Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
34. Bubur Ayam


__ADS_3

"Apakah enak?" tanya Evelyn sambil menatap Alvin yang baru saja menyuap satu sendok bubur ayam ke dalam mulutnya.


Alvin mengangguk mantap. "Ini sangat enak. Makanan favoritku sejak SMA."


Evelyn mengangguk singkat sebagai tanggapan lalu kembali menatap mangkuk yang ada di hadapannya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Saat ini mereka berdua tengah duduk di dalam sebuah warung kecil yang berada di pinggir jalan raya. Mereka tengah menikmati bubur ayam dengan lahap. Ralat. Bukan mereka, hanya Alvin yang tampak menikmatinya. Sementara sejak tadi Evelyn hanya diam sambil memegang sendok di tangannya.


Alvin yang melihat Evelyn hanya diam langsung menghentikkan kegiatan makannya dan menatap Evelyn.


Sejak tadi gadis itu hanya mengaduk-aduk bubur di dalam mangkuknya. Ia tampak menatap ragu pada bubur ayam itu.


"Kenapa nona tidak makan?" tanya Alvin kemudian.


Evelyn tersadar dari keterdiamannya. Bagaimana caranya menjelaskan pada Alvin. Mana mungkin ia secara terang-terangan mengatakan pada Alvin kalau dia ragu untuk memakannya. Jangankan untuk memakan makanan seperti ini, melihatnya secara langsung saja baru hari ini.


"Apa tidak enak?" tanya Alvin lagi.


Evelyn tersenyum kecut. Ia tak bisa mengatakan makanan ini enak atau tidak. Karena sejujurnya ia bahkan tidak tau bagaimana rasa makanan yang di hadapannya ini. Sebut saja Evelyn berlebihan, tapi Evelyn tidak pernah makan makanan seperti ini.


Satu fakta, sejak kecil ia tinggal di luar negeri sampai umur empat belas tahun. Dan begitu sampai di Indonesia, tak pernah ada satupun dari teman-temannya yang mengajaknya makan bubur ayam.


"Nona tidak suka ya?" tanya Alvin sekali lagi dengan raut tak enak di wajahnya.


Evelyn bisa melihat dengan jelas raut wajah Alvin yang berubah. Pemuda itu pasti merasa tidak enak karena sudah membuat Evelyn harus makan di tempat seperti ini.


Evelyn buru-buru menggeleng.


"Suka! Jelas aku suka." jawabnya asal sambil menyuap bubur ayam itu ke dalam mulutnya.


'Oke, ternyata rasanya tidak seburuk dugaanku. Hanya saja agak sedikit aneh.' batin Evelyn.


"Nona tidak perlu memakannya kalau tidak suka."


"Aku... suka." jawab Evelyn cepat.


"Wajah nona tidak mengatakan begitu." sindir Alvin sambil tersenyum.


Evelyn sedikit menunduk. Ini agak memalukan baginya. Harusnya ia tidak membuat Alvin berpikir kalau ia pilih-pilih makanan begini.


Sejujurnya, ia bukannya tak suka. Menurut Evelyn rasa makan ini hanya agak aneh saja. Lagipula lidahnya bisa menerima rasa makanan ini. Dan ia bertekat kalau mulai sekarang ia juga akan tetap memakannya atau mungkin akan mulai 'membiasakan' diri untuk memakannya.


"Aku suka. Tenang saja." ungkap Evelyn yang di balas anggukan oleh Alvin.


"Baiklah kalau begitu." ujar Alvin sambil kembali menyendok buburnya.


Tentu saja Evelyn menyukainya. Jika ia pergi bersama Alvin, kemanapun dan apapun itu, ia akan menyukai segala yang pemuda itu suka. Karena hal ini bisa membuat Evelyn mempunyai alasan yang benar untuk terus bisa bersama Alvin.

__ADS_1


Evelyn tersenyum pada dirinya sendiri membayangkan semenyenangkan apa jika dia bisa terus bersama pemuda itu.


Tiba-tiba saja Evelyn teringat akan sesuatu. Ia lalu bangkit dari duduknya, membuat Alvin menatapnya heran.


"Ada apa, nona?"


"Aku baru ingat," ujar Evelyn tiba-tiba. "Tunggu di sini sebentar, oke."


"Tapi nona mau kemana?"


"Ke mobilku, ada sesuatu yang ku lupa."


Tak lama kemudian Evelyn kembali dengan membawa tas belanjaan yang entah berisi apa.


"Ini, milikmu. Aku kembalikan." ujar Evelyn setelah mengeluarkan sebuah jaket dari tas belanjaan.


Kedua alis Alvin sontak mengernyit heran saat melihat jaket itu. Tunggu dulu, kenapa jaketnya bisa ada pada Evelyn?


"Bagaimana bisa-


"Aku menemukannya di kamarku. Pagi hari setelah kau mengantarkanku waktu itu jaket ini sudah ada di kamarku. Ini jaket milikmu, kan?" Ucapan Alvin tadi langsung terhenti setelah Evelyn memotong kalimatnya. Dan ya, perkataan gadis itu berhasil menjawab pertanyaan yang akan ia ajukan.


Alvin menganggukkan kepalanya setelah mengingat apa yang terjadi. Ia meletakkan sendok makannya lalu meraih jaket itu.


"Oh, benar. Aku yang memberikannya sendiri malam itu pada nona. Bagaimana aku bisa lupa." ujar Alvin lalu terkekeh canggung.


Alvin merasa malu setelah jaket ini membuatnya mengingat kembali fakta kalau tepat setelah ia memasangkan jaket itu, Evelyn langsung menciumnya.


"Terima kasih." ujar Evelyn kemudian.


"Ya?"


"Aku senang kau membantuku malam itu. Jadi, terima kasih. Dan juga, maaf sudah menyusahkan."


"Oh, iya, sama-sama. Tidak perlu dipikirkan. Aku senang bisa membantu."


Evelyn menghela napas. Menatap lekat pada Alvin yang kini tengah memasukkan jaketnya kedalam tas. Ia lalu menunjuk jaket itu dengan dagunya.


"Ngomong-ngomong, itu tak perlu di cuci lagi. Jaketnya sudah bersih. Aku meminta pelayan untuk mencucinya dahulu sebelumnya."


"Ah, kalau begitu terima kasih banyak..." Alvin membungkuk sebagai ucapan terima kasih.


"Tapi kau baik sekali mau meminjamkan jaketmu untukku."


"Sebenarnya saat itu sudah malam. Pakaian nona terlalu tipis. Dan aku hanya tak ingin nona kedinginan, jadi aku meminjamkannya." jelas Alvin.


Evelyn tersenyum simpul melihat Alvin yang tampak begitu gugup.

__ADS_1


"Begitu rupanya."


Mereka berdua kemudian lanjut memakan makanan mereka masing-masing.


Tak lama setelah itu Alvin mendorong mangkuk miliknya yang ternyata sudah kosong. Ia telah menghabiskan bubur ayam miliknya dan hanya tinggal menunggu Evelyn selesai.


"Aku yakin, nona tidak pernah makan bubur ayam sebelumnya, kan?" tebak Alvin sambil mengelap mulutnya dengan tisu yang di sediakan di atas meja makan.


Evelyn menghentikkan gerakan makannya dan tersenyum canggung pada Alvin, barulah kemudian menggeleng pelan.


"Sebenarnya ini adalah kali pertamaku makan makanan seperti ini."


"Kalau begitu kenapa anda malah ingin pergi untuk ikut makan di sini, bersamaku?" Alvin mengernyit.


"Itu karena... aku ingin."


Alvin tersenyum bingung. "Hah?"


Evelyn balas tersenyum kemudian meletakkan sendoknya.


"Aku hanya ingin makan siang denganmu." ujar Evelyn menjelaskan. "Sebenarnya setelah pertemuan kita sebelumnya, aku merasa nyaman ngobrol denganmu. Dan aku ingin berteman denganmu."


Alvin tampak terkejut dengan perkataan terus terang itu, namun berbeda dengan Evelyn. Gadis itu tampak biasa sajaa, bahkan terkesan santai saat mengatakannya.


"Nona ingin berteman denganku?" Alvin menatap bingung. "Tapi kenapa?"


"Kenapa?" Kali ini Evelyn yang merasa bingung


"Maksudku... bukankah anda bisa mencari teman yang bahkan lebih baik dariku? Lantas kenapa aku?"


"Apakah berteman dengan seseorang membutuhkan alasan?"


"Tentu saja."


"Baiklah kalau begitu..." Evelyn menghela napas panjang, tampak berpikir sebentar. Ia lalu menatap Alvin untuk sejenak.


"Bukankah sudah ku katakan tadi, alasannya adalah karena aku merasa nyaman saat ngobrol bersama dirimu. Entah kenapa aku hanya ingin terus bersamamu."


Alvin termangu.


"Ingin bersamaku?"


Evelyn terkejut oleh kata-katanya sendiri. Ya ampun, harusnya ia tak berkata seperti itu. Alvin bisa salah paham karena ini. Kalimatnya seperti orang yang sedang menyatakan cinta. Ya, salahkan saja mulutnya yang tak singkron dengan pikirannya dan malah mengutarakan isi hatinya.


"Maksudku, aku ingin terus berteman bersamamu." Evelyn terkekeh canggung.


"Oh…" Alvin mengangguk paham.

__ADS_1


"Jadi, bisakah kita terus bersama setelah ini?" tanya Evelyn lagi.


***


__ADS_2