Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
37. Percaya Diri Karina


__ADS_3

Sesaat setelah memasuki gerbang kampus, langkah kaki Alvin terhenti. Bukan hanya langkah kakinya, namun Alvin juga merasa waktu seakan ikut berhenti untuk sesaat.


Tubuhnya membeku. Terutama setelah menyadari kehadiran sosok yang ada di hadapannya itu. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah sosok gadis cantik yang berdiri tak jauh darinya.


Sosok itu, Alvin hafal jelas sosok siapa yang saat ini tengah berdiri di hadapannya sana. Gadis cantik dengan aura dominasi yang begitu kuat. Aura yang bisa membuat Alvin merasakan dengan jelas dadanya yang saat ini tengah bergejolak hebat. Ia bahkan hanya bisa berdiri mematung di posisinya.


"Karina?" bisik Alvin pelan pada dirinya sendiri.


Satu kali Alvin langsung memicingkan matanya, mencoba melihat gadis itu dengan tatapan sinis.


"Sedang apa dia di sini?" gumam Alvin lagi.


Ya, sosok gadis cantik itu adalah Karina.


Dia adalah gadis yang sudah mencampakan Alvin begitu saja beberapa waktu lalu. Alvin benci mengakuinya, tapi kehadiran Karina memang selalu membuat hati Alvin menghangat setiap ia bertemu dengannya. Meskipun faktanya, gadis itu sudah menyakiti hati Alvin berulang kali.


Hubungan percintaan mereka bukanlah hubungan yang biasa. Itu bukan hubungan singkat dimana Alvin bisa melupakannya dengan mudah. Karina adalah cinta pertama Alvin. Dan itu sebabnya Alvin tak bisa melupakannya dengan cepat. Alvin bukannya tak berusaha. Alvin sudah mencoba melupakannya, namun sampai saat ini, Alvin akui ia belum mampu.


Alvin butuh seseorang yang dapat membuatnya lupa akan Karina. Tapi ia belum percaya diri untuk membuka hatinya pada orang lain.


Sementara itu, didepan sana Karina ternyata juga sudah menyadari kehadiran Alvin. Gadis itu hanya menatap Alvin dengan senyum meremehkan.


Raut wajah gadis itu seakan tengah mengejek Alvin yang saat ini terlihat seperti lelaki yang begitu menyedihkan menurutnya.


Logika berkata pada Alvin untuk segera menjauh dan pergi meninggalkan tempat itu. Namun apa daya, belum juga Alvin melangkah, Karina sudah lebih dahulu melihatnya.


Mata Alvin masih terfokus menatap sosok Karina yang saat ini tengah melangkahkan kaki, mendekat ke arahnya. Untuk sesaat Alvin hanya terdiam, menatap sosok Karina yang semakin mendekat padanya.


"Alvin, kebetulan sekali." tegur Karina.


"Ya, kebetulan sekali." balas Alvin malas.


Karina menatap area sekitar mereka. "Sedang apa kau di sini? Bukankah ini sudah jam pulang kuliah?"


Alvin hanya diam. Memilih untuk tidak mengatakan apapun, hanya menatap Karina dengan tatapan dinginnya.


Karina tersenyum miring melihat raut wajah pemuda di hadapannya itu. Ia tahu kalau Alvin pasti masih merasa sakit hati padanya atas kejadian yang lalu.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan di jam pulang kuliah ini?"


"Bukan urusanmu."


"Oh wow, santai saja? Tidak perlu menaikkan nadamu begitu. Ah, apa jangan-jangan kau sedang menungguku di sini?" tebak Karina penuh percaya diri.


"Menunggumu?" Alvin mendengus. "Untuk apa aku menunggumu?"

__ADS_1


"Ck, ck, kau berniat sekali untuk bertemu denganku sampai harus mencari tau jam tambahan kuliahku seperti ini, ya?"


"Apa?" Alvin mengernyit. Apa sebenarnya maksud gadis ini. Siapa yang menunggu siapa. Alvin bahkan tak tahu kalau gadis itu sedang ada jam kuliah tambahan.


Karina memutar bola matanya malas.


"Jika tujuanmu ingin kembali, itu akan sia-sia. Bukankah sudah ku bilang padamu kalau aku tak mau bersamamu lagi, kenapa kau masih menguntitku? Sebelumnya di klub dan sekarang di kampus." lanjut Karina


"Aku tidak menguntitmu, Karina? Pertemuan ini jelas hanya kebetulan saja."


Karina berdecak sinis.


"Tidak ada kebetulan yang terjadi dua kali, Alvin. Aku tidak tahu, selain bodoh, ternyata kau juga sangat tidak tahu malu."


"Jaga perkataanmu, Karina. Siapa yang kau sebut tidak tahu malu?"


Karina mendecih.


"Ayolah Alvin, akui saja. Kau pasti tahu kalau aku ada jam kuliah tambahan. Itu sebabnya kau menungguku di sini."


"Aku tak punya urusan menunggumu, Karina!"


"Ck, semua orang pasti akan berpikir sama denganku jika melihat kau di sini, Alvin. Mereka akan berpikir kau menungguku. Apalagi jam kuliahmu sudah selesai sejak tadi." balas Karina tak mau kalah.


"Ck, benarkah? Haruskah aku percaya padamu?" Karina bertanya dengan raut sinis.


"Karina, aku sama sekali tak menunggumu. Terserah kalau kau tak percaya. Yang jelas, aku masih di sini bukan karena menunggumu tapi aku ingin bertemu dengan teman-temanku."


Alvin lalu memilih untuk melangkah meninggalkan Karina di tempat itu. Meladeni gadis ini akan membuat kepalanya pecah saja. Namun baru beberapa langkah, gadis itu kembali bicara.


"Baiklah. Anggap aku percaya perkataanmu itu. Lantas dimanakah mereka?"


Alvin menghentikkan langkahnya dan berbalik, menatap Karina. "Siapa?"


"Teman-temanmu, tentu saja. Dimanakah mereka?"


Alvin menatap Karina dengan tatapan heran. Ya, ia heran sekaligus bingung. Kenapa wanita ini begitu tak percaya dengan perkataannya. Ia menganggap seolah Alvin sedang mengejar-ngejar dirinya.


Tapi apa boleh buat. Jika Karina meminta bukti padanya. Maka Alvin akan berikan. Alvin tak ingin di sangka sebagai lelaki yang tak punya harga diri karena masih mengejar-ngejar mantannya.


Sebagai lelaki ia juga punya harga diri. Ia akan membuktikannya dan membuat Karina malu.


"Baiklah. Aku akan menghubungi mereka untuk membuktikan segalanya padamu." ujar Alvin, merogoh kantonhnya, mencari ponselnya untuk menghubungi teman-temannya.


Karina menggedikkan bahunya acuh. "Silahkan! Buktikan padaku."

__ADS_1


Alvin mencari ponselnya di kantongnya. Namun ia tak dapat menemukan ponselnya dimanapun. Kantung jaket, kantung celana. Bahkan di dalam tasnya pun tak ada.


"Sial! Dimana ponselku." gumamnya.


Alvin kembali mengingat-ingat dimana tepatnya terakhir kali ia menggunakan ponselnya. Itu adalah saat dimana ia membalas pesan dan saat masih di dalam mobil Evelyn.


Alvin membulat. Lantas apakah ponselnya tertinggal di mobil Evelyn.


Karina terkekeh melihat Alvin yang tampak kebingungan mencari ponselnya. Apakah sebentar lagi pemuda ini akan membuat alasan dengan mengatakan kalau ponselnya hilang?


Melihat Alvin yang tak kunjung memberikan bukti apapun, Karina hanya memutar bola matanya malas.


"Bagaimana? Tak bisa membuktikan?" Karina melipat kedua tangan di depan dadanya, menatap remeh.


Alvin mendongak dan menatap Karina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ponselku tak ada."


"Ck, ck, apa sekarang kau mau bilang padaku kalau ponselmu tiba-tiba saja hilang?"


"Ponselku memang hilang Karina."


"Oh wow, dugaanku benar." Karina terkekeh sinis. "Tak salah kalau selama ini aku menyebutmu bodoh."


Alvin memejamkan matanya, menahan emosinya saat mendengar Karina kembali menyebutnya bodoh.


"Aku memang tak bisa membuktikan padamu, tapi aku bisa masih bisa membawamu ke teman-temanku."


"Tidak perlu. Semua sudah jelas. Kau memang disini untuk menguntitku. Terbukti bukan kau memang tak bisa melupakan aku."


Alvin kembali merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Karina untuk yang kesekian kalinya.


"Aku. Tidak. Menguntit. Siapapun." Alvin menegaskan kalimatnya.


Namun Karina malah terkekeh dan menggelengkan kepalanya tak percaya karena baru mengetahui betapa pembohongnya mantan kekasihnya ini.


"Ayolah Alvin, sebaiknya kau akui saja kalau kau memang-"


"Ada apa ini?" seru seseorang memotong ucapan Karina.


Karina menoleh dan terkejut mendapati seorang gadis sedang berdiri di dekat mereka. Dan ia merasa lebih terkejut lagi setelah menyadari kalau gadis itu adalah gadis yang beberapa hari lalu bertengkar dengannya di klub malam.


Dia gadis yang Karina ingat bernama Evelyn.


"Sedang apa dia disini?" Gumam Karina pada dirinya.


***

__ADS_1


__ADS_2