
Sesampainya di rumah sakit Nizam di bawa ke ruang operasi untuk menyelamatkan nyawanya, kamu berdiri disisi jendela menatap tubuh Nizam yang sedang di Operasi, hanya Tuhan yang dapat mendengar semua do'a mu.
Alson mendekatimu dan memelukmu, tak lama dari itu kamu menangis di pelukannya.
"dia berada di ruangan itu karenaku alson.. karenaku ini semua salahku.. hisskk...hisskk" ucapmu penuh Isak tangis.
"huussttt... semua ini adalah takdir sayang.. Nizam pasti bisa melewati semua ini" balas alson menenangkanmu.
"tuan alson..." panggil seseorang pada alson.
Kalian berdua menoleh, nampak Aiden berjalan mendekati kalian berdua bersama Arvan.
"kau... kau apakah orang itu.. Aiden Smith ??"tanyamu padanya.
"betul nona.. saya Aiden Smith" jawab Aiden.
"Bagaimana bisa kamu datang kesini" tanya alson padanya.
"saya dipanggil oleh tuan Nizam untuk datang kemari tuan" jawab Aiden pada alson.
*Flash back On...*
"lihatlah.. cucu ibu di dalam sini sudah bertumbuh besar ya" ucap ibu Sonya sambil mengelus perut buncit Sonia.
"benar ibu.. cucu kita ini sebentar lagi akan segera lahir" sahur ayah Fahrizal.
"Nizam.. kehamilan istrimu sudah memasuki bulan ke-6 dan ayah sarankan kamu jangan bepergian jauh terlebih dahulu sebelum anakmu lahir" ucap ayah Fahrizal pada anaknya.
"aku tidak bisa janji ayah.. mungkin dalam waktu dekat ini Nizam harus pergi keluar negeri selama beberapa hari" ujarnya.
"berapa lama mas.." tanya Sonia dengan ekspresi wajah sendu.
"lihatlah.. bumilku ini tidak mau terlalu jauh dariku" ucapnya pada istrinya.
"yeah.. ini kan karena anakmu juga mas gak mau di tinggal jauh-jauh sama ayahnya" balas Sonia dengan wajah cemberut.
Semua orang disana tertawa akan sifat kekanak-kanakan Sonia, beralaskan bawaan bayi Sonia tidak ingin berada jauh-jauh dari suaminya.
"maaf ya Sonia.. ini adalah urusan yang sangat penting jadi mas harus berangkat kesana" ujarnya pada Sonia.
"kapan kamu akan berangkat nak ?" tanya ayah Fahrizal.
"Besok siang Nizam berangkat yah.." jawabnya.
Semua orang disana hanya menganggukan kepala mereka dan melanjutkan acara makan bersama di resort itu.
"janji hanya beberapa hari ya mas..." ucap Sonia.
__ADS_1
"iya.. janji..."
Sonia yang mendapat jawaban itu kini tersenyum dan memeluk tubuh suaminya, walaupun agak sulit karena terhalang perut buncitnya yang sudah lumayan membesar.
"kamu sudah berubah mas sejak pulang dari Amerika dulu, semoga ini bukan mimpi mas.. aku sekarang telah mencintaimu dan aku berharap pernikahan ini tidak hanya berumur 9 bulan saja" Batin Sonia.
"maafkan aku Sonia.. aku bukan suamimu.. aku Aiden Sonia.. bukan Nizam.. aku tidak bisa berjanji akan kembali, mungkin hari ini adalah hari terakhirku bertemu denganmu..maafkan aku karena telah membohongimu" Batinnya.
yeah... disinilah Aiden Smith, dia menjalani kehidupan palsu sebagai Nizam Narendra Fahrizal, satu bulan ini dia harus berpura-pura menjadi Nizam di depan semua orang bahkan istri dari Nizam.
Dia akui selama satu bulan ini dia menghabiskan waktu bersama istri tuannya dan dia tidak berhak untuk menaruh hati pada Sonia, tapi apa yang bisa dia lakukan.. secara perlahan hatinya di isi oleh wanita itu walaupun dia sadar jika dia tidak akan pernah bisa memilikinya.
Satu hari sebelumnya...
Kring... Kringg...
Suara panggilan masuk pada ponsel Aiden.
"Hallo... iya tuan.." ucap Aiden mengawali panggilan itu.
"lusa terbanglah kemari aku menunggumu.." ucap Nizam.
"Baik... saya akan secepatnya mengurus keberangkatan ke Spanyol lusa" balas Aiden.
"good.. bagaimana keadaan keluargaku disana.. apa mereka tidak curiga ??" tanya Nizam.
"oke.. persiapkan semuanya aku tutup dulu" ucap Nizam dan mengakhiri panggilan itu.
"Baiklah.. aku harus segera memesan tiket pesawat malam ini juga dan mengakhiri aktingku disini, untuk Sonia..." Batin Aiden dan terdiam sejenak memikirkan istri tuannya itu.
"ahh.. apa yang ku pikirkan.. sadarlah Aiden.. dia istri dari tuanmu" Gerutu Aiden sambil menggelengkan kepalanya.
*Flash back off...*
"Setelah saya sampai di bandara.. tuan Nizam menginformasikan kalau dia berada di kordoba karena sedang melakukan penyerangan, dan saya di perintahkan untuk segera datang kemari" jelas Aiden padamu, Alson dan Arvan.
"maafkan aku.. karenaku kau harus terlibat dalam kehidupanku" ucap alson meminta maaf pada Aiden.
"anda tidak perlu minta maaf tuan.. ini semua hanyalah takdir" balas Aiden.
"Seharusnya yang dipermasalahkan disini adalah sifatmu alson.. jika saja sifat ambisimu itu bisa kamu kontrol dengan baik semua ini tidak akan terjadi" ucapmu ketus pada suamimu.
"maafkan aku sayang.. aku kaui bahwa ini semua salah, tapi aku memang sangat mencintaimu dan karena cinta itu aku melakukan tindakan yang sangat jahat seperti ini" sesal alson.
"sudahlah.. yang berlalu biarlah berlalu.. cukup kita jadikan pelajaran untuk kedepannya, semoga Nizam bisa terselamatkan" sahut Arvan menengahi.
Semua orang mengangguk yakin, bahwasanya Nizam akan selamat dan tak lama dari itu dokter keluar dari ruang operasi.
__ADS_1
"keluarga pasien Nizam.." ucap dokter itu memanggil.
"saya dok.. saya sepupunya" ucap Arvan mengacungkan diri.
"Bagaimana keadaannya dok" tanyamu pada dokter.
"keadaan tuan Nizam sangat kritis tembakan yang dialami tuan Nizam tepat mengenai sebagian jantungnya, dan operasi ini hanya bisa membantu untuk mengulur waktu saja agar tuan Nizam dapat bertahan lebih lama"ucap dokter itu menggantung.
"apa.. hanya mengulur waktu saja..kau adalah dokter.." sahut Alson.
"kami hanya seorang dokter tuan.. bukan tuhan.. kami sudah melakukan tindakan sebaik mungkin.. namun hingga sekarang tuan Nizam belum melewati masa kritisnya.. kita hanya bisa berdoa memohon keajaiban datang" jelas dokter itu kembali.
Kakimu lemas mendengar penjelasan dokter, alson menangkapmu agar tidak terjatuh dan air mata kembali mengalir di pipimu.
"alson.. ini semua salahku alson... jika saja dia tidak menyelamatkanku.. dia tidak akan menderita seperti ini.. aku harus bagaimana alson bagaimana.. hisskk... hiissskkk" ucapmu tak kuasa.
"hhuuussstt... tenangkan dirimu sayang" ucap alson.
" jika nanti jantungnya sudah tidak bisa bertahan maka kami akan melakukan transplantasi jantung terhadap tuan nizam, tapi persediaan jantung yang cocok untuk tuan Nizam sekarang habis, kami sudah menghubungi beberapa rumah sakit besar untuk meminta donor jantung yang cocok tapi tidak ada satu rumah sakitpun yang memilikinya" ucap dokter pada Arvan.
"ambil saja jantungku dokter"ucapmu pada dokter itu.
"apa kau sudah gila... tidak akan kubiarkan kamu melakukan itu" teriak Alson terkejut akan tindakanmu.
"kita harus mencari donor jantung secepatnya intan.. aku juga tidak akan membiarkanmu melakukan itu" ucap Arvan tak kalah marah dari alson.
Kamu hanya bisa menangis.
"tidak semua jantung bisa di donorkan begitu saja nona.. setiap pasien yang akan mendonorkan jantungnya juga akan kami periksa terlebih dahulu, dan untuk itu pihak rumah sakit juga akan membantu untuk mencarikan donor jantung yang cocok untuk tuan Nizam" terang dokter itu.
"Riko... Rendi... segera cari pendonor jantung yang cocok untuk Nizam.." titah alson pada kedua asisten itu.
"Berapa hari jantung Nizam akan bertahan dok" tanya Arvan pada dokter itu.
"kurang lebih dua hari tuan.." jawab dokter itu.
"kalian dengar itu.. dua hari dari sekarang.. itu waktu yang kuberikan pada kalian" ucap arvan pada mereka.
"Baik tuan.." jawab mereka bersamaan lalu berlari pergi.
"saya akan ikut membantu mereka berdua tuan" ucap Aiden pada alson dan Arvan.
"Pergilah... kita tak punya banyak waktu" sahut Alson dengan tetap fokus menenangkanmu.
"baik.. " jawab Aiden kemudian berlari menyusul dua asisten tadi.
"Tuhan... selamatkanlah Nizam .. aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika itu terjadi" Batinmu memphon pada Tuhan.
__ADS_1
To be continue...❤️