
Pagi itu, waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi tepat saat Alvin tiba di kampusnya. Ia membelokkan sepeda motornya memasuki area parkir kampus.
Setelah memarkirkan motornya, Alvin melepas helm dan dengan cepat turun dan dari motornya baru kemudian bergegas menuju ruang kuliahnya.
Selama perjalanan menuju ruang kuliah, terlihat beberapa gadis yang diam-diam melirik kepada dirinya. Namun tak ada yang istimewa bagi Alvin. Ia tetap terlihat biasa saja bahkan terkesan acuh dan tak perduli dengan maksud dari tatapan itu bahkan tetap jalan seperti tak ada yang terjadi.
"Vin! Alvin, tunggu dulu." seru seorang pemuda sambil berlari kecil di koridor kampus, mengejar Alvin.
Alvin berbalik dan mendapati Dave, teman sekelasnya yang juga berstatus sebagai sahabat baiknya kini tengah menatap prihatin padanya.
"Ada apa?" tanya Alvin menaikkan sebelah alisnya, ia merasa heran melihat raut wajah dari sahabatnya itu.
"Tunggu sebentar!" ujar Dave membungkuk sambil memegangi kedua lututnya, mencoba mengatur nafasnya yang habis karena berlari, setelah itu barulah ia kembali bicara.
"Apa kau sudah dengar rumornya?" tanya Dave tampak begitu penasaran.
"Rumor apa?"
"Rumor tentangmu!"
"Tentangku?"
Dave mengangguk mengiyakan. "Ya, apa kau sudah mendengarnya?"
"Tidak. Aku juga tak peduli." ujar Alvin acuh.
Sebenarnya Alvin sudah biasa mendengar rumor macam-macam tentang dirinya. Mulai dari ia berselingkuh, ia di sukai oleh dosen, menggoda mahasiswa tingkat atas dan rumor konyol lainnya.
"Tunggu Alvin!" tahan Dave yang melihat Alvin hendak kembali melangkah. "Ini berbeda. Ini rumor terheboh yang pernah kudengar."
"Tentang?" Alvin mulai penasaran sekarang.
"Aku baru saja mendengar rumor yang beredar di antara mahasiswa lain kalau kau sudah putus dengan Karina. Itu tak benar, kan?" tanya Dave dengan ekspresi bertanya-tanya di wajahnya.
Mendengar pertanyaan itu wajah Alvin seketika berubah sendu. Tanpa menjawab pertanyaan itu, Alvin malah kembali melanjutkan langkahnya. Sementara Dave yang menunggu jawaban tampak menatap wajah sendu Alvin sambil mengikuti langkah pemuda itu. Ia berjalan beriringan di sebelah sahabat baiknya.
"Jadi apa berita itu benar?" tanya Dave lagi.
__ADS_1
Alvin kembali menghentikkan langkah kakinya dan berbalik, menoleh pada Dave. "Bagaimana kau bisa tau?"
"Sudah ku bilang. Semua orang membicarakan rumor itu pagi ini. Di kantin. Di perpustakaan. Di parkiran. Ah, beritanya benar-benar sudah menyebar luas, Alvin." ujar Dave menjelaskan situasi.
Dave lalu kembali melanjutkan. "Apa kau lupa kalau selama ini banyak orang yang memperhatikan hubungan kalian. Kau dan Karina, kalian kan sama-sama populer. Terutama Karina, dia sangat populer di kampus ini. Dia adalah bintang kampus. Jadi berita tentang kalian pasti akan dengan cepat menyebar."
"Kau benar. Karina populer. Jadi itu bukan kabar yang mengejutkan jika semua orang membicarakannya." jawab Alvin enteng sambil menganggukkan kepalanya pelan lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Jadi kalian benar-benar sudah putus?" Dave mencoba memastikan.
Alvin menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan sembari menggedikkan bahunya.
"Begitulah!" jawab Alvin.
"Hei, jawaban macam apa itu?"
"Kapan kalian putus?"
"Beberapa hari lalu."
"Wah, ini gila." Dave tak percaya.
"Kenapa kalian bisa putus?" tanya Dave masih menatap Alvin penasaran.
"Kami hanya tak bisa bersama lagi."
Dave menatap Alvin curiga. Ia seolah tak puas dengan jawaban itu. Dave mendekati Alvin lalu meletakkan sebelah tangannya di bahu sahabatnya itu.
"Apakah kau yang meminta putus darinya?" bisik Dave.
Alvin menggelengkan kepalanya. "Bukan aku, tapi Karina sendiri yang meminta berpisah."
"Karina yang minta putus?" Dave sontak membulat. Ia terkejut setengah mati. Ini adalah sebuah berita heboh baginya, tentu saja. "Tapi bukankah waktu itu Karina yang sibuk mengejarmu. Dia bahkan jadi orang yang lebih dahulu menyatakan perasaannya kepadamu. Lalu kenapa sekarang dia juga yang minta berpisah?"
"Entahlah." jawab Alvin menggedikkan bahunya, lalu membuang muka, mencoba cuek. "Mungkin dia sudah bosan padaku."
Tanpa sadar, Alvin menggeleng pelan. Ia tak tahu bagaimana menjelaskan pada Dave tentang hal ini.
__ADS_1
Karina berselingkuh. Itulah alasan terbesar kenapa mereka bisa putus. Karina, gadis itu lebih memilih pria lain yang setara dengannya. Karina juga lebih kaya di bandingkan dengan Alvin. Jadi mana sanggup jika harus berpacaran dengan Alvin yang hanyalah orang biasa.
Alvin sendiri tidak ingin memberitahu Dave kalau mantannya itu sudah berselingkuh darinya. Ia tentu tidak ingin merusak nama baik gadis itu.
Alvin merasa, mau bagaimana pun ia dan Karina pernah saling menyayangi satu sama lain. Alvin hanya tidak ingin nantinya gadis itu akan mendapat penilaian buruk dari orang-orang karena perkataan Alvin.
"Bosan padamu? Dia bilang begitu?"
Alvin diam saja. Memangnya ia harus bilang apa?
"Yang benar saja." Dave bergumam lalu mendecih kesal. "Kalau begitu, bukankah itu artinya jelas sekali kalau dia sudah mencampakanmu, Alvin!"
Alvin hanya bisa tersenyum kecil. Hatinya terasa teriris mendengar kalimat Dave itu. Sahabatnya itu memang benar, Karina memang mencampakannya.
"Aku tidak masalah dengan itu. Menjadi bosan adalah haknya." terang Alvin.
"Mana bisa begitu, kau kan-"
"Sudahlah Dave! Aku rasa mulai sekarang akan lebih baik kalau kita jangan membahas tentang Karina lagi." ujar Alvin malas.
"Lagipula aku dan dia juga sudah berpisah. Kami sudah putus. Itu artinya kami tidak punya urusan apapun lagi mulai sekarang." sambung Alvin dengan suara pelan lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Dave menuju ruang kuliahnya.
"Baiklah, aku tadi membahasnya hanya karena merasa penasaran dengan rumor yang beredar itu. Kau tau kan kalau aku tidak akan mempercayai rumor apapun tentangmu kecuali aku mendengarnya langsung darimu." jelas Dave sambil menggedikkan bahunya lalu kembali melangkahkan kakinya mengikuti Alvin yang kini sudah berjalan agak jauh darinya.
Ya, jujur saja saat ini apapun yang menjadi alasan dari putusnya Alvin dan Karina memang sudah membuat Dave dan penasaran. Ia benar-benar merasa penasaran tentang bagaimana hubungan dari dua orang paling populer di kampusnya itu bisa kandas begitu saja.
Alvin dan Karina sendiri memang di ketahui sudah berpacaran sejak mereka masih menjadi mahasiswa tingkat satu di kampus itu. Saat itu mereka masih menjadi mahasiswa baru dan Karina-lah yang menyatakan perasaannya lebih dahulu pada Alvin. Seperti yang di ketahui, gadis itu memang sudah tergila-gila dengan Alvin bahkan sejak hari pertama mereka masuk ke kampus ini. Semua orang tahu itu.
Saat itu, Karina selalu memberikan perhatian terbaiknya pada Alvin agar pemuda tampan itu bersedia membuka hati untuknya. Bahkan saking naksirnya Karina pada Alvin, gadis itu sampai menolak pernyataan cinta dari para lelaki lainnya hanya demi menunggu jawaban dari Alvin.
Setelah Alvin memutuskan untuk membuka hati dan menerima pernyataan cinta Karina. Mereka akhirnya mulai menjalani hubungan percintaan yang berlanjut hingga sekarang. Dan hubungan mereka sendiri memang selalu membuat banyak mahasiswa di kampus itu menjadi iri.
Karina sendiri di kenal sebagai gadis paling populer di kampus itu karena kecantikannya. Sementara Alvin, dia adalah pemuda yang di kenal sangat tampan dan juga pintar di bidangnya.
Cantik dan tampan, juga populer, sudah jelas mereka benar-benar perpaduan yang sempurna untuk menjadi pasangan idaman. Jadi, bukankah sudah jelas mengapa kabar mengenai perpisahan mereka langsung menyebar dengan cepat.
Pada awalnya Dave tak percaya kalau mereka berpisah sampai kalimat itu keluar sendiri dari mulut Alvin. Namun ia semakin terkejut setelah mengetahui fakta bahwa yang meminta berpisah lebih dulu adalah Karina, mengingat perjuangan gadis itu yang sejak awal selalu mengejar-ngejar cinta Alvin.
__ADS_1
***