu di sini." ucap Enzi sambil memberikan senyuman hangatnya kepada Surendra.
"Sampai berjumpa lagi kawan. Datanglah ke peternakan kecil ini jika ada waktu." ucap Surendra sambil melambaikan tangan.
"Tentu kawan." jawab Enzi, dan secara perlahan ia melanjutkan perjalanan ke ladang jeruk tempat ibunya berada saat ini.
Enzi mempercepat gerak langkah kaki, sambil menyiapkan makanan dan minuman yang ia simpan di dalam cincin penyimpanan.
Mengeluarkan makanan dan minuman dari dalam cincin, dengan menariknya keluar menggunakan dua jepitan jari seperti yang diajarkan oleh Kaisar Quelle.
Makananan yang ia siapkan berupa daging kelinci bakar yang dibungkus dalam daun pisang, lengkap dengan beberapa buah-buahan jambu mete segar yang ia petik di tengah hutan.
Setibanya di ladang jeruk, Enzi melihat sang ibu tengah bercengkerama dengan dua orang gadis berparas cantik nan jelita.
__ADS_1
Saat ia berjalan lebih dekat, Enzi menyadari bahwa wajah kedua gadis itu tidaklah asing baginya.
"Bukankah dia....!?"