
Tiga hari berjalan.. setiap harinya kamu bolak balik rumah sakit untuk merawat Nizam untuk menebus kesalahanmu dan hal itu tidak bisa kamu lakukan tanpa persetujuan alson suamimu.
"Nizam aku mendapat kiriman foto anakmu dari Aiden" ucapmu dan memperlihatkan foto itu di ponselmu.
"putrimu sangat cantik Nizam.." pujimu.
Nizam mengambil alih ponselmu dan menatap foto putri kecilnya itu dengan seksama, dalam seketika air mata jatuh melewati pipi Nizam begitu saja.
"aku ayah yang tidak baik.. bahkan aku tidak ada disamping putriku saat dia lahir.. hissk..hisskk..hiskk" keluh Nizam menyerahkan dirinya sendiri.
"Aiden ada disana Nizam.. dia akan menjaga mereka untukmu" ucapmu menenangkannya.
Nizam hanya mengangguk.
"bisakah kamu tinggalkan aku sendiri intan.." ucap Nizam padamu.
"Baiklah... kalau ada apa-apa kamu bisa pencet tombol ini... suster akan segera kemari dan aku juga" ucapmu dan keluar dari ruangan.
"aku memang ayah yang tidak baik.. walaupun aku belum bisa menerima Sonia tetap saja putriku adalah darah dagingku" Batin Nizam teriris memikirkan putrinya.
"aarrkk... jantungku sakit sekali" lirih Nizam menekan bagian dadanya yang sakit.
Rasa sakit itu semakin terasa di bagian dada Nizam, dengan sekuat tenaga Nizam meraih tombol darurat.
"Nafasku.. sesak sekali" Batin Nizam berusaha meraih tombol darurat.
TINGG... (tombol tertekan)
Beberapa menit kemudian...
"Nizaamm...." teriakmu mendapati Nizam tidak sadarkan diri.
"panggil dokter segera" titahmu pada dua suster yang ikut bersamamu.
Kamu berlari menuju Nizam, dan kamu menepuk pipi Nizam lembut mencoba membangunkan Nizam.
"biarkan saya memeriksanya dulu nyonya" ucap dokter memasuki ruangan.
"tolong lakukan yang terbaik dokter" balasmu dan keluar dari ruangan.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan secara terburu-buru. Kamu yang dari tadi cemas menunggu hasil pemeriksaan semakin khawatir dengan sikap dokter yang gelisah keluar dari ruang perawatan Nizam.
"Dokter... bagaimana dengan hasilnya" ucapmu mencekal tangan dokter itu.
"kita harus bertindak cepat nyonya.. tuan Nizam mengalaminya komplikasi.. suster siapkan ruang operasi sekarang" ujar dokter itu.
"ap..apa operasi ini akan berhasil dokter ??" tanyamu memastikan.
"thirty percent nyonya.. saya akan melakukan yang terbaik nyonya.. saya permisi dulu" jawab dokter itu.
Kamu terdiam.. kakimu lemas mendengar penjelasan dokter itu.
__ADS_1
Buuuggghhh...
"intan.... kamu sudah bangun..." ucap Arvan disaat kamu membuka mata.
"aku kenapa Arvan.." tanyamu.
"kamu pingsan karena syok berat.. tenanglah sekarang.. jangan terlalu banyak pikiran.. akan sangat berbahaya untuk anakmu.." ujar Arvan padamu.
"apa... anakku ???" ucapmu tidak mengerti.
"iya anakmu intan.. kamu tengah mengandung.. usia kandunganmu masih dua minggu.. kata dokter ini sangat rentan.. jadi kamu tidak boleh stress, tidak boleh angkat beban berat, tidak boleh... blaa...blaa..blaaa..." jawab Arvan panjang kali lebar.
Author malah pusing... Arvan ini sangat cerewet 😑😑😑😑😑
"benarkah... ??? " ucapmu sambil mengelus perut ratamu dengan bahagia.
"apakah Alson mengetahui ini ??" tanyamu lagi pada Arvan.
"ah yeah... belum... aku begitu bahagia mendengar berita ini.. aku sampai lupa tidak memberi tahunya.. aku akan menghubunginya dulu" jawab Arvan dan hendak menelfon alson.
"jangan... rahasiakan saja dulu... biar aku saja yang memberi tahunya.. aku akan memberinya kejutan... satu bulan lagi adalah hari ulang tahun kami.. selama itu kamu bantu aku ya.. jangan sampai alson tahu tentang kehamilanku ini" ucapmu pada Arvan.
"hmm baiklah..." balas Arvan mengiyakan.
"Nizam.. bagaimana keadaannya Arvan.. kata dokter kemungkinan dia selamat hanya tiga puluh persen" ucapmu sendu menatap Arvan.
"kita berdoa saja.. semoga tuhan berada di pihak kita.. sekarang tenagkanlah dirimu" balas Arvan.
Disaat menunggu kedatangan Alson dari markas, Arvan menjagamu dengan baik dia merawatmu, menyuapimu dan bergurau denganmu agar kamu tidak memikirkan operasi Nizam yang saat ini masih belum selesai juga.
Tak lama dari itu Alson datang dengan para asisten dan Jacob.
"sayang... kamu kenapa.. bagaimana bisa seperti ini" ucap alson mengkhawatirkanmu.
"aku sudah baik-baik saja Alson.. aku hanya syok tadi karena Nizam mengalami komplikasi dan sampai saat ini operasinya belum selesai" ujarmu.
"apakah Arvan merawatmu dengan baik sayang.. dia tidak kurang ajar kan" tanya alson menyebalkan.
"Hay... aku bukan pria hidung belang.." sahut Arvan tidak terima.
"Arvan merawatku dengan baik alson.. berhentilah bertengkar dengannya" ucapmu menengahi.
"dua kucing sialan ini kalau berdekatan selalu saja bertengkar.. apa tidak membuatmu pusing intan.." ujar Jacob menambah bualan.
"Hay...." pekik alson dan Arvan bersamaan.
"pusing... sangat pusing..." jawabmu singkat dan menidurkan badanmu.
"sayang... aku bantu berbaring" ucap alson membantumu.
"aku sangat mengantuk alson... jangan bertengkar lagi.. aku ingin istirahat" ucapmu santai dan mulai memejamkan mata.
__ADS_1
"baiklah sayang... istirahatlah" balas alson dan menyelimutimu.
Alson tersenyum kecil menatap wajah cantikmu yang mulai tertidur.
"aku tidak akan membiarkan kamu menderita karena merasa bersalah sayang... kamu harus selalu bahagia" Batin Alson sambil mengusap pipi mulusmu.
"apakah operasi Nizam belum selesai juga Arvan ??" tanya alson pada Arvan.
"belum..." jawab Arvan singkat.
"semoga dia selamat... kemungkinan untuk berhasil sangatlah kecil" ujar Jacob.
"kamu sudah mengabari Aiden ???" tanya alson pada Arvan.
"sudah... saat aku tahu Nizam mengalami komplikasi.. aku sudah menyuruh Riko untuk menyiapkan jet pribadimu menjemput Aiden" jawab Arvan.
"kenapa jet pribadiku... kau juga mempunyai jet pribadi Arvan..." pekik alson.
"hahaha.. bahan bakar pesawat sekarang mahal alson.. jadi aku tidak mau membuang uangku" bual Arvan padanya.
"ck... dasar pria pelit.. kurasa uang bukanlah hal yang bisa membuatmu memikirkannya Arvan" timpal alson.
"hahaha.. kau tau itu.. aku memang pria kaya raya" balas Arvan.
"ck... kau benar pria kaya raya yang menyukai istri dari salah satu milyader ternama di dunia" pekik alson tidak mau kalah.
"kau..." pekik Arvan kalah telak.
"yeah..yeah..yeah.... kalian berdua memang orang hebat.. intan akan sangat kerepotan jika berada di samping kalian berdua.. apa lebih baik aku saja yang mendampinginya.. sepertinya intan mengimpikan hidup dengan keluarga yang sederhana dan bahagia" bual Jacob menengahi pertengkaran mereka.
"Hay... jangan coba-coba" timpal Alson dan Arvan bersamaan.
"hadeehh.. kalau kalian tidak mau maka jangan bertengkar.. intan sedang istirahat saat ini.. jika kalian membuatnya bangun.. aku akan menendang kalian dari ruangan ini dan memperketat penjagaan diluar.. kalian dilarang masuk" ujar Jacob pusing melihat sabahat dan saingan saling bertengkar.
"aku saja pusing melihat kalian bertengkar.. apa lagi intan yang melihatnya setiap hari.." ucap Jacob lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Alson dan Arvan terdiam dan saling melempar tatapan permusuhan saja.
"Riko.. kamu sudah menyuruh orang untuk mengawasi gerak-gerik dari Albert Hudgson" tanya alson pada Riko.
"sudah tuan.. perkembangan per hari ini tidak ada gerakan yang mencurigakan dari black rose tuan" jawab Riko pada tuannya.
"hati-hati.. Albert Hudgson adalah orang yang pintar dalam bersiasat.. Rendi perketat pengawasannya.. bantu Riko untuk lebih berjaga-jaga" titah Arvan pada Rendi.
"Baik tuan.. saya akan melaksanakannya.. kami permisi" jawab Rendi dan pergi keluar ruangan di ikuti Riko.
"yang terpenting sekarang adalah keselamatan Nizam.. semoga dia selamat" ucap Jacob.
Alson dan Arvan mengangguk cemas.. cemas jika Nizam tidak selamat apa yang akan terjadi padamu.. dalam hati alson terdalam dia tidak mau kamu menyalahkan dirimu sendiri dan hidup dalam keterpurukan.. alson tidak tahu harus memberi alasan apa padamu jika hal itu terjadi.
Sedangkan di dalam hati Arvan paling dalam saat ini adalah.. takut jika Nizam tidak selamat maka kamu juga akan menyalahkan dirimu sendiri dan stress karena itu, dia takut terjadi sesuatu padamu dan juga anak dalam kandunganmu itu yang masih berusia muda.
__ADS_1
To be continue... ❤️