Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
35. Mari Berteman


__ADS_3

Untuk beberapa detik Alvin kembali terhenyak di posisinya. Alasan yang di sebutkan Evelyn barusan untuk beberapa detik telah membuat kepercayaan diri Alvin yang hilang kembali tumbuh.


Hati Alvin merasa senang. Ini seperti seseorang telah memberinya sebuah harapan bahwa kehadirannya diharapkan.


Detik selanjutnya, Alvin tersadar dari pikirannya sendiri dan langsung menggelengkan kepalanya. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Apa yang baru saja ia pikirkan?


Yah, benar kata orang, menjadi terlalu percaya diri bukanlah hal yang baik.


Alvin menatap ragu pada Evelyn yang saat ini sudah kembali melanjutkan makannya dengan santai. Ia berdehem pelan.


"Nona sebenarnya aku ini bukanlah orang yang cocok untuk dijadikan sebagai teman. Apalagi oleh orang seperti anda ini." ujar Alvin merasa minder.


"Orang sepertiku?" Evelyn menaikkan sebelah alisnya.


"Ya,"


"Memangnya aku ini orang seperti apa?"


"Kaya. Cantik. Sempurna. Teman nona juga orang-orang kaya dan sangat terhormat."


Evelyn sontak terkekeh geli setelah mendengar jawaban itu.


"Oh, ayolah Alvin. Itu alasan yang konyol dan terlalu kau buat-buat." Evelyn lalu menatap Alvin dengan tatapan curiganya. "Apa jangan-jangan kau hanya membuat alasan karena sebenarnya kau tidak bersedia menjadi temanku? Benar begitu, kan?"


Alvin buru-buru menggelengkan kepalanya untuk membantah dugaan Evelyn itu.


"Bukan, bukan begitu maksudnya. Anda jangan salah paham dulu" ujar Alvin lagi dengan gagap.


"Tapi entah kenapa aku merasa seperti kau baru saja menolak diriku?"


"Nona, anda salah paham. Bukan begitu."


"Kalau begitu, kau mau, kan?" kedua mata Evelyn kini tampak berbinar-binar.


"Tapi aku ini-"


"Mau menerima permintaan pertemananku atau tidak? Aku tulus ingin berteman denganmu."


Hening.


Tak ada jawaban dari Alvin. Pemuda itu tampak diam selama beberapa detik. Sejujurnya ia merasa sedikit terkejut saat mengetahui ada seorang wanita kaya dan juga sempurna seperti Evelyn yang menawarkan diri untuk berteman dengannya.


'Haruskah aku menerimanya saja?' batin Alvin.


Alvin jelas gelisah. Pikirkan lagi. Sejak pertemuan pertama mereka, Alvin sudah merasa tertarik pada Evelyn. Bagaimana ia bisa berteman dengan gadis itu sekarang. Lalu bagaimana jika nanti Evelyn mengetahui perasaan Alvin padanya. Alvin yakin kalau gadis itu pasti akan menjauhinya setelah ini.


Evelyn bisa melihat dengan jelas keraguan di wajah Alvin. Diam-diam gadis itu tersenyum miris. Apa-apaan ini. Bahkan untuk berteman dengan Alvin saja ia sampai begitu kesulitan seperti ini. Pemuda ini memang berbeda dari lelaki lain.


"Ayolah Alvin, jangan membuatku merasa kecewa dengan jawabanmu." ujar Evelyn tersenyum hambar.


Alvin menatap Evelyn lekat-lekat dan menghela napasnya dalam lalu tersenyum. "Ya, aku bersedia. Kita bisa berteman dengan baik mulai sekarang."


"Benarkah?" Evelyn tersenyum senang. "Terima kasih."


Alvin hanya bisa tersenyum kecil sebagai tanggapan atas sikap Evelyn.


Jujur saja, sebenarnya tak ada alasan bagi Alvin menolak permintaan Evelyn untuk menjadi temannya. Evelyn orang baik. Gadis itu bahkan tak memandang status sosial untuk berteman dengan dirinya. Namun entah kenapa Alvin hanya merasa ada yang ganjil untuk berada di dekat Evelyn sebagai teman biasa.

__ADS_1


Ia sungguh tak ingin Alvin tahu kalaiu ia merasakan rasa suka pada Evelyn. Itulah hal utama yang membuat Alvin takut. Ia sungguh takut jika ia dan Evelyn berteman, perasaan tertarik itu akan semakin tumbuh menjadi rasa cinta dan bertambah besar seiring pertemanan mereka.


Dan ia terlalu sadar diri untuk merasakan itu pada wanita sempurna seperti Evelyn. Alvin tahu kalau pada akhirnya ia akan terjebak bahkan tersiksa oleh perasaannya sendiri. Alvin hanya bisa menundukkan kepalanya saat memikirkan itu.


Sementara itu, Evelyn tampak tersenyum senang. Ia mendorong mangkuk kosong miliknya yang baru saja selesai dinikmati. Ia meraih gelas, meminum minuman miliknya kemudian meletakkannya kembali ke atas meja.


"Bagaimana kalau sekarang aku yang bertanya padamu." ujar Evelyn memecah lamunan Alvin.


Alvin menatap Evelyn, tersenyum kemudian menganggukkan kepala. "Silahkan. Anda ingin bertanya apa?"


"Yah, sebenarnya aku penasaran tentang satu hal." ujar Evelyn.


"Hal apa itu?"


Evelyn menegakkan tubuh dan mendekatkan tubuhnya pada Alvin, menatap Alvin dengan tatapan menyelidik. "Aku penasaran, kenapa kau bersedia untuk menemaniku makan siang sekarang?"


Alvin memundurkan tubuhnya lalu menundukkan kepalanya gugup. Rasanya malu setengah mati saat ditatap gadis secantik Evelyn dengan jarak sedekat ini.


"Yah, aku berterimakasih karena kau sudah bersedia menemaniku. Tapi aku penasaran apa alasanmu menerima ajakanku."


"Itu karena nona sendiri yang memintaku secara langsung. Lagipula, kebetulan aku juga punya waktu untuk menemani. Tentu tidak enak kalau aku menolaknya, kan?."


Evelyn berdecak. "Itu bukan jawaban yang aku harapkan darimu."


"Hah?" 


Evelyn menyilangkan tangannya di atas meja tampak ingin bicara serius dengan Alvin.


"Begini, untuk seseorang yang tampak cerdas, kau tidak ragu-ragu untuk pergi dengan orang yang bahkan baru saja kau kenal selama beberapa hari." Evelyn mengutarakan pikirannya.


Alvin mengerutkan dahinya. Ia tak mengerti apa maksud perkataan Evelyn saat ini.


"Jadi maksudku, kita ini bahkan baru bertemu beberapa kali. Lalu bagaimana kau bisa dengan mudah ikut denganku sekarang."


Pertanyaan Evelyn itu mampu membuat Alvin mengerjapkan matanya lalu mengalihkan pandangannya pada mangkuk bubur ayam kosong di hadapannya. Seketika ia jadi salah tingkah sendiri karena jujur saja, ia tidak tau harus menjawab apa.


Tiba-tiba saja, sebuah realita memukul Alvin dengan keras.


Evelyn memang benar.


Mereka baru saja saling mengenal. Lantas bagaimana ia bisa menyukai Evelyn seperti ini? Memangnya siapa yang memberi Alvin hak untuk merasa tertarik dengan gadis cantik itu. Jika di pikir, ia sama sekali tak memiliki hak untuk menyukai gadis sesempurna Evelyn.


"Ya, anda memang benar. Sebenarnya aku hanya ingin bersikap sopan atas ajakan anda." jawab Alvin seadanya.


Evelyn mengangguk. "Benar juga. Sejauh aku mengenalmu, kau ini memang terlampau sopan."


Alvin mengerutkan dahinya bingung. Entah barusan itu sebuah pujian untuk Alvin atau bukan.


"Lagipula, aku-lah yang memang sudah memaksamu untuk makan siang bersamaku tadi." Evelyn terkekeh.


"Tidak masalah, nona. Disini, aku juga yang bersedia untuk menemani anda, kan?!" Alvin berujar sopan.


Ya, Evelyn akui kalau Alvin memang terlampau baik. Ia menyadari betapa luar biasanya hati pemuda ini setelah melihat kejadian dimana Alvin direndahkan oleh mantan kekasihnya di klub malam itu namun ia bahkan tidak marah sama sekali.


Evelyn jadi membayangkan jika mantan kekasihnya berani merendahkannya seperti itu dia pasti akan menghabisinya saat itu juga. Menurut Evelyn, mantan kekasih Alvin itu harus mendapatkan balasan setimpal atas kelakuan buruknya itu.


Ah, bukankah gadis bodoh itu memang sudah mendapatkan ganjarannya?

__ADS_1


Jangan lupakan kalau Evelyn diam-diam sudah membantu membalas perbuatan mantan kekasih Alvin itu dengan menyiramkan minuman padanya.


Mengingat itu Evelyn hanya terkekeh sendiri barulah kemudian menatap Alvin dengan tatapan antusias.


"Sebenarnya aku tau alasanmu tidak menolak ajakan makan siangku dan setuju begitu saja."


"Ya?" Alvin tersenyum bingung.


"Tentu saja karena aku cantik dan kaya, kan?" ujar Evelyn dengan bangga.


Alvin terhenyak.


Ia sdikit terkejut saat mendengar kalimat percaya diri yang keluar dari mulut Evelyn itu.


"Itu alasannya bukan?"


"h-hah?"


Alvin tidak berani menjawab. Walaupun apa yang Evelyn katakan itu memanglah benar. Evelyn memang cantik dan kaya raya.


Itu fakta.


Tak ada yang bisa menyanggah hal itu.


"Sepertinya dugaanku memang benar. Kau tidak menolak ajakanku karena aku ini cantik dan juga kaya. Jadi tidak mungkin kalau aku ingin menipu apalagi berbuat macam-macam denganmu. Kau mempercayaiku. Ya, kan?" ujar Evelyn panjang lebar.


Alvin mengangguk canggung, "Kurang lebih begitu. Selain itu, kita juga sudah bertemu beberapa hari sebelumnya, kan? Kita sudah saling kenal."


Evelyn hanya tersenyum melihat tingkah Alvin yang menurutnya sangatlah lucu.


"Tapi dengar! Jika yang mengajakmu pergi itu orang lain. Selain aku. Maka kau tidak boleh langsung menerimanya. Itu sangat berbahaya. Kau tau? Jadi jangan sampai percaya sembarangan pada orang asing seperti yang kau lakukan saat ini, apalagi pada perempuan."


"Kenapa dengan itu, nona?"


"Kau akan celaka jika bertemu perempual lain." bisik Evelyn.


"Begitu rupanya, baiklah, nona." Alvin hanya mengangguk mengiyakan.


Sejujurnya, Alvin juga tak tau harus menjawab apa karena toh nyatanya selama ini dia memang selalu percaya pada orang lain. Dan sejauh ini tak pernah ada orang yang sampai berbuat jahat padanya.


Sementara Evelyn diam-diam tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Ini memanglah rencananya sejak awal. Berteman dengan Alvin, lalu menjelek-jelekkan perempuan lain. Itu karena ia tak ingin nantinya Alvin dekat dengan gadis manapun. Evelyn berencana untuk terus menjauhkan Alvin dari para gadis yang akan mencoba menggodanya.


Baginya ini adalah satu-satunya jalan. Tak ada jalan lain untuk berada dekat dengan Alvin tanpa harus terganggu oleh para gadis penggoda.


"Apa kita sudah selesai?" tanya Evelyn pada Alvin beberapa saat kemudian.


"Ah, i-iya." Alvin mengangguk kemudian ikut bangkit saat melihat gadis itu bangkit.


Alvin mengerutkan dahinya saat melihat Evelyn melangkah menuju pemilik warung.


"Tunggu dulu, nona! Nona mau apa?"


Evelyn menoleh dan mengangkat dompetnya, memperlihatkannya pada Alvin. "Mau bayar. Apalagi memangnya?"


"Jangan, nona. Aku saja yang bayar." ujar Alvin melangkah menyusul Evelyn namun terlambat karena gadis itu sudah lebih dahulu membayar.


"Bapak ambil saja kembaliannya." ujar Evelyn ramah pada pemilik warung bubur itu setelah memberikan selembar uang seratus ribu.

__ADS_1


"Sudah ku bayar. Oke, ayo kita pergi!" ajak Evelyn sambil merogoh tasnya mencari kunci mobil, mengabaikan Alvin yang masih melongo sambil memegang dompetnya.


***


__ADS_2