Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
36. Tidak Butuh Imbalan


__ADS_3

Dalam lima belas menit, Evelyn telah sukses mengantarkan Alvin kembali ke kampusnya. Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil tepat di depan gerbang kampus tempat Alvin berkuliah.


"Apa kau yakin tidak ingin di antarkan sampai ke dalam?" Evelyn bertanya memastikan, menatap keluar jendela mobil.


"Ya, nona." Alvin mengangguk.


"Kau harus mengambil motormu yang ada di parkiran kampus kan? Aku bisa mengantarmu sampai di sana."


"Tidak masalah nona. Sampai di sini saja sudah cukup."


"Ah, begitu."


Evelyn menyerah dan menganggukkan kepalanya mengerti. Evelyn yakin kalau saat ini Alvin pasti hanya tidak ingin menyusahkan dirinya saja.


Alvin ikut menatap menatap ke gerbang kampusnya yang tampak sepi. Hanya satu atau dua orang mahasiswa yang terlihat melintas di sana.


"Aku rasa aku harus pergi sekarang. Aku agak buru-buru. Sebenarnya beberapa temanku juga sudah menungguku di dalam."


Alis Evelyn mengerut. "Bukannya ini sudah jam pulang kuliah?"


"Ya, memang. Tapi beberapa temanku masih ada di dalam. Kami ada janji temu jam dua siang ini karena ingin diskusi tentang tugas kelompok."


"Ah, benarkah? Sayang sekali teman-temanmu tidak dapat bertemu denganku."


"Ya?" Alvin mengerut bingung.


"Aku pikir kau seharusnya bisa mengajakku untuk berkenalan dengan mereka." Evelyn terkekeh.


Alvin menggaruk belakang kepalanya, tersenyum canggung. "Masalah itu-"


"Bukankah lucu jika mereka nanti mengira kita sedang menjalin hubungan." ujar Evelyn santai kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Alvin.


Mendengar kalimat itu, ekspresi wajah Alvin dengan cepat berubah. Ia lantas menunduk malu.


"Jadi, bolehkah aku ikut masuk dan berkenalan dengan teman-temanmu itu?" tanya Evelyn sambil melihat keluar jendela mobil tanpa menghiraukan ekspresi malu Alvin.


"Hah? Berkenalan dengan temanku?" tanya Alvin gugup. Ia tak tau gadis ini sedang bicara serius atau bercanda sekarang.


Evelyn kemudian berbalik menatap padq Alvin.


"Apa tidak usah saja?" ujar Evelyn tampak berpikir sebentar. "Bagaimana menurutmu, Alvin?"


"Itu, aku..."


Evelyn lalu terkekeh kecil saat melihat ekspresi gugup di wajah pemuda itu. Ia sudah hampir gila karena menahan tawanya. Kenapa pemuda ini begitu polos. Begitu mudah di bohongi. Dan satu lagi, ekpresi wajah Alvin saat merasa gugup benar-benar mendukung.


Sebenarnya, sejak tadi Evelyn hanya berniat mengerjainya. Mana mungkin juga ia tiba-tiba datang menemui teman-teman Alvin seperti itu padahal ia dan Alvin juga baru saja berteman.


"Kalau begitu lain kali saja." ujar Evelyn pada akhirnya sembari menggedikkan bahunya santai.


"I-ya." ujar Alvin terlihat menghela napasnya lega.

__ADS_1


Keadaan di dalam mobil menjadi hening untuk beberapa detik. Sebenarnya saat ini Alvin sudah seharusnya turun dari mobil. Tapi hatinya seakan menolak. Bahkan membuka mulutnya untuk berpamitan saja Alvin merasa enggan. Begitupun juga dengan Evelyn yang tak ingin mengucapkan kalimat selamat tinggal pada Alvin.


Mereka berdua saling menolak untuk meninggalkan satu sama lain, seakan keduanya tak ingin berpisah saja.


"Ah, ngomong-ngomong aku punya sesuatu untukmu." ujar Evelyn memecah keheningan.


Tanpa menunggu jawaban apapun, gadis itu segera mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya.


Evelyn lalu menyodorkan pada Alvin. "Ambillah ini!"


"Ini apa?" Alvin menatap amplop pemberian Evelyn.


"Ini uang, untukmu!"


"Ya, tapi untuk apa, nona?"


"Sebagai ucapan terima kasih dariku." ujar Evelyn sambil menatap Alvin sementara tangannya masih memegang amplop itu.


"Terima kasih untuk apa? Kita kan hanya makan." Alvin berujar bingung.


"Ya ampun. Kau ini imut sekali." Evelyn seketika tertawa saat melihat wajah Alvin.


Gadis itu berdehem sebentar sebelum menjawab kebingungan Alvin.


"Ini adalah ucapan terima kasih atas apa yang kau lakukan padaku di malam itu." jelas Evelyn.


"Yang aku lakukan?"


Evelyn mengangguk pelan. "Kau sudah membantuku dan Ziva malam itu. Kau bahkan mengantarkan aku pulang. Apa kau lupa?"


Alvin kemudian mendorong mundur amplop coklat pemberian Evelyn yang berisi uang itu. "Aku rasa aku tidak bisa menerima ini."


"Kenapa?"


"Nona, saat itu aku hanya ingin membantu. Teman anda tampak kesusahan, jadi aku harus membantunya. Jika nona ingin berterimakasih, cukup ucapkan terima kasih. Bukan memberi uang." ujar Alvin.


"Apa yang kau katakan, beginilah caraku berterima kasih pada orang lain. Jadi ambillah uang ini, cepat." Evelyn kembali menyodorkan amplop itu.


"Dan bukan begini cara saya menolong orang, nona. Aku tidak bisa menerimanya."


"Kau menolak uang?" tanya Evelyn ragu.


Alvin mengangguk. "Aku tidak butuh imbalan apapun, nona."


"Jangan bercanda." protes Evelyn.


Evelyn agak terkejut sekarang. Pasalnya ini adalah pertama kali dalam hidupnya melihat orang yang menolak pemberian uang orang lain. Hei, memangnya di dunia ini siapa yang akan menolak uang gratis?


"Aku tidak bercanda." Alvin lalu tersenyum. "Nona, aku sudah mengatakan di balkon malam itu. Aku membantumu dengan ikhlas dan tulus."


Evelyn meletakkan uang itu di atas dashboard mobilnya. Saat ini ia justru lebih tertarik untuk bicara dengan pemuda di hadapannya ini.

__ADS_1


"Kau serius dengan perkataanmu?" Evelyn menatap takjub.


"Aku bersungguh-sungguh, nona. Aku tidak butuh imbalan apapun dari anda." Alvin mengangguk meyakinkan.


"Alvin, tapi-"


Alvin meraih amplop itu dari dashboard dan menyerahkannya kembali pada Evelyn.


"Ini uang anda, ambillah kembali uang ini, nona!" ujar Alvin tersenyum lembut.


"Ck, padahal aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu. Apa salahnya?" Evelyn menautkan kedua alisnya.


Alvin kini menghela napas dan kembali tersenyum pada Evelyn. Sejujurnya ia bisa mengerti kenapa Evelyn merasa heran dengan keputusannya.


"Tidak ada yang salah dari ucapan terima kasih anda, nona. Tapi jika itu adalah ucapan terima kasih, aku rasa traktiran bubur ayam tadi saja sudah cukup, nona. Ambillah uang ini lagi!" ujarnya.


Evelyn mendecih. Dengan kesal ia menarik lagi amplop itu dari tangan Alvin dan memasukkannya ke dalam tas. Ini benar-benar tak bisa di percaya. Bagaimana bisa seseorang menolak uang? Dia benar-benar tak habis pikir sekarang.


"Terserah saja." ujar Evelyn menggedikkan bahunya acuh.


"Kalau begitu aku turun dulu." ujar Alvin pada Evelyn.


Setelah itu dengan perlahan, Alvin menyampirkan sebelah tali tas kuliahnya ke pundak dan menatap Evelyn.


"Terima kasih atas traktiran bubur ayamnya." ujar Alvin sopan.


"Ya, tapi bisakah lain kali kita makan lagi."


Alvin tampak berpikir sebentar sebelum kemudian ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja." jawab Alvin.


"Terima kasih." balas Evelyn.


Setelah itu Alvin pun segera turun dari mobil Evelyn. Ia menutup pintu mobil dan menunduk, menatap Evelyn melalui jendela mobil.


"Aku masuk dulu." pamit Alvin.


"Ya, masuklah!" balas Evelyn yang masih menunggu didalam mobil.


"Nona hati-hati di jalan." seru Alvin melambaikan tangan pada Evelyn.


Setelah Alvin melangkah memasuki kampus. Mata Evelyn terus menatap punggung Alvin sampai pemuda masuk kedalam gerbang kampus.


Namun baru saja Evelyn hendak menyalakan mesin mobilnya, matanya malah terfokus pada benda yang ada di door trim mobilnya.


"Apa itu?" Evelyn mengerutkan keningnya.


Gadis itu menyipitkan matanya memastikan benda apa itu. Dan seketika saja mata Evelyn langsung membulat begitu menyadari benda apa itu. Itu jelas ponsel. Dan ia tahu siapa pemilik benda itu. Sudah jelas milik Alvin.


Evelyn langsung buru-buru mengambil benda itu.

__ADS_1


"Ponsel Alvin tertinggal."


***


__ADS_2