
Sidoarjo, Bandara Udara Internasional Juanda.
Aiden sudah sampai di Indonesia, sudah lama dia tidak menginjakkan tanah negara ini setelah empat bulan yang lalu saat tugas yang diberikan alson padanya.
Mobil yang telah menjemput Aiden telah sampai, empat hari Aiden mempelajari semua riwayat hidup Nizam mulai dari nama orang terdekatnya hingga kebiasaanya.
Dia harus melakukan tugasnya dengan baik, karena dengan ini dia bisa bertahan hidup dan mengamati keluarganya dari jauh.
"Selamat datang tuan" ucap Sonia menyambut kedatangan Aiden.
Semua orang berfikir bahwa Aiden adalah Nizam, karena wajahnya yang sudah di oplas oleh alson hingga sangat mirip dengan Nizam, bahkan sulit dibedakan.
"perut wanita ini membesar, apakah ini istrinya tuan" Batin Aiden pada dirinya sendiri.
"ah iya... terima kasih" ucap Aiden lalu tersenyum pada Sonia.
Sonia yang mendapat perlakuan simple dari Aiden merasa bingung, baru pertama kali ini dia mendapat senyuman dari suaminya.
ya benarlah bingung... yang di hadapannya bukan Nizam suaminya, tapi Aiden sebagai pengganti posisi suaminya saat ini 😅😅
"akan ku siapkan air hangat untuk anda" ucap Sonia gugup lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Aiden hanya mengangguk, dia sedikit canggung karena dalam dokumen riwayat hidup yang di berikan Nizam tidak tertulis bagaimana kebiasaan Nizam kepada istrinya.
Disisi lain...
Kediaman mansion Arvan...
"kenapa dia ada disini, dan bagaimana bisa Arvan bersahabat dengan mas Nizam" gerutumu saat memasuki kamar.
Kamu terdiam sesaat dan mengingat sesuatu.
*Flash back On...*
"oh ya sayang.. aku dulu punya sahabat saat berkuliah di Inggris" ucap Nizam padamu sambil menggenggam tanganmu di pasar malam.
"benarkah.. apakah dia perempuan ? kenapa tidak kamu kenakalan padaku ?" tanyamu menelisik karena sepengetahuanmu Nizam tidak memiliki sahabat selain kak Andre.
"hahaha.. kau cemburu ?" tanya Nizam.
"tidak..." dustamu.
"bukan perempuan sayang, tapi laki-laki namanya Arvan dia orang spanyol" jelas Nizam.
"tapi kenapa tidak dikenalkan padaku mas ?" tanyamu lagi pada Nizam.
"tidak sekarang.. nanti saat kita sudah menikah akan ku kenalkan, karena aku tidak mau jika dia terpikat kepadamu" jawab Nizam.
"hahaha.. ada-ada saja kamu mas gombal terus.." ucapmu dan menggelitik pinggang Nizam.
Kamu berlari dan di kejar Nizam, pasar malam yang hanya diadakan satu tahun sekali di Sidoarjo itu dan mengahbiskan waktumu disana dengan Nizam.
__ADS_1
*Flash back off...*
Mengingat masa indah, air mata begitu saja menetes melewati pipimu. Masa indahmu bersama Nizam yang sangat kamu impikan kini telah hancur karena kejadian itu.
Sesaat mengingat masa lalumu dengan Nizam, tiba-tiba bayangan alson datang di pikiranmu.
"untuk apa aku memikirkan suami bodoh itu, dia telah menjualku bahkan satu bulan ini tidak mencariku sama sekali" gerutumu pada dirimu sendiri.
"biar mas nizam ada disini atau tidak.. aku tidak peduli, aku tidak mencintainya sekarang dan kenapa si suami bodoh itu dengan mudah menguasai hati dan pikiranku, aneh sekali.." gerutumu lagi karena merindukan suamimu.
Kamu berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhmu diatas ranjang yang empuk, tanpa kamu ketahui kini kesadaranmu telah hilang dan digantikan ke dunia mimpi.
Terlihat pemandangan luas dan indah disana, kamu menggunakan gaun pengantin yang dulu pernah kamu kenakan saat pernikahanmu.
Tepat di hadapanmu ada tiga orang pria yang wajahnya terhalang sorot cahaya dari belakang hingga kamu kesulitan mengenali mereka, mereka saling mengulurkan tangan ke arahmu.
Kamu hanya menatap berganti ke arah tangan mereka, dan mendapat apa yang sangat kamu kenali.
Cincin pernikahanmu dengan alson, kamu mengenali cincin itu.. dengan senyum lembut kamu menyambut tangan yang memakai cincin itu dan pria itu menggiring langkahmu mendekatinya.
Kamu tersenyum melihat jelas wajah sang pemilik cincin itu.
"alson.. kenapa kau lama sekali.. aku sangat merindukanmu" ucapmu.
"aku juga sangat merindukanmu sayang, tunggulah aku.. aku akan datang" ucap alson padamu.
"kau jahat.. kau menjualku" ucapmu dengan tatapan sendu.
"alson kau mau kemana, jangan tinggalkan aku" teriakmu dan mengejar bayangan alson yang menghilang perlahan.
"tunggu aku sayang.. aku akan datang... percayalah" ucap suara alson menggema.
"ALSON..." teriakmu terbangun dari mimpimu.
Menyadari semua hanya mimpi, kamu menangis dan memeluk lututmu di atas ranjang.
"alson.. aku takut.. aku ingin pulang cepatlah kemari. hissk.. hisskk..hiskk" ucapmu membenamkan wajahmu kedalam lutut.
Tok.. tok.. tok...
Suara ketukan pintu terdengar.
"Siapa.. " teriakmu dari dalam.
"ini aku Arvan.. kau sudah siap ?? ayo ke bawah kita makan malam" ucap alson keras agar kamu mendengarnya.
Mendengar kata makan malam kamu menoleh ke arah jam dinding, dan benar sekarang sudah jam tujuh malam.
"yeah.. tunggu saja di bawah aku akan segera turun" teriakmu menuruni ranjang dan berjalan cepat ke arah kamar mandi.
Setelah membersihkan diri kamu menuruni anak tangga, berjalan ke arah meja makan untuk makan malam.
__ADS_1
Arvan dan Nizam sudah berada disana menunggumu dengan banyak makanan yang memanjakan Indra penciumanmu.
Kamu duduk dan kalian bertiga makan malam dengan tenang, sesekali Arvan melirik ke arahmu begitu juga dengan Nizam yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya padamu.
Merasa terganggu.. cepat-cepat kamu menyelesaikan makanmu.
"Kalian lama sekali kalau makan, berhentilah melihatku itu sangat menggangu" ucapmu frontal dan mengejutkan mereka berdua.
Dengan perasaan yang gugup dan jantung berdetak kencang kamu mengumpulkan seluruh keberanianmu untuk mengatakan itu.
Kamu tidak ingin dinilai Nizam sebagai intan yang lemah lembut dan mudah menangis seperti dulu, maka dari itu kamu meyakinkan diri bahwa kamu sudah tidak ada perasaan sama sekali pada Nizam. dan tidak mempedulikan dirinya.
Arvan yang mendengar kata kalian berdua, kini menatap ke arah Nizam dan menendang kakinya karena cemburu, Nizam telah sangat berani menatapmu.
Kamu pergi dari meja makan dan berjalan ke arah ruang latihan menembak, sedangkan Arvan dan Nizam masih disana dengan saling pandang.
"ku ingatkan.. dia milikku" ucap Arvan.
"yeah.. yeah.." balas Nizam dengan menganggukkan kepalanya.
Selesai makan malam, Arvan menyusulmu ke ruang latihan menembak begitu juga dengan Nizam yang ingin melihatmu berlatih.
Pasalnya dia tahu bahwa kamu bukan tipe wanita yang pandai beladiri dan menembak, jadi selain ingin membawamu pergi Nizam juga ingin memastikan sendiri tentang cerita Arvan padanya mengenaimu dulu.
Doorr.. Doorrr..
Suara tembakan mu tepat mengenai sasaran, tak lama kemudian kamu di kagetkan dengan suara tembakan dari dua arah kanan kirimu secara bersamaan.
Kamu menatap ke kanan dan kiri, terlihat Arvan di sebelah kananmu dan Nizam di sebelah kirimu, mereka juga ikut berlatih menembak menyusulmu.
"Bisakah kalian tidak mengejutkanku.. sangat menyebalkan" ucapmu kesal lalu melempar pistolmu.
Kamu berjalan keluar ruangan, cuma dicekal oleh Arvan pergelangan tanganmu.
"oh ayolah.. aku hanya ingin menemanimu berlatih, jangan marah" ucap Arvan penuh harap.
"apa sih.. aku ingin minum, lepaskan tanganku" terangmu pada Arvan lalu pergi mengambil minum.
Nizam yang mendengar bualanmu malah tertawa terbahak-bahak.
"hahahaha... lihatlah betapa bodohnya dirimu Arvan" ucap Nizam dengan tertawa terbahak-bahak.
"hey... diam kau ini tidak lucu" cerca Arvan lalu melanjutkan tembakannya.
"hahaha.. oke.. oke.." tawa Nizam masih terdengar.
Setelah mengambil minum kamu kembali ke ruang latihan, dan terlihat Arvan dan Nizam masih ada disana.
"ck... menyebalkan sekali.. kapan mereka tidak akan menggangguku" Batinmu dan melanjutkan latihanmu.
To be continue....❤️
__ADS_1