
Alvin sontak mendongak, menatap sang atasan sambil membulatkan kedua matanya. Haruskah ia mempercayai telinganya?
"A-Apa bos?"
"Dipecat."
"Sa-saya di pecat?"
"Ya." jawab sang atasan tanpa ragu sedikit pun.
"Tapi kenapa bos?"
"Kenapa kau bilang? Asal kau tau saja, kau baru saja membuatku merugi."
Alvin menatap atasannya itu dengan tatapan miris.
"Bos, saya tadi tidak sengaja me-"
"Kau masih mencoba membela diri atas apa yang kau lakukan?"
"Maaf, bos."
Atasan Alvin menghela napasnya perlahan.
"Aku tahu semua yang terjadi hari ini adalah murni karena kesalahanmu. Jadi ini jelas tanggung jawabmu."
Alvin menundukkan kepalanya. Benar. Ia akui hari ini ia memang melakukan hal bodoh.
"Aku perhatikan sedari tadi kerjamu itu hanya melamun saja dan bukannya bekerja dengan benar. Kau kurang konsentrasi dan tanpa sengaja menabrak pelanggan itu. Maka dari itu aku menganggap ini semua adalah kesalahanmu." jelas sang atasan lagi tegas.
"Tapi bos saya bisa mencoba mengganti kerugian restoran ini nanti."
"Melunasi? Dengan apa? Gajimu? Cih, ayolah Alvin! Untuk bekerja saja kau tidak becus."
Alvin menggelengkan kepalanya. "Bos, anda tidak bisa melakukan ini pada saya."
"Kenapa tidak bisa? Itu justru hal yang sangat mudah bagiku. Kenapa? Apa kau merasa tak terima?" ujar sang atasan tajam.
"Dengar Alvin! Kau baru saja membuatku mengeluarkan uang sebesar lima juta rupiah. Gajimu di sini hanya satu setengah juta. Bayangkan! Uang sebesar itu bahkan bisa aku gunakan untuk menggajimu selama empat bulan lamanya." terang sang atasan tajam dengan nada yang semakin meninggi.
Alvin menelan ludahnya, getir. Mengapa semuanya jadi kacau seperti ini. Dia malah membuat dirinya sendiri kehilangan pekerjaannya sekarang.
__ADS_1
"Bos, saya mohon jangan pecat saya." mohon Alvin dengan wajah memelas. "Tolong Bos! Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."
Sang atasan menghela nafasnya pelan. "Kalau kau memang butuh pekerjaan ini harusnya kau bekerja dengan benar. Bukan malah menyia-nyikan pekerjaan yang ada."
Jawaban dari sang atasan itu membuat Alvin menunduk. Ia akui kalau dirinya memang tak melakukan pekerjaannya dengan benar tadi dan malah melamun. Ya, ini memang murni kesalahannya.
Sang atasan diam untuk beberapa saat kemudian menghela. "Begini saja, sekarang kau pilih. Di pecat atau kau harus bekerja tanpa di gaji selama empat bulan disini?" tawar sang atasan.
Alvin mendongak, kaget. Ia menatap sang atasan tak percaya. Bagaimana dia bisa memilih pilihan konyol seperti itu?
"Bos, mana bisa saya me-"
"Pilih! Cepatlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk diskusi ini." ujar sang atasan acuh.
Alvin diam beberapa saat. Dia tidak mungkin memilih bekerja tanpa di gaji. Dia kan bekerja untuk mendapatkan uang agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi kalau dia berhenti, akan sulit baginya mendapatkan pekerjaan baru lagi.
"Baiklah bos. Saya akan berhenti." Alvin berujar pasrah setelah sebelumnya berpikir matang-matang.
Alvin akan memikirkan cara untuk mendapatkan pekerjaan baru lagi setelah ini. Alvin tidak mungkin bertahan di sini tanpa di gaji sedangkan ia sangat membutuhkan uang.
***
Lima belas menit kemudian, Alvin sudah ada di kursi taman yang ada di tengah kota. Ia kembali melamun. Alvin benar-benar merasa sedih saat ini karena semua kejadian yang ia lalui.
Alvin membuka kaleng minuman yang tadi sempat ia beli di salah satu toko pinggir jalan. Ia menenggak minumannya dan menghela napasnya pelan. Ia bingung dengan apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ia tidak punya rencana apapun sekarang. Otaknya buntu.
Dan setelah beberapa lama melamunkan nasib buruk yang menimpanya. Alvin kembali menghela napasnya sebentar, baru kemudian ia bangkit dan memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Ia merasa sangat lelah, baik secara fisik maupun pikiran.
Di sepanjang jalan, Alvin bahkan masih tidak bisa berkonsentrasi pada jalan raya. Ia membawa motor vespa-nya dengan melamun sambil terus memikirkan semua masalah yang menimpanya.
Apa semua yang terjadi adalah murni salahnya?
Apa penyebab berakhirnya hubungannya dengan Karina juga karena ia sendiri. Salahnya?
Apa ia baru saja kehilangan pekerjaan juga karena kesalahannya sendiri.
Semua hal buruk yang terjadi memang salahnya.
Alvin kini melewati perempatan jalan tanpa menoleh kanan dan kirinya, hingga tanpa ia sadari sebuah mobil tiba-tiba muncul dan melintas dari arah kiri jalan.
TINN! TINN!
__ADS_1
"Astaga." Alvin tersadar karena suara klason dari mobil itu.
Ckiit!!
Alvin dengan cepat mengerem sepeda motornya, begitupun juga dengan mobil itu yang tampak ikut menghentikkan laju mobilnya dan membanting stirnya ke arah yang aman. Tabrakan pun akhirnya berhasil terhindari.
"Hei, anak muda. Apa yang kau lakukan?" teriak seorang pria paruh baya yang baru saja turun dari dalam mobil, tepat saat Alvin melepas helm di kepalanya.
Pria paruh baya itu pasti seorang supir, terlihat dari pakaiannya yang memang mengenakan setelan seragam supir.
"Kenapa kau tidak berhati-hati? Saya bahkan hampir menabrakmu tadi." seru supir itu lagi.
"Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja. Ini salah saya karena tadi saya melamun!" jelas Alvin menundukkan setengah badannya.
"Ya ampun! Kau melamun? Dengar anak muda, lain kali kau harus lebih berhati-hati. Untung saja kau tidak apa-apa. Jika tidak bos saya akan-"
"Bagaimana paman?" teriak seorang wanita dari dalam mobil.
Alvin menolehkan pandangannya ke arah sumber suara itu. Ia tidak bisa terlalu melihat jelas wajah dari wanita itu karena kaca jendela dari mobilnya hanya terbuka setengah.
Namun beberapa detik kemudian wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan tepat saat itu Alvin bisa melihat dengan jelas wajah dari gadis itu. Kedua mata Alvin langsung membulat saat ia melihat betapa cantiknya wanita itu.
Sang supir kembali mendekat pada mobil untuk bicara pada sang majikan. "I-itu, nona. Pemuda ini-"
"Apakah mobil kita mengenainya, paman?" tanya wanita cantik itu.
Sang supir menggeleng dengan cepat. "Tidak nona."
"Ya sudah, baguslah. Kalau begitu ayo cepat kita pergi sekarang. Aku sibuk, waktuku tidak banyak," perintah wanita itu lagi.
"Baik, nona." ujar sang supir lagi, patuh.
Setelah itu sang supir dengan buru-buru kembali memasuki mobilnya. Mereka meninggalkan Alvin begitu saja. Sendirian di tempat itu. Alvin yang masih sedikit bingung hanya menatap kepergian mobil itu, kemudian ia tampak tersenyum.
"Wajah gadis itu membuat hari burukku jadi terasa jauh lebih baik. Ah, sayang sekali aku hanya bisa melihatnya sepintas." ujar Alvin kemudian kembali memasang helm-nya lalu menaiki sepeda motornya dan segera melajukannya menuju rumah.
Hujan mulai turun saat Alvin tiba di halaman depan rumahnya. Tubuhnya tampak sedikit basah sekarang. Sambil menutupi kepalanya dengan helm ia berlari menaiki teras rumahnya.
Alvin membuka pintu utama rumahnya dan langsung masuk kedalam rumah. Ia melepas jaketnya yang basah dan langsung melemparkannya ke sandaran sofa.
Ia keluar dari kamar setelah sebelumnya mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya. Sambil menghela napasnya perlahan, Alvin mengalungkan handuknya ke leher. Ia lalu membaringkan tubuhnya ke atas sofa di ruang tamunya.
__ADS_1
"Aku lelah." gumamnya sambil menatap sedih foto mendiang orang tuanya yang terpajang di dinding rumahnya. "Kapankah hal baik akan datang padaku."
***