Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
23. Ingatan Evelyn 2


__ADS_3

Evelyn menyelesaikan olahraganya lima menit lebih cepat dari hari-hari biasanya karena saat ini tubuhnya terasa lebih lelah dan ia ingin istirahat lebih cepat.


Saat hendak menaiki tangga yang menuju kamarnya, ia melewati ruang makan. Disana, tampak beberapa pelayan tengah menyiapkan menu untuk makan pagi.


Evelyn terus melangkahkan kaki menuju kamarnya. Ia harus membersihkan dirinya lebih dahulu karena penuh keringat setelah berolahraga. Evelyn datang kembali beberapa saat kemudian, disambut dengan hormat oleh para pelayan.


Namun setibanya di meja makan, Evelyn bukannya menikmati makanannya, ia justru hanya duduk diam sambil menyangga dagunya dengan tangan, tampak melamun. Ia melamunkan insiden ciuman yang terjadi semalam.


Sejujurnya, sejak tadi ia terus mencoba untuk menghilangkan rasa penasaran tentang siapa pemuda yang ia cium tanpa permisi semalam. Pasalnya, bibir manis dari pria itu tak dapat Evelyn lupakan bahkan masih terasa dengan jelas di bibir Evelyn sendiri bahkan saat berolahraga tadi pun ia tetap memikirkan hal itu.


Selain itu Evelyn juga masih terus bertanya-tanya tentang bagaimana dia bisa bangun di kamarnya pagi ini. Dalam keadaan baik-baik saja tanpa goresan sedikit pun.


Evelyn masih bisa ingat saat semalam ia pergi ke klub malam bersama teman-temannya untuk berpesta. Setelah itu Evelyn terus minum sampai akhirnya ia tidak ingat apapun lagi.


Mengenai jaket yang ia pakai. Siapa? Siapa sebenarnya pemilik jaket itu. Sejujurnya, ini mungkin memang terlihat berlebihan bagi orang lain, tapi entah kenapa Evelyn merasa sangat penasaran dengan semua ini. Siapa juga yang sudah mengantarkannya pulang semalam dia pasti si pemilik jaket itu.


Apakah pemilik jaket dan pria yang dicium oleh Evelyn adalah orang yang sama?


"Jika yang aku cium adalah pria pemilik jaket itu, haruskah aku mengucapkan terima kasih?" gumam Evelyn, kemudian ia menggeleng. "... atau harusnya aku minta maaf saja padanya karena sikap kurang ajarku?"


Evelyn mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja makan. Ia terus mencoba mengingat apa saja yang terjadi padanya semalam, karena entah kenapa perasaannya saat ini sedikit tidak enak. Entah siapa pria itu. Dia pasti terkejut dengan tingkah sembrono yang Evelyn perbuat.


Di detik selanjutnya Evelyn menghela nafasnya. Ia merasa kesal. Biasanya, walaupun mabuk, ia selalu memiliki sedikit ingatan tentang apapun yang terjadi di malam sebelumnya. Tapi ini? Dia bahkan tidak bisa ingat apapun.


Selama beberapa saat Evelyn hanya menghabiskan waktunya untuk melamun dan mencoba mengingat segalanya namun tetap saja ia masih belum bisa mengingat apapun. Evelyn belum menemukan jawaban sampai tiba-tiba ia menjentikkan jarinya.


"Ya ampun, kenapa aku bodoh sekali. Kenapa aku tidak bertanya pada Maria saja. Aku yakin dia pasti tahu siapa yang sudah membawaku pulang semalam."


Evelyn menolehkan pandangan ke kanan dan kirinya, mencari Maria. Maria adalah seseorang yang bekerja di rumahnya. Wanita itu merupakan orang yang sudah dipercaya menjadi kepala pelayan yang membawahi seluruh pelayan di rumah Evelyn saat ini.


"Panggilkan Maria." ujar Evelyn pada salah satu pelayan di dekatnya.


"Baik nona."


Beberapa saat kemudian Maria muncul. Wanita paruh baya itu terlihat berlari kecil dari arah dapur menuju ke meja makan tempat Evelyn berada saat ini.


"Selamat pagi, Nona." sapa Maria. "Apa tubuh anda sudah terasa lebih baik sekarang?"


"Lumayan. Olahraganya cukup membantu."


Maria tersenyum sebagai tanggapan. "Anda memanggil saya, Nona?"


"Ya, kemarilah sebentar. Lebih mendekat. Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."


"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Maria dengan nada sopan setelah berdiri lebih dekat dengan Evelyn.


"Aku ingin bertanya, apa kau sudah tidur saat aku pulang tadi malam?" tanya Evelyn.


Maria menggeleng, "Belum nona."

__ADS_1


"Kalau begitu kau pasti tahu siapa yang sudah membawaku pulang semalam, kan?" tanya Evelyn dengan tatapan penasaran.


Maria terdiam. Wanita paruh baya itu tampaknya sedang berpikir kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Itu... Nona Ziva, nona. Beliau yang mengantarkan anda semalam."


"Dugaanku benar rupanya. Ziva-lah yang sudah mengantarkan aku pulang semalam."


"Ya nona." Maria mengangguk, "Nona Ziva datang bersama seorang pemuda saat mengantarkan anda, nona."


"Seorang pemuda?"


"Ya, nona!"


"Apakah dia kekasih Ziva?" tanya Evelyn lagi.


"Eh, kalau itu, saya rasa bukan nona. Karena wajah pemuda itu sangat berbeda dengan kekasih nona Ziva." Maria terlihat masih berusaha mengingat-ingat. "Kalau pemuda yang tadi malam tidak bawa mobil saat pulang."


Jawaban Maria itu membuat Evelyn merasa semakin bingung. Pemuda manakah yang Maria maksud. Semua teman Evelyn mempunyai mobil. Jelas, karena mereka adalah orang kaya. Tapi ini...


"Bagaimana ciri-cirinya?"


"Dia sangat tampan, Nona."


"Bagaimana dengan nama pemuda itu? Apa kau tahu?" tanya Evelyn lagi.


"Maaf nona, saya tidak tahu. Dia tidak menyebutkan namanya. Saya juga tidak bertanya. Tapi saya sempat bertemu dengannya di ruang tamu sebentar untuk menyapa. Itu tepat sebelum dia pulang. Dia sempat mengatakan pada saya kalau dia adalah pelayan di klub yang semalam anda datangi dan dia datang untuk membantu mengantarkan anda." jelas Maria panjang lebar.


"Ya nona." jawab Maria. "Apa ada yang salah?"


"Tidak. Tidak ada."


"Oh, saya pikir nona kehilangan sesuatu jadi nona bertanya tengang hal ini."


"Tidak, aku hanya bertanya karena merasa penasaran."


Penjelasan dari Maria itu malah semakin membuat Evelyn merasa semakin heran dan bingung. Evelyn memikirkan bagaimana bisa seorang pelayan klub mengantarkannya. Apakah Ziva yang memintanya?


Kalau begitu, apakah jaket yang wangi tadi adalah milik pelayan itu juga?


"Oh ya, nona. Ada salam dari nona Ziva. Sebenarnya semalam dia menginap di sini. Tapi sudah pulang tadi, pagi-pagi sekali." ujar Maria menyampaikan pesan Ziva pada Evelyn.


"Ya, baiklah. Terima kasih. Aku akan menghubungi Ziva untuk itu nanti." jawab Evelyn tersenyum.


"Apa nona ingin makan sekarang?"


"Em, ya." Evelyn mengangguk.


"Biar saya ambilkan, Nona." ujar Maria segera mengisi piring Evelyn dengan menu makanan yang tersedia. Setelah melayani majikannya itu Maria berpamitan untuk mengurus hal lain.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong Maria, siang ini aku akan pergi, jangan lupa, kau minta supir untuk menyiapkan mobilku."


"Baik nona, saya akan segera meminta supir untuk bersiap."


"Tidak, hanya mobil. Aku tidak akan pergi dengan supir. Aku akan menyetir sendiri hari ini." kata Evelyn. Sejujurnya, Evelyn enggan pergi hari ini, tapi rasa penasaran membuatnya ingin cepat-cepat menemui Ziva.


"Baiklah nona."


"Ya, kau bisa melanjutkan kembali pekerjaanmu, Maria." ujar Evelyn pada pelayannya itu.


Maria mengangguk sopan dan melangkah pergi, meninggalkan Evelyn seorang diri di meja makan untuk menyelesaikan sarapannya.


Begitu menyelesaikan sarapan, Evelyn memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Evelyn menatap pada langit-langit kamarnya, melamun dengan ekspresi bertanya-tanya.


"Maria bilang pelayan klub?" gumam Evelyn pada dirinya sendiri.


Setelah mendengar cerita Maria tadi, entah kenapa rasa penasarannya terhadap siapa pemuda itu belum juga hilang. Evelyn justru semakin merasa penasaran dan ingin mengetahui siapakah pelayan yang dimaksud oleh Maria itu. Ia merasa bingung dan juga penasaran. Pelayan mana yang sudah berbaik hati bahkan bersedia untuk mengantarnya pulang.


Akhirnya, karena masih merasakan sedikit pusing pada kepalanya, ia memilih untuk memejamkan kedua matanya. Evelyn menghembuskan nafasnya perlahan, mencoba mengeluarkan rasa penat yang melanda pikirannya.


Namun tiba-tiba saja sebuah gambaran kembali muncul di ingatan Evelyn. Gambaran tentang segala kejadian yang terjadi padanya semalam. Dan detik itu juga, ia berhasil mengingat kembali segala hal, termasuk saat ia menarik tengkuk lalu mencium paksa seorang pemuda yang berdiri di dekatnya di luar klub malam itu, semuanya.


Setelah menemukan titik terang tentang kejadian semalam, Evelyn dengan cepat membuka mata dan langsung bangun dari posisi berbaringnya.


"Pelayan itu!" pekik Evelyn tiba-tiba.


Evelyn mengenal jelas siapa pemuda itu. Dia si pelayan tampan yang sempat mengantar minuman di pesta Ziva semalam. Apa-apaan ini, Evelyn sudah mencium pelayan itu?


Evelyn tercengang dan hanya bisa memasang ekspresi kaget di wajahnya, "Sial, apa yang sudah aku lakukan?"


"Ya ampun! Aku pasti benar-benar sudah tak waras karena melakukan itu padanya." gumamnya, tangannya terangkat untuk mengusap wajahnya dengan kasar.


Habislah sudah.


"Aku mencium pelayan itu. Menciumnya! Gila... aku pasti sudah gila." Evelyn meremās rambutnya kuat-kuat.


Evelyn bangkit dari duduknya. Ia mondar-mandir di dalam kamarnya, meruntuki dirinya sendiri yang selalu saja berbuat ceroboh.


Evelyn kini hanya bisa tertawa miris pada dirinya sendiri. Ia merasa sudah benar-benar gila, tak menyangka dengan hal memalukan yang sudah ia lakukan tadi malam. Pemuda itu, Evelyn sudah berani menciumnya tanpa izin.


"Aku benar-benar tak tahu malu." Evelyn menggelengkan kepalanya, tak percaya sama sekali dengan tingkah lakunya sendiri.


Untuk sesaat Evelyn merasa kalau dirinya begitu memalukan. Namun setelah mengetahui siapa yang ia cium, tiba-tiba saja ada hal lain yang Evelyn rasakan di hatinya saat ini.


Perasaan itu disebut... bahagia.


Evelyn tak bisa mengetahui alasan kenapa ia begitu bahagia saat ini. Apakah karena ia memiliki ketertarikan padanya?


Perlahan Evelyn mengangkat tangannya kemudian menyentuh bibirnya sendiri. "Kenapa ciuman itu jadi terasa begitu jelas di ingatanku? Kenapa aku malah seperti menikmatinya begini. Dan kenapa aku bahkan... menginginkannya lagi" batinnya.

__ADS_1


***


__ADS_2