
Kordoba.. Spanyol Selatan..
Sebuah mobil Lamborghini Aventador masuk melewati gerbang mansion megah di kawasan kordoba, para pelayan di mansion itu menunduk hormat saat mobil itu melewati mereka.
Seorang wanita cantik berkaca mata hitam turun dari mobil, dia memasuki mansion dengan tegak dan elegan.
"pelayan.. siapkan air susu untukku mandi" titah wanita itu pada maid nya.
Dia berjalan ke arah halaman belakang mendekati kandang peliharaan sekaligus sahabatnya, dia memasuki kandang itu dan memanggil peliharaannya.
"Zio..." panggilnya.
Tak lama kemudian peliharaannya keluar dan berlari ke arahnya, menabrak tubuh wanita itu dan manja kepadanya.
"Zio sayang... ayo berenang" ajak wanita itu melepas rantai pada leher peliharaannya.
Wanita itu berjalan ke arah kolam renang mini di kandang itu dan mendorong tubuh peliharaannya hingga terjatuh di kolam, menghabiskan waktunya untuk memandikan peliharaannya dan bermain dengannya.
"Nona Liliyana... air anda telah siap" ucap maid pada wanita itu.
"ah ya... siapkan makan siang untuk harimau putihku ini, dia pasti sudah lapar" titah wanita itu dan keluar dari kandang peliharaannya.
Kalian benar.. wanita itu adalah Liliyana Hudgson mantan calon istri Arvan Emelio, dia adalah Queen mafia Black Rose salah satu mafia berkedudukan tinggi di dunia menanggung seluruh kewajiban atas organisasi milik keluarganya seorang diri tanpa pendamping maupun orang tua yang sangat dia cintai.
Liliyana Hudgson dulunya seorang wanita cantik yang cerdas dan ceria walaupun hidupnya penuh dengan ketegangan karena terlahir sebagai putri mafia, tapi tidak untuk sekarang.. Dia wanita dingin dan penuh misterius tidak ada yang bisa menebak tindakan apa yang akan dia lakukan.
Sangat cerdas... Queen yang selalu membuat lawannya tidak berdaya dengan serangan yang sangat rapi dan tidak terbaca sama sekali.
"ahhh... nyaman sekali" ucap Lilyana merendam tubuhnya di bathtub.
Liliyana meminum anggurnya dan menghidupkan musik klasik, dia pejamkan matanya dan memposisikan tubuhnya senyaman mungkin.
"Arvan.. sudah sekian lama dari hari itu, aku membencimu" ucap Liliyana dengan meminum anggurnya.
"aku Membencimu Arvan.. sangat membencimu" ucap Liliyana lagi dengan menatap gelas anggurnya tajam.
"aku membencimu karena sudah sekian lama masih tetap mencintaimu Arvan... dan karena perasaan ini aku sangat membencimu" teriak Liliyana dan membanting gelas anggurnya hingga pecah tak beraturan.
*Flash back On...*
Setelah malam kedatangan Arvan 5 tahun lalu..
Senja itu setelah pergi dari kediaman keluarga Emelio, Liliyana mengendarai mobil sportnya dan pergi menenangkan diri.
Tak pernah terpikir olehnya pria yang dia cintai sedari kecil tidak pernah mencintainya, bahkan pria itu hanya menganggapnya sebagai adik saja.
Sakit.. sangat sakit...
Itulah yang dirasakan Liliyana saat ini, dia harus mendapati dimana pria yang dia cintai telah mencintai wanita lain bahkan tidur bersama hingga mengandung anak dari pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, dan satu hal penting yang sangat menyakitkan baginya.. mengetahui bahwa dia tidak pernah dicintai oleh pria itu.
Siapa lagi kalau bukan Arvan Emelio sahabatnya sedari kecil yang telah dia anggap sebagai penyelamat hidupnya dulu hingga Liliyana menaruh hati padanya sejak saat itu hingga saat ini.
Byuuurrr....
Liliyana kecil tercebur ke kolam renang dewasa saat keluarganya dengan keluarga Arvan tengah mengadakan perayaan besar di kediaman Arvan.
__ADS_1
"Liliyana..." teriak Arvan dan menceburkan diri untuk menyelamatkan Liliyana.
"to..tolong kak" teriak Liliyana berusaha tetap mengambang di dalam air.
Waktu itu kolam renang bagian belakang sangat sepi, tidak ada orang dewasa disana, karena perayaan yang diadakan di ruang utama dengan alunan musik yang cukup keras membuat teriakan kedua bocah kecil tidak terdengar siapapun.
Arvan yang sangat pandai berenang membawanya ke tepian.
"Liliyana.. bangun.." ucap Arvan menepuk-nepuk pipi Liliyana.
Dengan sigap Arvan memberikan pertolongan pertama, memompa jantung Liliyana hingga cara terakhir yang harus dia lakukan yaitu memberikan nafas buatan untuk Liliyana.
"uuhhuuukk.. uhuukkk..." Liliyana terbatuk dan mengeluarkan semua air yang masuk ke dalam tubuhnya.
"ah.. syukurlah..." ucap arvan lega.
"kak Arvan...hisskk...hiskk.." teriak Liliyana menangis ketakutan.
"tenang Liliyana.. aku ada disini jangan takut" ucap Arvan dan memeluk Liliyana.
Liliyana masih tetap menangis, dia takut disaat dia merasakan betapa sesaknya saat berada disana.
"ayo.. aku bantu berdiri, kamu harus ganti pakaian" ucap Arvan dan memapah Liliyana untuk berdiri.
Sesampainya diruang ganti Liliyana Menganti pakaian dan mengeringkan rambutnya dibantu oleh Arvan, sedangkan Liliyana memandangi Arvan dari pantulan cermin didepannya.
"terima kasih kak" ucap Liliyana memecah keheningan.
"tidak masalah Liliyana.. sudah kewajiban ku untuk menjagamu" balas Arvan dengan tetap mengeringkan rambut Liliyana.
Liliyana hanya tersenyum dan Arvan kini juga melihat kepantulan cermin memandangi wajah Liliyana.
"kau tahu Liliyana.. kau sangat berharga bagiku, aku tidak akan membiarkanmu kenapa-kenapa" ucap Arvan lagi.
"benarkah... seberapa berharganya ??" tanya Liliyana.
"sangat.. sangat berharga" jawab Arvan singkat.
"lalu.. jika kakak ingin menjagaku caranya gimana ?? kita saja tidak bisa setiap saat untuk mengawasi" ucap Liliyana polos memperlihatkan wajah bingung.
" hahaha.. mungkin disaat kita besar nanti aku akan menikahimu agar aku bisa menjagamu" sahut Arvan dengan tawa lepas.
"menikah itu apa kak ??" tanya Liliyana sangat polos.
"entahlah.. tapi ayahku menjaga ibuku dengan menikah" jawab Arvan tak kalah polos.
"oohhh.. begitu.. jadi kita juga harus menikah ??" tanya Liliyana lagi.
"mungkin..." jawab Arvan singkat.
Mereka menyudahi kegiatan di ruang ganti dan berjalan menuruni tangga hendak bergabung pada perayaan itu, Arvan menggandeng tangan Liliyana erat seperti tidak ingin melepas tangan itu.
Semua orang melihat ke arah dua anak itu yang sangat serasi menuruni tangga, Liliyana sendiri yang menyadari tatapan semua orang menjadi malu karena merasa terganggu akan semua tatapan itu.
"Lihatlah... para penerus Black Shadow dan Black Rose yang sangat serasi jika bersanding" teriakan salah seorang tamu dan semua orang tersenyum menyadari hal itu.
__ADS_1
Liliyana yang mendengarnya masih belum mengerti, tapi melihat tatapan semua orang mengarah pada mereka berdua membuat Liliyana menatap ke arah Arvan dan tersenyum disaat Arvan juga menoleh ke arahnya.
"kakak.. aku suka jika kakak memperhatikanku" Batin Liliyana mengagumi Arvan.
Masa kecil yang sangat berharga bagi Liliyana, dan Liliyana memipikana semua hal itu dimana dia akan bersanding dengan Arvan di pelaminan.
Tapi itu hanya mimpi bagi Liliyana.. hanya mimpi..
"kau pembohong Arvan.. mana janjimu saat ingin menjagaku.. mana janjimu saat ingin menikahiku.. hisskk.. hisskkk..hiissskkk" ucap Liliyana sesenggukan.
Dia tengah menenangkan diri di atas bukit tinggi, melihat pemandangan senja kota kecilnya dengan suasan tenang dan hembusan angin lembut menerpanya.
"Liliyana..." panggil seseorang padanya.
Liliyana menoleh dan mendapati pria yang telah melukai hatinya.
"untuk apa kau kemari Arvan.." ucap Liliyana dingin padanya.
"Liliyana.. maafkan aku" ucap Arvan.
"pergilah.. aku membencimu Arvan, tidak ada gunanya untuk minta maaf" sahut Liliyana dan memasuki mobilnya.
"Liliyana..." ucap sendu arvan mencekal tangan Liliyana.
"sudah kubilang.. pergilah, aku tidak akan memaafkanmu.. lepas.." ucap Liliyana mengibaskan tangannya dan memasuki mobil.
Melihat Liliyana akan melajukan mobilnya membuat Arvan sangat sedih karena tidak mendapat maaf dari Liliyana.
"maafkan aku Liliyana.. selama ini kau memang sangat berharga bagiku karena aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri" teriak Arvan sekencang-kencangnya berharap Liliyana mendengarnya saat mobil itu tengah melaju.
"kalau kau menganggapku adik.. kenapa kau menerima perjodohan ini" Batin Liliyana dan meneteskan air matanya.
*Flash back off...*
"kenap tuhan.. kenapa..." teriak Liliyana saat setelah menyelesaikan ritual mandinya.
"aku sangat menderita dengan perasaan ini Tuhan.. ku mohon cabut saja nyawaku" teriak Liliyana mulai histeris.
Teriakan itu sangat keras hingga para maid bisa mendengarnya, terutama kepala pelayan yang sudah bertahun-tahun mengabdi kepada keluar Hudgson.
Kepala pelayan itu dengan cepat menaiki tangga dan membuka pintu kamar Liliyana, mengambilkan cairan obat penenang untuk Liliyana dan menyuntikan ke tubuh Liliyana.
"aarrrkkk..." pekik Liliyana saat merasakan sesuatu menusuk tubuhnya.
"maafkan saya nona" ucap kepala pelayan itu.
Sesaat kemudian Liliyana mulai mengantuk, obat penenang yang diberikan oleh kepala pelayan itu mulai bereaksi.
Itulah Liliyana Hudgson.. patah hati telah membuatnya bersifat 180° dari sifat aslinya dahulu, terutama membuat mental Liliyana menjadi tidak stabil jika mengalami tekanan disaat mengingat masa lalu itu.
Dia memang wanita yang sangat cerdas dan di takuti oleh dunia, tapi mereka tidak tahu jika Liliyana juga bisa bagaikan orang gila jika tekanan mentalnya kambuh seperti ini, maka dari itu Liliyana sangat ketergantungan akan cairan obat penenang itu.
Obat penenang dengan dosis sangat tinggi hingga reaksi yang diberikan akan sangat cepat.
To be continue...❤️
__ADS_1
Terima kasih yang sudah senantiasa membaca dan menunggu ceritaku untuk Up 😚 ada yang kepo gak gimana cerita rumah tangganya Nizam dan Sonia, sedangkan Nizam sendiri berada di sampingmu dan yang berada di samping Sonia adalah Aiden, apakah Nizam bisa mencintai Sonia ? apakah Aiden akan bisa menjalankan tugasnya dengan baik ???.
Lest.. tunggu kelanjutannya ya, jika cerita ini sudah mau mendekati ending maka aku akan Up untuk ceritanya Nizam, Sonia dan Aiden 😁😁