Kamu Target Obsesiku

Kamu Target Obsesiku
Ekstra Chapter 3


__ADS_3

"tuan kami sudah siap untuk menyerang" ucap seseorang pada balik ponselnya.


"kuhitung sampai tiga.. bom markas itu dari empat arah" ucapku mentitah.


"baik laksanakan tuan.." jawabnya.


"satu...dua...tiga..." ucapku menghitung.


BOOOMMMM... BLOOOMMMM....


"Bagus.. akan kutunjukan diriku yang sebenarnya Albert Hudgson" ucapku lirih penuh dengan kepuasan.


"sesuai rencana.. biarkan Mafioso kita menerobos dulu baru masuk" ucap Arvan yang duduk di sebelahku.


"alson.. apa aku boleh masuk terlebih dahulu.. tanganku sangat gatal ingin menyiksa orang-orang sialan itu" ucap Jacob padaku.


"biarkan Mafioso kita membereskannya dulu, setelah itu kita masuk untuk memberi pelajaran si tua Bangka itu" balasku santai kepadanya dengan fokus ke layar ponselku.


"apa kau sudah meretas data dan sinyal di markas Black Rose ??" tanya Arvan kepadaku.


"tenang saja.. aku adalah hacker terbaik di dunia, tinggal beberapa menit lagi aku selesai" ucapku menyombongkan diri.


"yeah.. yeah.. kau ahlinya.. aku sudah lama mencari informasi tentang hacker itu, ternyata dia adalah sainganku sendiri.." sahut Arvan acuh.


"ck... itu sebabnya jangan pernah bermain api denganku Arvan.. bahkan untuk memiliki wanitaku.. bermimpilah" cercaku membalasnya.


"huuhh.. aku sudah bilang aku menyerah.. tapi cintaku akan tetap sama.. intan akan tetap menjadi milikmu, apa aku tidak boleh mencintainya ??" timpal Arvan membela diri.


"diamlah.. aku tidak ingin berdebat denganmu" tukasku.


.......BERHASIL......


"apakah berhasil ???" tanya Arvan antusias.


"tidak ada yang tidak bisa dia lakukan Arvan" jawab Jacob membelaku.


"yeah oke.. kau rajanya Alson.. aku hanya kentang" cerca Arvan menyerah.


"hahaha.. sudahlah kita adalah sekutu sekarang.." tawa Jacob.


"bukan sekutu.. tapi rival.." sahutku dan meletakan ponselku di nakas mobilku.


"yeah.. benar.. kita adalah rival" balas Arvan dan tersenyum kepadaku.


"pintu gerbang sudah terbuka.. lajukan mobilnya" ucap Jacob memerintah sopir di depan.


Mobil melaju dan mulai memasuki markas Black Rose.


uuuhhhh... apakah ini pertanda datangnya perdamaian 🙄🙄


"dimana tuanmu ??" ucap Riko kepada Mafioso musuh.


"ck.. sampai mati pun tidak akan kuberi tahu" balas musuh itu.

__ADS_1


"tuanku akan memaafkanmu dan membiarkanmu hidup jika kau memberitahukan tempat persembunyian tuan sialanmu itu" pekik Rendi padanya.


"bunuh saja aku.." balasnya.


"akan ku kabulkan" ucap Riko dan mengeluarkan belatinya.


"aaaarrrrkkkk... apa yang kau lakukan.." rintih Mafioso itu merasakan sakit pada kakinya karena tusukan belati milik Riko.


"kau bilang ingin di bunuh saja kan.. ku kabulkan permintaanmu, tapi kau ingat.. kami para black fogs tidak akan membiarkan musuhnya mati secara mudah" ucap Riko tajam dan memperdalam tusukannya.


"aaaaarrrrrkkkkk..." rintih Mafioso itu.


"aku beri satu kesempatan lagi.. beri tahu atau mati kukuliti" ucap Riko dan darah mulai berkucuran.


"ti..tidak akan.. tidak akan pernah.. aaaarrrkkk" teriaknya kesakitan.


"baiklah jika itu pilihanmu.. rasakan saja hingga kau kehabisan darah.. saat itu tiba nyawamu akan melayang.. hahaha..." tawa Riko menggelegar dan menarik belatinya membelah daging betis musuh itu.


"aaaaarrrrrkkkkk... aaaaarrrrrkkkkk" teriak musuh itu sejadi-jadinya karena siksaan Riko.


huuuuu... author jadi ngeri 😖😖😖.


Sedangkan Rendi sendiri berdiri di belakang Riko menatap puas kepadanya yang sedang menikmati boneka hidupnya untuk di siksa itu hingga merintih kesakitan.


"tuan alson memang king mafia yang sangat menakutkan.. asistennya saja se keji ini bagaimana dengan tuannya.." Batin Rendi tersenyum menatap Riko.


Walaupun Rendi tahu mereka sudah hampir menguasai markas ini, Dia tetap memasang mode waspada terhadap musuh yang tengah bersembunyi.


Serangan belati tajam berhasil dia hindari.


"sialan.. beraninya kalian menyerang kami.." pekik asisten Albert.


"ck.. kalianlah yang terlebih dahulu mengusik ketenangan kami" ucap Rendi tajam kepadanya.


"katakan dimana tuanmu.." tambah Rendi berjalan berkeliling mengikuti langkah musuhnya bersiap untuk adu pukul.


"cuihh.. jangan harap.." balasnya meludah tak Sudi.


"baiklah.. kita lihat siapa yang lebih unggul disini" ucap Rendi percaya diri.


"Dasar pria sialan.." teriak asisten Albert dan mulai menyerang.


Perkelahian tanpa senjata dimulai, asisten Albert menyerang Rendi secara gegabah, raut emosi sangat terlihat diwajahnya.


"kenapa menghindar.. ayo serang" teriak asisten itu dan mulai menyerang lagi.


"hahaha... menyeranglah.. serang aku.. " tawa Rendi terus menghindar, menangkis bahkan tidak menyerang sama sekali.


Serangan yang dilakukan asisten Albert begitu banyak dan mulai terengah-engah kehabisan tenaga... durasi waktu juga sangat lama, tapi Rendi tidak ada perlawanan sama sekali,dia hanya menghindar saja.


"Bagaimana.. apakah tenagamu sudah habis.. kalau begitu giliranku menyerang" ucap Rendi dingin dan mulai menyerang musuhnya itu.


BUUGHH.. BUGGHH... BUGHHHH...

__ADS_1


Rendi mulai menyerang secara membabi buta, ternyata ini niatnya menghindar terus-terusan dari serangan lawan.. membiarkan lawannya mengeluarkan seluruh tenaga untuk menyerangnya dan tidak memiliki kesempatan untuk mengembalikan tenaga, disaat musuh itu mulai lemah Rendi baru memulai penyerangannya.


Sungguh cerdik 🧐🧐


"beri tahu dimana persembunyian tuanmu.. maka aku dengan senang hati membiarkanmu bisa hidup.."ucap Rendi tengah menodongkan pistol ke kepala asisten Albert yang sudah babak belur.


"di.. di ruang bawah tanah.." jawab asisten Albert.


"dimana pintu masuknya ?" tanya Rendi.


"dibalik lemari buku tapi kau tidak akan pernah bisa membukanya.." jawab asisten itu tersenyum licik.


"oh ya.. kau pikir aku tidak bisa ??" balas Rendi meragu.


"hahaha.. karena hanya orang tertentu yang bisa memasukinya" ucap asisten itu masih sempat menyombongkan diri.


Rendi tersenyum licik..


"Bawa dia.." titah Rendi kepada Mafiosonya.


"kalian mau membawaku kemana.. lepaskan" pekik asisten Albert karena diseret paksa oleh Mafioso Rendi.


"kau akan tahu sebentar lagi.." sahut Riko menjejeri langkah Rendi.


"kau lama sekali berkelahinya.. aku sampai mengantuk melihatmu membereskannya" lirih Riko terhadap Rendi.


"ck.. aku hanya ingin bersenang-senang.. karena sudah lama aku tidak melatih fisikku" balas Rendi sambil mengeluarkan ponselnya.


"okelah.." sahut Riko menggidikan kedua bahunya.


Ttuutt... ttuuuttt...


"hallo... tuan kami sudah menemukan tempat persembunyiannya.. anda silahkan masuk sekarang" ucap Rendi pada panggilan telfonnya.


Disisi Halaman Markas Black Rose..


"kerja bagus.. aku dan yang lainnya akan segera masuk.. kita beri kejutan si tua Bangka itu" ucap Arvan pada panggilan telfon dari Rendi.


"Bagaimana ???" tanya singkatku.


"mereka menemukannya" jawab Arvan tersenyum licik.


"Bagus.." sahutku menatap Jacob dan dia mengeluarkan ponselnya.


Ttuuut..tuuttt..


"Hallo... bawa mereka semua masuk.." titah Jacob dingin kepada seseorang di balik panggilannya dan mengakhiri panggilan itu.


Kami bertiga saling menatap puas penuh rasa kemenangan.


"kita tuntaskan hari ini.." ucapku dan membuka pintu mobil mulai memasuki bangunan markas itu.


To be continue...❤️

__ADS_1


__ADS_2