Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
29. Karma Karina


__ADS_3

"Kau lihat itu barusan?" tanya Ziva pada Evelyn.


Ziva mendecih sambil sesekali melirik ke meja yang berada tepat di sebelah meja mereka. Ziva terus saja menatap tajam pada sekelompok orang yang saat ini sedang asyik bersenda gurau di meja itu.


Evelyn yang baru saja di ajak bicara oleh Ziva tampak menyeruput minumannya dengan tenang, baru kemudian ia mengangguk.


"Tentu saja." jawab Evelyn. "Aku melihat semua yang terjadi, Ziva. Bahkan telingaku ini juga bisa mendengar segalanya dengan jelas tadi. Gadis itu, dia adalah mantan kekasihnya."


"Mantan kekasihnya yang begitu sial*n!" umpat Ziva tajam. Entah kenapa Ziva tampak merasa sangat kesal saat ini. Bagi Ziva perbuatan yang di lakukan oleh gadis itu pada Alvin adalah sebuah penghinaan.


Meja mereka memang berada di dekat meja milik mantan Alvin itu. Meja tempat dimana gadis yang baru mereka ketahui bernama Karina itu kini tengah asyik tertawa-tawa riang dengan beberapa temannya yang lain.


Dan ya! Sejak tadi Evelyn dan Ziva memang sudah berada di klub malam itu. Mereka berdua tengah menikmati minuman mereka sambil terus memperhatikan Alvin yang sejak tadi sibuk bekerja, entah mengantar pesanan dari pengunjung atau melakukan hal lainnya. Sampai pada akhirnya mereka melihat Alvin bertemu dan di ejek oleh mantan kekasihnya itu.


Jadi itulah sebabnya kenapa mereka bisa mengetahui perbuatan Karina dan merasa begitu kesal atas penghinaan yang gadis itu lakukan pada Alvin. Bahkan Evelyn yang sejak tadi sibuk menyembunyikan wajahnya dari Alvin dengan hoodie-nya sudah tak peduli lagi begitu melihat kelakuan menyebalkan gadis bernama Karina itu.


Ziva berdecak. "Ck, aku kesal sekali."


"Begitupun denganku."


"Aku tidak menyukai mantannya itu."


"Kau pikir aku suka?" tandas Evelyn meletakkan gelasnya dengan bantingan kasar ke atas meja. Yah, sebenarnya meskipun tampak tenang, tapi Evelyn merasa begitu kesal sekarang.


"Kau dengar apa yang dia katakan? Alvin cinta mati padanya? Oh, aku ingin merobek mulutnya itu." omel Ziva. "Bagaimana gadis sialán itu masih bisa tertawa-tawa seperti itu. Dia benar-benar tak tahu malu."


Sekali lagi, Evelyn dan Ziva menolehkan pandangan mereka secara bersamaan ke arah meja dari mantan kekasih Alvin itu dan menatapnya tajam.


Evelyn lalu melepas kacamata hitam yang sejak tadi ia kenakan dan memasukkan ke dalam tas.


"Gadis itu memang harus di beri pelajaran." gerutu Evelyn kesal yang di angguki setuju oleh Ziva.


"Aku setuju." Ziva menyeringai.


Sebenarnya, tujuan awal dari kedatangan mereka malam ini adalah untuk menemui Alvin agar bisa mengucapkan terima kasih dan juga permintaan maaf pada pemuda itu. Namun yang terjadi adalah mereka melihat kejadian yang kurang mengenakkan seperti ini dan membuat mereka benar-benar merasa kesal. Dan sekarang sepertinya mereka akan mencoba untuk menghibur diri.


"Kau bosan?" tanya Ziva sambil menaik turunkan alisnya.


"Kenapa memangnya?" balas Evelyn.


"Aku sedang bosan sekarang. Bagaimana kalau kita bersenang-senang malam ini." ajak Ziva dengan senyum miring memberi kode pada Evelyn.


Evelyn mengangguk dan tersenyum licik. Ia mengerti dengan jelas maksud dari ajakan dari Ziva padanya barusan. Dimana arti dari kata 'bersenang-senang' di sini adalah sesuatu yang lain.

__ADS_1


"Kita akan sangat bersenang-senang." gumam Evelyn terkekeh.


"Ini waktunya." ujar Ziva.


Merasa waktunya tepat untuk memberi pelajaran pada gadis bernama Karina itu, Evelyn kembali menatap Ziva dengan senyum evilnya.


"Seperti biasa, kau yang akan mulai!" ujar Evelyn santai sambil kembali menegak minumannya. Ia memilih menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi untuk mempersilahkan sahabatnya itu pergi terlebih dulu.


"Oke, aku duluan.."


"Aku akan menyusulmu setelah ini untuk menyelesaikan segalanya."


Ziva tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya pada Evelyn. Ia bangkit dan segera beranjak dari kursinya. Kemudian dengan percaya diri Ziva melangkahkan kaki-nya mendekat ke arah meja dimana Karina tengah duduk saat ini.


Oh lihatlah itu! Bukankah gadis itu terlihat sangat senang setelah menghina Alvin beberapa saat yang lalu.


Melihat wajah gadis itu membuat Ziva benar-benar kesal saat ini. Ia melangkah semakin cepat menuju gadis itu. Lalu begitu ia sampai di dekat meja Karina, Ziva buru-buru menjatuhkan dirinya ke meja milik Karina dan minuman yang ada di meja Karina tumpah karena mengenai senggolan dari Ziva.


Brakk!


"Astaga… apa yang kau lakukan, hah?" pekik Karina kesal sambil menatap pakaiannya yang basah.


"Ah, maaf! Aku terpeleset." ujar Ziva tersenyum miring, berpura-pura merasa bersalah.


"Sial*an kau!" Karina mendorong tubuh Ziva dengan kasar.


"Wow, santai dulu, nona." balas Ziva enteng mengangkat tangannya. "Kau sangat garang dan mulai membuatku takut sekarang."


"Santai? Apa kau tidak lihat? Gaunku jadi basah dan kotor sekarang." seru Karina masih bicara dengan nada tinggi.


Ziva menggosok-gosok telinganya yang terasa panas karena teriakan Karina barusan.


"Kenapa suaramu nyaring sekali sih?" gerutu Ziva


Karina yang mendengar kalimat Ziva langsung menatap gadis itu tajam, ia mengangkat tangannya, menunjuk wajah Ziva. "Kau-"


"Baik, baik! Dengar dulu, santai dulu. Oke? Aku rasa aku tidak melakukan apapun dengan sengaja di sini." Ziva berujar dengan nada malas. "Kau lihat! Sepatu hak ku terlalu tinggi dan membuatku terpeleset tadi dan tanpa sengaja mengenaimu. Aku benar-benar minta maaf padamu tentang ini." 


Karina mendengus kesal. "Terpeleset kau bilang?" ujarnya.


Ziva mengangguk enteng lalu menangkupkan kedua tangannya. "Ya, jadi haruskah aku minta maaf lagi sekarang agar kau memaafkanku dan aku bisa pergi dengan tenang?"


Karina mendecih. Ia mencoba untuk menahan emosinya dan secara tiba-tiba ia meraih gelas minuman yang lain dari atas meja-nya dan menyiramkannya ke pakaian Ziva.

__ADS_1


Byur!


"Oh, wow! Kenapa kau menyiramku?" Ziva berujar dengan kesal.


"Ya, aku rasa ini pantas di sebut sebagai permintaan maaf darimu. Sebuah pembalasan." ujar Karina tersenyum sinis pada Ziva.


"Aku sudah bilang kalau aku tidak sengaja kan? Lalu kenapa kau malah menyiramku?"


"Kau sudah membuat pakaianku basah, jadi aku hanya membalas hal yang sama." tandas Karina tajam.


"Aku melakukannya tanpa sengaja, sementara kau melakukannya dengan sengaja."


"Kenapa? Apa kau tak terima, hah?" Karina mendorong bahu Ziva kencang, membuat Ziva terhuyung hingga menabrak sofa pengunjung lain.


"Aw, kau mendorongku?" Ziva berseru tak percaya.


Karina mendecih. "Kau tahu kalau aku harusnya me-"


Byurrr!!


Ucapan Kirana itu sontak terhenti saat ia merasakan air dingin tengah mengalir dari atas kepalanya. Terus mengalir turun ke tubuhnya, membuat pakaiannya yang basah karena Ziva jadi semakin basah.


Tapi tunggu dulu. Apa ini? Apakah seseorang sedang mengguyurnya?


Karina berbalik untuk melihat apa yang terjadi dan langsung membulat saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, seorang wanita kini dengan santainya tengah menuang minuman ke atas kepalanya.


Gadis yang menyiramnya itu dengan senyuman di bibirnya masih terus menuangkan minuman dari dalam gelas minumnya ke atas kepala Karina hingga tetes terakhir sehingga membasahi seluruh tubuh dan pakaian dari gadis itu.


Karina menggeram kesal.


"Apa yang kau lakukan, hah?" teriak Karina sambil menatap seluruh tubuhnya terutama rambut dan pakaiannya yang kini sudah benar-benar basah kuyub.


"Evelyn.." ujar Ziva.


Ya. Gadis itu ternyata adalah Evelyn.


Evelyn hanya diam, masih dengan senyum di wajahnya. Sama sekali tidak berniat menjawab. Saat ini ia tengah asyik tersenyum puas dengan gelas kosong di tangannya.


Evelyn lalu dengan gerakan santainya meletakkan gelas itu ke atas meja milik Karina tadi.


"Aku titip gelasku." ujar Evelyn santai pada teman-teman Karina.


***

__ADS_1


__ADS_2