
"lepaskan aku... berani-beraninya menyentuhku" teriak asisten Albert tapi tidak di gubris.
"Hay... apa kalian tidak punya telinga.. cepat lepaskan aku, kau berjanji akan membiarkanku tetap hidup" cercanya memberontak dan tetap tidak di gubris.
Riko dan Rendi tetap berjalan, mencari Lemari buku yang ada di markas itu.
"apakah ini pintu masuknya ??" tanya Riko menemukan lemari buku.
Asisten Albert terdiam.
"sepertinya ini pintu masuknya" ucap Rendi melihat asisten Albert yang terdiam.
"bagaimana cara membuka pintu ini" tambah Rendi menatap asisten Albert.
"kau tak akan bisa membukanya" ucap asisten itu.
Riko menelisik lemari buku itu, mencari keberadaan tombol maupun alat sebagai pembuka lemari itu.
"benarkah.. apakah kau tahu cara membukanya ??" tanya Rendi.
"aku.. hahaha mana mungkin aku bisa mengetahui cara membukanya" ucap asisten itu masih bisa menyombongkan diri.
"ketemu..." ucap Riko menemukan sesuatu dibalik jejeran buku-buku usang.
Mata asisten Albert terbelalak, Riko kembali ke arah Rendi dan membisikan sesuatu.
"hmm.. kurasa kau memang tahu cara membukanya" ucap Rendi dan menarik pergelangan tangan asisten itu.
"apa yang kau lakukan.. aaaarrrrkkkk" teriak asisten itu.
Rendi memotong ibu jari dari asisten Albert, dan melemparnya ke Riko.. setelah itu Riko tempelkan ke pendeteksi sidik jari yang telah dia temukan di balik buku-buku usang, lemari perlahan bergeser dan dibaliknya ada lorong gelap menuju tempat yang dicari.
"kau pikir kau siapa.. asisten bodoh sepertimu ingin mengelabuhi kami.. jangan harap.." pekik Riko dan menodongkan pistol ke kepala asisten itu.
"kalian sudah berjanji membiarkan aku hidup" teriak asisten itu menahan sakit pada tangannya.
"ho..ho.. kau tidak dengar.. Rendi memang berjanji membiarkanmu bisa hidup, hanya saja bisa hidup di neraka" ucap Riko menarik pelatuk pistolnya.
Dooorrrr... (Tembakan melesat ke kepala asisten itu)
"Cepat masuk.." titah Riko kepada Mafiosonya.
Para Mafioso masuk kedalam lorong gelap itu.
"aaaarrrrkkkk..." teriakan dua Mafioso yang masuk terlebih dahulu.
"apa yang terjadi ??" cerca Rendi melihat Mafioso yang masuk tiba-tiba tewas.
"diam disini.. aku curiga ada jebakan disini.." ucap Riko dan mengeluarkan korek api.
"lepaskan kemeja orang ini.. beri sedikit air" tambah Riko.
Rendi segera melepas kemeja yang dikenakan asisten Albert dan membasahinya sedikit.
"lihatlah ini" ucap Riko dan mulai membakar kemeja setengah basah itu.
Dilemparnya baju basah yang sudah mengeluarkan asap karena terbakar.
__ADS_1
"kau lihat.. lorong ini terdapat sistem laser pembunuh.. kalau seperti ini kita tunggu kedatangan tuan alson terlebih dahulu" tunjuk Riko pada garis leser merah di tengah asap itu.
"Dimana tempat persembunyiannya" suara tegas dari Arvan terdengar di telinga Riko dan Rendi.
Kedua asisten itu membungkuk hormat kepada para tuannya yang sudah menyusul mereka.
"maaf tuan.. Albert Hudgson bersembunyi di ujung lorong ini, hanya saja lorong terpenuhi sistem leser pembunuh" ucap Rendi.
"begitu !!!" ucapku dan mulai memainkan layar ponsel.
Beberapa menit kemudian..
"Mode keamanan dinonaktifkan.. selamat datang tuan Albert" suara sistem laser pembunuh menonaktifkan program.
"hebat... hanya dengan waktu kurang dari lima menit tuan alson telah meretas sistem keamanan ruang bawah tanah ini" Batin Rendi mengagumi.
Semua orang mulai memasuki lorong itu dan tidak lupa tawanan yang sudah di bawa oleh Mafioso milik alson.
"kenapa... kalau mau mengagumi tuanku kagumi saja.. dia memang hebat" timpal Riko menjejeri Rendi.
"yeah.. tuanmu memang sangat hebat.." balas Rendi.
Mereka masuk semakin dalam, hingga terlihat ruangan lebar dengan cahaya satu lampu berjarak dua puluh meter dari tempat mereka berdiri.
"pastikan tawanan itu tetap hidup sampai kubawa kepadanya" ucapku kepada Riko dan Rendi.
Aku berjalan terlebih dahulu dan mengeluarkan pistol dari kedua saku setelan jasku.
Dooorr...Doorrr..Doorrrr....
Tembakanku mengenai tepat kepala Mafioso musuh yang bersembunyi, begitu juga dengan Arvan dan Jacob yang mulai bermain.
Suara tembakan dan jeritan manusia yang begutu nyaring serta menggembirakan di telingaku, aroma mesiu yang harum di indera penciumanku.
"Waktunya bermain..." ucapku penuh dengan nada membunuh.
Aku berjalan maju meninggalkan Arvan dan Jacob di belakang, kucari keberadaan tua Bangka itu dan tidak akan pernah kubiarkan dia hidup.
"disini kau rupanya... Albert Hudgson.." ucapku penuh dengan kebencian menemukannya tengah bersantai di sofa kebesarannya.
"ck... sepertinya sistem keamananku memang kurang, tuan Alson memang hacker terbaik" ucapnya yang sangat membuatku jijik.
"kembalikan istriku.. maka akan kubiarkan kau hidup" ucapku tajam.
"hahaha.. tidak akan pernah.. kalian akan merasakan apa yang kurasakan" balasnya dengan penuh percaya diri.
"kau..." pekikku dan mulai menghajarnya.
Buuuggghhh.. Buugghhh...
Perkelahianku dengan tua Bangka Albert Hudgson, ternyata walau sudah tua badannya tetap saja cepat.
Tapi tetap saja.. masih kalah cepat dariku.
"dimana kau mengurung istriku" ucapku sambil mencekik lehernya.
"ti.. tidak akan pernah" balasnya terbata-bata.
__ADS_1
Buugghhh... Buuugghhh...(pukulanku membabi buta)
"hahaha.. bunuh saja aku.. semua ini setimpal karena kau dan Arvan telah membunuh keponakanku.. uhuukk.. uhuuukk.." ucap Albert yang terbatuk darah.
"baiklah.. kalau kau mati maka mereka semua juga akan ikut mati.. pegangi si tua Bangka ini " balasku tajam dan para Mafioso ku membawa kejutan yang telah kusiapkan.
"ayah... ayah... suamiku.. hisskk...hissk..hiskk" teriak keluarga Albert yang sudah kupersiapkan untuknya.
"A..APA.... dasar pria keji.. lepaskan mereka.. mereka tidak bersalah.. urusanmu ada denganku" teriak Albert emosi.
"hahaha... lantas apakah istriku juga berurusan denganmu.. urusanmu ada denganku dan juga Arvan" ucapku menang telak.
"aku tanya sekali lagi... dimana istriku" ucapku sekali lagi.
"is..istrimu..." lirihnya terhenti.
Dooorrr... (tembakanku mengenai betis salah satu anak Albert.
"ALSOONNNN..." teriak Albert padaku.
"sudah kubilang.. jika kau mati maka mereka juga akan mati.." tegasku memperingatkannya.
"pertanyaanku mudah.. aku tanya dimana istriku.." ucapku lagi hampir mencapai batas kesabaranku.
"istrimu telah bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai di hutan ini.. dia sudah mati.." teriak Albert atas jawabannya.
"apa kau bilang... dari tadi aku sudah bersabar terhadapmu.. " pekikku menahan amarahku.
Buugghhh... Buuuggghhh...
(pukulanku melampiaskan amarahku kepadanya)
"hehehe..." tawa kecil Albert seakan-akan menertawakan hidupku.
"RIKO... suruh para Mafiosoku menyetubuhi nyonya Hugdson, gilir sampai berapapun hingga istrinya mati.. kuliti tubuh kedua anaknya dan congkel semua matanya, pastikan Albert Hudgson menonton live streaming pembantaian keluarganya ini" titahku penuh dengan amarah dan berjalan menjauh.
"Baik tuan" jawab Riko.
"TIDAK... jangan.. Alson Johannes kau pria yang kejam.. Tidaakkk..." teriak Albert memberontak.
"TIDAK... jangan sentuh aku.. Albert tolong..." teriakan istri Albert meminta.
"aaarrrkkkk... ayah... tolong..." rintihan kedua anak Albert yang mulai di kuliti oleh Riko dan Rendi.
"TIDAAAKK... " teriakan Albert menangis melihat keluarganya tersiksa di depan mata kepalanya sendiri.
"Jacob.. kuserahkan kepadamu" ucapku menyerahkan urusan Albert kepada sahabatku.
"serahkan saja padaku" balas Jacob.
"Alson... aku akan ikut bersamamu mencari intan" ucap Arvan mengikutiku.
"hmm..." balasku berdehem.
"kita suruh semua Mafioso mencari keberadaan intan di markas ini" ucap Arvan dan hanya aku angguki saja.
"Dimana kau sayang.. dimana..." Batinku mencemaskan keberadaanmu.
__ADS_1
Tuhan... apakah harapanku akan hilang lagi.. apakah cintaku akan hilang lagi...
To be continue...❤️