Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
32. Pertemuan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, itu artinya sudah hampir setengah jam Alvin berada di balkon bangunan klub, namun Alvin belum juga kembali ke dalam klub untuk melayani pengunjung. Ia yakin kalau rekan kerjanya yang lain pasti sedang mencarinya sekarang.


Beberapa saat lalu Alvin memang memutuskan meninggalkan keramaian pengunjung klub malam untuk beristirahat. Ia pergi menuju balkon yang ada di belakang gedung untuk menghirup udara segar malam itu. Bukan apa, Alvin harus menenangkan suasana hatinya yang berubah buruk sejak tadi.


Kejadian beberapa saat lalu, tepatnya saat Karina mengejek dan menghinanya masih membekas jelas di kepalanya. Entah kenapa, dari luasnya kota ini ia dan Karina harus bertemu di tempat ini, tempatnya bekerja. Sekali lagi, kenapa mereka harus bertemu di tempat yang bahkan tidak pernah Alvin pikirkan sebelumnya.


Alvin menghembuskan nafasnya perlahan.


Kenapa semua hal buruk dan tidak mengenakkan harus terus menerus terjadi padanya seperti ini? Ia lelah pada dirinya sendiri. Ia lelah pada hidupnya dan pada keadaan yang ada. Bukankah terlihat seolah-olah takdir baik memang membencinya.


Alvin memperhatikan lampu-lampu kendaraan yang terlihat indah jika di lihat dari tempat ia berdiri saat ini.


Alvin kini tersenyum. Diam-diam ia tenggelam dalam pikirannya sendiri saat menatap pemandangan dari cahaya kendaraan itu. Ah, bahkan cahaya-cahaya itu terlihat lebih indah daripada hidupnya?


Semenit kemudian Alvin tersadar dari lamunannya sendiri. Apa yang baru saja ia lakukan? Ia jelas tak punya cukup waktu untuk meratapi nasibnya saat ini karena ia harus kembali bekerja.


Alvin mengusap wajahnya kasar sambil menghembuskan nafasnya pelan. Tak ada waktu untuk hal konyol ini. Akhirnya, Alvin memutuskan untuk bersiap dan kembali bekerja.


Namun, ketika dia berbalik, dia terkejut ketika melihat sosok gadis yang sudah berdiri di dekatnya mengenakan setelan hoodie dan celana legging hitam panjang yang terlihat ketat di tubuhnya.


Alvin kaget karena ia tak memperhatikan sejak kapan gadis itu ada di sini.


Dia gadis yang sangat Alvin kenal. Dia adalah gadis cantik yang beberapa hari lalu ia temui di klub malam ini. Dan dia juga merupakan gadis yang sama dengan gadis yang Alvin antarkan pulang malam itu.


Gadis cantik bernama Evelyn.


Evelyn berdiri di ambang pintu balkon dengan tangan terlipat di dada, sementara kedua matanya terus menatap lekat pada Alvin.


Mata mereka kini bertatapan.


Melihat wajah gadis itu Alvin seketika teringat kembali tentang ciuman mereka. Ah, bukan tepatnya saat gadis itu mabuk dan mencium bibirnya.


Keadaan hening untuk beberapa saat. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun saat ini. Mereka hanya diam, saling menatap, saling mengunci mata satu sama lain dan terus saja seperti itu, tidak bergerak atau berbicara apapun.


Alvin berpikir untuk mencoba menyapa lebih dulu namun ia tak ingin di anggap sebagai orang yang sok kenal dan membuatnya mengurungkan niat, emilih untuk terus diam.


"Apakah kau sedang menangis?"


Dan akhirnya itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut gadis itu.


Alvin tersentak kaget saat mendengar gadis itu yang tiba-tiba saja bicara. Tapi tunggu dulu, apa gadis itu sedang bicara dengannya?


"Apakah anda sedang bicara pada saya, nona?" Alvin bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Apa ada orang lain disini?" tanya Evelyn balik.


Alvin kemudian menengok kanan dan kirinya, mencari orang lain yang mungkin ada di sekitarnya lalu menggeleng.


"Tidak ada. Hanya kita saja." jawabnya


"Kalau begitu kenapa kau bertanya pada siapa aku bertanya tadi?" ujar Evelyn.


Ya, sebenarnya itu adalah cara yang cukup rumit untuk menjawab pertanyaan yang mudah. Tapi toh kenapa juga Alvin melakukan hal konyol dengan menanyakan hal yang sudah ada jawabannya seperti itu tadi.


Evelyn mulai melangkahkan kakinya bergerak lebih dekat untuk menatap wajah Alvin, membuat pemuda itu menunduk.


"Aku barusan bertanya, apakah kau menangis?" tanya Evelyn lagi.


Alvin mendongak, buru-buru menjawab. "Tidak."


"Tapi kenapa wajahmu mengatakan kalau kau seperti habis menangis." ujar Evelyn.


Alvin buru-buru menyentuh wajahnya dan mendesis pada dirinya sendiri ketika menyadari bahwa dia pasti terlihat sangat kacau sekarang. Alvin yakin seratus persen kalau wajahnya pasti terlihat sangat berantakan dan matanya pasti juga sembab karena ia sempat menangis dalam diam barusan.


Alvin lalu kembali menatap Evelyn yang ternyata masih juga menatapnya. Alvin lalu menundukkan kepalanya ke bawah dan menatap pada lantai di bawah sepatunya, menolak untuk melihat kedua mata milik Evelyn.


Bukan karena ketakutan tetapi karena dia sadar bagaimana gadis itu menatap wajahnya. Ia menatap Alvin lekat, memindai setiap inci wajahnya dan itu membuat Alvin merasa tidak nyaman. Ah, lebih tepatnya Alvin jadi malu sendiri dan salah tingkah.

__ADS_1


"Apakah bosmu memarahimu?" Evelyn bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas membuat Alvin jadi gelisah karena ia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan ia menceritakan kegundahan hatinya ada orang asing. Tentunya akan sangat memalukan.


Alhasil Alvin memilih menggeleng. "Tidak."


Evelyn mengangguk. Tentu saja tidak. Evelyn sebenarnya tahu apa alasan pemuda itu bersedih hati saat ini. Pasti karena kejadian penghinaan mantan kekasihnya tadi.


Diam-diam rahang Evelyn mengeras, ia kembali merasa kesal atas kejadian yang ia saksikan tadi.


"Maaf, kalau kau terganggu dengan pertanyaanku." ujar Evelyn melihat betapa gelisahnya Alvin saat ini.


"Ah, bukan. Sebenarnya saya hanya ingin masuk." ujar Alvin.


"Begitu?"


"Apa anda ingin di sini?" tanya Alvin dengan nada sopan. "Kalau anda ingin di sini, saya bisa pergi ke-"


"Tidak! Kau di sini!"


"Ya? Maksudnya, nona?"


"Maksudku, kau tetaplah di sini." ujar Evelyn dengan cepat menjawab perkataan Alvin.


"Tapi saya pikir saya harus kembali ke dalam, nona. Pekerjaan saya pasti me-'


"Apa aku mengganggumu bersantai?"


"Saya tidak masalah nona. Anda sama sekali tak mengganggu. Sungguh. Anda bisa lanjut memakai balkonnya. Saya akan pergi sekarang."


Sejujurnya, Alvin memilih pergi karena merasa gugup jika harus berduaan dengan Evelyn seperti ini.


"Bukankah aku mengatakan padamu untuk tetap di sini?" ujar Evelyn, nada bicaranya terdengar dingin sekarang. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengatakan hal yang ia simpan selama ini pada pemuda tampan di hadapannya ini.


"Ah itu-" Alvin menggaruk tengkuknya tidak enak dengan situasi. "Tapi saya harus bekerja sekarang."


"Aku akan bertanggungjawab untuk apapun itu." ujar Evelyn, ia menatap Alvin dengan tatapan serius kali ini. "Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan padamu."


Evelyn mengangguk. "Jadi, kau tetaplah berada di sini. Denganku!" pintanya.


Setelah beberapa detik berpikir, Alvin akhirnya menghela napasnya dan memilih setuju, ia menatap Evelyn. "Baiklah, nona." ujarnya pasrah.


"Sebelumnya, perkenalkan, namaku Evelyn ..." Evelyn memperkenalkan diri.


Alvin mengangguk pelan. Dia sudah mengetahui nama Evelyn walaupun mereka tidak pernah berkenalan secara resmi sebelumnya. Alvin bahkan masih mengingat dengan jelas saat dimana gadis itu memberi uang tip padanya waktu itu.


"Dan kau, kau Alvin kan?" Evelyn bertanya.


"Ya?"


Alvin terlihat kaget dengan pertanyaan Evelyn, sepertinya Evelyn sudah tahu siapa namanya. Tapi bagaimana mungkin, mereka bahkan tidak pernah berkenalan sebelumnya.


"Umm, ya, saya Alvin. Senang berkenalan dengan anda, nona." kata Alvin, terus mencoba menenangkan diri dari rasa terkejutnya.


"Jadi begini. Aku ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya padamu." ujar Evelyn.


"Terima kasih?"


"Ya, benar." Evelyn melangkahkan kakinya menuju ke tepi balkon, ikut menatap pemandangan. "Terima kasih karena sudah bersedia mengantarkanku pulang malam itu."


Alvin tersenyum penuh pengertian.


"Ah, untuk masalah itu saya ikhlas membantu anda, nona. Teman anda terlihat sangat bingung malam itu."


"Ya, dia juga mengatakan hal yang sama padaku."


"Em, begitukah?"


"Ya," Evelyn mengangguk. "Ah, satu lagi. Sebenarnya aku tidak pantas mengatakan ini, tapi aku juga ingin minta maaf. Aku benar-benar ingin meminta maaf padamu."

__ADS_1


"Minta maaf? Tapi untuk apa?"


Evelyn mengangguk sambil terus menatap pemandangan perkotaan.


"Hm ya, aku minta maaf karena kelakuanku yang murahan. Maksudku, aku minta maaf karena sudah berani menciummu sembarangan malam itu." Evelyn berujar dengan nada merasa menyesal.


Alvin sontak menoleh pada Evelyn, menatap gadis itu terkejut.


"Aku ingat apa yang sudah kulakukan padamu malam itu."


Alvin lalu menggeleng. "Ah itu… kalau masalah itu, anda tidak perlu mi-"


"Kau pasti kaget malam itu.." Evelyn terkekeh miris pada dirinya sendiri. "Sejujurnya itu perbuatan yang sangat memalukan untukku. Tapi saat itu aku mabuk dan tidak sengaja. Jadi sekali lagi, aku minta maaf."


"Sebenarnya saya tidak masalah, nona. Anda tidak perlu minta maaf. Karena saya tahu saat itu anda sedang dalam keadaan tak sadar saat melakukannya." ujar Alvin.


Evelyn menatap Alvin dengan senyum manisnya. Ia terkagum karena tahu ada yang sesuatu yang istimewa dari pemuda itu. Alvin istimewa juga sangat menarik dan hal itu membuat Evelyn jadi ingin tahu lebih banyak tentangnya. Evelyn tidak dapat menyangkal ketertarikan yang ia rasakan terhadap Alvin.


Haruskah Evelyn mengungkapkan perasaannya? Ah, sepertinya belum saatnya. Perasaan pemuda ini pasti masih kacau karena perlakuan mantan kekasihnya tadi.


"Maaf harus mengatakan ini. Tapi saya harus kembali ke dalam untuk lanjut bekerja." ujar Alvin menundukkan kepalanya malu.


Evelyn mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Terima kasih sudah bersedia mendengarkan aku malam ini. Kau masuklah! Dan maaf karena sudah menganggumu dari pekerjaanmu."


"Ah, tidak masalah, nona. Saya permisi." ujar Alvin. Ia lalu berjalan melewati Evelyn menuju ke pintu masuk balkon.


Begitu Alvin menghilang, Evelyn menghembuskan nafasnya panjang. Sebenarnya ia sangat ingin menghentikan kepergian pemuda itu. Ingin memanggilnya kembali agar bisa bicara berdua lebih lama dengannya tetapi apa boleh buat.


Evelyn hampir membuka mulutnya untuk kembali memanggil Alvin, namun dering ponsel menghentikkan gerakannya


Evelyn menggerutu sebal dan mengangkat telepon itu yang ternyata berasal dari Ziva.


"Apa kau sudah selesai? Kenapa lama sekali? Aku ingin pulang sekarang." ujar Ziva sesaat setelah Evelyn mengangkat teleponnya.


"Aku akan turun sekarang." jawab Evelyn dengan nada malas.


Dia segera melangkah keluar dari klub malam itu untuk menemui Ziva di parkiran klub malam.


"Bagaimana?" tanya Ziva pada Evelyn sesaat setelah ia sampai di parkiran.


Evelyn tak menggubris pertanyaan Ziva. Ia berjalan dengan cepat menuju tempat dimana mobilnya terparkir sebelumnya.


"Hei, bisa aku tau bagaimana pertemuanmu dengannya barusan?" tanya Ziva sekali lagi sambil mengikuti langkah Evelyn dari belakang.


"Bagaimana apanya? Aku belum selesai dengannya tapi kau sudah menganggu dengan meneleponku!" omel Evelyn kesal.


Ziva terkekeh. "Jadi kau kesal karena itu?"


"Tentu saja."


Evelyn membuka pintu dan segera masuk ke dalam mobilnya diikuti Ziva yang masuk ke pintu di sebelahnya.


"Tunggu dulu. Harusnya kau jangan terlalu terobsesi begitu. Kau kan masih punya hari esok untuk bertemu dengannya lagi, Eve." balas Ziva setelah duduk nyaman di dalam mobil.


"Ya, memang benar, tapi-"


"Hei ingatlah! Kau itu Evelyn. Kau harus jual mahal! Selama ini tidak ada laki-laki yang tidak mengejarmu bukan, jadi sadarlah dan berhentilah kesal karena hal kecil macam ini. Kau jadi gila karena pemuda itu." Ziva mencoba mengingatkan sembari memasang sabuk pengaman ke tubuhnya.


Evelyn diam sebentar saat tiba-tiba wajahnya berubah jadi sumringah. Ziva yang melihatnya dari kursi sebelah jadi merasa ngeri sendiri.


"Ada apa dengan wajahmu itu? Kau tampak menakutkan, kau tahu" ujar Ziva tampak takut-takut.


"Kau tahu, Ziva? Sepertinya aku punya ide lain."


"Ide apa?"


"Aku akan berteman dengannya." ujar Evelyn melirik Ziva dengan seringaian yang membuat Ziva semakin bergidik ngeri.

__ADS_1


***


__ADS_2