
Sinar mentari menembus kaca jendela menyinari wajah dan tubuh indahmu sebagian, kamu buka matamu perlahan dan menatap ke arah pria tampan pemilik hatimu.
"saat tertidur wajahmu terlihat sangat tenang" ucapmu lirih membelai lembut pipinya.
Merasa ada pergerakan dia membuka mata tajamnya dan menatapmu dalam diam sejenak.
Cuuupppp...
ciuman mendarat di bibirmu.
"morning kiss sayang" ucapnya padamu.
"alson... kau curang kenapa menciumku tiba-tiba" rengekmu padanya.
Cuuupppp....
"kenapa... apa ada yang salah sayang" ucap alson dengan meraba tubuhmu.
"ssttthh.. alson hentikan.. badanku remuk semua gegara semalam" ujarmu pada alson.
"satu ronde saja sayang.. morning s**x yeah.. pleaseee.." rengek alson padamu.
Kamu tarik kembali selimutmu untuk menutupi tubuh indahmu itu, kamu tenggelamkan kepalamu pada selimut itu dan mengabaikan rengekan suamimu.
"sayaaang... pleaseee.." rengek alson kembali dan menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuhmu.
"alson..." teriakmu terkejut dan reflek menutupi bagian dadamu.
"kenapa di tutupi sayang.. aku sudah berkali-kali melihatnya dan aku sudah tahu semua tanda yang ada di tubuhmu" goda alson dan mengangkat tanganmu ke atas kepala.
aduuhh... author gak mau lihat adegan ini 🤦😱 bikin iri saja... kalian lanjutkan saja kegiatan kalian sampai selesai.. author tunggu kalian di ruang perawatan Nizam saja 😌
Setelah kegiatan pagi selesai kalian berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan Nizam.
"Bagaimana keadaannya ??" tanyamu kepada Arvan.
"not bad.. kata dokter cepat atau lambat dia akan membuka matanya" ujar Arvan padamu.
"syukurlah..." legamu dan memeluk erat tubuh suamimu.
"apakah kalian sangat senang membuatku cemburu.. sudah tahu aku menyukaimu tapi kamu bermesraan dengan suami sialanmu ini disini" sebal Arvan pada kalian berdua.
"oh ayolah... dia istriku dan kau dilarang menyukai istri orang" ucap alson pada Arvan.
Mulai lagi.. selalu seperti itu.. jika kedua buaya ini bertemu akan selalu seperti itu, bertengkar memperebutkanmu hingga membuatmu kesal sendiri.
"Riko.. Rendi.. ayo ikut aku.. aku lapar kalian temani saja aku makan di restoran rumah sakit" ucapmu kepada para asisten.
"kenapa nyonya malah mengajakku" Batin kedua asisten itu teriris karena mendapat tatapan membunuh oleh tuannya.
"ma.. maaf nona kami tidak diperbolehkan makan jika tuan kami belum makan" tolak Rendi secara halus.
"aku nyonya kalian disini.. jika kalian tidak melaksanakan perintahku maka kalian tidak akan melihat hari esok" ucapmu tajam dengan mata membulat.
"ba.. baik nyonya" jawab Riko dan Rendi bersamaan.
"Riko.... Rendi..." pekik kedua tuan yang tengah mencekram tangan satu sama lain.
"APA... mau bunuh asisten kalian.. ayo bunuh kalau berani.." bentakmu sebal kepada kedua tuan besar yang bagaikan anak kecil bagimu.
__ADS_1
"sayaaang..." rengek alson padamu.
"apa... sana kalian bertengkar sampai puas.. para King mafia yang sangat menyebalkan" pekikmu dengan memijat pelipis kepalamu karena pusing.
"sayang jangan marah ya..ayo kita sarapan" ujar alson merayumu.
"eheemmm... kurasa ini waktunya makan siang" sahut Arvan.
"diam.." pekik alson pada Arvan.
"sudahlah.. aku pusing.. Riko.. Rendi.. ayo" ucapmu meninggalkan kedua king mafia menyebalkan itu.
Sesampainya di restoran rumah sakit kamu memesan banyak sekali pelayan yang mengantarkan makanan hingga satu meja terisi penuh.
Glleeekk...
Para pria tampan itu menelan ludahnya.
"sayang... apa kamu akan memakan semua ini" ucap alson padamu.
"kenapa.. aku kelaparan gara-gara kamu.. jika aku tidak bisa menghabiskannya kalian yang akan habiskan" balasmu dan mulai memakan makananmu.
Satu jam kemudian...
"aku kenyang sekaliii... tidak bisa berdiri..." ucap Riko pada Rendi.
"sudah jangan mengeluh.. aku juga kekenyangan" balas Rendi dan menatap Riko.
"huaaaa.... kenapa takdir kita begini.. harus di siksa dengan menghabiskan dua puluh menu masakan.. huaaaa..." rengek kedua asisten gagah itu.
"iya.. bagaimana jika perut sispexku ini jadi membuncit huaaa" kini rengek Rendi.
Beberapa saat yang lalu...
"apa... are you kidding me..." ucap arvan.
"nyo...nyonya.. bagaimana saya dan Rendi bisa menghabiskannya saya sendiri sudah sarapan" dusta Riko padamu dan di angguki Rendi.
"sa..." ucap alson terpotong.
"tidak ada bantahan.. perintah ini mutlak dan ini hukuman untuk kalian karena selalu membuatku pusing" pekikmu.
"ta..tapi nyonya.. saya dan Riko tidak pernah membuat anda pusing" ujar Rendi membela diri.
"ini salah kalian berdua juga.. karena tidak bisa mencegah tuan kalian agar tidak berkelahi setiap bertemu" cercamu.
"ini adalah perintah... dan ini mutlak... kalau makanan ini tidak habis maka bersiap untuk menerima hukuman lebih berat" tambahmu dengan melototi satu per satu pria tampan itu.
"sayang... kalau seperti ini lebih baik aku di hukum bertarung dengan hiu saja.." rengek alson.
"ho ho... tidak... itu hal yang mudah bagimu sayang.."balasmu dengan mengacungkan jarimu disertai menggelengkan kepala.
"cepat makan.. aku sudah kelaparan" tambahmu dan memulai acara makan siang.
Dengan wajah terpaksa ke empat pria itu mulai memakan satu persatu hidangan yang disajikan, di pertengahan acara makan siang kamu menyadari ada yang kurang disini.
"eh.. sayang.. Aiden kemana ??" tanyamu pada suamimu.
"kemarin malam Aiden mendapatkan telepon dari keluarga Nizam, bahwa kandungan Sonia mengalami kontraksi lebih awal jadi harus segera melahirkan dan tadi malam secara terpaksa aku menyuruh Aiden untuk pergi dengan penerbangan malam agar secepatnya berada di sisi Sonia untuk mewakili Nizam" ujar Arvan padamu.
__ADS_1
"oh... begitu... semoga persalinan Sonia berjalan lancar" do'amu pada Sonia.
Beralih ke ruang perawatan Nizam saat ini...
"Nizam.. cepatlah bangun.. istrimu akan segera melahirkan.. apa kamu tidak ingin melihatnya.." ujarmu dengan menggenggam tangan Nizam.
"kenapa kamu menggenggam tangannya sayang.. apa kamu mencintainya.." Batin Alson sakit melihatmu dari balik kaca jendela.
Karena sakit hati melihat semua itu Alson pergi dari tempatnya berdiri, di saat yang bersamaan Arvan yang kembali dari toilet karena merasa perutnya sangat penuh setelah mendapat hukuman darimu berpapasan dengan alson.
"Kenapa dia.. raut wajahnya begitu terluka.." Batin Arvan mengamati alson yang pergi menjauh.
Arvan kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Nizam, dan melihatmu duduk di samping Nizam dengan masih menggenggam tangannya.
"ck.. pantas saja si black fogs sialan itu memasang raut wajah musam.. ternyata karena ini" Batin Arvan memahami sesuatu.
"intan..." panggil Arvan dan kamu menoleh.
"yeah..." sahutmu singkat.
"kamu sangat perhatian sekali pada Nizam.. apa kamu masih mencintainya" tanya Arvan padamu.
Kamu tersenyum kecil.
"yeah.. aku mencintainya... tapi itu dulu Arvan.. sekarang duniaku adalah alson suamiku, sekarang perasaanku terhadap Nizam hanya sebatas teman, aku turut prihatin atas keadaannya sekarang tapi aku juga turut bahagia karena istrinya akan segera melahirkan, kehadiran seorang anak adalah sebuah anugerah Arvan.. aku dan alson pasti akan sangat bahagia jika hadir sosok buah hati kecil diantara kami" ujarmu atas pertanyaan Arvan.
Tak disangka Arvan yang mendengarnya ikut terhanyut dalam ucapanmu, membayangkan betapa bahagianya dia jika memiliki keluarga juga, memiliki seorang anak dan seorang istri sepertimu.
Wanita yang baik, wanita yang tangguh, dan juga wanita yang sangat menyayangi keluarganya, andai saja.... andai saja saat itu Arvan bertemu denganmu terlebih dahulu ketimbang alson, sudah pasti Arvan akan memperjuangkanmu untuk menjadi miliknya.
"intan..." panggil Arvan menepuk bahumu.
"hmm..." sahutmu mendongak untuk menatap wajah Arvan.
"bolehkah... andai suatu saat nanti kamu memiliki anak dengan suamimu.. bolehkan aku juga memilikinya denganmu" ucap Arvan yang sedikit ambigu bagimu.
"apa maksudmu Arvan..." balasmu dengan nada terkejut.
"maaf aku salah bicara.. bukan itu maksudku.. maksudku adalah jika kamu sudah memiliki anak dengan alson, bolehkan aku juga menjadi sosok ayah bagi anak itu, bolehkan aku juga mengadopsinya, dia akan tetap bersama kalian, aku hanya ingin memiliki seorang anak walaupun bukan darah dagingku sendiri, yang terpenting dia adalah anakmu aku akan sangat menyayanginya" ujar Arvan menjelaskan.
"hmm.. untuk masalah ini aku akan membicarakannya dengan suamiku dulu, terima kasih Arvan.. maafkan aku jika tidak mampu membalas cintamu" ucapmu dengan nada bersalah.
"tidak masalah.. cinta tak harus memiliki intan.. kamu sudah ada alson yang menjagamu, kelak perbolehkanlah aku untuk menjaga buah hatimu juga bersamamu dan alson" ucap Arvan tulus.
"aku akan mengusahakannya agar alson menerima niat baikmu ini Arvan.. sekali lagi terima kasih" balasmu dengan tulus.
"aku mencintaimu intan.." ucap Arvan memelukmu.
"maafkan aku Arvan karena tidak bisa membalasmu" balasmu pada Arvan.
"tidak masalah... oh ya.. aku lihat suamimu tadi pergi dengan wajah musam.. kelihatannya dia sedang cemburu padamu" ucap Arvan.
"benarkah... kalau begitu aku harus menyusulnya" ucapmu dan berdiri dari dudukmu.
"tenangkan dia intan.. dia pria kejam yang haus akan kasih sayang darimu" ujar Arvan dan mencium keningmu.
"terima kasih atas informasinya Arvan.. aku pergi dulu" ucapmu pada Arvan.
"Hati-hati..." balas Arvan.
__ADS_1
Kamu pergi meninggalkan ruangan itu dan menyusul suamimu.
To be continue...❤️