
Sepuluh menit kemudian, Evelyn sudah berada di dalam kantor mr. Robert. Sesaat setelah semua keributan berakhir dengan di usirnya Karina, Evelyn meminta Ziva untuk berganti pakaian.
Evelyn lalu mengajak Ziva untuk pergi menemui Mr. Robert, merupakan kenalan ayahnya, juga orang yang menjabat sebagai manajer di klub malam milik ayahnya ini.
Mr. Robert adalah orang yang sudah bertahun-tahun lamanya membantu mengurus klub malam ini.
"Nona Evelyn, sekali lagi saya mohon maaf atas apa yang terjadi pada anda." ujar Mr. Robert prihatin.
"Kenapa anda minta maaf, Mr. Robert? Ini kan bukan salah anda."
"Tetap saja, nona. Jika sejak awal saya tahu anda berkunjung kemari, saya pasti akan menyediakan ruang pribadi khusus untuk anda dan teman anda malam ini seperti pada malam-malam sebelumnya." Mr. Robert tersenyum kecut.
Evelyn hanya menanggapi kalimat itu dengan tersenyum santai. "Tidak masalah Mr. Robert."
"Tapi tetap saja nona, saya jadi tidak enak dengan semua kegaduhan ini. Terutama dengan nona Ziva." Mr. Robert terlihat sangat menyesal.
"Seperti yang kau lihat, Mr. Robert. Aku ini baik-baik saja." ujar Ziva menenangkan.
"Ya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan disini." ujar Evelyn. Ia lalu menegakkan posisi duduknya dan menatap serius pada Mr. Robert. "Ehm, tapi bisakah aku bertanya sesuatu padamu, Mr. Robert?"
"Sesuatu?" Mr. Robert mengernyit lalu mengangguk pelan. "Tentu bisa nona. Nona bisa menanyakan apa saja pada saya?"
"Jadi begini, aku ingin bertanya tentang salah satu karyawan di klub malam ini. Dia... seorang pelayan." ujar Evelyn ragu sambil melirik sebentar ke arah Ziva yang tengah duduk di sebelahnya, sibuk memainkan ponsel miliknya.
"Pelayan?" tanya Mr. Robert, mencoba untuk memastikan pendengarannya.
Evelyn mengangguk pelan kemudian tersenyum. "Ya, ini tentang pelayan yang bernama Alvin."
"Alvin?" Mr. Robert semakin mengerutkan dahinya bingung. Sedetik kemudian ia menyadari ingatannya. "Ah, apa maksud anda Alvin Danu?"
"Jadi nama lengkapnya Alvin Danu?" Evelyn bergumam pada dirinya sendiri baru setelah itu ia kembali menatap Mr. Robert dengan serius. "Ya, aku ingin kau memberiku informasi mengenai pemuda itu."
"Ah, kebetulan dia adalah pelayan baru di sini nona. Dia juga baru bekerja sekitar dua hari lalu." ujar Mr. Robert sambil bangkit dan berjalan menuju meja kerjanya.
Pria paruh baya itu membuka salah satu laci dan mengambil sebuah amplop coklat di dalamnya dan langsung menyerahkannya pada Evelyn.
"Ini adalah berkas lamaran kerja miliknya. Sebenarnya ini baru dia serahkan pada saya kemarin."
"Terima kasih."
Evelyn mengulurkan tangannya menerima amplop coklat itu dan membuka isinya yang ternyata terdapat beberapa lembar kertas yang berisi data dan informasi mengenai Alvin Danu.
"Dia masih sangat muda..." gumam Evelyn pelan saat menatap tanggal lahir dari pemuda itu. "Umur kami bahkan berbeda tiga tahun."
"Kenapa? Apa kau merasa kecewa dengan perbedaan umur kalian?" tanya Ziva yang sejak tadi hanya diam memperhatikan percakapan Evelyn dan Mr. Robert. Ia menatap Evelyn dengan senyum mengejek.
__ADS_1
Evelyn sontak menatap Ziva dengan tatapan tajam seakan tengah mencoba memberitahu sahabatnya itu agar menutup mulutnya saja. Sementara itu yang di tatap hanya nyengir kuda sambil menggedikkan bahunya santai.
"Aku hanya bertanya, oke!" Ziva menatap Evelyn tanpa dosa. "Tidak perlu marah-marah begitu."
Evelyn memasukkan kembali kertas berisi data dan informasi pribadi tentang Alvin ke dalam amplop coklat tadi lalu beralih pada Mr. Robert, menatap lelaki paruh baya itu dengan serius.
"Paman, aku minta jangan sampai ada yang tahu kalau aku baru saja mencari informasi pribadi mengenai pemuda ini."
"Ya nona, ini hanya akan menjadi rahasia antara kita berdua. Rahasia anda aman." ujar Mr. Robert mengangguk paham.
"Bertiga." Ziva menimpali, tak terima.
"Ya, bertiga maksud saya." ujar Mr. Robert tersenyum pada Ziva. Ia lalu kembali menatap Evelyn. "Tapi bisakah saya tau apa alasan sebenarnya anda menanyakan informasi mengenai Alvin nona?"
"Dia menyukai anak itu, paman." ujar Ziva tanpa basa basi.
"Tutup mulutmu, Ziva!" Evelyn menatap Ziva dengan tajam. Ia meruntuki sahabatnya itu yang benar-benar terlihat berusaha untuk mempermalukannya saat ini.
Evelyn menghela napasnya perlahan dan melanjutkan kalimatnya. "Aku hanya sedikit tertarik dengannya, paman."
"Bukan sedikit. Tapi dia sangat tertarik." sekali lagi Ziva mengutarakan pendapatnya.
Evelyn memejamkan matanya sambil menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya kasar. Ia membuka matanya dan langsung mengambil gelas minuman yang ada di atas meja.
"Aku akan memastikan gelas di tanganku ini melayang ke wajahmu itu kalau kau berani bicara sekali lagi Ziva!" ancam Evelyn, ia tak bisa lagi menahan rasa kesalnya saat ini.
"Pendapatmu itu sama sekali tidak penting!" balas Evelyn tajam. "Mengganggu pembicaraanku saja, asal kau tau."
"Baiklah, nona cerewet! Aku akan diam mulai sekarang. Silahkan kalian lanjutkan pembicaraannya." ujar Ziva sambil membuat gerakan mengunci mulut lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Evelyn menatap amplop coklat di hadapannya itu lagi dan mengernyit. "Tapi bukankah tadi paman sempat mengatakan dia pegawai baru di sini?"
"Ya," Mr. Robert mengangguk. "Dia mulai bekerja sekitar dua hari yang lalu. Saat itu dia datang kemari dan mengatakan ingin melamar pekerjaan. Secara kebetulan di sini juga sedang membutuhkan posisi pelayan, jadi saya menerimanya."
Evelyn mengangguk mengerti dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa di belakangnya.
"Dua hari lalu? Bukankah itu adalah satu hari setelah kami bertemu di insiden itu." gumam Evelyn pelan, hampir seperti berbisik.
"Maaf nona?" Mr. Robert yang tidak mendengar jelas perkataan Evelyn barusan kembali bertanya.
Evelyn tersadar dan buru-buru menggeleng. "Tidak. Tidak apa-apa."
Setelah itu Evelyn kembali terdiam di posisinya. Ia tertegun sejenak. Jika di pikir-pikir lagi, bukankah ini semua seperti sudah direncanakan. Pertemuannya dan Alvin ini seperti sudah menjadi takdir. Lihatlah bagaimana mereka terus di pertemukan satu sama lainnya dalam berbagai kebetulan.
Dan jika Evelyn bisa jujur, pada awalnya ia memang sudah tertarik pada Alvin. Ya, meskipun saat itu perasaannya tak lebih dari sekedar khawatir dengan pemuda itu karena mobilnya yang hampir menabraknya. Namun sekarang ia malah jadi semakin tertarik bahkan ingin mengetahui semua informasi tentang Alvin.
__ADS_1
Meskipun selama ini Evelyn terus menerus mengelak dari segala ejekan Ziva tentang Alvin, namun Evelyn tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia memang tertarik dengan pemuda itu bahkan sejak pertemuan pertama mereka.
"Nona Evelyn?" panggil Mr. Robert saat melihat sang nona muda yang termangu.
Evelyn tersadar dari lamunannya. " ya paman?"
"Saya pamit dulu, saya harus pergi untuk mengurus pekerjaan saya." ujar Mr. Robert sopan.
Evelyn mengangguk paham.
"Silahkan paman." ujar Evelyn mempersilahkan.
Kepergian Mr. Robert kini hanya menyisakan Evelyn dan Ziva berdua di dalam ruangan itu. Evelyn menghela napasnya perlahan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.
"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Ziva penasaran. Sejak tadi mulutnya sangat gatal ingin bertanya hal itu.
"Menemui pemuda itu, tentu saja." gumam Evelyn sambil memejamkan kedua matanya. "Bukankah itu rencana kita sejak awal datang kemari."
Ziva berdehem sebentar. "Aku takjub kau menepati kata-katamu. Ah, luar biasa kalau kau ternyata benar-benar menemuinya."
Evelyn mendecih, andai Ziva tahu sesulit apa ia memutuskan kalimat itu untuk keluar dari mulutnya. Ya ampun, bagaimana gadis seperti dirinya yang biasanya selalu di kejar-kejar oleh pria bisa sampai di buat gila oleh pria seperti Alvin itu.
"Bukankah itu yang selalu kau minta sejak beberapa hari terakhir ini. Kau menginginkan agar aku menemui pemuda itu kan?" Evelyn melirik Ziva. "Kau sangat bernafsu membuat kami bertemu."
"Karena aku tahu kau menyukainya." goda Ziva.
"Jangan mulai!" ujar Evelyn tajam.
"Ayolah, kau menyukai bibirnya. Kau bahkan ketagihan, kan? Ya, walaupun di sisi lain kau menyesal sudah menjadi gadis murahan karena sudah menciumnya lebih dahulu."
"Dengar, aku akui kalau aku memang menyukai ciuman itu. Tapi bukan berarti aku menyukainya."
"Maksudmu?"
"Aku tidak benar-benar menyukainya, Ziva. Aku hanya tertarik padanya. Pada bibirnya, oke."
"Baiklah! Saat ini mungkin saja kau hanya bernafsu padanya. Dan belum benar-benar menyukainya. Saat ini mungkin itu hanya nafsu."
"Hm, anggap saja begitu."" balas Evelyn asal.
Evelyn berbohong, sudah jelas. Munafik jika ia tidak menyukai pemuda tampan seperti Alvin. Pemuda itu jelas-jelas adalah tipenya sekarang. Dan satu fakta, ia bukan menyukai Alvin karena ciuman itu. Tapi karena ia menyukai Alvin, itu sebabnya Evelyn menciumnya.
Faktanya, setelah melihatnya pertama kali saat insiden kecelakaan itu, Evelyn bahkan tidak bisa melupakan wajah pemuda itu.
Dan begitupun saat ini, cukup dengan membayangkan wajahnya saja sudah membuat Evelyn bergairah. Ah, jika saja Alvin adalah orang kaya seperti para lelaki yang pernah bersamanya, Evelyn pasti sudah akan menidurinya sekarang. Alvin juga akan jadi satu-satunya lelaki yang pernah Evelyn tiduri.
__ADS_1
Sayang sekali...
***