Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
48. Aku Begitu Menyukainya.


__ADS_3

"Jadi, siapakah pemuda tidak beruntung ini?" ujar Daniel, pria yang duduk di dekat Evelyn.


Evelyn yang sejak tadi menatap pintu langsung menoleh pada lelaki di hadapannya yang tengah menyilangkan tangannya dengan angkuh.


"Aku tak percaya ini, Evelyn. Kau menjerumuskan seseorang lagi."


"Apa maksudmu, Daniel?"


Daniel terkekeh geli.


"Aku sedang bicara tentang pelayan itu. Kau tadi menatapnya seperti harimau kelaparan." ujar Daniel dengan nada mengejek.


"Jangan bicara sembarangan. Siapa yang kau sebut seperti harimau kelaparan."


Daniel kembali tergelak setelah berhasil memancing kekesalan gadis itu. "Apa kau mengenalnya?"


"Sebut saja begitu." ujar Evelyn bergerak maju untuk menuang minuman ke dalam gelasnya dan gelas Daniel.


"Jadi, siapa dia?"


Evelyn mengangkat bahu, terlihat sangat acuh.


"Pelayan."


"Kau tahu bukan itu maksud pertanyaanku, Evelyn."


"Kenapa kau begitu ingin tahu?"


"Hanya penasaran."


"Kalau begitu tak akan ada jawaban dari rasa penasaranmu itu." ujar Evelyn sambil mengangkat bahunya santai. "Ah, sebenarnya aku juga tak punya kewajiban menjawab pertanyaanmu itu."


"Yang benar saja."


Evelyn melirik ke arah pintu tempat Alvin barusan keluar. "Aku bilang tidak mau jawab."


"Oh ayolah, Evelyn." Daniel protes. Ia tak tahu sejak kapan Evelyn menyembunyikan kehidupan pribadinya seperti ini.


Selama ini Daniel adalah salah satu tempat Evelyn biasa menceritakan masalahnya. Selain Ziva, Evelyn juga selalu terbuka pada Daniel bahkan sampai masalah terkecil sekalipun.

__ADS_1


Daniel adalah pemuda berdarah Amerika-Indonesia yang tinggal di Amerika. Daniel sendiri merupakan seseorang yang Evelyn kenal sejak masih kecil.


Evelyn dan Daniel bertemu saat Evelyn masih menempuh pendidikannya di luar negeri. Saat liburan, Evelyn pernah membawa Daniel kembali ke Indonesia untuk bertemu Ziva dan jadilah mereka sebagai tiga orang sahabat yang tak dapat terpisahkan hingga saat ini.


Evelyn tak punya banyak sahabat. Hanya ada Ziva dan Daniel saja. Ia dan Daniel pun nyaris tak pernah bertemu. Pemuda itu lebih memilih tinggal di luar negeri dan sangat jarang pulang ke Indonesia.


Daniel bergerak mendekatkan tubuhnya pada Evelyn, ia tampak tak mau menyerah. "Dia teman tidurmu, kan?"


Sebelah alis Evelyn terangkat, lalu mendecih, "Bukan seperti itu. Aku bahkan tak pernah tidur dengannya."


"Sekalipun?"


"Sama sekali."


"Kau tak bohong?"


"Ya."


"Lalu? Apa hubungan kalian?"


"Bukan urusanmu, Daniel!"


"Dia tidak terlihat seperti tipemu yang biasa. Dia tampak 'lemah', menurutku. Tapi aku yakin kalian memang punya semacam hubungan istimewa."


"Kau hanya asal bicara."


"Aku tidak asal bicara. Tidak pernah asal bicara. Aku selalu bicara fakta." ujar Daniel. "Lagipula aku melihatnya sendiri. Caranya menatapmu, begitu pula caramu menatapnya."


"Bukankah kita tujuan kita bertemu di sini untuk merayakan kedatanganmu ke Indonesia. Kenapa jadi membahasku sekarang?"


Sejenak, Daniel melemparkan pandangan heran pada Evelyn. Ia menatap gadis itu dari atas hingga bawah, seperti sedang menilai sesuatu tentangnya. "Karena aku penasaran. Aku kira tipemu sudah berubah sekarang."


"Ck, berubah apanya sih?"


"Sekarang aku tanya, sejak kapan tipe lelakimu berubah seperti ini. Apa yang membuatmu menyukai pemuda itu?" Daniel masih menatap Evelyn, kali ini dengan raut penasaran. "Apakah penampilannya?"


"Kau banyak tanya."


"Ayolah Eve, selama ini kau hanya menyukai pria gagah. Sementara dia?"

__ADS_1


Evelyn balas menatap Daniel dengan heran. Seingatnya, selama ini Daniel tak pernah begitu ingin tahu seperti ini. Pemuda itu tak pernah ingin tahu urusan orang lain.


Tapi apa boleh buat, Daniel memang begitu mengenalnya. Pemuda itu pasti sangat heran karena Evelyn bisa tertarik dengan pelayan seperti Alvin. Daniel tak akan berhenti bertanya apapun jadi Evelyn memilih untuk menjawab saja.


"Pasti penampilannya kan?" tanya Daniel lagi.


"Semacam itu."


"Jadi benar karena penampilannya." Daniel manggut-manggut. "Aku setuju kalau dia memang tampan. Tapi dia tidak kaya."


"Lantas?"


"Ah, kau tahu jelas maksudku, Evelyn."


Evelyn memutar bola matanya malas. Sejujurnya ini adalah pertanyaan yang paling tidak ingin ia jawab. Tapi Daniel adalah sahabat dekatnya selain Ziva, jadi tak masalah baginya untuk membahas hal seperti ini.


"Aku kaya. Ya itu memang benar." jawab Evelyn menyeruput minumannya dengan santai. "Jadi itu sebabnya aku tidak butuh lelaki kaya. Itulah kenapa kau tidak perlu mengkhawatirkanku."


"Siapa bilang aku mengkhawatirkanmu. Aku bukannya mengkhawatirkanmu. Sedikit pun tidak. Aku justru sedang mengkhawatirkan pemuda itu."


"Kenapa memangnya?"


"Oh ayolah. Aku tahu orang seperti apa dirimu. Kau tipe yang akan meninggalkan seseorang setelah selesai bersenang-senang dengannya. Dan aku yakin kau juga akan melakukan hal yang sama pada pemuda itu."


Evelyn terdiam kemudian menatap Daniel lekat-lekat.


"Aku tak akan melakukan hal itu padanya."


"Benarkah?"


"Ya."


"Kenapa aku tidak percaya?"


"Itu terserahmu jika tak ingin percaya. Tapi yang jelas pemuda ini berbeda dari yang lainya."


"Berbeda?"


"Ya. Itu karena…" Evelyn menjeda kalimatnya, "… jika pria lain hanya aku anggap sebagai tempat untuk bersenang-senang. Tapi pria ini… aku begitu menyukainya."

__ADS_1


***


__ADS_2