Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
24. Hadiah


__ADS_3

Alvin berjalan santai menuju gedung perpustakaan kampus. Ini sudah jam pulang kampus tapi Alvin memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia akan mencari beberapa buku untuk referensi tugas kuliahnya.


Meskipun ini sudah jam pulang kuliah, namun masih banyak sekali mahasiswa yang lalu lalang. Sepertinya mereka masih fokus mengerjakan kesibukan mereka sendiri. Beberapa dari mereka juga tampak duduk-duduk santai di koridor kampus.


"Tunggu dulu, Alvin." seru seseorang pada Alvin.


Alvin yang baru saja hendak mendorong pintu masuk perpustakaan sontak berhenti saat mendengar suara yang asing tepat di sebelahnya.


Begitu menoleh, ia melihat seorang gadis tampak berdiri tepat di hadapannya, tersenyum kemudian melambaikan tangan padanya.


Alis Alvin tampak berkerut untuk beberapa detik. Ia sama sekali tak mengenal siapa gadis itu. Bertemu saja baru kali ini. Tapi sepertinya gadis ini mengenal dirinya?


Beberapa detik selanjutnya Alvin mengerjapkan matanya. Ia tersadar dari lamunan kecilnya. Yah, meskipun tak mengenalnya, Alvin tetap memilih untuk membalas senyuman itu.


"Maaf, ada apa?" tanya Alvin masih tersenyum.


"Tunggu sebentar." Gadis cantik berambut panjang itu dengan cepat melangkah mendekati Alvin. "Aku mau bicara sesuatu."


Alvin mengangguk, "Apa ada yang dibutuhkan?"


"Tidak."


"Hah?"


Gadis itu tersenyum. "Tidak ada yang aku butuhkan."


"Tidak ada?" Alvin menatap bingung. Kalau gadis ini tak butuh apapun dari dirinya, lantas kenapa memanggilnya tadi.


"Benar, tidak ada. Itu karena aku datang untuk memberikan sesuatu padamu."


"Memberikan sesuatu?"


"Hm, aku ingin memberikan bingkisan ini untukmu, Alvin." Gadis itu lalu mengangkat tangannya, menyodorkan paperbag yang sejak tadi ia bawa dengan kedua tangannya.


Alvin mengerjapkan kedua matanya. Untuk sejenak ia merasa bingung, menatap bingkisan di tangan gadis itu kemudian menunjuk dirinya sendiri.


"Ini untukku?"


"Benar."


"Tapi untuk apa?"


"Aku berikan hadiah untukmu."


"Hadiah untukku? Tapi aku sedang tidak berulang tahun."


"Ini hadiah sebagai ucapan terima kasih."


"Memangnya aku melakukan apa?"


Gadis itu tersenyum malu. "Kau putus dengan Karina. Itu yang kau lakukan? Aku berterima kasih atas itu."


"Kau berterima kasih karena aku berpisah dengan Karina?" Alvin seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Maaf, aku tak bermaksud untuk tak sopan." gadis itu tersenyum canggung. "Tapi aku senang kau putus dengannya. Dia sama sekali tak cocok untukmu. Kau terlalu baik untuk wanita seperti Karina."


Alvin diam. Memilih tak bersuara. Bagaimana bisa ada orang yang tak kau kenal datang tiba-tiba dan mengatakan ia senang kau putus dengan kekasihmu.

__ADS_1


"Apa kau tidak mau hadiahnya?" gadis itu bertanya dengan nada sedih karena Alvin tak kunjung menerima pemberiannya.


Alvin tersadar dari lamunannya. Ia menatap wajah gadis itu lalu tersenyum tipis. Tangannya terulur untuk meraih paperbag itu.


"Aku berterima kasih atas hadiahnya.."


"Sama-sama. Dan satu lagi. Bisakah aku mengatakan sesuatu padamu?"


Alvin mengangguk.


"Bisa."


Gadis itu menelan ludahnya kasar. "Aku hanya ingin bilang kalau aku-"


"Hei, Alvin."


Ucapan gadis itu terhenti saat seseorang berseru.


Alvin menoleh dan melihat Dave tengah melangkah mendekat padanya. Sementara senyum gadis itu memudar saat melihat kedatangan Dave. Ia perlahan mundur dari posisinya dan tersenyum canggung pada Dave.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."


"Tapi kau bilang ingin mengatakan sesuatu tadi."


"Lain kali saja. Dan juga, terima kasih karena sudah menerima pemberianku." ujar gadis itu buru-buru pamit pada Alvin dan berlalu pergi.


Dave menatap kepergian gadis itu dengan pandangan bingung lalu menoleh pada Alvin yang masih diam menatap paperbag di tangannya.


"Ada apa dengan gadis itu. Kenapa dia malah pergi saat aku datang?" oceh Dave, sedikit merasa tersinggung atas sikap gadis itu.


Dave menoleh kembali pada Alvin dan menatap sahabatnya yang tampak diam. Ia menepuk bahu Alvin.


Alvin mendongak, menatap Dave kemudian menggedikan bahunya santai.


"Tidak ada yang seru. Dia hanya datang untuk memberiku ini lalu pergi." ujar Alvin mengangkat bingkisan di tangannya.


Pandangan Dave turun pada paperbag di tangan Alvin.


"Apa itu?" tanyanya.


"Entahlah, aku juga belum lihat." ujar Alvin membuka bingkisan dan melihat ke dalam. Alvin lalu mengeluarkan barang dari paperbag itu yang ternyata berisi kotak kecil. Ia mengernyitkan alisnya saat melihat kotak kecil di tangannya. "Ini, bukannya…"


"Itu jam tangan."


"Benar."


Dave buru-buru meraih kotak itu dan memperhatikan kotak kecil itu.


"Ini merek terkenal dan aku yakin harganya pasti sangat mahal." Dave lalu menatap Alvin dengan raut bertanya-tanya. "Untuk apa gadis itu memberimu barang mahal seperti ini."


Alvin menggeleng. "Aku tak tahu."


Dave menatap Alvin lekat-lekat, dahinya berkerut. Ia heran bagaimana Alvin tak tahu alasan kenapa ada orang memberinya hadiah. Dan bukan main-main, ini barang mahal, setahu Dave.


"Kau mengenal gadis itu?"


"Tidak, aku tidak kenal."

__ADS_1


Dave menatap tak percaya, "Kau yakin, Alvin. Ini jam mahal, kau tahu? Bagaimana seseorang yang bahkan tak mengenalmu bersedia memberimu barang ini."


"Aku tidak bohong. Aku memang tak kenal siapa dia, Dave."


"Kau yakin?"


"Seratus persen."


Dave mengembalikan kotak itu pada Alvin dengan heran. "Bukankah ini aneh."


"Apa yang aneh?"


"Maksudku, jika ini bukan barang mahal, aku tak akan curiga."


"Ya sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Kita aggap saja dia orang iseng, Dave."


"Tidak, tidak, ini jelas bukan hadiah iseng, Vin. Sudah kubilang tadi. Ini hadiah mahal. Tak akan ada orang yang mau memberikan hadiah senilai jutaan rupiah hanya untuk iseng. Aku rasa dia memang berniat memberikannya padamu sejak awal."


"Apa maksudmu?"


Dave menatap Alvin lekat-lekat.


"Dia menyukai dirimu."


"Hah?"


"Aku sangat yakin kalau dia pasti menyukaimu. Itu sebabnya dia memberikan hadiah ini padamu."


"Ck, siapa yang menyukai siapa."


"Kau pikirkan saja. Untuk apa seorang gadis tak dikenal memberimu hadiah?" ujar Dave, namun ia langsung terkekeh pada dirinya. "Ya, tapi seharusnya aku tak heran sejak awal, ya. Kau ini kan Alvin. Para gadis bahkan bisa membelikan kapal pesiar untukmu."


"Apa yang kau bicarakan. Kau ini berlebihan, Dave. Berhentilah bicara hal yang tak masuk akal seperti ini. Jangan bicara mengada-ada terus."


"Aku tidak mengada-ada." ujar Dave tersenyum. Ia tak bisa menahan tawa saat melihat raut wajah Alvin. Pemuda itu memang mudah malu saat digoda seperti ini.


"Apa yang kukatakan memang benar. Di sini aku membicarakan kenyataan. Dulu, kau memang sering mendapat hadiah dari pada gadis, kan? Kau bahkan bisa kaya raya hanya dengan menerima pemberian mereka." ujar Dave. "Tapi semua orang berhenti memberimu hadiah saat Karina marah. Ah, aku rasa kau mungkin akan mendapat banyak sekali barang mahal dari para gadis jika tak berpacaran dengan Karina."


Raut wajah Alvin sontak berubah saat Dave mulai membahas mantan kekasihnya itu.


"Kenapa kau malah jadi membahas Karina?"


"Bukankah selama ini Karina selalu melarangmu menerima barang-barang dari para gadis. Dia cemburu. Dia bahkan melarang dirimu untuk sekedar bicara dengan para gadis karena tak ingin ada dari mereka yang menggodamu."


"Apa harus membahasnya sekarang?"


"Harus! Aku kan-"


"Jangan membuatku kesal, Dave!"


Melihat Alvin yang memasang raut serius, Dave hanya nyengir. "Iya, iya."


Alvin menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan sikap sahabat baiknya ini. Disaat seperti ini masih bisa ia membahas tentang Karina.


"Sudahlah tak perlu membahas hal-hal yang sudah lewat. Daripada kau semakin bicara ngawur lebih baik kita hentikan pembicaraan ini dan aku pergi saja." ujar Alvin sembari mendorong pintu perpustakaan, berniat kembali masuk dan meninggalkan Dave seorang diri


"Mau kemana?" Dave memegang bahu sahabatnya itu.

__ADS_1


"Perpustakaan." jawab Alvin menunjuk ke dalam perpustakan. "Ada buku yang harus aku cari di sana untuk tugas minggu depan."


***


__ADS_2