
Empat hari berlalu, kini Nizam dan Aiden berada di Bandar udara internasional John F. Kennedy.
Jadwal keberangkatan Aiden ke Indonesia tinggal 15 menit lagi, dan Nizam sendiri menyiapkan diri untuk menuju spanyol menemui sahabatnya.
"lakukan tugasmu dengan baik, jangan sampai ada yang mengenalimu, aku akan memanggilmu untuk menyusulku jika itu perlu" ucap Nizam pada Aiden.
"Baik tuan" balas Aiden.
Mareka saling berjalan ke arah pesawat mereka masing-masing, dan menuju tujuan mereka masing-masing.
Tujuh jam sudah penerbangan Nizam dari Amerika ke Spanyol telah tiba, sudah terlihat sahabatnya berada di ambang pintu bandara dengan banyak bodyguard bersamanya.
Sambutan hangat dilakukan dua sahabat itu dengan pelukan, senyum Arvan merekah melihat sabahatnya berada di hadapannya.
"kau menyambutku sendiri ? mana wanitamu itu" tanya Nizam pada Arvan walaupun dia tahu siapa wanita yang di maksud Arvan dulu.
"dia berada di mansion, nanti akan ku kenalkan" jawab Arvan dan mengajak Nizam menaiki mobilnya.
Saat setelah berada di dalam mobil, Nizam kembali membuka bicara memecah suara hening antara mereka.
"kau bilang wanitamu sangat cantik, kau tidak takut kalau aku juga jatuh hati padanya nanti" ucap Nizam dan dibalas tatapan bingung Arvan.
"hahaha... kalau kau ingin bersaing denganku kupastikan kau akan kalah Nizam" balas Arvan menganggap semuanya lelucon.
"apa dia akan menyambut kita nanti" tanya Nizam.
"yeah.. dia akan menyambut kita" jawab Arvan sedikit ragu.
"Semoga saja..." Batin Arvan pada dirinya sendiri.
*Flash back On...*
Deg... Degg...
Detak jantung Arvan semakin cepat melihat wajah cantik wanita idamannya dari dekat.
"lepaskan..." berontakmu pada Arvan.
"I am so sorry.." balas Arvan lalu melepas pelukannya.
Kamu menuruni tangga semakin cepat, Arvan tetap tidak menyerah untuk meminta maaf darimu, karena lelah kamu abaikan Arvan mencekal pergelangan tanganmu dan berlutut dihadapanmu.
"apa yang kau lakukan" ucapmu tak percaya melihat tingkah laku Arvan.
"aku hanya ingin minta maaf padamu, aku sangat menyesal" pinta Arvan padamu.
"sudahlah.. jangan begini berdirilah" titahmu pada Arvan.
"tidak akan.. sebelum kau memaafkanku" ucap Arvan.
"aku sudah memaafkanmu, sekarang berdirilah" ucapmu lagi.
__ADS_1
Arvan tersenyum mendengarnya, dan berdiri dengan senang. sarapan pagi hanya dihiasi suara dentingan sendok.
"oh ya. dua hari lagi sahabatku akan kemari, bisakah kau membantuku untuk menyambutnya" ucap Arvan memecah keheningan.
Kamu menghentikan kegiatan sarapanmu sesaat, lalu melanjutkannya lagi.
"jangan harap.. " balasmu singkat sambil mengelap sisa makanan di bibirmu dan pergi meninggalkan Arvan.
"Oohh tuhan... susah sekali untuk mendapatkannya" Batin Arvan frustasi.
*Flash back off...*
Perjalanan dari bandara menuju kediaman Arvan memakan waktu dua jam, dengan kawalan sepuluh mobil BMW hitam membelah kepadatan jalanan di negara Spanyol, dari jauh sudah sangat terlihat bangunan megah bernuansa hitam dop berdiri kokoh disana.
Arsitektur klasik yang begitu elegan dengan goresan emas pada bangunan itu, Gerbang utama bangunan itu terbuka kawalan mobil yang di tumpangi Arvan dan Nizam masuk kedalam.
"Selamat datang tuan Arvan.. selamat datang tuan Nizam.." ucap para maid serempak menunggu kedatangan Arvan dan Nizam di pintu utama.
Arvan dan Nizam masuk kedalam dan menuju ruang tamu, tak lama dari itu terdengar suara langkah kaki beberapa orang.
Arvan dan Nizam melirik ke arah suara itu berasal dan mereka hanya bisa terpana melihat wanita barisan paling depan memimpin langkah kaki itu.
"Sangat Cantik...." ucap Arvan lirih melihatmu dengan gaun mahal yang berbalut pada tubuhmu.
"Intan.. rindukah kau denganku.." Batin Nizam setelah sekian lama tidak melihatmu.
Nizam membayangkan kembali masa-masa dimana Nizam dengan susah payah mendapatkan hatimu, dimana kamu tersenyum bahagia bersamanya, menghabiskan waktu bersama, dan mempersiapkan segala hal untuk pernikahan yang seharusnya sudah terjadi empat bulan yang lalu.
Tanpa menatap siapa tamu yang datang, kamu memerintahkan semua maid untuk meletakan jamuan ringan di atas meja, dan ikut menata jamuan itu di atas meja dengan tersenyum.
"Maaf saya tidak bisa menyambut Anda di depan karena...." ucapmu dan tergantung saat menatap ke arah tamu Arvan.
Nizam tersenyum ke arahmu, Tatapan yang tadinya tulus kini berubah menjadi tatapan tidak senang saat melihat Nizam ada dihadapanmu.
Kamu tidak mau Arvan mengetahui masa lalumu dan akhirnya kamu memilih diam, prinsipmu kamu tidak akan membukanya jika Nizam tidak membukanya terlebih dahulu.
"sibuk di dapur" lanjutmu dari ucapanmu tadi.
"it's okay nona.." ucap Nizam santai.
Ingin rasanya Nizam memeluk tubuhmu erat, tapi dia tidak bisa.
Arvan sendiri hanya bisa mengagumimu, dia tidak menyangka jika kamu mau membantunya untuk menyambut Nizam.
"Terima kasih.." ucap Arvan lirih padamu.
"ah ya.. Nizam perkenalkan dia Intan wanita yang aku ceritakan dulu" ucap Arvan mengenalkanmu pada Nizam.
Seharusnya gak usah di kenalin donk.. Nizam memang sudah mengenalmu sangat baik dari pada Arvan kan 😂😂😂
"sesuai ucapanmu Arvan, dia memang wanita yang sangat sulit di taklukkan" balas Nizam.
__ADS_1
"darimana kau tahu ?" tanya Arvan dengan tatapan penuh curiga.
"hahaha.. melihat dari wajahnya saja aku sudah bisa menebaknya Arvan" dusta Nizam pada Arvan.
Kamu hanya diam dengan sesekali tersenyum mendengar percakapan Arvan dengan Nizam.
"Sebaiknya aku kembali ke kamar.." ucapmu karena merasa tidak nyaman atas kedatangan Nizam.
"kenapa... apa kau tidak nyaman atas kedatanganku ?" tanya Nizam padamu.
"ah tidak.. bukan seperti itu, ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan" dustamu pada Nizam.
"Aku akan mengantarmu" ucap Arvan dan hendak berdiri.
"ti..tidak usah, aku bisa sendiri Arvan kalian nikamti saja kebersamaan kalian saat ini" ucapmu pada Arvan dan berjalan menaiki tangga.
Arvan dan Nizam hanya bisa melihat kepergianmu hingga pintu kamarmu tertutup, Arvan melihat Nizam menatapmu tanpa berkedip lalu dia melemparkan tissue ke arah Nizam.
"Hay... ingat dia milikku" ucap Arvan menunjuk pintu kamarmu.
"ini kesalahanmu.. kenapa kau memperbolehkannya menemuimu, aku jadi terpana melihatnya.. bisa saja aku jatuh hati padanya" ucap Nizam santai.
"Hay... ingat kau sudah menikah Nizam" hardik Arvan.
"hahaha.. aku bercanda Arvan, lagian aku menikah bukan dengan kekasihku dulu" ucap Nizam.
"aku sangat turut bersedih untuk apa yang kau alami, sudah beberapa tahun kau tidak pernah memperlihatkan wajah kekasihmu padaku, apa kau ada fotonya bisakah aku melihatnya" ucap Arvan padanya.
"tidak... jika aku perlihatkan kau akan jatuh hati padanya" tolak Nizam pada Arvan.
"oh ayolah.. aku sudah punya pujaan hati sekarang, jadi kau tidak usah khawatir" ucap Arvan memohon.
"tidak akan Arvan Emelio..." tegas Nizam sekali lagi.
"okay.. aku tidak akan memaksa, mungkin suatu saat nanti aku akan bertemu dengannya walaupun tanpa sengaja" ucap Arvan menyerah lalu meminum kopi americano dihadapannya.
"kau memang sudah bertemu dengannya Arvan, bahkan juga sudah jatuh hati padanya, itu sebabnya aku tak pernah memperkenalkannya padamu dulu" Batin Nizam lalu ikut meminum kopinya.
Disisi lain...
Markas Black fogs Amerika..
"Riko.. sudah kau siapkan semuanya ?" tanya alson pada Riko.
"sudah tuan.. kita tinggal menunggu jadwal keberangkatan kita seminggu lagi" jawab Riko pada alson.
"kenapa lama sekali" cerca alson.
"maaf tuan.. ini sudah paling cepat, karena kegiatan anda di dua perusahaan tidak bisa saya handle kan ke sembarang orang, untuk seminggu ini adalah rapat-rapat yang sangat penting dan tidak bisa diwakilkan tuan" jelas Riko pada alson.
"Ck.. baiklah"
__ADS_1
"Tunggu aku sayang... aku akan menjemputmu" Batin alson pada dirinya sendiri.
To Be continue...❤️