Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
45. Dia Hanya Terlalu Baik


__ADS_3

Bagi Ziva, Evelyn adalah wanita yang tak biasa. Gadis itu selalu saja berbuat sesuatu hal aneh yang berada di luar nalarnya. Ziva selalu saja dikejutkan oleh ulah Evelyn.


Salah satunya seperti saat ini, Ziva dan Evelyn sedang berada di sebuah restoran. Evelyn meminta Ziva agar cepat-cepat datang ke restoran ini karena ia ingin menceritakan kejadian yang ia alami bersama Alvin beberapa waktu lalu.


Dan hasilnya, begitu mengejutkan. Ziva merasa kalau otak Evelyn sedang bermasalah.


"Kau mengaku sebagai kekasih Alvin tepat di hadapan si jaláng itu?" Ziva melotot.


Evelyn mengangguk, mengiyakan.


"Lalu kau juga menawarkan untuk membantu membalas perbuatan mantannya?"


Sekali lagi, Evelyn mengangguk.


Hal itu membuat Ziva terhenyak. Kepalanya terasa seperti baru dihantam sesuatu dan membuatnya jadi terasa begitu berat. Seketika ia jadi pusing.


Cerita Evelyn juga membuat Ziva kebingungan sekaligus tak percaya. Bukankah terakhir kali Evelyn mengatakan kalau ia punya ide. Lantas, inikah ide yang Evelyn katakan?


"Tapi Alvin menolak tawaranku itu."


"Dia menolak?"


"Ya, sayang sekali, kan." Evelyn menghela lelah sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Aku heran, kenapa dia harus menolak. Yah, aku pikir dia hanya terlalu baik untuk menjadi manusia."


Ziva mendengus. "Jelas dia akan menolaknya, Eve."


"Hah?"


"Evelyn, pikirkan saja. Untuk orang seperti Alvin, hal itu hanya akan membuang waktunya saja." jelas Ziva.


"Tapi bukankah itu akan terasa menyenangkan kalau bisa membalas orang yang menyakitimu. Ya, kan?"


"Benar, tapi tampaknya hal itu tak berlaku untuk Alvin. Aku rasa dia bukan tipe orang yang akan tertawa di depan orang lain. Dia terlihat seperti pria yang naif."


"Aku setuju. Itulah sebabnya aku bilang dia terlalu baik. Huft, itu adalah sesuatu yang menyebalkan darinya." ujar Evelyn sembari menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Jadi, kau bagaimana?"


"Bagaimana apanya?"


"Maksudku, wajahmu tampak begitu kecewa karena dia menolak tawaranmu itu."


"Tentu saja aku kecewa." ujar Evelyn dengan ekspresi wajah yang tampak lesu dan kesal di saat yang bersamaan. "Kau tahu, padahal aku berharap dia akan menerima tawaranku."


Ziva langsung mendecih sinis saat melihat raut wajah Evelyn yang menurutnya tampak amat menyebalkan. Sejak kapan Evelyn bisa merasakan perasaan kecewa pada sesuatu. Selama ini Evelyn bukanlah tipe wanita yang peduli tentang apapun.


Ziva langsung mendecih sinis saat melihat ekspresi wajah Evelyn yang menurutnya entah kenapa tampak begitu menyebalkan. Ia tak tahu sejak kapan Evelyn bisa merasakan perasaan kecewa terhadap pria. Selama ini Evelyn tidak pernah memakai hati dalam menjalin hubungan. Dan seingat Ziva, selama ini Evelyn-lah yang selalu membuat kecewa banyak pria.


Apa gadis ini sedang membuat drama? Tapi Evelyn bukan tipe gadis seperti itu.


"Aku benar-benar menyayangkan kenapa dia terlalu baik sampai harus menolak membalas mantan kekasihnya itu."


"Yah, benar. Sayang sekali." sindir Ziva dengan nada sinis.

__ADS_1


Evelyn sontak terdiam. Ia menaikkan sebelah alisnya saat melihat ekspresi dan tanggapan dari Ziva itu.


"Tunggu dulu. Apa ini?" ujar Evelyn sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Ziva, menatap sahabatnya itu dengan datar.


Ziva mendongak dan memasang ekspresi pura-pura bodoh. "Apanya?"


"Ekspresi wajahmu, kenapa seperti itu."


"Seperti apa?"


"Ekspresimu itu seakan sedang mengatai diriku."


Ziva langsung menjentikkan jarinya di depan wajah Evelyn. "Ya, itu dia. Kau benar. Aku memang sedang mengataimu dalam hati. Bagus kalau kau tau."


"Sudah ku duga."


"Kau bisa mendengar apa yang ku katakan dengan baik." ujar Ziva santai.


"Memangnya kenapa sih?" Evelyn masih penasaran. "Apa ada yang salah dengan yang aku lakukan?"


"Kau masih bertanya apa yang salah?"


"Tentu saja. Aku bahkan tidak tahu kau terganggu di bagian yang mana."


Ziva menghela napasnya panjang sembari menggelengkan kepala, ia tak menyangka Evelyn bisa sebodoh ini. Setahu Ziva Evelyn adalah gadis yang pintar.


"Disemua bagian." ujar Ziva. "Salah satunya kau menawarinya membalas dendam. Kenapa kau melakukan hal bodoh seperti itu, Eve. Kau bahkan mengajak Alvin masuk dalam permainan konyolmu ini."


"Permainan konyol."


"Memangnya salahku dimana, Ziva?"


"Evelyn, hal itu jelas salah. Perbuatanmu itu sudah terlalu jauh. Kau terlalu mencampuri urusan orang lain." Ziva berujar frustasi. Ia benar-benar tak menyangka kalau Evelyn separah ini terobsesi tentang Alvin.


"Aku bukannya mencampuri urusan orang lain. Tapi aku sedang menolong orang yang aku sukai, Ziva. Lantas dimana salahnya?"


"Jadi sekarang kau sedang mengakui kalau kau menyukainya? Bukankah terakhir kali kau bilang kau hanya tertarik padanya. Pada bibirnya, ya kan?"


Evelyn terdiam. "Aku… yah, sedikit."


"Sedikit, kau bilang."


"Em, ya. Sedikit."


Jawaban Evelyn itu langsung membuat Ziva mendecih. Ia lalu bertepuk tangan sebagai tanggapan atas ucapan sahabatnya itu.


"Luar biasa, sahabatku. Kau benar-benar luar biasa." Ziva masih bertepuk tangan, menatap Evelyn dengan sinis.


"Ada apa sih denganmu? Kau seakan ingin mengatakan kalau apa yang aku lakukan ini salah."


"Ya, memang salah. Sudah ku katakan sejak tadi. Kau salah di semua bagian. Semua yang kau lakukan itu salah. Pikirkan Eve, kau hanya 'sedikit' menyukainya tapi sudah berani melakukan hal konyol seperti ini. Lantas bagaimana kalau kau sungguh tergila-gila padanya nanti. Kau bisa sampai menghabisi orang lain, mungkin."


"Apa menurutmu begitu?" Evelyn menatap takjub. "Wah, bukankah itu artinya aku ini luar biasa sekali, ya."

__ADS_1


"Ya ampun. Kau ini benar-benar." Ziva menghela napasnya lelah sembari memijit pangkal hidungnya. Bukannya menyadari kesalahannya, Evelyn malah terlihat bangga.


Evelyn terkekeh melihat reaksi frustasi dari sahabatnya itu. Bagi Evelyn, Ziva terlihat sangat menyenangkan jika sedang kesal padanya.


"Perbuatanmu ini sungguh konyol, Eve. Benar-benar konyol." omel Ziva.


"Ayolah Ziva. Kenapa kau terlihat begitu tak suka aku membantunya."


"Aku senang, senang sekali kau membantunya, Eve. Bahkan aku juga membantumu di klub, kalau kau lupa."


"Ya, aku ingat." Evelyn memutar bola matanya malas.


"Kau tak salah jika ingin membantunya. Tapi bukan berarti kau harus ikut campur. Kau bahkan juga memasukkan dia kedalam kebohonganmu, Eve."


Evelyn menyesap minumannya dan menghela malas. "Ya, aku tahu dia juga ikut berbohong karena ulahku. Tapi di sini aku hanya ingin membela kebenaran, Ziva. Alvin… dia di hina oleh mantannya itu. Itulah alasannya dan aku membenci mantannya."


"Membela kebenaran apa. Ini bukan membela kebenaran. Tapi kau membuat Alvin masuk ke jurang yang lebih dalam. Jurang kebohongan. Membela kebenaran dengan menggunakan kebohongan. Ya ampun. Aku jadi bingung, sejak kapan kau jadi seperti ini."


"Seperti ini, apa?"


"Jadi gilã, seperti ini."


Evelyn tak bisa menahan senyum usilnya. Ia menatap Ziva sejenak, lalu memejamkan kedua matanya, mencoba mengingat-ingat kapan terakhir dia seperti ini.


"Sejak bertemu dengan Alvin, kurasa. Aku merasa berubah sejak bertemu dengannya. Aku berbuat sesuatu tanpa berpikir itu sejak bertemu dengan Alvin."


"Wah, kau bahkan sadar kalau kau berbuat sesuatu tanpa berpikir." ejek Ziva. "Cinta memang bisa membuat seseorang jadi gila."


Evelyn kembali terkekeh,


"Bukan hanya cinta."


"Apa?"


"Cinta saja tak cukup. Tapi Alvin-lah yang merubahku. Kalau ini orang lain aku tidak yakin akan melakukan hal sama. Itu harus Alvin. Ah, aku sungguh tertarik padanya bahkan sejak awal pertemuan kami. Dan aku ingin dia jadi mi-"


"Kau ingin dia jadi milikmu." potong Ziva cepat.


Evelyn langsung menghentikkan tawanya. Ia terdiam, mulutnya terkatup rapat, kaget bagaimana Ziva bisa tahu apa yang akan dia katakan.


"Bagaimana kau-"


"Bagaimana aku bisa tahu, itu yang ingin kau katakan, bukan?"


Evelyn mengangguk


"Aku tahu. Karena saat itu terlihat jelas. Bahkan tampak jelas sekali kalau kau benar-benar galau saat itu hanya karena dia tak mengenali dirimu saat di klub malam." potong Ziva.


"Kecewa lebih tepatnya." ralat Evelyn. "Asal kau tahu Ziva, aku sudah menunggu kesempatan ini. Kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Dan saat kesempatan itu akhirnya datang, mana mungkin aku sia-siakan, bukan?"


"Benar, tapi aku rasa kau tidak perlu sampai harus mencampuri urusannya juga, Eve. Kau seperti psikopat saja. Ah, aku merinding."


Evelyn terkekeh, "Masalah mencampuri atau tidak itu hal lain. Dan yang jelas tawaranku masih berlaku untuknya. Dan aku berharap kalau dia akan segera menerima tawaranku."

__ADS_1


***


__ADS_2