
"Kau keberatan kalau aku minta untuk menutup pintunya?" tanya Monika saat mereka sudah tiba di ruang vip yang di pesan oleh Monika.
"Ah, tidak nona. Saya tidak keberatan."
"Kalau begitu tolong tutup pintunya!" perintah Monika lagi. "Yah, kau tau, masalah privasi."
"Baik, nona."
Alvin mengangguk dengan cepat menutup pintu di belakangnya. Ia lalu kembali berbalik, menatap Monika, menunggu perintah yang mungkin akan di berikan lagi oleh gadis itu.
Monika tampak melangkah menuju sofa yang berada di tengah ruangan. Ia menjatuhkan tasnya ke atas meja dan mendudukkan dirinya dengan santai di atas sofa.
Monika menyilangkan tangannya di depan dada, sementara kedua matanya memperhatikan Alvin dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kemarilah!" perintah Monika lagi sembari menepuk sofa yang ada di sebelahnya.
Alvin tidak langsung menurut dengan apa yang Monika perintahkan padanya. Ia malah menatap gadis itu dengan tatapan ragu. Alvin memikirkan perintah yang diberikan gadis itu. Kenapa mengobrol harus dengan jarak sedekat itu?
Monika memperhatikan Alvin yang tengah berdiri tegak di belakang pintu yang tertutup. Ia menaikkan sebelah alisnya, heran dengan tingkah pemuda tampan itu.
"Alvin." seru Monika.
"Ya, nona?" Alvin tergagap.
"Ada apa denganmu?"
"Maaf?"
Melihat pemuda di hadapannya yang tampak kebingungan, Monika menghela napasnya.
"Kau! Kenapa kau malah diam disitu. Aku kan mengatakan padamu untuk mendekat kesini." ujar Monika dengan nada malas. "Sini! Duduk di sini!"
"Saya-"
"Kemarilah!"
"Tapi nona, saya-"
"Alvin, aku membawamu kemari untuk menjadi teman ngobrolku, bukan penjaga pintu. Cepat kemari!"
Alvin kembali terdiam, ia tampak menimbang-nimbang keputusan apa yang akan ia ambil. Alvin tak tahu kenapa, begitu sampai di ruangan ini hatinya menjadi ragu.
"Ayolah Alvin, aku sudah mulai bosan menyuruhmu sejak tadi. Aku hanya memintamu untuk duduk di dekatku. Jadi, bisakah kita membuang waktu dan menikmati waktu kita berdua di sini?"
Alvin berdiri dengan gelisah di posisinya. Ia mencoba mengontrol ekspresi wajahnya sebelum kemudian menganggukkan kepalanya dengan senyum canggung.
"Baik, nona." ujarnya mulai melangkah mendekati Monika.
Alvin mendudukkan dirinya di sebelah Monika. Ia duduk tegap, membuat Monika terkekeh. Bukankah pemuda ini lucu, dia seolah sedang berpose seperti akan berfoto untuk kartu identitas saja.
"Alvin, kenapa kau tampak begitu kaku. Ayo lebih mendekat lagi!" Monika tersenyum kemudian menarik lengan Alvin, memaksa pemuda itu untuk duduk lebih dekat padanya, tepat di sebelahnya.
"Saya di sini saja, nona."
"Apa kau tidak suka dekat-dekat denganku?"
"Saya hanya… saya tidak biasa berduaan dengan perempuan seperti saat ini. Apalagi dengan jarak sedekat ini."
"Begitukah?" Monika memundurkan wajahnya, alisnya sedikit berkerut, tampak terkejut dengan pengakuan pemuda itu. "Kenapa memangnya? Apa kau belum pernah pacaran sebelumnya?"
"Pernah. Tentu saja pernah."
__ADS_1
"Lantas?"
"Ya, tapi kami tidak pernah berduaan di dalam satu seperti ini."
"Wow, kau serius?" Alis Monika tampak semakin mengerut. Ia tertawa geli. Informasi seperti ini justru lebih mengejutkan bagi dirinya. "Bagaimana dengan cîuman?"
Mendengar kata cîuman, kedua pipi Alvin sontak memanas. Ia hanya pernah melakukan hal itu pada satu orang saja.
Evelyn.
Hanya cîuman Evelyn saja yang bisa ia ingat seumur hidupnya. Alvin buru-buru menggelengkan kepala, entah apakah maksudnya, ia juga tak mengerti dirinya sendiri. Kenapa ia hanya teringat tentang Evelyn saja?
"Tidak pernah?" tebak Monika.
Alvin tersenyum kecil. Ia harus menjawab apa? Tak mungkin Alvin mengakui ciuman yang diberikan Evelyn padanya kan? Meskipun itu adalah sesuatu yang tak bisa dilupakan oleh Alvin.
Bagi Alvin, cîuman sesungguhnya adalah sesuatu yang harusnya kau lakukan dengan orang yang kau sukai. Begitulah yang Alvin pikirkan.
Monika diam untuk beberapa detik sebelum kemudian menatap Alvin.
"Apa kau ingin tau rasanya berciuman?" bisik Monika dengan raut wajah nakalnya.
"Hah?" Alvin tampak mengerutkan alisnya, bingung dengan pertanyaan itu.
Monika tersenyum, lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih dengat pada Alvin. Sementara Alvin yang ditatap dengan jarak sedekat itu merasa terkejut bukan main. Ia buru-buru memundurkan wajahnya karena merasa risih.
Alvin tampak menggeser duduknya agak menjauh dari Monika namun gadis itu malah ikut bergeser, mencoba untuk lebih mendekat lagi pada Alvin.
"Nona."
"Hm?"
"Lupakan tentang jarak duduk kita." ujar Monika mengibaskan tangannya, matanya masih tetap menatap Alvin lekat-lekat. "Aku tadi kan bertanya tentang ciuman. Bukankah kau mengatakan kalau kau belum pernah berciuman. Lalu, apa kau mau coba denganku?" bisik Monika berterus terang.
Seketika saja pandangan Alvin langsung beralih pada Monika. Kedua matanya tampak membulat, menatap gadis itu dengan raut terkejut. Bagaimana tidak, gadis itu baru saja mengajaknya berc!uman dengan cara yang terlampau santai. Ia seolah hanya sedang mengajak dirinya makan malam biasa.
"Aku akan membantumu mencobanya." ujar Monika lagi mendekatkan wajahnya pada Alvin.
"Nona, apa yang anda lakukan?" Alvin berujar sembari memundurkan wajahnya, merasa gugup karena Monika mendekatkan wajahnya pada dirinya.
"Apa yang kulakukan? Ck, ayolah Alvin, aku hanya sedang mencoba mengajakmu bersenang-senang."
"Tidak harus begini caranya, nona."
"Lantas? Menurutmu, hal seperti apa yang akan lebih menyenangkan daripada ini? Ayolah Alvin, dengan cara ini, kau bisa menyenangkan aku dan aku bisa menyenangkanmu."
Alvin menggelengkan kepalanya. Tak menyangka hal semacam ini. Monika awalnya hanya menawari dirinya untuk mengobrol, tapi kenapa berakhir dengan hal tak sononoh begini. Ini jelas hal gila dan tidak seharusnya Alvin ada di sini sejak awal.
"Nona, sepertinya saya harus pergi sekarang."
Belum juga Alvin mencoba bangkit, Monika sudah menarik bahu dan meraih pergelangan tangannya.
"Kau mau kemana?! Tetaplah di sini!" perintah Monika.
"Tidak nona, saya rasa lebih baik saya pergi saja dari sini sekarang." Alvin melepaskan pegangan Monika pada pergelangan tangannya.
Dengan cepat Alvin bangkit dari duduknya hendak pergi. Monika tampak tak terima, ia menggertakkan giginya dan ikut bangkit dari duduknya.
"Aku bilang tetap disini!" ujar Monika dengan nada kesal, menahan lengan Alvin.
Dan tiba-tiba saja gadis itu mendorong tubuh Alvin dengan kasar hingga kembali terduduk di sofa panjang. Hal itu membuat Alvin tampak meringis kesakitan di posisinya sembari memegangi bahunya yang terasa nyeri karena menghantam sandaran sofa.
__ADS_1
Monika menindih tubuh Alvin, mencoba untuk menjepit tubuh pemuda itu ke sandaran sofa.
"Bersikap baiklah dan menurut padaku!" ujar Monika, berbisik di dekat telinga Alvin.
Alvin kini bisa melihat tatapan di mata gadis itu sudah berbeda dari sebelumnya, seperti dipenuhi tatapan nafsu.
'Ada apa dengan gadis ini' pikir Alvin. Ia menatap gadis itu dengan pandangan gugup. Apa Monika akan melakukan hal aneh padanya?
"Bagaimana? Kau mau menyenangkan aku?" tanya Monika dengan senyum sinisnya.
Tunggu dulu, apakah sejak tadi Monika berpikir kalau Alvin ini adalah seorang gigolo yang akan setuju untuk melayaninya.
"Nona, anda salah paham. Saya ini bukanlah seperti yang anda pikirkan."
"Benarkah?" bisik Monika lagi, membuat Alvin merindung ngeri.
"Bukannya anda tadi mengatakan kalau anda ingin mengobrol, jadi-"
Alvin tak mendapat kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba saja Monika menarik tengkuk dan mencium bibirnya.
Untuk beberapa detik, Alvin seolah tak bisa memproses apa yang terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Entah Monika yang terlalu gesit atau Alvin yang terlalu bodoh untuk bertindak cepat.
Kedua mata Alvin membulat saat ia menyadari apa yang terjadi. Ia hendak mendorong Monika mundur, tapi gadis itu malah semakin menekan tengkuknya.
"Ugh!" Alvin meringis saat Monika menggigit bibirnya.
Alvin dengan cepat mendorong bahu Monika sampai c!uman mereka terlepas. Dengan cepat Alvin mengatur napas karena c!uman ganas Monika membuatnya kehabisan napas.
"Apa yang anda lakukan?" ucap Alvin begitu c!uman mereka terlepas. Alvin mengusap bibirnya dengan punggung tangan dan menatap Monika tajam.
"Bibirmu manis," ujar Monika lembut, namun terdengar licik. "Aku ingin lagi."
Monika sudah hampir menarik tengkuk Alvin lagi sampai Alvin bangkit dari duduknya dan menjauh.
"Nona, ini keterlaluan." pekik Alvin.
Monika hanya diam menatap Alvin sebelum kemudian mendecih sinis.
"Ada apa? Kupikir kau menyukainya."
"Apa?"
"Ayolah Alvin, kau tidak perlu munafik. Aku tau kau menyukai cîumannya, kan? Akui saja."
Alvin menggelengkan kepalanya. Menatap tak percaya pada Monika.
"Maaf nona, saya rasa anda salah paham. Saya di sini untuk bekerja sebagai pelayan. Pekerjaan utama saya adalah mengantar pesanan minuman untuk tamu atau pelanggan. Bukan melayani hal yang lain, seperti saat ini."
Alvin kemudian berbalik menuju pintu. Saat ini ia merasa kurang nyaman dengan situasi ini, jadi memutuskan untuk pergi saja.
Melihat Alvin yang melangkah pergi membuat Monika merasa kesal.
"Kau mau kemana, hah?"
Alvin menghentikan langkahnya tapi tak berbalik untuk menatap Monika. "Sepertinya banyak pesanan yang belum di antar. Jadi, saya harus pergi. Permisi."
"Tunggu dulu. Kau pikir kau siapa sehingga bisa menolakku."
Alvin mendengar seruan itu. Tapi seolah tak peduli, ia mempercepat langkahnya, meninggalkan gadis itu.
***
__ADS_1