Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
10. Tagihan Semester


__ADS_3

Di ruang kuliah, Alvin sedang mencoba untuk fokus mendengarkan dosennya yang tengah mengajar. Namun sudah bisa di tebak kalau ia pasti gagal. Ia sama sekali tak bisa fokus. Pikirannya sejak tadi terus saja teralihkan oleh semua masalah yang selalu menimpanya beberapa waktu belakangan ini. Mulai dari Karina yang mencampakannya sampai ia yang harus kehilangan pekerjaan karena kecerobohan yang ia buat sendiri.


Tiba-tiba, Dave menepuk bahunya. "Kau tidak apa-apa, kan?"


Alvin tersenyum lalu mengangguk. "Tidak apa-apa."


"Kau memikirkan Karina?"


"Tidak."


Dave menatap Alvin beberapa detik sebelum kembali bicara. "Yah apapun alasannya, jangan kebanyakan melamun."


Setelah mengatakan itu,Dave lalu menunjuk ke depan kelas dengan dagunya. Alvin mengikuti arah yang dimaksud Dave dan kembali tersenyum. Tak ada yang salah dari peringatan sahabatnya itu. Dosen yang sedang mengajar adalah dosen yang pemarah apalagi jika ada mahasiswa yang tak memperhatikan penjelasan.


"Perhatikan penjelasannya jika tak ingin mendapat hukuman." ujar Dave terkekeh.


"Iya. Tenang saja." balas Alvin terkekeh.


Selang beberapa saat kemudian jam mata kuliah pertama-nya akhirnya selesai. Alvin segera bergegas menuju ruang administrasi karena beberapa saat yang lalu ia mendapat panggilan resmi dari petugas administrasi kampusnya agar segera datang ke ruangan administrasi.


Urusan ini ternyata berkaitan dengan tunggakan biaya semester Alvin yang belum dilunasi.


"Apa anda tidak bisa memberi waktu lagi, bu?" tanya Alvin pada petugas administrasi di hadapannya dengan raut wajah memelas.


Sesaat setelah Alvin tiba di ruang administrasi ini ia di beri informasi bahwa harus segera membayar sisa tagihan semester yang sempat ia cicil beberapa waktu yang lalu.


Petugas administrasi itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


"Saya minta maaf Alvin, tapi tidak bisa. Ini adalah kebijakan dari kampus. Lagipula selama ini pihak kampus juga sudah memberi keringanan padamu agar bisa mencicil pembayaran."

__ADS_1


"Saya mengerti bu. Tapi untuk sekarang ini saya belum punya uang."


"Ibu tahu. Tapi apa boleh buat karena ini merupakan kebijakan kampus. Jadi dengan berat hati kamu harus membayar sisa cicilan semesternya dan tenggat waktu paling lambat adalah minggu depan."


Alvin akhirnya hanya bisa menghela napasnya pendek kemudian mengangguk pelan.


"Baik bu, saya akan mengusahakan agar bisa mendapatkan uang untuk membayar sisa tagihan semester saya, bu. Saya permisi, " ujar Alvin pasrah kemudian segera pamit pergi dari ruangan itu.


Alvin menutup pintu ruang administrasi dengan raut lemas. Ia sekarang benar-benar bingung bagaimana caranya membayar sisa cicilan semester kampusnya.


Sebenarnya Alvin sudah membayar setengah dari total biaya semester dan sekarang ia harus melunasi sisanya lagi. Tapi dia belum mempunyai biaya karena dia baru saja di pecat dari pekerjaannya yang sebelumnya dan belum sempat mencari pekerjaan baru.


Alvin yakin semua akan berakhir buruk jika dia tidak segera membayarnya. Dia jelas akan di drop out dari kampus ini dan Alvin tidak mau hal itu terjadi.


"Bagaimana ini." gumam Alvin pada dirinya sendiri dengan nada khawatir.


"Lalu bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang untuk membayar sisa tunggakan sampai minggu depan. Waktunya terlalu singkat untukku mencari uang tambahan." lanjutnya putus asa.


Alvin bukanlah orang kaya yang bisa mendapatkan uang dengan mudah. Ia tak mungkin meminta pada orang tuanya seperti yang dilakukan teman-temannya karena kedua orang tua-nya telah lama tiada.


"Seandainya mereka masih di sini." gumam Alvin lelah sembari menghela napasnya.


Alvin buru-buru menggelengkan kepalanya. Apa yang ia lakukan. Kenapa ia malah mengeluh? Alvin harus punya harga diri sebagai laki-laki. Itu sebabnya ia tidak boleh mengeluh seperti ini. Yang harus ia lakukan sekarang adalah cepat-cepat mencari pekerjaan baru dengan gaji yang lumayan.


Tapi apakah itu mungkin? Mencari pekerjaan bukanlah hal mudah. Lagipula, mana ada pekerjaan paruh waktu yang akan memberimu gaji tinggi.


"Tak ada hal baik yang akan datang kalau aku tak berusaha dengan keras." gumam Alvin menyemangati dirinya sendiri.


Alvin menatap kanan dan kirinya. Suasana kampus sudah mulai sepi. Para mahasiswa pasti sudah kembali ke ruang kuliah masing-masing.

__ADS_1


"Lowongan pekerjaan! Aku harus segera mencari pekerjaan hari juga." gumam Alvin dengan penuh tekat.


Setelah berfikir keras menentukan pilihan, Alvin akhirnya memutuskan untuk bolos mata kuliahnya pada jam kedua. Ia lebih memilih pergi meninggalkan kampusnya untuk mencari lowongan pekerjaan. Walaupun merupakan pilihan berat baginya untuk bolos namun tak ada pilihan lain untuknya sekarang.


Lagipula, tidak ada salahnya jika ia tak masuk kuliah untuk hari ini. Toh selama ini dia juga tidak pernah bolos di jam kuliah sama sekali. Lagipula, kemarin lusa dia juga baru saja mengambil absen. Hanya dua kali. Setelah ini dia tak akan bolos dan menyia-nyikan waktu kuliahnya.


Saat ini Alvin tengah berjalan dengan cepat menuju ke parkiran kampus untuk bergegas mengambil motornya. Ia lalu mengendarainya keluar dari kampus. Alvin berencana mengelilingi kota hari ini untuk mencari pekerjaan baru.


Alvin bertekat hari ini juga ia harus mendapatkan pekerjaan. Tak peduli apapun pekerjaannya, selagi bisa membuatnya melunasi tunggakan kuliah akan ia terima.


Beberapa saat setelah menghabiskan waktu untuk mengelilingi kota, Alvin mengecek jam pada pergelangan tangannya. Alvin menghela nafasnya lelah saat menyadari bahwa waktu saat ini sudah menunjukkan pukul satu siang. Itu artinya sudah hampir tiga jam lamanya ia berkeliling untuk mencari pekerjaan baru hari ini. Namun Alvin belum juga menemukan pekerjaan untuknya.


Sebenarnya banyak lowongan yang tersedia, seperti pegawai bengkel, sales atau pekerjaan lainnya namun Alvin sama sekali tidak memiliki keahlian di bidang itu. Bisa-bisa ia malah harus mengganti rugi jika terjadi sesuatu nanti. Lagipula Alvin juga bukan orang yang suka untuk mencoba-coba hal ekstrim seperti itu.


Pada akhirnya, karena merasa sangat lelah berkeliling mencari pekerjaan, Alvin menghentikkan motornya di depan sebuah warung pinggir jalan untuk membeli minuman guna meredakan rasa haus.


Alvin keluar dari warung itu dengan membawa sebotol minuman dingin yang baru saja ia beli. Ia membuka tutup botol dan langsung meminum isinya. Alvin menegak habis minumannya baru setelah itu ia bergegas membuang botol bekas itu ke dalam tempat sampah.


Alvin kembali menghela. Ia tak tahu harus pergi kemana lagi saat ini. Sejauh ini, ia sudah memutari hampir seluruh kota tapi tak menemukan pekerjaan yang dia cari.


Setelah beristirahat beberapa saat, Alvin mengedarkan pandangannya ke area yang ada di dekat warung itu, hingga akhirnya pandangannya terhenti pada sebuah bangunan mewah yang berada tepat di seberang warung itu.


Itu sebuah klub malam.


Dan tepat saat itu juga kedua mata Alvin membesar setelah melihat brosur berukuran sedang yang terpampang tepat di depan gerbang dari bangunan klub malam itu.


"Di butuhkan karyawan segera!" 


***

__ADS_1


__ADS_2