
Setelah pencarian donor jantung ke seluruh Rumah sakit yang ada di Spanyol tetap saja tidak membuahkan hasil, ada satu titik cahaya yang menjadi harapan bagi Alson dan Arvan.
Donor jantung dari negara tetangga yang cocok untuk Nizam hanya tersisa satu, namun jantung itu sudah menjadi hak milik bagi pasien disana.
"Riko.. Rendi.. Rebut donor jantung itu bagaimanapun caranya, dan kau Jacob kembalilah ke Amerika kupercayaan perusahaanku padamu hingga aku dan istriku kembali" titah alson pada mereka bertiga.
"Baik tuan.." jawab mereka berdua.
"baiklah aku akan kembali.. jaga istrimu itu baik-baik alson" ucap Jacob menepuk pundak alson.
Setelah kepergian Jacob beberapa menit kemudian suasana menjadi hening.
"apa kau akan mengulangi kesalahanmu lagi alson.." ucap Arvan dingin.
"apa maksudmu.." balas alson tak mengerti.
"hentikan sifat angkuhmu itu alson.. berhentilah mengambil yang bukan hakmu secara paksa" ujar Arvan.
"tidak ada cara lain lagi.. kita tidak bisa mengambil donor jantung dari negara lain lagi karena itu akan memakan waktu yang lama" sahut Alson mendominasi pemikirannya.
"kita tidak tahu.. mungkin pasien itu sangat memerlukan donor jantung ini" sahut Arvan memperjelas.
"dan kita juga membutuhkannya Arvan..kau lihat seperti apa keterpurukan intan tadi hah.. dia berpikir bahwa keadaan Nizam sekarang dikarenakan dia, intan akan menyalahkan dirinya sendiri jika Nizam tidak selamat" teriak Alson padanya.
"aku ada satu orang yang mungkin bisa membantu kita, dan jantungnya akan cocok dengan Nizam, dia seorang pengidap kanker otak dan hidupnya mungkin tidak akan lama lagi" ucap Arvan.
"ide bagus.. lebih cepat lebih baik.. kita kesana sekarang juga" sahut Alson.
Ke empat pria itu pergi keluar dari rumah sakit dan pergi ke kediaman orang yang dimaksud oleh Arvan tadi.
"selamat datang tuan Arvan.. dan anda pasti tuan alson pengusaha terkaya di Amerika" sambut pria paruh baya itu pada tamunya.
Pemilik Rumah yang tidak terlalu besar ini adalah orang yang dimaksud oleh Arvan, seorang pengidap kanker otak yang dengan sisa-sisa hidupnya bertahan demi memastikan keluarganya baik-baik saja walaupun hanya mengawasi dari jauh.
Keadaannya kini hanya bisa bergantung pada kursi roda setiap akan berkeliling, keadaan badan yang sudah tidak segar lagi namun tetap terlihat aura ketampanannya dulu ketika dia masih sehat dan berjaya.
"terima kasih tuan Frederick Abraham" balas Arvan menyambut jabatan tangan pemilik rumah itu.
Dan disusul oleh jabatan tangan alson, Riko, dan Rendi.
"ada kepentingan apa tuan-tuan datang ke kediaman saya" ucap Frederick menyela jamuan minum teh itu.
Alson dan Arvan saling tatap begitu juga Riko dan Rendi.
"ehemm.. begini tuan... kedatangan kami kemari bermaksud untuk meminta tolong kepada anda" ucap alson memulai pembicaraan.
"meminta tolong... suatu kehormatan untuk saya jika bisa membantu anda" balas Frederick.
Alson mulai menjelaskan semua kejadiannya dari awal, mulai dari awal alasan Nizam menyusulmu ke spayol hingga kejadian yang membuat Nizam dalam kondisi saat ini.
__ADS_1
Frederick hanya mengangguk-anggukan kepalanya, mendengar penjelasan alson dengan baik.
"maka dari itu.. kedatangan saya kemari ingin meminta bantuan anda agar berkenan mendonorkan jantung anda tuan" ucap alson mengakhiri penjelasannya.
Frederick hanya tersenyum kepada para tamunya lalu menyuruh pelayannya untuk membawanya pergi, semua orang yang ada di ruang tamu itu terkejut karena tidak mendapat jawaban apapun dari pemilik rumah.
"Tuan Frederick... kami datang kemari dengan harapan Anda dapat membantu" ucap Alson dengan menahan amarah.
"alson..." ucap arvan menahan alson dari amarahnya.
Merasa tidak mendapatkan hasil.. mereka berempat kembali ke rumah sakit dengan wajah frustasi.
"Bagaimana ini.. sampai saat ini aku belum bisa mendapatkan donor jantung.. bagaimana aku sanggup menghadapi intan saat ini" Batin alson lesu sambil melangkah memasuki ruang istirahat rumah sakit.
"Alson.. kamu sudah kembali..." teriakmu melihat suamimu datang dengan wajah senang.
"iy..iya sayang.. maafkan aku.."sesal alson.
"untuk apa kamu minta maaf.. kita berhasil mendapatkan donor jantung yang cocok untuk Nizam.. aku sangat berterima kasih karena kamu telah berjuang untuk mencarinya" ucapmu senang dan memeluk suamimu.
Alson hanya bisa tertegun mendengarnya begitu juga dengan Arvan yang sama terkejutnya, sedari tadi Arvan juga frustasi karena tidak bisa mendapatkan donor jantung untuk sahabatnya.
"apa yang kamu katakan sayang..." ucap alson tidak percaya.
"iya alson.. kita mendapatkan donor jantung saat ini.. ada seseorang yang begitu dermawan mau mendonorkan jantungnya dan itu artinya Nizam akan selamat dan orang itu..." ucapmu menggantung.
"orang yang begitu dermawan itu akan bahagia disisi Tuhan intan.. kau jangan khawatir, dan untuk keluarganya aku harus menyelidikinya siapa orang yang begitu dermawan mendonorkan jantunya itu" sahut Arvan ikut senang.
"hmmm.. kau pastikan keluarga pendonor ini mendapat dispensasi yang sesuai Arvan.. kami sangat berterima kasih" balasmu dengan tetap memeluk suamimu.
"apa kalian akan tetap bermesraan di depanku.. ini sangat menyebalkan" ucap Arvan pada kalian berdua.
Mendengar itu kamu melepaskan pelukanmu, tapi Alson kembali menarikmu pada pelukannya lagi bahkan memeluk pinggangmu lebih erat.
"Kenapa... kami pasangan suami istri dan itu wajar-wajar saja.. aku ingatkan kembali... intan adalah ISTRIKU dan Aku Alson Johannes adalah SUAMINYA" ejek alson dengan penuh penekanan pada kalimat istri dan suami.
"iya aku tahu.. apa salahnya jika aku tetap mencintai istrimu, cinta tak harus memiliki" balas Arvan ketus.
"Hay.. apa kau bilang.." teriak Alson.
"sudah.. berhentilah bertengkar dengan Arvan.. aku tetap istrimu alson, dan cinta Arvan juga bukan kesalahan" ujarmu pada alson.
Alson mengerutkan dahinya.
"hanya seorang istri bagitu... dan cinta Arvan tidak salah.. apa kau mencintai Arvan.. dan tidak mencintaiku.. hubungan kita hanya status.. seperti itukah maksudmu..." teriak Alson penuh amarah.
"bukan.. bukan itu maksudku.." ucapmu dan ingin melanjutkan penjelasanmu tapi alson langsung pergi keluar ruangan.
Kamu hanya menghela nafas panjang.
__ADS_1
" aku tahu aku tidak pernah masuk ke dalam hatimu walaupun sedikit saja, cintaku akan tetap sama intan walaupun aku tidak bisa memilikimu.. kejarlah dia.. tenangkan suamimu yang angkuh itu" ujar Arvan padamu.
"terima kasih Arvan.. aku tahu walaupun aku tidak bisa membalas cintamu sebagai kekasih setidaknya bisakah kita berteman" ucapmu pada Arvan.
"pasti.. dan aku berjanji akan menjadi teman terbaikmu" balas Arvan dengan antusias.
"terima kasih.. aku mau menyusul suamiku dulu ya" ucapmu pada Arvan dan pergi keluar menyusul alson.
Setelah lima belas menit mencari, akhirnya kamu menemukan suamimu itu berada di bangku taman rumah sakit.
Diam.. Tatapan kosong...
Hanya itu yang terlihat diwajah tampan suamimu itu, kamu mendekat dan memeluknya dari belakang.
"sayang... jangan marah.. kamu hanya salah faham dari perkataanku tadi" ucapmu memanggil alson sayang untuk pertama kali.
Alson hanya tertegun mendengarnya.
"sayang... apa kamu tidak mendengarku tadi.. aku minta maaf" ucapmu lagi karena tidak mendapat respon dari alson.
Alson tetap tertegun dan tidak merespon sama sekali, kamu yang tidak sabaran hendak melepaskan pelukanmu tapi ditahan oleh alson.
"katakan sekali lagi..aku ingin mendengarnya lagi" ucap alson.
"apa.. katakan apa ??" godamu seakan melupakan ucapanmu barusan.
"itu tadi.. yang panggilanmu padaku sebelum kata minta maaf" ujar alson memperjelas.
"yang mana alson.. aku tidak mengingatnya" godamu lagi.
"sayaaang..." rengek alson.
"hehehe.. iya.. iya.. sayang.. maafkan aku.. kamu hanya salah paham atas ucapanku di ruang istirahat tadi" ucapmu mengulangi kalimatmu.
Alson tersenyum lebar setelah kamu mengulangi kalimat yang ingin di dengar alson.
"lalu seperti apa yang sebenarnya ??" ucap alson yang tiba-tiba menjadi ketus.
"maafkan aku alson.. hubungan kita bukan hanya status suami istri dan dari awal memang aku sudah ingin menerimamu sebagai suamiku, dan untuk perasaan Arvan maupun Nizam ya biarkan saja seperti itu, aku tetap istrimu tidak ada satu orang pun yang akan bisa memasuki hatiku" jelasmu pada alson.
"lantas.. siapa yang bisa memasuki hatimu.. bukannya kamu pernah mencintai Nizam" ucap alson.
"iya.. memang aku mencintai Nizam.. tapi itu dulu, sekarang..." ucapmu dan mengalungkan kedua tanganmu kepada leher alson.
"duniaku hanya untuk suamiku, pria manapun tidak akan ada yang bisa menggeser kedudukan mu dihatiku.. saya intan Gustiwana Johannes istri dari alson Johannes mengaku telah mencintai suaminya dan akan hidup bahagia dengannya" sambungmu dan tersenyum pada alson.
Alson tersenyum bahagia mendengar pemjelasanmu, dia tarik tengkukmu dan men**** b***r seksimu itu sebagai tanda rasa bahagianya itu.
To be continue...❤️
__ADS_1