Kamu Target Obsesiku

Kamu Target Obsesiku
Restu


__ADS_3

Dikediaman Gustiwana kamu langsung berlari masuk kedalam kamar, Anam yang melihatmu sangat tidak tega dan hendak menyusulmu ke kamar.


Setelah mendapat persetujuan dari ayah Gustiwana, Anam menyusulmu ke kamar. kamu terlihat sangat menyedihkan, dan itu membuat Anam juga bisa merasakannya. Anam menghampirimu lalu memelukmu.


"huusstt.. sudah jangan bersedih, kuat lah.. kamu itu wanita tangguh yang pernah aku kenal" ucap Anam sambil menepuk pundakmu.


"huaaa... kenapa sesakit ini, aku sangat membencinya" ucapmu keras dengan tangisan sejadi-jadinya.


melihatmu seperti ini Anam ikut meneteskan air matanya, dan tanpa sengaja terjun ke puncak dahimu. merasa ada yang basah kamu melepas pelukanmu padanya.


"kenapa kamu menangis" ucapmu heran, karena yang sedih disini adalah kamu bukan Anam.


"tidak, aku bersedih melihatmu tersakiti seperti ini, ayo tersenyum, jangan tangisi pria br*engs*k itu lagi, aku berjanji setelah kita menikah, aku akan membuatmu bahagia" ucap Anam sambil menghapus air matanya.


"maafkan aku, karenaku kamu harus menikahiku, padahal keluargaku telah merugikan perusahaanmu" sesalmu karena pernah marah padanya.


"it's okay... kamu temanku, aku ikhlas menikah denganmu" jawab Anam tulus.


Mendengar itu kamu tersenyum, mengisap air matamu, kamu bertekat tidak akan lama bersedih dalam keterpurukan ini, kamu memang mencintai Nizam, tapi apa yang telah Nizam lakukan membuatmu membencinya, dan tidak tau masih ada cinta atau tidak untuknya.


"oh ya, seminggu lagi kita akan menikah, bisakah aku mengajakmu bertemu dengan keluargaku besok" ucap Anam menghilangkan keheningan dari kalian.

__ADS_1


"apakah orang tuamu akan menyukaiku" ucapmu ragu, rasanya aneh seperti perasaanmu dulu saat pertama kali akan bertemu dengan ibu Sonya dan ayah Fahrizal.


"mereka pasti akan menyukaimu" ucap Anam lalu mencium pucuk dahimu.


"aku keluar dulu ya, kamu istirahat, aku mau menemui kakakmu dan ayah Gustiwana" ucap Anam dan kamu balas dengan anggukan kepala.


Tak lama kemuadian Anam sudah menuruni tangga dan berjalan ke ruang keluarga tempat ayah Gustiwana dan kak Andre duduk.


Mereka melihat ke arah Anam dengan tatapan bingung, mereka mengalami kerugian, keluarga Fahrizal juga mengalami kerugian, dan kejadian Nizam. ini sangat mengganggu pikiran mereka, kenapa begitu cepat kejadian ini.


Walaupun kak Andre sudah menyuruh orang menyelidiki kerugian perusahaannya, namun terlihat jelas dari hasil pengelidikan ini sangat nyata menjurus ke arah perusahaannya sebagai pihak yang bersalah.


"kenapa tuan menatapku seperti itu" ucapa Anam membuyarkan pemikiran kedua pria Gustiwana ini.


"Sejujurnya saya sudah mengetahui masalah Nizam ini dari dua Minggu yang lalu, tapi saya masih diam, karena saya masih belum ada bukti, hingga bukti telah terkumpul dan terjadi seperti ini" jelas Anam pada mereka.


"kenapa anda merelakan diri anda untuk menikahi adik saya, terlebih lagi perusahaan kami telah merugikan anda" tanya kak Andre menyelidiki maksud dari Anam ingin menikahi adiknya.


"saya tidak tahu, disaat saya melihat intan tersakiti, rasanya saya juga merasakannya, saat dia menangis saya tidak tahan melihatnya, lebih baik saya tidak pernah mengenalnya ketimbang merasakan sakit ini, tapi saya tidak bisa, saya ingin melihatnya setiap saat, saya ingin melindunginya, saya tidak tau rasa apa ini, tapi yang jelas saya adalah teman dari putri anda, dan saya ikhlas menikahinya" tutur Anam menjawab pertanyaan dari kak Andre.


Sedangkan ayah Gustiwana tersenyum mendengar kejujuran Anam, lalu menepuk pundak Anam.

__ADS_1


"Buktikan cintamu itu padanya nak, ayah merestuimu, mungkin akan sulit, karena dia bukan tipe wanita yang gampang terbawa suasana, ayah masih ingat bagaimana perjuangan Nizam dulu saat ingin bersamanya, jangan sampai kamu kalah dengan masa lalunya, dengan tinggal seatap mungkin kamu akan sedikit lebih mudah mendapatkan hatinya, tapi ingat masih sedikit tidak banyak" ucap ayah Gustiwana atas restunya, lalu memeluk Anam dengan hangat.


"saya pasti akan mendapatkan hatinya tuan, saya akan membahagiakannya, anda bisa memegang janjiku" ucap Anam penuh dengan keyakinan.


"panggil ayah saja, seminggu lagi kamu akan jadi menantuku, terimakasih dan maaf atas segalanya" ucap ayah Gustiwana dan hendak berjalan ke kamarnya.


Kini beralih pada kak Andre.


"tolong jaga adikku, jangan pernah sakiti dia, jika hal itu terjadi, maka akan ku pukul lebih dari Nizam" ancam kak Andre.


"hey.. itu tidak adil" elak Anam tak terima.


"adil, karena jika itu terjadi, kau sudah ber status suami adikku" ucap kak Andre membenarkan ancamannya.


"kau bisa memegang janjiku kakak ipar" ucap Anam menekankan kalimat kakak ipar di depan kak Andre.


Mereka tertawa, seakan tidak pernah ada kejadian buruk belakang ini, mereka berjalan ke arah kolam renang dan membahas banyak hal.


kelihatannya Kak Andre juga sudah merestui Anam.


Kakakmu berharap Anam adalah pria yang baik untukmu dan memang dia adalah jodoh terbaik dari Tuhan, kakakmu juga sama kecewanya denganmu, pasalnya dia yang mengenalkanmu pada Nizam sahabatnya itu, kakakmu juga tidak menyangka kalau Nizam bisa berbuat hal senonoh seperti itu.

__ADS_1


To be continue... ❤️


__ADS_2