
Seminggu berlalu.. Kamu masih tersekap di rumah itu, setiap harinya kamu hanya menghabiskan waktu di dalam kamar itu dengan penjagaan ketat.
"aku harus segera keluar dari tempat ini" ucapmu frustasi tidak tahan lagi.
Kamu menggedor-gedor pintu kamarmu dan berteriak kencang meminta dibukakan pintu, tapi tetap tidak akan dibukakan pintu dari bodyguard di depan sana.
Tak lama pintu itu terbuka, sosok Arvan berjalan mendekatimu.
"apa yang kau lakukan" teriakmu pada Arvan yang berusaha menciummu dan menamparnya.
Arvan hanya menatap tajam mata indahmu itu.
"Seminggu sudah aku mengawasimu dari rekaman cctv, aku akui memang kamu sangat cantik apalagi di tatap dari jarak dekat seperti ini, tidak salah jika aku tertarik padamu saat pertama kali melihat fotomu, aku tidak akan membiarkan pria itu mengambilmu, karena kamu sudah menjadi milikku" Batin Arvan sambil mengusap pipi mulusmu.
"kau memang sangat cantik, aku saja langsung jatuh hati saat pertama kali melihat fotomu, jadilah milikku" ucap Arvan dengan menelusuki pandangannya padamu.
Tubuhmu menegang mendengar perkataan Arvan, takut.. sangat takut.. pikiranmu buruk padanya, apa yang akan dia lakukan.
"Apa kau sudah tidak waras... aku wanita yang sudah bersuami" teriakmu syok atas apa yang di ucapkan Arvan.
"aku tidak peduli.. kamu harus jadi milikku" ucap Arvan tak peduli.
Arvan kembali mencoba untuk menciummu dengan paksaan, kamu berusaha memberontak, tapi tenagamu kalah jauh darinya.
Dengan cepat dia menguasai bibirmu, mengigitnya agar kamu membukanya dan lebih leluasa untuk masuk.
Buugghhh...
"aarrrkkkhh... apa yang kau lakukan"teriak Arvan menahan kesakitan pada areanya.
__ADS_1
"itu akibatnya jika kau berani menyentuhku, dan aku bisa menyakitinya lebih parah lagi ketimbang ini" teriakmu marah pada Arvan dan berlari ke dalam kamar mandi.
"intaannn...."teriak Arvan tapi tak kamu pedulikan.
"huuhh.. selamat.. setidaknya aku aman dari situasi ini dan akan tetap disini walaupun harus semalaman" gerutumu lega pada dirimu sendiri.
Keesokan harinya pintu kamarmu terbuka lagi, dengan cepat kamu berlari ke arah kamar mandi namun ada tangan yang mencegahmu.
"intan kumohon jangan seperti ini.. beri aku waktu sebentar untuk mengucap maaf padamu" ujar Arvan dengan sorot mata penuh penyesalan.
"tidak ada maaf untuk pria kurang ajar sepertimu.. jadi lepaass"tukasmu pada Arvan sambil memberontak dari cekalan tangannya.
"kumohon aku benar-benar menyesal atas kejadian kemarin malam, aku lepas kendali" ujar Arvan tulus.
"aku tidak akan mengurungmu lagi di kamar ini, per hari ini kamu bisa beraktivitas di luar kamar ini semaumu, maafkan aku yang telah mengurungmu di dalam kamar selama seminggu" ujar Arvan sekali lagi.
"hanya di luar kamar... kenapa tidak kau keluarkan aku dari mansionmu ini saja" cercamu pada Arvan.
kress... kress..
Suara kegiatan memasak terdengar dari arah dapur, seorang maid paruh baya berjalan ke arah dapur hendak melihat siapa yang memasak, karena saat ini sudah pukul 11 malam waktunya untuk para manusia tidur.
"no..nona Kenapa memasak di tengah malam begini, anda bisa memanggil saya untuk membuatkan anda suatu hidangan jika anda lapar" ucap maid paruh baya itu mengejutkanmu.
"tidak usah bi, saya bisa memasaknya sendiri.. lagian ini hampir tengah malam dan aku tidak mau mengganggu waktu istirahat orang lain" ucapmu enteng pada maid itu.
Setelah memasak kamu memakannya dengan lahap di meja makan, tak lama kemudian suara mobil terdengar pertanda Arvan sudah pulang.
Dengan cepat kamu menghabiskan makananmu lalu berlalu menaiki tangga untuk memasuki kamarmu.
__ADS_1
"selamat datang tuan.." ucap maid paruh baya itu membukakan pintu.
"Bi aku sangat lapar, seharian belum sempat makan tolong siapkan makananku" titah Arvan pada maid itu.
"Baik tuan" jawab maid itu pamit meninggalkan Arvan dan pergi ke dapur.
Arvan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, terlihat pintu kamarmu yang tertutup membuat Arvan menjadi sedikit lesu.
Setelah membersihkan diri Arvan kembali turun menuju ruang makan, tidak banyak hidangan diatas meja tapi hidangan kali ini terlihat asing bagi Arvan.
"makanan apa yang kau buat.. kau pikir aku kambing yang memakan rumput seperti ini" ucap Arvan dengan nada tinggi.
"maafkan saya tuan, bahan dapur telah habis, karena itu saya tidak bisa memasak sesuatu untuk anda" ucap maid itu takut.
"lalu siapa yang memasak ini jika bukan dirimu" tanya Arvan bingung.
"maaf tuan ini adalah masakan nona, dan kata nona ini adalah tumis kangkung"jawab maid itu.
Mendengar jawaban itu, Arvan menaikan salah satu alisnya.
"mana mungkin wanita itu memasak, dan masakan apa ini seperti rumput" Batin Arvan lalu mengaduk-aduk sayur itu.
Satu suapan masuk ke mulut Arvan, dan mata Arvan langsung terbelalak.
"Enak..." Batin Arvan lalu memasukan suapan kedua ke mulutnya.
Arvan dengan lahap memakan hidangan itu hingga tandas semua, baru pertama kali ini dia makan masakan yang asing baginya tapi rasa masakan itu sangat cocok pada lidahnya.
"kamu memang istri idaman, sudah cantik, pintar memasak, jelas saja pria itu menikahimu, aku menyesal kenapa aku tidak lebih dulu bertemu denganmu" Batin Arvan menguapkan suapan terakhirnya.
__ADS_1
To be continue... ❤️