Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
28. Bertemu Mantan


__ADS_3

Malam itu waktu benar-benar terasa begitu lama bagi Alvin untuk bekerja. Ia bahkan sudah berkali-kali menatap jam di pergelangan tangannya hanya untuk memastikan jam yang menurutnya entah kenapa tidak bergerak sama sekali.


Alvin menghela nafasnya perlahan sambil sesekali terlihat menguap lebar. Ia mencoba untuk menahan rasa kantuk yang menyerangnya sejak tadi.


Sebenarnya, ia merasa sangat bosan saat ini karena tugasnya tidak terlalu berat dan tak membuatnya cukup sibuk. Ia hanya di tugaskan membantu mengantar minuman pada pengunjung klub malam saja.


Sekali lagi, Alvin menguap lebar hingga akhirnya ia tak mampu menahan kantuknya lagi. Alvin lalu memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju ke kamar kecil. Alvin berniat mencuci wajahnya karena ia benar-benar merasa mengantuk dan tak ingin rasa kantuknya membuat hal buruk terjadi, seperti menumpahkan minuman misalnya.


Beberapa saat kemudian Alvin keluar dari kamar kecil dalam keadaan lebih segar. Kantuknya sedikit berkurang sekarang. Ia yakin bisa melewati melewati malam ini tanpa khawatir akan menimbulkan masalah karena mengantuk.


"Hei, Alvin!" seruan itu menghentikkan langkah Alvin dan membuatnya segera membalikkan badan. Itu Sandy, salah satu dari rekan kerja Alvin.


"Ya?"


"Kemari sebentar!"


Alvin segera melangkah mendekati rekan kerjanya itu.


"Ada apa, San?" tanya Alvin.


"Aku butuh bantuanmu."


"Ya, bantuan apa?" tanya Alvin.


"Tolong kau antarkan botol minuman ini pada meja yang ada di sudut itu. Teman-teman yang lain sedang sibuk sekarang. Dan beberapa lainnya lagi sedang melayani pengunjung yang ada di lantai dua. Sementra aku akan mengantar minuman yang lainnya." ujar Sandy menyodorkan nampan yang ia pegang pada Alvin.


"Oh baiklah." ujar Alvin.


"Tolong ya."


"Ya, tenang saja." jawab Alvin lagi.


Alvin mengangguk lalu mengambil nampan yang berisi beberapa botol minuman berserta gelas kosong dan segera mengantarkannya pada meja pengunjung yang di maksud.


"Permisi, ini minumanya. Silahkan di-"


Ucapan Alvin terhenti, karena begitu ia sampai pada meja yang di tuju, Alvin malah terdiam. Tubuhnya membeku di posisinya. Matanya menatap gadis cantik yang tengah duduk di meja di hadapannya. Gadis itu terlihat sedang asyik bersenda gurau dengan teman-temannya sekarang.


Dan tepat saat itu juga, gadis yang duduk di hadapannya itu memutar kepalanya, menghadap ke arah Alvin. Gadis itu tampak menatap Alvin dengan ekspresi yang sama terkejutnya.


"Kau! Alvin?" ujar gadis itu masih menatap Alvin dengan tatapan kagetnya.

__ADS_1


"Karina..." balas Alvin tersenyum kecut.


Karina menatap Alvin bingung. Ia merasa kaget karena bertemu Alvin yang ternyata juga ada di tempat ini. Namun Karina buru-buru mengubah raut kagetnya menjadi raut heran saat melihat pemuda itu tengah berdiri di hadapannya sambil membawa nampan minuman di tangannya.


"Wow, apa ini? Seorang Alvin bisa ada di klub malam?"


Alvin diam saja.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Karina.


Gadis itu menatap Alvin dengan raut sinis di wajahnya. Ia lalu memperhatikan Alvin dari atas hingga bawah, menatap baju seragam pelayan yang Alvin kenakan saat ini.


Karina seakan bisa memahami situasi saat ini. Dan detik selanjutnya, Karina kembali mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih santai.


"Ah, apa kau sedang menjadi pelayan di klub malam ini, Alvin?" ujar Karina lagi pada Alvin, kali ini dia bicara dengan nada mengejek.


"Ini klub malam, Alvin. Bukankah sebelumnya kau sangat menghindari pergi ke tempat dosa seperti ini. Pekerjaanmu semakin hari menjadi semakin aneh saja." lanjut Karina membuat teman-temannya yang ada di dekatnya ikut tertawa mengejek.


"Bukankah dia pacarmu, Karina?" ujar salah seorang gadis yang duduk di hadapan Karina.


"Ya, memang benar. Dia adalah pacarku. Ah lebih tepatnya mantan. Aku sudah putus dengannya."


Karina menganggukkan kepalanya angkuh.


"Ya, sebenarnya aku sudah mencampakannya beberapa hari lalu." ujar Karina angkuh.


"Wow, ternyata rumor yang beredar itu benar. Dia benar-benar sangat tampan." balas teman Karina yang lain. "Kalian sudah putus kan, jadi bisakah aku memilikinya?"


Karina hanya terkekeh sinis. "Kau ambil saja. Aku tidak peduli lagi pada barang bekas."


Sementara itu, Alvin hanya diam saat merasakan kalau sejak tadi Karina terus menerus mengejeknya di hadapan teman-temannya seperti ini.


Ia menghela pelan untuk menenangkan diri barulah kemudian dengan tenang meletakkan minuman pesanan milik mantan kekasihnya itu ke atas meja tanpa sedikitpun menatap ke arah Karina.


Dan karena merasa tak mendapat perhatian dari Alvin, Karina kembali berulah. Ia memeluk lengan kekasihnya yang sejak tadi ngobrol dengan rekannya tak jauh dari mereka.


"Steve sayang, apa kau masih ingat? Dia ini Alvin, mantanku."


Kekasih baru Karina itu langsung menoleh dan menatap Alvin. Steve menatap Alvin dari atas kebawah barulah kemudian tersenyum sinis. "Tentu saja masih ingat. Bukankah dia si pria bodoh itu? Siapa namanya?"


"Namanya Alvin, sayang."

__ADS_1


Steve mengangguk. "Ya, si bodoh Alvin. Apa dia juga di sini, Karina?"


"Ya, aku juga kaget." ujar Karina tersenyum sinis.


"Ada apa dengan pakaianmu itu? Apa kau bekerja di sini?" ejek Steve lagi.


"Sepertinya dia memang bekerja di sini, sayang" ujar Karina sambil melirik Alvin dingin. "Sebagai pelayan, aku rasa."


Alvin hanya diam mendengarkan percakapan orang-orang di hadapannya itu. Ia mencoba untuk tak peduli meskipun hatinya terasa amat sakit.


"Wow, Karina. Kau terlalu kejam. Lihatlah dia jadi sedih begitu." ujar teman-teman Karina, berpura-pura simpati.


"Benar, Karina. Kau ini jahat sekali." sahut gadis yang lain.


Karina hanya terkekeh santai guna menanggapi ucapan teman-temannya. Sejujurnya ia juga terkejut dengan dirinya sendiri yang telah menghina Alvin sekejam itu. Tapi ego-nya berkata lain.


"Aku rasa tidak masalah untuknya mendapat kalimat kebenaran..." ujar Karina sambil menggedikkan bahunya santai.


"Apakah ada pesanan yang lain, nona? Tuan?" ujar Alvin yang saat ini masih mencoba untuk tak peduli dengan perkataan orang-orang yang ada di depannya itu. Hal itu sontak saja membuat Karina terkejut dan jadi merasa kesal sendiri.


Tuan dan Nona? Alvin baru saja memanggilnya dengan sebutan Nona? Apa-apaan itu? Karina menggerutu. Ia merasa tak terima karena Alvin baru saja bersikap seolah tak mengenalnya bahkan mengabaikan dirinya.


"Apa ada minuman yang ingin di tambah, nona?" tanya Alvin lagi.


"Alvin, kau-"


"Saya rasa tidak ada tambahan yang lain. Kalau begitu saya permisi!" potong Alvin dengan nada yang sopan kemudian dengan cepat pergi meninggalkan tempat itu.


Hal itu membuat Karina mendecih kesal karena Alvin tak menghiraukan dirinya sama sekali.


"Aku rasa dia sudah melupakanmu!" ujar seorang teman wanitanya.


"Tidak mungkin."


"Kenapa tidak mungkin?"


Karina kemudian menyandarkan tubuhnya dengan kesal sambil menatap punggung Alvin yang saat ini tengah menaiki lift untuk pergi ke lantai dua klub.


"Tentu saja tidak mungkin. Asal kalian tahu saja, dia itu cinta mati padaku." ujar Karina dengan kalimat percaya diri.


***

__ADS_1


__ADS_2