
Kamu berjalan melewati gerbang depan hingga berada di gerbang ketiga, disaat akan memasuki gerbang ke empat tiba-tiba seseorang menyerangmu.
Tanpa aba-aba orang itu menyerangmu dan beberapa kali kamu juga menghindar darinya, hingga orang itu lengah dan kamu mengambil kesempatan yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya.
"Ternyata kau wanita yang kuat juga.." ucap orang itu setelah menerima tendanganmu di perutnya.
"ck... kau pikir karena aku seorang wanita jadi aku lemah begitu.." balasmu padanya.
"hahaha.. karena kau seorang wanita itu sebabnya aku tidak serius menghadapimu" ucap orang itu dengan gelegar tawa.
"Dasar pria sombong.." teriakmu dan mulai berkelahi dengan orang itu lagi.
Kamu yang awalnya hanya menghindar dan memanfaatkan keadaan untuk menyerang kini berubah sebagai penyerang dengan gejolak amarah karena tak tahan dengan orang sombong seperti orang yang ada di hadapanmu.
Sedangkan pria itu berganti sebagai lawan yang selalu menghindari seranganmu dan langsung mendekapmu dengan sapu tangannya dalam satu kali serangan saja, dan dua menit kemudian kamu pingsan.
"wanita memang berbahaya disaat emosionalnya di usik.." keluh orang itu dan menggendongmu entah akan membawamu kemana.
Disisi lain...
"aaarrrkkk..." teriak seorang Mafioso musuh dengan penuh luka di tubuhnya.
Alson yang tadinya menginjak dada Mafioso itu sekarang menjongkokan badannya agar lebih dekat dengan wajah Mafioso itu.
"Dimana Queenmu itu..." tanya alson mengintimidasi.
"tak akan pernah ku katakan" jawab Mafioso itu.
Karena tak mendapat jawaban Alson mengeluarkan pisau kecil kesayangannya dan kalian tahu... ???? Alson menyayat tangan Mafioso itu 😱
"aaarrrkkk...." teriak Mafioso itu kesakitan.
"cepat katakan.." ucap Alson penuh penekanan.
"tidak..." balas Mafioso itu menahan sakit.
Alson tersenyum sinis dan kembali menyayat di bagian tubuh lainnya.
"aaaarrrrkkkk..." teriak kembali Mafioso itu.
"mata ini tidak akan berguna lagi untukmu saat ini" ucap Alson dan menusuk mata Mafioso itu dengan pisaunya.
"aaarrrkkk..." teriak Mafioso itu kesakitan.
"Alson... tidak ada gunanya kau bertanya padanya.. bunuh saja dia dan aku akan ke atas untuk mencari keberadaan Liliyana" teriak Arvan dengan tetap berkonsentrasi menembaki musuh.
"aku akan ikut.." sahut Nizam.
Doorr.. Doorr.. Dooorrr...
Suara baku tembak terdengar dari arah mana saja, mansion megah ini dalam hitungan menit dipenuhi dengan lautan mayat berlumuran darah yang beraroma anyir menusuk Indra penciuman.
Tak lama dari itu, sopir yang tadinya di tugaskan alson untuk menjagamu berhasil masuk dan menghadap alson tuannya.
"tuan..maafkan saya.. nyonya melarikan diri dari penjagaan saya" ucap sopir itu melapor.
"APA... kau kuperintahkan untuk menjaga istriku saja tidak becus hah..." teriak Alson dan memukuli sopir itu.
"ma.. maafkan saya tuan.. nyonya membius saya dan melarikan diri" jelas sopir itu dan alson menghentikan pukulannya.
"Alson... ikutlah dengan mereka berdua, temukan istrimu, dia pasti menyusul kita untuk masuk kemari.. aku akan mengatasi dibawah sini" ucap Jacob pada alson.
__ADS_1
"yeah... kupercayaan padamu.. aku akan mencari istriku" ucap alson dan menaiki tangga menyusul Arvan dan Nizam.
Alson berlari menyusul Arvan dan Nizam, tatapannya kosong pikirannya hanya tertuju padamu berharap kamu berada di tempat yang aman saat ini, Alson ketakutan jika terjadi sesuatu padamu.
"alson.. kau menyusul kami ??" tanya Nizam pada alson.
"intan.. intan tidak berada di tempatnya saat ini.. dia melarikan diri dari penjagaan orang suruhanku" terang alson panik.
"APA..." teriak Arvan dan Nizam bersamaan.
"kau jangan panik alson..pasti intan menyusul kita kemari.. kita harus menemukannya" ucap Arvan.
Alson dan Nizam menganggukan kepala mereka dan mulai mencari keberadaan Liliyana terlebih dahulu, hingga ditemukannya kamar dengan pintu menyerupai pintu lift yang mulai tertutup dan sudah seperempat menutup.
"INTAANNN...." teriak ketiga pria itu mengetahui kamu berada di dalam kamar itu dengan seorang wanita cantik tersenyum sinis di belakangmu.
Mereka bertiga berlari mengejar pintu yang tak lama lagi akan tertutup, Nizam berlari paling kencang dan berhasil masuk disaat terakhir pintu akan tertutup.
"ck... siall...." teriak Alson memukul pintu yang sudah tertutup itu.
Tak lama dari itu seorang pria bertubuh tegap mendekati alson dan Arvan.
"tuan..." panggil orang itu pada alson.
Alson menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya dia.
"kau..." balas alson
"yeah... saya Aiden tuan" ucap orang itu.
"tapi bagaimana bisa.." tanya alson tak percaya.
"tuan Nizam yang memanggil saya" terang Aiden pada alson.
Aiden hanya mengangguk.
"perfect... 99% sangat mirip, tidak akan ada yang bisa membedakan kalian jika bersampingan" ucap Arvan lagi.
"Diamlah.. ini bukan urusanmu" cerca alson.
"tuan Nizam ada di dalam ??" tanya Aiden pada alson.
"yeah... dia di dalam semoga dia bisa menjaga intan, aku akan segera membobol keamanan pintu ini" ucap alson dengan mengeluarkan polsennya mulai mengakses sistem keamanan di mansion ini.
Arvan mengangguk kemudian mendudukkan dirinya di lantai menunggu alson menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan Aiden mencari tangga untuk menuju lantai teratas bangunan ini.
Satu jam yang lalu..
Kamu membuka matamu secara perlahan, dan menyadari dirimu tengah di ikat pada kursi yang kamu duduki serta mulutmu yang di isolasi.
"hhmmmm... hhmmm..." teriakmu memberontak.
Panik...
Hanya itu yang kamu rasakan, dengan pintu ruangan yang terbuka lebar dihadapanmu terlihat seorang wanita cantik dengan elegan masuk ke kamar yang digunakan untuk mengikatmu.
"Hay..." ucap wanita itu padamu.
Kamu hanya menatap wanita itu sendu, wajah yang cantik, tubuh yang proporsional suara yang merdu, itulah penilaianmu terhadap wanita itu.
Wanita itu membuka isolasi yang menyekap mulutmu untuk berbicara, mata berbinar-binar menatap ke arah wanita itu, rasa yang tadinya panik menghilang begitu saja dan berubah menjadi belas kasihan terhadap wanita itu.
__ADS_1
"Liliyana..." ucapmu pada wanita itu.
"kau tahu namaku.." tanya wanita itu dengan senyum sinis kepadamu.
Kamu tersenyum tulus padanya dan menganggukan kepalamu.
"kau memang wanita yang cantik, bahkan lebih cantik dari yang kubayangkan" pujimu pada Liliyana.
"ck... kau memang wanita yang pandai berakting ya.." balas Liliyana sambil mendudukan dirinya pada sofa di sampingmu.
"aku tidak berakting.. itu memang kenyataan kau wanita yang cantik sesuai cerita Arvan padaku" ucapmu tulus.
*Flash back On...*
"Arvan.. apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya ??" tanyamu pada Arvan saat bersantai di pinggir kolam.
"pernah.. dan karena itu aku juga harus mengganggung resiko" jawab Arvan.
"resiko ??" ulangmu.
"yeah... resiko dimana persahabatan orang tuaku dengan sahabatnya rusak begitu saja" terang Arvan padamu.
"tapi kenapa ???" tanyamu lagi.
"sebelumnya aku pernah dijodohkan tepatnya lima tahun yang lalu, dijodohkan dengan putri dari sahabat ayahku, namanya Liliyana Hudgson wanita cantik, ramah, baik dan ceria" terang Arvan lagi.
"oh ya... pasti dia wanita yang sangat cantik.." sahutmu pada penjelasan Arvan.
"dia memang cantik.. sangat cantik, hanya saja cinta memang tidak bisa dipaksakan" ucap Arvan.
"kenapa.. apa kau tidak mencintainya ?" tanyamu lagi.
"aku mencintainya.. tapi bukanlah cinta seseorang untuk kekasihnya, lebih tepatnya cinta dari seorang kakak untuk adiknya, kami tumbuh bersama mulai sedari kecil, dan itu membuatku sangat menyayanginya seperti adikku sendiri" terang Arvan lagi.
"lalu kenapa kau menerima perjodohan itu, bukankah sebaiknya kau jujur di awal jika hanya menganggapnya adik.. lalu siapa yang kau cintai ??" Hardikmu pada Arvan.
"yeah... itulah kebodohanku, dulu aku menerima perjodohan itu karena beranggapan kalau aku memang mencintai Liliyana hingga aku mendapatkan Misi di Amerika dan bertemu dengan seorang wanita cantik hingga aku jatuh hati padanya, dari situ aku sadar bahwa rasa cintaku pada Liliyana hanya rasa cinta dari seorang kakak untuk adiknya" ucap Arvan dengan tatapan menyesali perbuatannya dulu.
"lalu.. ???"
"semuanya hancur disaat aku mengakui semuanya, persahabatan kedua orang tua juga hancur, hubunganku dengan Liliyana hancur, dan saat aku ingin memberi kejutan terhadap wanita yang kucintai malah aku yang mendapat kejutan darinya, kejutan yang sangat melukai hatiku dia hanya memanfaatkanku karena dia merasa kesepian saja, mungkin itu adalah karma untukku" ujar Arvan.
*Flash back off...*
"cinta tak harus memiliki Liliyana.. iklaskanlah Arvan, jika memang Arvan jodohmu kelak dia tak akan kemanapun" ucapmu menenangkan Liliyana.
"ck... ikhlaskan agar kau bisa bersamanya hah..." balas Liliyana dengan nada tinggi.
Kamu menggelengkan kepalamu dan tersenyum sinis padanya.
"aku wanita yang sudah bersuami Liliyana.. bahkan Arvan saja tidak akan bisa menandingi kekayaan bahkan ketampanan suamiku" terangmu santai pada Liliyana.
Liliyana berdiri dan berjalan ke belakangmu menghadap jendela dengan pemandangan lautan mayat di halaman mansionnya.
"Tetap saja Arvan tak akan pernah mencintaiku, jika aku tak bisa mendapatkan apa yang aku mau maka kalian harus ikut mati bersamaku"ucap Liliyana dan menekan tombol power pada remot kecil dan pintu perlahan menutup.
Kamu hanya terdiam mendengarnya, sedangkan Liliyana berada di belakangmu.
"INTAAANNNN" teriakan tiga orang pria yang sangat kamu kenali.
Tetesan air mata yang mewakili perasaanmu saat ini, menatap ketiga pria yang berlari dan berusaha masuk menyusulmu.
__ADS_1
To be continue...❤️