Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
63. Peringatan Steve


__ADS_3

Brak!


Alvin meletakkan tumpukan buku tebal yang ia bawa ke atas meja kuliahnya dengan bantingan kasar. Dave yang tengah tidur sembari menelengkupkan tangan sontak kaget dan langsung terbangun dari tidurnya.


"Kau ini mengejutkanku saja." omel Dave. "Kau kerasukan apa pagi-pagi begini sudah mengamuk?"


"Tidak ada, hanya saja moodku sedang buruk."


"Kau ini bukan wanita, Alvin."


"Lantas?"


"Hanya wanita yang harinya selalu kacau karena mood jelek."


"Ck, siapa bilang. Laki-laki juga bisa merasakan apa itu mood jelek, Dave."


"Ayolah Vin, memangnya sejak kapan kau suka drama seperti ini."


Alvin menggedikkan bahunya malas dan mulai membuka salah satu buku tebal yang ia bawa. Dave hanya diam, memperhatikan sahabatnya yang tengah fokus membaca buku.


"Tidurmu pasti kurang semalam?" Dave kembali bicara.


Alvin menghentikan kegiatan membacanya dan beralih pada Dave. "Bagaimana kau tau?"


"Tahu saja." ujar Dave. "Wajahmu juga agak pucat. Kau sakit?"


"Aku demam semalam."


"Bukankah seharusnya kau istirahat dirumah? Lalu kenapa kau malah masuk kuliah hari ini?"


"Biaya kuliahku terlalu mahal untuk manja pada sakit. Lagipula hari ini kelas kita ada tugas presentasi."


"Benar juga, tapi bukankah mata kuliah selanjutnya ada tugas, ya kan?"


"Lalu?"


"Bisakah aku meminjam tugasmu?" pinta Dave sembari mengedipkan sebelah matanya sementara Alvin memutar bola matanya malas. "


"Aku menyesal datang pagi hari ini." omel Alvin tapi tetap mengeluarkan buku tugasnya.


Dave hanya terkekeh sebagai tanggapan. Ia mengambil buku yang Alvin sodorkan dengan senyuman puas.


"Aku salin dulu." ujar Dave yang di balas anggukan oleh Alvin.


Keduanya diam beberapa saat, Alvin membaca buku sementara Dave sibuk menyalin tugas dengan kecepatan cahaya.


Namun tiba-tiba ponsel Alvin yang berada di atas meja bergetar. Alvin mengetahui itu. Ia mengecek nama yang tertera di layar dan memutuskan tak mengangkatnya hingga telepon itu berhenti bergetar.


Tak sampai tiga puluh detik ponsel Alvin kembali bergetar. Kembali seseorang menghubunginya dan Alvin masih tampak tak berniat menjawab.


Sampai pada telepon ketiga, Dave yang sejak tadi tak terlalu peduli akhirnya mulai merasa penasaran. Ia melirik ponsel Alvin lalu mengangkat kepalanya, menatap Alvin dan ponselnya secara bergantian.


Dave heran, pemuda itu tampaknya tak terusik sama sekali. Ia begitu tenang dengan buku bacaan yang berada di tangannya.


"Hei, teleponmu berbunyi." Dave menunjuk ponsel Alvin dengan bolpoint yang ia pegang.


"Aku tahu." Alvin masih menatap buku bacaan di tangannya. "Biarkan saja."

__ADS_1


"Kenapa tak diangkat?"


"Tidak penting."


"Orang itu meneleponmu berkali-kali. Itu pasti penting.


Sekali lagi, ponsel milik Alvin itu bergetar. Nomor yang sama kembali menghubunginya tapi sepertinya Alvin benar-benar tak ingin mengangkatnya hingga panggilan itu mati.


Dave berdecak, "Serius Alvin, aku tak tahu kau adalah anak yang sombong. Kau seperti mempunyai masalah kalau hanya sekedar mengangkat panggilan telepon."


"Itu telepon dari Karina. Jadi, mau sombong atau tidak aku juga tak akan pernah mengangkatnya."


"Siapa?" Dave sontak membulatkan matanya. Ia tak salah dengar, kan? Alvin baru saja menyebut nama wanita ular itu. "Karina kau bilang?"


"Benar."


"Ini Karina yang meneleponmu?" tanya Dave berapi-api. "Kau serius, Vin?"


Alvin mengangguk. "Ya,"


Tanpa pikir panjang lagi, Dave langsung menggeser tombol merah di ponsel Alvin. "Kalau begitu jangan di angkat."


"Memang tak akan ku angkat."


Dave menyilangkan tangannya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia berdecak. "Ck, untuk apalagi sih gadis itu menghubungimu?"


"Tidak tahu, aku kan tidak mengangkat telepon darinya."


Dave menatap Alvin dalam kebingungan. "Aku pikir dia sudah berhenti menghubungimu."


"Itu juga yang aku penasaran. Dia terus saja menghubungiku, sudah beberapa hari ini. Dia bahkan sampai datang menemuiku di rumah."


"Ya, semalam."


"Lalu apakah dia mengatakan sesuatu padamu?" Dave semakin penasaran. "Maksudku, apa yang dia mau darimu?"


"Entahlah, dia memang tampak aneh beberapa hari ini."


"Aneh bagaimana?"


"Ya aneh. Dia memaksaku untuk jangan terlalu dekat dengan seorang gadis yang tak dia suka."


"Kau dekat dengan seseorang?"


"Tidak juga."


Dave mengernyit lucu. Apa sebenarnya maksud Alvin saat ini. "Apa sebenarnya maksudmu."


"Sudah ku katakan. Aku bertemu dengan seorang gadis. Dia juga menyelamatkan aku dari hinaan Karina tempo hari. Dan ternyata Karina dan gadis itu memiliki konflik. Alhasil Karina tak ingin aku dekat-dekat."


Mendengar penjelasan itu, Dave nyaris tersedak ludahnya sendiri.


"Kenapa dia menyuruhmu ini dan itu tanpa mengingat kalau kalian sudah tak memiliki hubungan apapun. Seakan-akan dia lupa kalau dia yang sudah memutuskanmu."


Alvin diam selama beberapa saat. Ia menutup buku bacaannya dan menghela napasnya pelan.


"Sebenarnya dia juga menawarkan untuk kembali bersamaku."

__ADS_1


"Hah?"


"Semalam, saat ia datang menemuiku di rumah, dia mengatakan bisa kembali bersamaku asal aku tidak bersama dengan wanita itu lagi."


"Ck, Karina pasti sudah gila. Dia bertingkah seolah bisa mengatur hidupmu."


***


Selepas jam pertama kuliah. Alvin memutuskan untuk pergi ke toilet. Ia terus melangkahkan kakinya, melewati gudang kampus yang memang berada di dekat toilet.


Alvin melihat sekelompok laki-laki duduk di dekat gudang itu.


"Oh wow, lihatlah siapa ini. Lelaki paling populer di kampus kita." ujar salah satu dari mereka.


Alvin menghentikan langkah dan menyadari kalau yang bicara adalah Steve. Tunggu dulu, bukankah fakultas mereka berbeda. Lantas kenapa Steve bisa berada di fakultasnya.


"Aku sudah menunggu untuk hari ini. Aku bahkan rela tak masuk kuliah agar dapat bertemu denganmu." ujar Steve lagi.


Dengan senyum Steve mendekati Alvin yang saat ini tengah berdiri kaku.


Pemuda itu menatap Alvin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia menaikkan sebelah alisnya saat melihat sepatu yang Arvin gunakan saat ini.


Detik selanjutnya, Steve mendecih sinis. "Kau ini benar-benar lelaki miskin rupanya. Lihat ini sepatumu robek." ejek Steve.


Kelompok itu kemudian tertawa-tawa.


Alvin tersenyum kecut. Apalagi sekarang. Apakah belum puas juga lelaki ini menghina dirinya selama ini?


Alvin menghela napasnya pasrah, "Aku ingin lewat."


"Oh, tunggu dulu sebentar, oke!"


"Aku penasaran denganmu. Yah, aku ingin tahu mampukah kau membiayai kekasihmu nanti dengan keadaanmu yang seperti ini."


"Permisi, aku tidak ada urusan apapun denganmu." ujar Alvin melangkahkan kakinya meninggalkan Steve.


"Kau berupaya mendekati Karina lagi?"


Alvin menghentikkan langkahnya dan berbalik. "Apa?"


"Aku tahu kau masih menyukai Karina. Aku tahu kalau kalian beberapa kali bertemu di belakangku."


"Bukan aku." Alvin tersenyum miring. "Tapi Karina-lah yang mencoba mendekatiku lagi."


"Kau bercanda?" Steve tertawa. "Mungkin kau lupa atau kau hanya bodoh. Tapi biar aku ingatkan lagi. Disini, Karina sendiri yang sudah mencampakkan dirimu. Lantas bagaimana mungkin dia yang mendekatimu."


"Aku tidak berbohong. Memang Karina yang-"


Steve tiba-tiba saja menarik kerah kaos yang Alvin kenakan.


"Dengar! Aku tak peduli siapa yang lebih dahulu mendakatimu disini. Yang jelas ini adalah peringatan pertama dan terakhir untukmu. Karina sangat berharga untukku. Jadi, kau tidak boleh coba-coba mendekati dirinya lagi."


Setelah mengatakan itu, Steve mendorong tubuh Alvin hingga punggung pemuda kurus itu menabrak dinding di belakangnya.


"Sekarang pergilah dan lakukan hal yang lebih berguna."


Alvin menatap kelompok yang saat ini tampak tertawa mengejeknya. Ia menghela napas dan melangkahkan kakinya, tak jadi pergi ke toilet.

__ADS_1


***


__ADS_2