Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
47. Kebetulan atau Takdir


__ADS_3

Alvin tak pernah merasa seberuntung ini dalam hidupnya. Bertemu dengan seseorang yang ia sukai secara tidak sengaja seperti ini adalah sesuatu yang mengejutkan untuk dirinya.


Kebetulan. Haruskah ini disebut seperti itu? Ah, tidak. Dibanding kebetulan, Alvin lebih suka menyebutnya sebagai takdir.


Evelyn Anderson, gadis yang Alvin sukai itu sedang berada tepat di hadapannya. Duduk di atas sofa dengan begitu anggunnya, menatap kearahnya dengan senyum lebar di wajahnya.


Sebelumnya, saat Alvin mengantarkan pesanan minuman milik pelanggan, ia terkejut saat melihat yang berada di ruangan itu ternyata adalah Evelyn.


Pada awalnya, Alvin merasa bahagia saat melihat Evelyn di hadapannya. Ia sudah hampir membalas senyuman gadis itu. Namun segalanya sirna setelah pandangannya beralih pada lelaki yang duduk di dekat gadis itu.


Selama beberapa detik, Alvin tampak mematung di ambang pintu, menatap ke arah pemuda blasteran di hadapannya itu tanpa mengatakan apapun.


Evelyn menatap Alvin dan lelaki di sebelahnya secara bergantian, kemudian tersenyum geli. Ia tahu jelas apa yang tengah Alvin pikirankan saat ini. Ia yakin, kalau Alvin pasti bertanya-tanya siapakah pemuda yang ada di hadapannya saat ini.


"Alvin!" seru Evelyn yang langsung membuat Alvin tersadar.


Alvin mengerjap kaget. "I-iya?"


"Minumannya."


"Hah?"


"Kau datang kesini untuk mengantar minuman pesananku, kan?" Evelyn menunjuk troli yang Alvin dorong dengan dagunya.


"Iya nona."

__ADS_1


"Lantas kapan kau akan membawanya minumannya kemari?"


Alvin menunduk untuk memandang troli yang ia pegang, seketika tersadar akan kekonyolannya. "Ah benar, maaf."


"Cepat bawa kemari." Evelyn bicara dengan nada lembut. "... atau kau masih berniat berdiri di situ?"


Alvin langsung buru-buru melangkah maju. Mendekat pada meja yang berada di tengah ruangan.


"Kau tidak apa-apa, kan?" Evelyn bicara sembari menatap Alvin lekat. "Maksudku, tingkahmu terlihat tak seperti biasa. Kau sakit?"


"Saya baik-baik saja, nona."


Evelyn mengangguk ragu. "Baiklah, kalau kau baik-baik saja."


Sejujurnya Alvin sedang berbohong. Ia memang tak enak badan. Mungkin tubuhnya kaget karena harus bekerja di klub hingga pagi. Selama ia hidup tak pernah bekerja hingga larut malam seperti yang ia lakukan saat ini.


'Apakah dia sakit?' batin Evelyn.


Alvin berdiri dengan agak goyah. Tangannya sedikit gemetar saat meletakkan gelas minuman ke atas meja. Gelas yang berada di atas meja pun saling bertabrakan dengan botol, berjatuhan di atas meja dan membuat keributan.


"Maaf, saya ceroboh." Alvin tergagap, buru-buru merapikan gelas-gelas itu. Tampak jelas ia sedang mencoba menahan rasa gugupnya.


"Tak masalah." balas Evelyn membungkuk, ikut merapikan gelas-gelas yang berantakan. "Tapi, apa kau yakin kau baik-baik saja?"


"Iya, saya baik-baik saja."

__ADS_1


"Benar?"


"Benar nona."


Alvin lalu berdiri tegak setelah menyusun botol dan gelas di atas meja. Ia melangkah mundur dengan gerakan sopan, seperti saat melayani tamu biasanya.


"Selamat menikmati, nona dan tuan." ujar Alvin masih menunduk.


"Terima kasih," ujar Evelyn tersenyum sementara lelaki yang ada di dekat Evelyn hanya mengangguk ragu.


Alvin mendongak pada Evelyn kemudian melirik lelaki bule yang ada di dekat Evelyn. Alvin buru-buru menunduk saat menyadari kalau lelaki itu ternyata tengah menatapnya.


"Kalau begitu, saya permisi, nona" ujar Alvin membungkukkan sedikit tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan itu.


Sebelum menutup pintu, sekali lagi ia melihat ke dalam, menatap lekat-lekat gadis cantik yang juga tengah menatapnya.


Alvin merapatkan pintu dengan hati-hati agar tak menimbulkan keributan. Ia berjalan menuju lift dengan langkah gontai.


Dan smbari menunggu lift terbuka, Alvin tampak melamun di posisinya.


"Apa lelaki bule itu kekasihnya?" gumam Alvin lemas saat menyadari kalau Evelyn punya kekasih. Namun ia buru-buru menggelengkan kepalanya.


"Apa yang ku pikirkan. Memangnya kenapa kalau dia memiliki kekasih? Itu kan sama sekali bukan urusanku. Aku harusnya bekerja. Itulah tugasku di sini."


Begitu pintu lift terbuka, Alvin segera melangkah memasuki lift untuk bergegas melanjutkan lagi pekerjaannya.

__ADS_1


.


__ADS_2