Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
26. Pemecahan Masalah


__ADS_3

Alvin menatap area kampus yang sudah tampak sepi mengingat ini adalah jam pulang kuliah. Di tangannya tampak dua bungkus coklat yang siap untuk dimakan juga ada sebotol kopi yang siap untuk diminum.


Jujur, ia begitu mengantuk karena jam tidurnya yang berkurang. Selain itu ia juga masih terus teringat dengan apa yang Evelyn lakukan padanya di parkiran klub malam. Semua itu membuat Alvin sama sekali tak bisa fokus pada apa yang dosen jelaskan.


Ya, jika bicara tentang ciuman semalam. Alvin akui itu memang begitu membekas di ingatannya.


Sambil melangkah santai, ia merobek salah satu dari dua bungkus coklat di tangannya dan menggigit ujungnya.


"Kau lapar, tidak?" tanya Dave tanpa menoleh pada Alvin, tampak sibuk memainkan ponsel di tangannya.


Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Dave itu, Alvin yang sedang fokus menatap area sekitarnya sontak menolehkan pandangannya untuk menatap pada sahabatnya itu. Dave berada satu setengah meter di depannya, melangkahkan kakinya lebih dahulu.


Alvin mengangguk pelan dan kembali menggigit coklat di tangannya. "Lumayan lapar."


"Mau makan?" tanya Dave tiba-tiba saja berbalik untuk menatap pada Alvin, melemparkan senyum pada sahabatnya itu.


Alvin menaikkan sebelah alisnya, heran.


"Makan?"


"Iya, makan siang. Kau mau makan siang dulu?" tanya Dave. "Sebenarnya aku tau tempat makan enak. Baru buka. Tapi aku berani jamin enak dan bakal nagih."


"Kau mengajakku makan siang bersama?"


"Benar."


Alvin tak langsung menjawab. Pemuda tampan itu tampak berpikir sedikit lebih lama kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak."


Senyum Dave langsung memudar, tak menyangka akan ditolak sahabatnya sendiri. "Kenapa?"


"Sepertinya aku makan di rumah saja." jawab Alvin pada akhirnya sembari melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku rasa aku akan terlambat datang ke tempat bekerja jika ikut pergi makan denganmu."


"Tapi aku lapar."


Alvin mengerutkan kening sambil menatap Dave setelah mendengar penyataan itu. Apa maksudnya?


"Lalu kenapa?"


"Bagaimana kalau kita makan. Berdua."


"Sekarang?"

__ADS_1


"Besok, Alvin." jawab Dave malas. "Tentu saja sekarang."


"Tidak. Sudah ku bilang kan. Tidak!"


"Kenapa?"


"Sudah kubilang, aku mau makan di rumah."


"Jadi maksudmu, kau tidak mau menemani sahabat baikmu ini? Kau akan membiarkan aku makan sendirian. Begitu?"


Alvin terkekeh melihat sikap Dave. "Jangan berlebihan begitu. Ini hanya tentang makan siang."


"Itu dia, Alvin. Makan siang akan terasa lebih baik jika kau bersama seseorang untuk mengobrol."


Alvin tersenyum, tapi tetap menggeleng. "Kau pergilah sendiri. Aku tak punya waktu untuk hal seperti ini."


"Ayolah Alvin, aku yang traktir. Kau temani aku makan siang. Aku tidak mau makan sendirian. Kadang aku akan merasa seperti orang bodoh saat makan sendirian."


Alvin menghela napasnya malas.


"Sudah ku katakan aku tak punya waktu untuk hal ini. Aku sibuk, Dave. Lagipula, aku butuh istirahat. Kau lupa, pekerjaanku-'


"Ini hanya makan, Alvin." potong Dave. "Makan siang. Ini tak akan mengubah hal-hal kecil dalam hidupmu. Hiduplah dengan santai sahabatku."


"Kau tega sekali menolak permintaan dari sahabatmu ini."


Alvin tampak berpikir untuk beberapa saat, sebelum kemudian menghela napasnya pasrah.


"Oke! Oke! Kita akan makan."


"Kau mau menemaniku?" Mata Dave tampak berbinar-binar.


"Ya tentu saja."


"Serius?"


"Hm."


"Kau memang sahabat yang baik." puji Dave merangkul pundak Alvin lalu menariknya untuk berjalan.


***


Itu tepat pukul satu siang, saat Alvin masuk ke rumah kecilnya dengan langkah gontai. Setelah meletakkan tas kuliahnya sembarangan ke atas lantai, Alvin langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.

__ADS_1


"Nyaman sekali, rumahku istanaku." gumam Alvin memejamkan kedua matanya dan menghembuskan napasnya perlahan.


"Aku lelah sekali." gumannya.


Alvin memutuskan untuk beristirahat lebih dahulu sebelum bersiap pergi bekerja. Ia butuh istirahat. Jika ia tidak, tubuhnya pasti akan merasa kelelahan karena tak pandai mengatur waktu istirahat.


Pagi sampai siang ia harus kuliah, sementara sorw hingga malam ia harus bekerja di klub. Ia hanya punya waktu selama beberapa jam di siang untuk beristirahat dan mencuri-curi waktu menyelesaikan tugas kuliahnya.


Alvin mencoba untuk tidur siang selama beberapa menit, mencoba membuang rasa lelahnya, tapi ternyata gagal. Ia tak bisa tidur karena tiba-tiba saja harus teringat tentang sesuatu yang begitu mengganggu kepalanya. Itu mengenai tagihan iuran semesternya yang belum juga bisa ia lunasi.


Perlahan, Alvin membuka kembali kedua matanya dan meraih tas kuliahnya, mengeluarkan lipatan kertas dari salah satu kantong tas. Itu adalah kertas tagihan yang diberikan oleh petugas administrasi kampus padanya.


Alvin menatap lekat-lekat kertas yang berisi tanggal tagihan dari petugas administrasi yang ia dapat beberapa waktu lalu.


Hanya beberapa hari lagi.


Itu adalah batas waktu yang ia miliki sampai pihak kampus mengeluarkannya. Lantas bagaimana caranya Alvin bisa mendapatkan uang untuk membayar sementara ini hanya tinggal hitungan hari. Ia bahkan baru saja mendapat pekerjaan. Itu sudah jelas kalau ia belum akan mendapatkan uang gaji dalam waktu dekat ini


Sejujurnya, Alvin bukannya tak punya uang sama sekali untuk membayar. Alvin punya. Tapi jika ia harus menggunakan uang itu untuk membayarkan iuran kuliahnya, sudah jelas Alvin tak akan makan untuk bulan ini.


Memilih antara membayar kuliah atau makan bukan hal mudah. Bagi siapapun itu. Ini antara hidup dan mati. Bisakah Alvin mengatakannya seperti itu?


Alvin akui, meskipun menurutnya gaji di tempatnya bekerja saat ini sangatlah besar tapi tetap saja ia tak bisa membayar biaya kuliahnya yang hanya di beri jangka waktu seminggu.


"Sebentar lagi aku harus membayar tagihan semester, sementara aku baru akan mendapatkan gaji bulan depan. Apa yang harus aku lakukan?"


Alvin menarik napas dalam-dalam, lalu melipat kembali kertas tagihan semester yang ia pegang dan memasukkannya ke dalam tasnya.


"Bagaimana aku harus membayar tagihannya." Alvin bergumam.


Alvin menatap kosong pada dinding kamarnya. Saat ini ia hanya bisa melamunkan nasibnya. Seandainya ia punya uang simpanan sedikit lebih banyak dari yang ia punya saat ini tentunya biaya kuliahnya akan selamat.


Tapi tunggu dulu. Uang simpanan?


"Oh iya. Benar juga. Uang simpanan." gumam Alvin sumringah.


Ia baru saja teringat tentang sesuatu. Seingatnya ia memang punya uang simpanan seperti yang ia harapkan. Alvin kan masih menyimpan uang tip pemberian para wanita di klub semalam.


Alvin buru-buru bangkit dan melangkah menuju nakas tempat ia meletakkan uang tip semalam. Ia membuka salah satu laci dan mengambil uang yang ada di sana lalu menghitung uang yang ada.


Setelah beberapa detik menghitung uang itu, Alvin akhirnya bisa menghela napasnya lega.


"Tiga juta lima ratus ribu. Ini jelas cukup untuk membayar tagihannya. Itu artinya masalah terpecahkan." gumamnya sumringah.

__ADS_1


Alvin tak percaya ini. Masalah terbesarnya akhirnya bisa di selesaikan. Sisa uang ini bahkan masih bisa ia gunakan untuk makan selama beberapa hari ke depan.


__ADS_2