
"Jadi," kata Daniel melihat jam di pergelangan tangannya, "kita pulang sekarang?"
Evelyn mendongak kemudian ikut menatap jam tangannya, "kau sudah bosan?"
"Sedikit."
Evelyn tersenyum lalu mengangguk, "Boleh."
"Tapi kau tak masalah, kan?"
"Kalau kau ingin kita pulang sekarang, aku sih oke-oke saja. Tak ada masalah."
Daniel balas mengangguk kemudian bangkit dari duduknya. Sementara Evelyn saat ini tengah menyampirkan jaket ke lengannya lalu mengikuti Daniel keluar ruangan.
Saat melalui lorong, tampak Alvin tengah berada di depan salah satu ruangan vip, sepertinya baru selesai mengantarkan pesanan minuman.
Evelyn tersenyum, "hai!"
"Hai, nona."
"Aku akan pulang sekarang."
"Begitu.." Alvin mengangguk.
Evelyn mengerutkan alis saat melihat Alvin yang tampak canggung. Ada apa dengan pemuda ini? Apakah ada yang salah?
Sementara Daniel yang berada di dekat Evelyn hanya tersenyum kecil. Ia merasa puas setelah memberitahu Alvin jika Evelyn tengah tertarik padanya.
"Kami pulang dulu, oke!" seru Daniel melambaikan tangannya sembari menarik lengan Evelyn.
"Terima kasih sudah berkunjung." balas Alvin.
Daniel mengerutkan dahinya dan berbisik pada Evelyn, "Apa dia tidak tahu kalau kau pemilik klub ini?"
Tak menjawab, Evelyn hanya meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi tanda pada Daniel agar menutup mulutnya dan di balas Daniel dengan anggukan paham.
"Kami akan datang lagi, lain kali. Sampai bertemu lagi, Alvin. Evelyn akan merindukanmu." goda Daniel.
"Sialân! Apa yang kau katakan!" Evelyn dengan cepat menutup mulut Daniel dan menyeretnya, menjauh dari tempat itu.
*area parkir
"Bagaimana rasanya sudah berhasil mempermalukan aku di hadapannya?" omel Evelyn.
"Itu menyenangkan."
"Menyenangkan kepalamu."
Daniel tertawa, "Ayolah, Eve. Aku tak bohong. Itu memang cukup menyenangkan bagi diriku."
"Dan cukup memalukan untukku." balas Evelyn.
Sepanjang perjalanan menuju mobilnya, Evelyn terus saja memandangi punggung Daniel sembari memanyunkan bibirnya kesal.
Evelyn amat heran. Kenapa juga sahabatnya itu selalu mengerjai dirinya. Seperti yang terjadi beberapa saat lalu, Daniel harus menggoda dirinya di hadapan Alvin.
__ADS_1
Itu memalukan, asal Daniel tau.
Daniel menoleh pada Evelyn. Ia menatap Evelyn beberapa detik kemudian kembali tertawa. Hal itu membuat Evelyn jadi kesal sendiri.
"Berhenti mentertawaiku, Daniel!"
"Oke, oke. Maafkan aku." ujar Daniel.
"Kau mau aku balas? Aku bahkan bisa lebih kejam darimu, kalau kau mau."
"Ayolah, Eve. Kan aku sudah minta maaf." ujar Daniel tersenyum.
"Aku hanya melihat tawa di wajahmu. Bukannya penyesalan." sindir Evelyn.
"Maafkan aku, oke. Kau harus tau, ini sungguh lucu bagiku. Melihatmu merasa malu seperti tadi adalah hal langka, Eve!"
Evelyn mendecih. "Sepertinya kau suka melihatku menderita, ya."
"Sedikit. Sebenarnya itu cukup membuatku tertawa." ujar Daniel melangkahkan kakinya lebih cepat, mendahului Evelyn.
Evelyn menggelengkan kepalanya. Ia hanya bisa meruntuki atas apa yang dilakukan sahabatnya itu. Jika Daniel yang berada di posisinya saat ini, Evelyn yakin, pemuda itu pasti akan mengamuk.
'Untung aku ini manusia yang penyabar.' batinnya.
Bicara tentang kesabaran, detik itu juga Evelyn tiba-tiba teringat pada Alvin. Jika membahas kesabaran, bukankah Evelyn tak ada apa-apanya di bandingkan dengan pemuda itu.
Evelyn tak tahu dengan apa Tuhan menciptakan hati pemuda itu. Ia sungguh baik hati dan sabar. Evelyn bahkan di buat kesal sendiri dengan kesabaran yang di miliki Alvin.
Evelyn menghentikkan langkahnya lalu menoleh kembali ke bangunan klub malam di belakangnya. Dari situ dia bisa melihat pengunjung yang baru berdatangan tengah memasuki pintu masuk klub malam.
Evelyn menghentikkan langkahnya. Berpikir tentang sesuatu. Ia memutuskan untuk tak pulang sekarang. Ada hal yang ingin ia lakukan lebih dahulu.
"Daniel." serunya.
Daniel yang hendak membuka pintu mobilnya seketika menghentikkan gerakannya. Ia berbalik, menatap Evelyn dengan tatapan bingung.
"Ada apa?"
"Kau bisa pulang lebih dulu."
"Apa?"
"Kau duluan saja. Pulanglah lebih dahulu."
Daniel menatap Evelyn dengan heran. "Memangnya kau tidak pulang?"
"Aku akan pulang tapi bukan sekarang."
"Hah?"
Evelyn diam, tampak berpikir.
"Sebenarnya aku ada urusan lain setelah dari tempat ini. Itu sebabnya aku tidak akan pulang sekarang."
"Urusan lain?" Daniel menatap Evelyn lekat-lekat lalu kembali melirik jam di pergelangan tangannya, "Jam segini?"
__ADS_1
"Yah," Evelyn mengangguk ragu. "Urusan mendadak."
"Kau yakin akan pergi sekarang?"
"Aku yakin. Yah, ini hal penting yang tak bisa di tunda sama sekali."
Daniel diam. Masih menatap Evelyn dengan agak ragu. Seolah-olah ia merasa berat meninggalkan sahabatnya itu.
"Kau mau kuantar saja?"tawar Daniel. "Maksudku, sejak awal kau pergi untuk bertemu denganku, kan. Itu sebabnya aku punya tanggung jawab besar atas keselamatanmu malam ini."
"Tidak perlu." kata Evelyn cepat-cepat sambil mengibaskan sebelah tangannya. "Sebenarnya itu ide yang bagus. Tapi kebetulan aku bawa mobil sendiri. Jadi kau bisa pulang saja."
"Tapi kau baru saja minum alkohól."
"Aman. Aku bahkan tidak merasa mabūk. Kita berdua kan tak terlalu mabuk malam ini. Kadar alkohol ku pasti rendah. Aman untuk membawa mobil sendiri."
"Oh," kata Daniel masih tampak ragu untuk sejenak, tapi pemuda itu memilih menganggukkan kepalanya saja. "Baiklah kalau begitu."
"Ya, pulanglah!" ujar Evelyn.
"Aku pergi dulu." ujar Daniel sebelum memasuki mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobil Daniel menurunkan jendela mobilnya, "Sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Setelah kepergian Daniel, Evelyn lalu berjalan ke arah mobilnya. Ia masuk ke dalam mobil. Melemparkan tas dan jaketnya ke kursi mobil di sebelahnya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Aku akan menunggu Alvin di sini."
Sudah hampir dua jam berlalu sejak Evelyn menunggu Alvin di dalam mobilnya. Ia menghela napas dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil, merasa bosan.
Sejujurnya, Evelyn juga tak tahu kenapa ia sampai melakukan hal seperti ini. Untuk apa juga dia menunggu Alvin di sini?
Rindu? Mungkinkah ia rindu dan ingin bertemu dengan Alvin?
Tapi bukankah ia barusaja bertemu dengan pemuda itu tapi kenapa sudah merasa begitu rindu. Dan juga, setelah mengingat saran dari Daniel, ada beberapa hal yang Evelyn pikirkan di kepalanya.
Evelyn merasa ucapan Daniel memang tidak sepenuhnya salah. Kehidupannya dan Alvin memanglah jauh berbeda. Dan Daniel hanya merasa khawatir pada pandangan orang terhadap Alvin.
Sejujurnya itu salah satu tantangan tersendiri untuk Evelyn dalam mendapatkan Alvin.
Dan tepat jam tiga pagi, ketika para karyawan klub malam keluar dari bangunan klub setelah selesai bekerja. Evelyn yang sejak tadi berada di dalam mobil langsung menegakkan posisi duduknya dan menatap satu per satu karyawan dalam diam dari dalam mobilnya.
"Kenapa dia belum keluar?"
Evelyn kemudian sadar bahwa Alvin pasti memiliki hal-hal lain yang harus dikerjakan setelah bekerja, seperti membantu membersihkan ruangan atau membuang sampah.
Beberapa menit kemudian Evelyn melihat Alvin keluar. Evelyn menatap resah ke luar mobilnya. Ia ragu apakah harus menawarkan tumpangan pada Alvin atau tidak.
"Tidak. Jika aku terus menemuinya, dia pasti akan terganggu." ujar Evelyn menggeleng setelah memutuskan kalau ia tidak jadi menawarkan tumpangan.
Evelyn terus menatap gerakan Alvin. Saat ini, pemuda itu tengah berdiri di dekat motornya, sedang memasang helm.
Evelyn tiba-tiba saja tersenyum. Melihat wajah pemuda itu saja sudah membuat hatinya berbunga-bunga seperti ini. Ia merasa dirinya sudah jadi gila.
"Pemuda ini benar-benar membuatku gila."
__ADS_1