
"Steve?"
"Ya, ini aku." jawab Steve santai.
"Kenapa kau yang-"
"Kenapa aku yang datang?" potong Steve. "Kau ingin menanyakan itu bukan?"
Alvin langsung terdiam. Ia menatap Steve dengan pandangan bingung. Tentu saja Alvin bingung. Bukankah alasan dia datang ke sini karena Karina yang menghubunginya dan mengatakan butuh bantuannya, lantas kenapa malah Steve yang muncul.
"Aku yakin isi pesanku sampai padamu?" ujar Steve dengan senyum licik di wajahnya.
Alvin sontak membulat. "Jadi, kau yang-"
"Ya, benar. Aku-lah yang mengirimimu pesan melalui ponsel milik Karina. Itu sebabnya aku yang menunggumu di sini bukannya Karina."
"Aku sudah menunggumu." ujar Steve melangkah mendekat. "Ah, salah. Maksudku bukan aku, tapi... kami sudah menunggumu."
Tepat setelah Steve mengatakan itu, turut datang beberapa orang lainnya yang Alvin yakini adalah teman dari Steve.
"Kenapa? Apa kau kecewa karena aku yang menghubungimu dan memintamu kesini, bukannya Karina?"
"Kenapa kau-"
PLUKK!
Alvin terkejut bukan main saat Steve tiba-tiba saja melemparkan plastik hitam yang sejak tadi ia pegang kepadanya. Plastik hitam yang baru Alvin sadari ternyata berisi cairan telur mentah itu langsung mengotori pakaian yang Alvin kenakan.
"Rasakan itu!" ujar Steve.
"Apa yang kau lakukan!" pekik Alvin.
"Dan ini! Kau rasakan ini juga." ujar teman Steve yang berasal dari belakang. hitam.
BYURR!
Belum juga hilang rasa terkejutnya karena perlakuan Steve padanya. Kali ini Alvin harus buru-buru mengusap wajahnya yang basah karena tumpahan air kotor yang sengaja di tumpahkan tepat di atas kepalanya oleh salah satu teman Steve.
Alvin bahkan bisa mencium dengan jelas bau amis yang berasal dari air itu.
"Bagaimana rasanya?" ujar Steve.
"Ya, sebenarnya itu adalah air dari kolam ikan yang ada di belakang kampus." ujar Steve lagi kemudian ia tertawa terbahak-bahak dengan temannya.
Alvin kembali mengusap wajahnya yang basah. Ia bisa merasakan saat kotoran dari air itu sempat memasuki matanya dan membuat matanya perih. Hidung Alvin juga terlihat memerah karena beberapa air sempat sempat masuk ke dalam lubang hidungnya.
"Kenapa kalian lakukan ini?" ujar Alvin.
Steve mendecih sinis mendengar pertanyaan Alvin padanya.
"Dengar, bodoh! Apapun yang kau terima saat ini adalah karena kau berani mendekati Karina lagi."
Mendengar kalimat itu dahi Alvin mengkerut bingung. Ia kaget dan tak menyangka kalau penyebab semua ini adalah Karina.
"Karina?"
"Ya, kau berani sekali mendekati kekasihku."
Alvin menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak pernah mendekati Karina."
"Aku tidak peduli kau mendekatinya atau tidak." ujar Steve lagi. "Yang aku tahu, kau dan Karina sudah beberapa kali bertemu di belakangku. Aku sudah coba untuk mengingatkanmu agar menjauh dari Karina tapi kau tetap berada di dekatnya. Itu artinya kau cari mati. Yah, lagipula aku juga tak peduli siapa yang mendekati siapa tapi aku sudah bilang agar kau jauh-jauh dari Karina."
"Tapi-"
"Steve!" seru seorang wanita tiba-tiba saja memasuki kerumunan itu, membuat ucapan Alvin terpotong.
Itu Karina yang baru saja datang entah darimana.
"Ah, sayang. Kau menerima undanganku untuk datang kemari rupanya. Kau datang di waktu yang tepat." ujar Steve sambil memeluk Karina. "Kau lihat ini, sayang."
Karina menoleh ke arah yang Steve tunjuk dan langsung membulatkan kedua matanya. Ia mengangkat tangan untuk menutup mulutnya dengan kedua tangan seakan tak percaya dengan apa yang dia saksikan saat ini.
"Steve, dia-"
"Ya sayang. Dia mantanmu yang bodóh itu."
"Tapi apa yang terjadi?"
"Ah, sebenarnya kau melewatkan tontonan menarik ini. Tapi jangan khawatir, karena kau bisa menonton sisanya."
__ADS_1
Steve mengangguk, mencoba memberi tanda pada salah satu temannya. Dan…
BYURR!
Kembali tumpahan yang kesekian kalinya disiramkan pada Alvin. Tumpahan yang ternyata adalah ampas kopi itu rupanya sudah di siapkan oleh teman Steve lainnya yang sejak tadi berdiri di samping Steve.
Alvin mengepalkan telapak tangannya. Habis sudah segala kesabarannya selama ini. Perlakuan ini benar-benar membuatnya sakit hati.
Ya, sakit hati. Hanya itu yang bisa menggambarkan segala yang Alvin rasakan. Hati Alvin kini sungguh merasakan sakit yang luar biasa karena perbuatan orang-orang ini.
Alvin menatap tajam pada Steve yang saat ini malah cengengesan melihat keadaannya sekarang. Begitu juga dengan teman-teman Steve lain yang berada disana.
Namun tidak dengan Karina. Alvin tak menyadari kalau gadis itu sepertinya tidak terlihat senang dengan apa yang Steve lakukan saat ini.
Steve menoleh ke sampingnya, melihat ekspresi wajah Karina dan menatap kekasihnya itu dengan heran. Mata Karina terlihat menampilkan ekspresi kecemasan yang amat kentara.
"Ada apa sayang?" tanya Steve
Karina tak menjawab. Gadis itu malah tersenyum kecut dengan mata yang menatap ke arah Alvin.
Tanpa sadar Karina mulai melangkah maju, mendekat pada Alvin. Namun langkahnya langsung terhenti saat ia merasakan Steve menahan lengannya.
"Karina, apa yang kau lakukan?"
"Hah?"
"Kau mau kemana?" protes Steve.
Karina mencoba menarik tangannya dari genggaman Steve, "Lepaskan!"
"Karina!"
Karena tak kunjung dilepaskan, Karina akhirnya menghempaskan pegangan Steve pada lengannya barulah kemudian ia melanjutkan langkahnya, bergerak maju menuju ke arah Alvin berdiri saat ini.
"Kau tidak apa-apa kan?" ujar Karina.
Alvin hanya diam.
"Alvin, jawab aku!"
Karina mengangkat sebelah tangannya hendak menyentuh wajah Alvin. "Kau baik-baik sa-"
Ucapan Karina itu terpotong saat seseorang berseru dan menahan lengannya. Karina dengan cepat menoleh ke arah seseorang itu. Sontak kedua matanya membulat.
Itu Dave. Sahabat dekat Alvin. Pemuda itu juga di sini dan tengah menatap Karina dengan ekspresi kesal di wajahnya.
"Jangan kau berani menyentuhnya. Sedikitpun jangan berani menyentuhnya." Dave menatap Karina dengan tatapan kesal. "Kau dan Alvin sudah putus!"
"Kau benar, tapi ini-"
"Bukankah seharusnya kalian tak bertemu lagi, benar kan?" Dave melanjutkan kalimatnya dengan raut sinis. "Lalu kenapa kau harus mengajaknya bertemu lagi. Apakah tujuanmu meminta Alvin datang kemari hanya untuk melakukan hal konyol ini padanya?"
Karina mengerutkan alisnya, "Apa? Aku mengajak Alvin kesini?"
"Oh jadi sekarang kau lupa dengan kelakuanmu sendiri? Begitukah maksudmu?"
"Bukan lupa, Dave. Tapi aku memang tidak pernah mengatakan apapun tentang meminta kedatangan Alvin kesini. Tidak pernah." ujar Karina menggelengkan kepalanya.
"Omong kosong, Karina. Aku tau sejak awal ada yang aneh. Ini memang rencana licikmu dan kekasihmu itu. Cih, kau benar-benar tega."
"Dave, aku bicara yang sebenarnya. Aku tidak pernah meminta Alvin untuk datang kemari."
"Oh, jadi apakah maksudmu Alvin tiba-tiba saja datang kemari tanpa kau minta dan menyerahkan dirinya untuk menjadi korban bulli dari kekasihmu. Begitukah?"
Karina membulatkan matanya menatap Dave dengan kaget. Bagaimana tidak? Seingatnya, dia sama sekali tidak pernah menelepon atau juga mengirim pesan apapun pada Alvin. Ponselnya bahkan tidak ia pegang. Ia baru saja dari toilet dan menitipkan ponselnya pada Steve tadi saat akan ke toilet.
Tunggu dulu...
Karina menyadari suatu hal. Detik selanjutnya ia membulat dan langsung menoleh ke arah Steve berdiri. Pemuda itu juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Dalam hati Karina jadi bertanya-tanya, apakah Steve yang melakukannya? Apakah Steve yang sudah menghubungi Alvin dan meminta Alvin datang? Apakah Steve yang berani menjebak Alvin dengan menggunakan namanya?
"Lihat ini!" ujar Dave menunjuk tubuh Alvin dari atas hingga bawah lalu menatap Karina tajam. "Ini adalah ulah dari kekasihmu itu."
Karina kembali mendekat pada Alvin
"Alvin." Karina mencengkram lengan Alvin. Ia lalu menggelengkan kepalanya kencang. "Aku tidak... maksudku, bukan aku yang melakukannya."
"Ya, kau memang tidak melakukan apapun. Tapi kekasihmu itu yang melakukannya. Kalian bekerja sama bukan?" sindir Dave.
__ADS_1
Karina menggelengkan kepalanya. Ia menahan keduq lengan Alvin. "Kau harus mendengar penjelasanku dulu, Alvin."
"Aku... harus pergi." ujar Alvin tiba-tiba saja dengan pelan.
"Ya, kita pergi!" ujar Dave dingin. Kemudian dengan sekali tarik, tubuh Alvin langsung terbawa dalam langkah Dave.
"Dave tunggu!"
Setelah kepergian Alvin, Karina hanya terdiam di posisinya.
"Karina." seru Steve melangkah mendekat padanya.
Karina tak menjawab. Tubuhnya hanya diam membeku diposisinya, menatap bayangana Alvin yang mulai menghilang.
"Sayang?"
"Steve," Karina menatap Steve tajam. "Bukankah tadi aku sempat menitipkan ponselku padamu?"
"Karina-"
"Lalu, apa kau yang menghubungi Alvin dengan menggunakan ponselku?" sambung Karina.
Steve semakin mendekati Karina dan memengang kedua lengan gadis itu, "Sayang, aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang saja."
"Jadi benar? Memang kau yang menghubunginya tadi? Kau menjebaknya dan menggunakan namaku?"
"Sayang, dengar dulu-"
Karina tak berniat menjawab perkataan Steve itu.
"Sayang?"
Karina lalu menoleh pada Steve, menatap wajah kekasihnya itu selama beberapa detik masih dengan tatapan tajam, kemudian…
Plak!
Semua orang membatu di tempatnya saat tiba-tiba saja Karina menampar pipi Steve.
"Karina, kau-"
"Apa yang sudah kau lakukan, hah?"
"Karina, aku hanya."
"Tidak ada yang memberi dirimu hak untuk melakukan hal konyol ini padanya Steve. Terlebih lagi kau menggunakan namaku untuk menjebaknya."
Karina hendak melangkah pergi tapi di tahan oleh Steve.
"Lepas Steve!"
"Ada apa denganmu, Karina? Bukankah sebelumnya membuatnya terhina adalah hal menyenangkan bagi kita berdua."
"Ya, benar. Itu memang benar. Aku suka melakukan hal buruk padanya. Tapi itu dulu. Dan kali ini kau melakukannya tanpa memberitahu diriku lebih dulu."
"Benarkah hanya itu alasannya?"
"Tentu saja. Apalagi memangnya?"
"Jangan berbohong! Aku tau bukan hanya itu alasannya."
"Jika bukan karena itu apalagi memangnya. Bagiku, perbuatanmu ini memanglah keterlaluan."
"Keterlaluan? Cih, kau berlebihan. Sekarang aku jadi bertanya-tanya apakah kau masih menyukainya?"
"Apa sebenarnya maksudmu, Steve?"
"Maksudku adalah aku melihatmu bertemu dengannya. Aku tau kalau kau bicara dengannya. Dia menggodamu, kan?."
"Aku hanya bicara dengannya. Bukan berarti dia menggodaku. Sudah kujelaskan tapi kau tak mengerti juga."
"Aku tak suka kau dekat-dekat dengannya dan kau juga tak bisa mengerti itu."
Karina menatap Alvin jengah,"Baiklah, kalau kau tak suka, kau bisa meninggalkanku."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, lebih baik kita putus!"
***
__ADS_1