
rumah kedua ku adalah kantor dimana ada orang-orang yang selalu peduli dan sayang dengan ku.
ada sedih bahkan kesal tapi selalu berakhir dengan damai dan bahagia.
selalu ada ide dan saling menguatkan satu sama lain ketika salah satu dari kami punya masalah.
aku mencoba sekarang lebih tenang dan lebih bijak lagi dalam menyelesaikan semua masalah rumah tangga ku.
karena pasangan ku sekarang lebih muda dan aku harus punya ekstra sabar, dan ini ujian ku agar bisa menjadi wanita yang punya kesabaran.
aku selalu mempunyai ambisi, bahkan aku lebih mementingkan kerjaan dibanding pasangan ku sendiri.
sejak menikah dengan fajar aku di ajarkan bagaimana menghargai seseorang jika kita mau di hargai juga, bagaimana melayani suami dengan baik dari hal terkecil dulu.
aku juga di ajarkan mandiri tanpa bergantung dengan orang lain, selama masih bisa melakukan sendiri maka lakukan lah.
"na, besok Lo ada klien yang mau ketemuan di luar. apa di kantor? tanya Meti
"kek nya mending di kantor saja lah, gue lagi males banget keluar kantor."sahut ku
"tapi klien nya bisa nya pas makan siang jadi dia juga mau ajak suami nya juga, na. cuma ya itu ketemuannya di mall lagi aja."terang Meti
"bisa gak janjian di kantor saja, coba Lo Fu lagi met, "perintah Ku
"na, biasa ngopi yuk? ajak chimet
"bentar ya, gue nanti nyusul deh sama Meti."sahut ku
"ya udah, gue mau pesenin atau nanti aja."Tanya chimet
"pesenin aja dua buat gue sama Meti."jawab ku
lalu chimet dan yang lain nya pun turun ke warkop tinggal aku dan Meti saja yang mau follow up Klien dan juga menyelesaikan sisa kerjaan aku lagi.
__ADS_1
setelah selesai, aku pun turun dengan meti menyusul yang lain nya.
pas di lift aku berpapasan dengan pak bos dan Fijar, tapi pak bos tahu aku akan kemana jadi tidak banyak bertanya hanya saja muka Fijar tidak enak untuk di lihat.
"lama-lama si Fijar ngeselin banget ya? pengen rasa nya gue kasih pelajaran deh."ujar Meti
"udah lah anggap aja orang cari muka yang muka nya lagi di gadaikan maka nya jadi gitu."jawab ku santai
"hahahahahaha kadang suka bener Lo ya"ucap Meti
kami pun sampai di warkop sudah tersedia es kopi dan cemilan pisang goreng bahkan ada rokok juga.
"perasaan gue gak enak banget nih pake ada rokok segala."canda ku
"biasa Buna ada yang mau nyogok Lo tuh."sindir Rita arah mata nya menatap tajam ke Doly
"Buna, tolong gue dong nanti ada klien yang mau komplain. tolong dampingin ya? plis nanti gue beliin makan siang deh."pinta Doly
"case nya apa dulu nih, entar gue tahu-tahu kena semprot sama klien. enak di Lo bagian apesnya gue yang kena,"ledek ku
"gue pelajarin dulu ya kasusnya, dan Lo juga harus konfirmasi juga ke Bu Eva. sudah kebiasaan nih dia seperti ini, tapi di salahin gak mau,"sahut ku sambi meminum kopi.
"tadi gue ketemu bos sama Fijar, liat muka nya sumpah enek banget deh."kesal intan yang baru bergabung dengan kami semua di warkop
"eh gue kira tadi gue aja yang kesel liat mukanya."timpal meti
"udah sih biarin saja, Fijar mungkin sedang mengkhayal tingkat provinsi dan akan jatuh di tingkat kelurahan."sahut ku
kami pun saling berbagi cerita tentang kerjaan yang tersendat bahkan yang tidak bisa di pecahkan.
aku selalu menjadi penengah apa lagi soal komplainan, aku yang akan di pasang di depan untuk menjelaskan ke klien.
jam 11 pun kami semua bubar dan kembali ke ruangan masing-masing.
__ADS_1
tiba-tiba Bu Eva menghampiri ku dan terlihat nampak kesal menatap wajah ku.
"ada apa ya Bu Eva? tanya ku
"eh Buna, gue bukan gak mau tanggung jawab sama anak-anak bawahan gue. tapi itu klien nya memang bawel banget, gue balas kok semua chat nya."terang bu Eva
"ya terus kenapa Bu Eva marah nya sama saya? dan klien siapa yang Bu Eva maksud. dari kemarin team nya Bu Eva dapat komplainan malah saya loh yang jadi tameng."sindir ku
"klien nya Doly , tadi doly bilang nanti Buna yang akan dampingi dia ketemu klien yang mau komplain."ucap Bu Eva
"nah terus kan sekarang Bu Eva ada nih dan bisa dong nemuin itu klien, jangan saya terus."sahut ku
"ya Buna kan gak ada kerjaan jadi apa salahnya dampingin juga."kesal Bu Eva
"loh aneh sih kenapa Lo jadi nyolot sama gue."bentak ku
"Lo yang punya masalah kenapa jadi Lo marah sama gue, wajar anak buah Lo pada komplain karena Lo gak pernah mau tanggapin telpon atau chat klien.perlu gue kasih buktinya, nih Lo liat ponsel khusus klien yang gak ada satu pun Lo jawab, sebelum Lo marah sama gue. Lo cek dulu kebenaran nya."sarkas ku sambil menggebrak meja.
"enak saja dia bilang gue gak ada kerjaan, buta apa itu si Eva dasar pengen enak nya saja."gerutu ku
"Lo ribut sama nenek-nenek ya."tanya intan
"tau tuh gue bingung tahu-tahu marah-marah, pake bilang gue gak ada kerjaan. buta kali mata nya."kesal ku
lalu aku berjalan keruangan anak marketing dengan emosi bahkan di tegur sama Yudis saja aku abaikan.
"Doly, untuk klien Lo. gue gak mau dampingin Lo, suruh leader Lo yang kerja jangan minta tolong gue. dan untuk marketing yang lain jika ada komplainan dari klien minta leadernya untuk balas dan telpon jangan slow respon lalu menyalahkan orang lain."marah ku didepan anak-anak marketing dan menyindir Eva juga.
"kerja yang benar jangan limpahkan kesalahan sama orang lain, dan saya sarankan untuk kalian jika leader kalian tidak mampu bekerja dengan baik. kalian bisa langsung minta tolong ke management."tegas ku dengan lantang.
"disini saya tidak pernah membedakan siapa pun bahkan untuk membantu kalian saja sampai malam hari pun saya masih dampingi walaupun harusnya itu tugas leader kalian.
aku melirik Eva yang menundukan wajah nya dan bos ku beserta fajar menghampiri ku dan ikut menimpali pembicaraan ku itu.
__ADS_1
hari ini benar-benar aku merasa kesal sekali bahkan bikin vertigo ku kumat.