
Sebuah sedan berwarna hitam terlihat tengah melaju dengan kecepatan sedang melewati keramaian jalanan perkotaan. Sementara seorang wanita cantik yang tengah duduk di kursi penumpang mobil itu, menatap keluar jendela dengan pandangan sendu.
Evelyn lahir di keluarga konglomerat yang bergelimang harta, membuatnya hidup tanpa kekurangan dan serba mewah. Tapi ia tak pernah benar-benar dikenal oleh publik. Membuatnya bisa pergi kemanapun semaunya. Setiap hari ia bahkan biasa menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan uang yang di berikan oleh ayahnya.
Evelyn sendiri di kenal sebagai gadis yang suka berbelanja. Seperti halnya hari ini Evelyn baru saja pulang dari kampusnya dan langsung pergi berbelanja. Padahal ia sudah berbelanja saat liburan di Bali kemarin tapi ia tak peduli. Dan sekarang ia hendak pergi menuju ke salon untuk perawatan tubuhnya.
Namun saat di tengah jalan mobil yang ia tumpangi hampir saja menabrak seorang pengendara motor dan membuat jantungnya hampir copot. Dan Evelyn bisa bernafas lega saat mengetahui kalau pengendara motor itu baik-baik saja.
'Ayah bisa menghabisiku kalau sampai dia mendapat laporan aku mencelakai orang lain.' batin Evelyn sambil terkekeh.
Evelyn kini kembali menghela nafasnya untuk yang kesekian kalinya. Mata indahnya terus menatap keluar jendela mobil di sepanjang perjalanan. Ia terus terdiam dengan kepala yang tersandar ke kepala kursi mobilnya.
"Apa kau yakin kalau pemuda itu baik-baik saja, paman?" tanyanya pada sang supir yang duduk di kursi depan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari luar jendela.
Sang supir di depannya melirik sekilas kemudian mengangguk pelan.
"Ya nona, syukur saja mobil kita tidak sempat menabraknya tadi."
"Benar juga." jawab Evelyn.
"Tapi paman benar-benar yakin?"
"Ya, nona."
"Seratus persen?"
"Saya bisa jamin kalau mobil yang kita naiki tidak menyentuhnya sedikitpun. Dia juga mengakui kalau tidak terluka sama sekali."
"Apa kita kembali saja untuk mengeceknya?"
"Apa nona mau kembali?"
"Haruskah kita?" Evelyn berpikir sebentar kemudian merosot pada sandaran kursi mobil. "Sepertinya tidak usah saja."
Sang supir jadi bingung. "Nona mau mencari pemuda itu? Kita bisa kembali nona."
"Sepertinya tidak perlu." Evelyn mengibaskan tangananya. "Lagipula itu juga bukan salah kita, kan?"
"Benar, nona. Dia sendiri juga mengakui kalau itu salahnya. Dia memang sedang melamun tadi."
"Baguslah kalau begitu!" ujar Evelyn mengangguk paham.
Setelah itu keadaan kembali menjadi sepi. Evelyn memilih fokus pada pikirannya sendiri.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Evelyn masih sangat khawatir dengan keadaan pemuda yang hampir tertabrak tadi.
Entah kenapa sedari tadi Evelyn terus menerus teringat tentang pertemuan tak sengajanya dengan pemuda itu. Satu hal bagi Evelyn. Entah kenapa tatapan dari pemuda itu bisa sampai membuat fokus Evelyn terus terganggu.
Yah. Evelyn bisa mengakui kalau wajahnya sangatlah tampan, kulitnya juga putih dan bersih, sangat indah untuk di pandang. Banyak lelaki tampan. Tapi dia jauh berbeda. Dia spesial.
__ADS_1
Diam-diam Evelyn tersenyum. Bagaimana bisa, ada pemuda sesempurna itu di dunia ini? Dan bagaimana tak ada yang satupun lelaki yang dekat dengannya bisa memiliki wajah seperti itu.
Detik berikutnya Evelyn tersadar dari pikirannya sendiri.
Apa ini?
Apa Evelyn tertarik pada pemuda itu? Benarkah begitu? Tapi bagaimana bisa. Evelyn bahkan baru melihatnya sekali seumur hidupnya. Jadi mana mungkin dia bisa tertarik pada pemuda itu.
Setelah menyadari pikirannya yang mulai melantur, Evelyn buru-buru menggelengkan kepalanya.
'Apa yang ku pikirkan. Bagaimana bisa aku berpikiran untuk tertarik pada orang asing yang bahkan tidak ku kenal.' batinnya.
Evelyn terkekeh sendiri menyadari betapa konyol dirinya saat ini. Ia tak menyangka kalau hatinya bisa merasakan apa itu jatuh cinta pada pandangan pertama.
Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Evelyn lalu mengalihkan pandangannya pada sang supir.
"Kita langsung pulang saja, paman!"
"Pulang ke rumah, nona?" tanya supir itu sedikit terkejut.
"Ya."
"Apa kita tidak jadi ke salon, nona?" sang supir lagi, mencoba memastikan.
"Tidak" ujar Evelyn sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Aku hanya merasa agak lelah sekarang."
Bagaimana mungkin Evelyn bisa pergi ke salon saat ini untuk bersenang-senang sementara suasana hati Evelyn sudah benar-benar campur aduk sekarang. Ia sudah merasa tak ingin pergi kemanapun saat ini. Penasaran, kasmaran, bingung, dan perasaan lainnya.
Tak berapa lama setelah itu sedan hitam yang di tumpangi Evelyn tiba di halaman rumahnya. Evelyn turun dari mobil dan segera berjalan menaiki anak tangga untuk memasuki rumahnya.
"Bawa barang belanjaanku ke kamarku!" perintah Evelyn pada pelayan sambil terus melangkah menuju ke arah kamarnya.
Setibanya di dalam kamar, Evelyn langsung melepas jaket yang ia kenakan kemudian melempar tas dan jaketnya itu dengan asal ke atas lantai kamarnya. Dan setelah itu Evelyn lalu menghempaskan tubuh lelahnya ke atas tempat tidur empuknya.
"Ah, merasa aku lelah sekali," gumam Evelyn sambil merentangkan kedua tangannya ke tempat tidur.
Ia memegang kepalanya yang sedikit berdenyut dan mencoba memberikan pijatan kecil disana. Entah kenapa sejak di perjalanan pulang tadi, Evelyn sudah merasakan pusing pada kepalanya.
Evelyn memejamkan kedua matanya mencoba merilekskan tubuh dan pikirannya yang terasa kusuk. Tapi entah kenapa ia malah kembali teringat kejadian beberapa waktu lalu, di saat supirnya yang hampir menabrak seorang pengendara sepeda motor berwajah tampan.
Sebenarnya Evelyn tadi sempat memandangi wajah tampan dari pemuda pemilik sepeda motor itu dari dalam mobilnya.
"Wajah pemuda itu. Kenapa aku begitu terpesona? Kenapa wajahnya sangat tampan." gumam Evelyn sambil tersenyum simpul.
Namun detik itu juga ia langsung tersentak dengan kalimatnya sendiri. Evelyn merasa heran kenapa ia malah kembali memikirkan orang asing itu? Ayolah Evelyn, 0emuda itu bahkan baru ia lihat sekali seumur hidupnya. Bukankah ini aneh….
'Apa aku benar-benar tertarik padanya?' batin Evelyn yang terus bicara pada dirinya sendiri.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Di sela lamunannya itu tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari arah luar kamar Evelyn. Menyadari suara ketukan itu Evelyn menghela.
"Masuk!" perintah Evelyn tanpa menoleh ke arah pintu.
"Permisi, nona!" ujar seorang pelayan wanita sambil membungkukkan setengah badannya sesaat setelah membuka pintu kamar Evelyn.
Evelyn menoleh, menatap pada pelayan yang baru saja memasuki kamarnya itu.
"Ada apa?" tanya Evelyn.
"Nona Ziva baru saja datang, nona. Dan beliau mengatakan kalau ingin bertemu dengan anda." ujar pelayan itu dengan nada sopan.
"Zivanya Lee?" tanya Evelyn memastikan.
Sang pelayan mengangguk mengiyakan. "Ya, nona. Benar."
Evelyn menatap pelayan itu selama beberapa saat kemudian menghela kasar.
"Apa kau pelayan baru di sini?"
"Sa-saya…"
"Berapa lama kau bekerja di sini?"
"Sa-satu minggu, nona."
"Satu minggu? Bukankah itu artinya kau sudah mendapat penjelasan dari kepala pelayan atau pelayan senior tentang apa yang harus di lakukan?"
"Ya?" Sang pelayan menatap Evelyn bingung.
Evelyn memutar bola matanya malas. "Semestinya kau tahu apa yang harus di lakukan."
"Maaf nona?" pelayan itu masih menatap Evelyn bingung.
"Ya ampun." Evelyn mendecih menyadari betapa bodohnya pelayan baru ini. "Kau bilang sahabatku datang kan?"
Sang pelayan mengangguk. "Ya nona."
"Lalu kenapa kau malah ke sini?"
"Ya?"
Sekali lagi Evelyn memutar bola matanya malas.
"Kau harusnya menerimanya dengan baik. Kau sudah membuat sahabatku menunggu di luar? Harusnya tadi kau suruh dia langsung kemari saja." Evelyn memerintah sang pelayan dengan ketus.
"Ba-baik, nona." ujar sang pelayan gugup dan segera keluar kamar untuk memanggil Ziva.
Setelah kepergian sang pelayan, Evelyn hanya menggerutu sendiri. Sebenarnya ia hampir tak pernah marah pada siapapun. Tapi hari ini berbeda. Mood-nya sangat buruk karena merasa begitu lelah. Itu sebabnya, kesalahan kecil hanya akan membuatnya merasa kesal setengah mati.
__ADS_1
***