
Alvin membuka lemari pakaiannya, memperhatikan isinya, mencari pakaian apa yang akan ia kenakan untuk pergi ke kampus. Setelah berpikir selama beberapa detik ia lalu meraih hoodie dari dalam lemari pakaian miliknya itu.
Ia melepas dan melemparkan handuk basah yang ia pakai ke atas kasur kemudian segera mengenakan pakaiannya. Hari ini Alvin perlu berangkat pagi-pagi sekali untuk mengerjakan tugas kuliahnya yang sempat tertunda kemarin.
Sebenarnya semalam ia bicara pada teman-temannya melalui sambungan telepon. Ia berjanji pada mereka kalau dia-lah yang akan mengerjakan itu. Alvin sangat merasa bersalah pada mereka sebab kemarin tak memenuhi janji untuk datang dikarena gangguan yang disebabkan oleh Karina.
Alvin masuk ke kamar mandi dan melangkah menuju cermin yang berada di atas wastafel, sekedar memeriksa penampilan dan merapikan helaian rambut. Namun gerakan tangan Alvin perlahan terhenti, matanya kini fokus menatap refleksi dirinya dalam bayangan cermin.
"Kau terlihat sangat berantakan akhir-akhir ini." Alvin bicara pada dirinya sendiri.
Alvin tersenyum sinis setelah menyadari kalau ia baru saja bicara sendiri. Sembari membuang napas panjang, Alvin memejamkan kedua matanya. Diam-diam Alvin teringat kembali pada tawaran yang sempat Evelyn katakan padanya beberapa waktu lalu.
Sejujurnya, tawaran itu adalah sesuatu yang tidak pernah di duga oleh Alvin sebelumnya. Apalagi tawaran itu keluar dari mulut Evelyn yang merupakan niatnya untuk membantu Alvin. Itu mengejutkan untuk dirinya. Sejak semalam ia bahkan tak bisa tidur karena terus menerus memikirkan hal itu.
Yah, sebenarnya Alvin sudah menduga kalau tawaran Evelyn itu akan mengganggu pikirannya seperti ini. Untuk sesaat, Alvin tampak ragu. Dia memandangi pantulan dirinya di cermin yang ada di hadapannya, tatapan mata penuh dengan rasa penasaran. Bukan tentang tawarannya. Tapi alasannya. Alvin penasaran apa alasan sebenarnya Evelyn bersedia membantu dirinya.
Alvin akui untuk sesaat ia tergiur tawaran itu. Bukankah membalas Karina adalah hal yang harus ia lakukan? Setelah apa yang Karina lakukan padanya, bukankah gadis itu memang harus mendapatkan balasan setimpal atas sakit hati yang Alvin rasakan?
Otak Alvin menyetujui semua itu. Sangat setuju. Tapi kenapa hatinya menolak? Apakah Evelyn benar. Apakah ia hanya terlalu baik untuk melakukan hal seperti itu.
Alvin menggelengkan kepalanya dengan kuat. Tentu saja ia harus melarang dirinya sendiri untuk melakukan hal seperti itu. Ia bukanlah orang jahat. Entah apa yang merasukinya sehingga sempat menyetujui pikiran jahat itu.
Alvin merasa kalau sepertinya pikirannya sudah mulai melantur kemana-mana. Lagipula kenapa juga ia harus memikirkan hal ini terus menerus sejak tadi. Ia kan cukup mengabaikan saja.
Lebih baik dirinya mengosongkan pikirannya, melupakan tentang hal ini dan fokus pada pendidikan saja. Pendidikan harusnya menjadi hal utama dan nomor satu baginya saat ini. Jadi ia harus berhenti memikirkan hal konyol ini. Hal seperti ini tak ada gunanya untuk masa depan Alvin.
Alvin segera bersiap untuk pergi ke kampus. Ia tak boleh lupa kalau hari ini ada banyak tugas kuliah jadi harus bersiap lebih awal agar memiliki banyak waktu untuk mengerjakannya di kampus nanti.
Alvin kini membawa sepeda motornya memasuki area parkir kampus yang masih tampak sepi. Hanya tampak satu atau dua orang mahasiswa yang melintas di kejauhan.
Setelah mematikan mesin motornya, Alvin memasang standar motornya dan turun sembari melepas helm dari kepalanya. Ia melangkah cepat menuju koridor yang menuju ruang kuliahnya.
"Hei!" suara itu berasal dari arah kanan koridor, membuat Alvin menghentikkan langkahnya dan menoleh.
Alvin menatap gadis di depannya itu setengah kaget, setengah lagi heran.
"Karina."
Itu Karina.
Dalam hati Alvin merasa heran. Apa ia tak salah? Karina berdiri di hadapannya lagi hari ini dan baru saja mengajaknya bicara dengan nada lembut. Dirinya?
"Ya, ini aku, Karina." ujar Karina.
__ADS_1
Dengar? Sekali lagi. Sekali lagi gadis itu bicara dengan begitu lembut. Alvin mengerutkan dahinya heran. Seingat Alvin, nada bicara ini adalah nada yang pernah Karina gunakan saat ia sedang mencoba mendekati dirinya dulu. Ada apa dengan gadis ini. Kenapa tiba-tiba berubah begitu drastis seperti ini?
Tatapan Alvin berubah datar dalam sedetik. "Ada apa denganmu?"
"Aku? Kenapa?" jawab Karina.
"Nada bicaramu..."
"Ada apa dengan nada bicaraku?"
"Kau-"
Alvin buru-buru menggelengkan kepalanya. Bukankah sudah jelas ini adalah siklus yang sama. Awalnya mereka tanpa sengaja bertemu, lalu gadis itu akan mengatai dirinya macam-macam dengan kasar dan buruk.
Jadi, dari pada ia harus mendengarkan ocehan tak jelas dari Karina lagi, lebih baik jika mereka tak perlu berhubungan apapun lagi dengannya entah apapun itu alasannya.
"Lupakan saja!" ujar Alvin kemudian memilih melanjutkan langkahnya menuju gedung fakultasnya.
"Alvin, tunggu!" Karina mengejar Alvin dan men-sejajarkan langkahnya dengan pemuda itu.
Alvin yang terkejut sempat melirik dan memilih berjalan lebih cepat, tak ingin mendengar apapun yang akan keluar dari mulut gadis itu.
"Alvin aku bilang tunggu." ujar Karina akhirnya menahan lengan kanan Alvin.
"Kenapa kau mengikutiku?" omel Alvin
"Tunggu sebentar dulu."
"Untuk apa? Memangnya apa lagi yang kau mau dari diriku?" tanya Alvin dengan ekspresi benci yang terlihat jelas. "Mau menghina apa lagi sekarang?"
Karina tersenyum canggung melihat ekspresi kesal Alvin saat ini. Pemuda itu tak pernah menatapnya dengan tatapan seperti ini. Dan juga, perkataannya sangat tajam juga menusuknya.
"Aku datang bukan untuk hal seperti itu."
Alvin menatap Karina heran. "Jadi untuk apa?"
Karina, balas menatap Alvin. "Aku cuma mau bicara. Bukan, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
"Menanyakan apa?"
"Ini tentang gadis yang kemarin?"
"Gadis kemarin. Siapa?"Alvin menaikkan sebelah alisnya, menyadari sesuatu. "Maksudmu Evelyn?"
__ADS_1
Karina mengangguk. "Ya, dia. Bisa aku tahu apa hubunganmu dengannya?"
"Bukankah kau sudah punya jawabannya?"
Karina menggeleng, "Sebelumnya aku mendengar dari mulut gadis itu. Tapi saat ini, aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu. Sekali lagi. Jawab aku, kau benar-benar memiliki hubungan dengannya atau tidak?"
"Memangnya apa bedanya mendengarnya langsung dariku atau tidak?"
"Hanya untuk meyakinkan diriku."
"Apa?"
"Aku hanya ingin tahu apa kau benar-benar sudah melupakan aku, atau tidak."
Alvin memalingkan wajahnya, tersenyum sinis. Ia tak tahu kenapa Karina bertingkah aneh seperti saat ini. Apa tujuannya sebenarnya?
"Maksudmu, aku harus membuang waktuku hanya untuk meyakinkan dirimu?" Ujar Alvin dengan nada menusuk.
"Bukan begitu maksudku, Alvin."
"Lalu apa?" sentak Alvin. Ia benar-benar kesal saat ini. Bisakah Karina menjauh saja dari hidupnya. Ia lelah terus berurusan dengannya.
Alvin menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Karina, kau tahu jelas kalau selama ini aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini."
"Seperti ini?"
"Ya, seperti ini, membahas urusan pribadi. Aku tidak pernah membahas hubunganku denganmu pada orang lain saat kita masih bersama, bukan?"
"Ya, memang benar."
"Dan kau sekarang adalah orang lain bagiku. Jadi aku punya hak untuk tidak menjelaskan apapun padamu."
"Tapi untuk masalah ini, aku-"
"Maaf Karina, sepertinya aku harus pergi." Alvin melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku tidak punya waktu untuk hal konyol ini."
Wajah Karina memucat. Ini pertama kali bagi dirinya merasa begitu di acuhkan. Terutama oleh Alvin. Selama ini pemuda itu tak pernah mengacuhkan dirinya.
"Alvin, tunggu."
Seruan Karina itu sama sekali tak di pedulikan oleh Alvin. Pemuda itu terus melangkah meninggalkan Karina sendirian di tempat itu. Membuat Karina mengepalkan telapak tangannya, kesal.
***
__ADS_1