
Perlahan kamu membuka matamu, suasana berbeda ada di hadapanmu.
"dimana aku ? ini bukan kamarku" Batinmu dengan setengah mengerjapkan matamu.
Terdengar suara kaki seseorang memasuki kamar itu, ruangan remang-remang yang menurutmu sangat menakutkan.
"siapa disana ??" teriakmu.
Seorang pria melangkah mendekatimu, senyuman kagum dia berikan saat menatapmu namun hal itu malah membuatmu takut.
Gerakan cepat dari tanganmu di tangkis olehnya.
"Ho.. ho.. kau bisa bela diri rupanya.. kalau begitu lawan aku" ucap pria itu.
Kamu menyerang pria itu dengan bela diri yang kamu pelajari, walaupun hanya dihitung bulan kamu bisa dengan cepat menguasainya.
Beberapa serangan kamu arahkan padanya, sedangkan pria itu hanya menghindar dari seranganmu.
Dengan satu kali serangan pria itu mudah mendekapmu agar tidak bisa bergerak, kamu gigit pergelangan tangannya agar terlepas darinya dan dengan cepat mengambil alih pistol milik pria itu dari saku jas nya.
"aaarrkkk... apa yang kau lakukan" teriak pria itu tak menyadari pistolnya telah kamu kuasai.
Kamu arahkan pistol itu tepat ke kepala pria itu, tatapan kagum tetap terlihat dimatanya, dan pria itu tersenyum padamu.
"siapa kau, kenapa aku disini dan dimana aku" tanyamu komplit, pria itu hanya tersenyum.
"kau memang cepat untuk kalangan seorang wanita, tapi..." jeda pria itu menangkis tanganmu hingga pistol itu terjatuh.
"aarrkk.." pekikmu, dan tanganku dikunci oleh pria itu dengan cepat.
"kau masih kalah cepat dariku" bisik pria itu tepat di telingamu.
Kamu memberontak untuk lepas, tapi pria itu tidak melepasnya.
"siapa kau sebenarnya, lepaskan aku" berontakmu.
"aku.. kau tanya aku siapa.. aku Arvan Emelio pria kaya yang telah membelimu" ucapnya dengan nada menusuk di telingamu. dan seketika kamu hanya tertegun.
"apa... siapa yang menjualku ?? apakah alson ?? mana mungkin, tapi siapa ??? " Batinmu mencari jawaban dari kejadian ini.
Merasa gerakanmu berhenti, pria itu melepas kunciannya.
"Kenapa... apa kau terkejut ?" tanya Arvan padamu, tapi kamu tetap belum sadar.
__ADS_1
Hingga Arvan menepuk bahumu, dan reflek kamu meraih tangan lalu membantingnya dengan keras.
"aarrrkkk apa kau gila... kau tidak bisa menyerang saat lawan sedang lemah" cerca Arvan.
"kau salah tuan, disaat lawan lengah itu adalah salah satu kesempatan yang terbaik untuk menaklukkannya" tukasmu cepat lalu berjalan menjauhi Arvan.
"hahaha... kau tepat sekali, baru kali ini aku di kelabuhi seorang wanita saat bertarung" tawa Arvan memecah keheningan kamar itu.
"kenapa aku disini, siapa yang menjualku ?? apa suamiku ??? " tanyamu pada Arvan.
"Oh.. pria tua itu suaminya ?? dasar wanita penjilat, ku pikir wanita baik-baik ternyata sama saja mencari pria kaya raya, bahkan tua Bangka sekalipun" Batin Arvan dengan senyuman sinis padamu.
"kenapa kau tersenyum saja, semua itu tidak akan bisa menjawab pertanyaanku" ucapmu kesal pada Arvan.
Arvan berjalan mendekatimu, lalu mencekal kedua pipimu kasar.
"kalau benar memangnya kenapa.. suamimu telah menjualmu padaku, jadi kau sekarang adalah mainanku" ucap Arvan lalu menghempaskan wajahmu kasar.
"ck... aku tidak Sudi menjadi mainanmu, tidak mungkin suamiku menjualku, kau yang telah menculikku" Hardikmu pada Arvan.
Plaakkkk...
Tamparan keras melayang ke pipimu.
*flash back On...*
"cepat pindahkan wanita ini ke mobil" ucap salah satu pria berbaju hitam menghampiri mobilmu yang kecelakaan tadi.
Dengan cepat para bawahan itu memindahkanmu ke mobil mereka, dan pergi dari sana.
"Hallo... tuan kami sudah membawanya" ucap pria itu pada seseorang di panggilan telfonnya.
"Bagus.. cepat bawa dia kemari" sahut Mario dari balik sana.
"Baik tuan" jawab pria itu.
Disisi ruang kerja Mario...
Mario tersenyum karena rencananya berjalan dengan lancar, tapi senyuman itu berubah seketika.
"kenapa kamu tak tertarik pada wanita cantik ini, ayah sangat berharap kamu akan menikah dengannya" ucap Mario pada anaknya Bara.
"tidak dad... Bara sudah memiliki wanita lain, dan bara tidak ingin menjadi perusak rumah tangga seseorang" jelas bara pada Mario.
__ADS_1
"hmm... baiklah Daddy berharap wanita pilihanmu adalah wanita yang baik, Daddy hanya ingin kamu segera menikah" tutur Mario pada anaknya.
"sangat disayangkan, kalau begini aku harus pakai rencana cadangan, maafkan paman intan, sebenarnya paman ingin menjadikanmu menantu paman, tapi malah harus menjualmu karena rencanaku harus berjalan dengan lancar, semoga tuan Arvan memperlakukanmu dengan baik" Batin Mario tidak tega menjadikanmu alat untuk balas dendamnya.
tok...tok...tok...
Pintu ruang kerja itu terbuka, asisten pribadi Mario masuk dengan langkah tenang.
"maaf tuan karena mengganggu, saya mau menginfokan kalau saya melihat keberadaan tuan Nizam di daerah Amerika" ucap asisten Mario.
"untuk apa dia kemari, bukankah sudah kuperintahkan dia agar tidak datang kemari jika aku tidak memanggilnya" ucap Mario dan mengambil ponselnya melakukan panggilan untuk seseorang.
"Hallo selamat siang..." sapa Mario pada panggilannya.
"Hallo selamat siang... ada apa tuan Mario" jawab orang itu.
"tuan Nizam, bukankah sudah saya katakan jangan datang kemari jika saya tidak memanggil anda" hardik Mario pada Nizam.
"apa yang anda maksud dengan saya berada disana, posisi saya sekarang berada di raja Ampat untuk berlibur" jawab Nizam jelas pada Mario.
Mario hanya tertegun mendengarnya.
"ah... maafkan saya mungkin pengelihatan saya sedang terganggu, kalau begitu saya akhiri telfonnya" ucap Mario lalu menutup panggilannya.
Sejenak Mario berpikir.
"apa kau yakin melihat Nizam di Amerika ?" tanya Mario meyakinkan ucapan asistennya.
"sangat yakin tuan, ini ketiga kalinya saya melihatnya ada di Amerika" jawab asistennya.
"awasi terus pergerakan orang itu, jika memang dia membohongiku dia akan merasakan akibatnya" titah Mario pada asistennya.
*flash back off...*
Kembali ke keberadaanmu di mansion Arvan...
"tidak... tidak mungkin alson melakukan ini padaku, dia sangat mencintaiku tidak mungkin dia..." Gerutumu pada dirimu sendiri.
kakimu lemas tak bisa menopang tubuhmu sendiri, kamu ambruk ke tepi ranjang dan tetesan air mata lolos begitu saja dari pipimu.
Kamu menangis histeris akan kejadian yang menimpa dirimu, tak pernah terbayangkan olehmu jika harus memiliki takdir pilu seperti ini.
Kamu menganggap alson telah menjualmu, kesalahpahaman ini sangat menyayat hatimu karena Arvan tidak menyebut nama orang yang telah menjualmu, malah meng-iya-kan kata suami atas pertanyaanmu tadi.
__ADS_1
To be continue... ❤️