Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
57. Telepon Dari Karina


__ADS_3

Alvin yang hendak memakai jaketnya menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke area sekitarnya. Menatap satu persatu mobil yang terparkir.


Entah kenapa ia merasa seperti sedang diperhatikan oleh seseorang. Tapi tak ada siapapun di tempat itu yang menatap ke arahnya. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Area klub malam itu juga sudah sepi karena orang-orang sudah pulang


"Mungkin hanya perasaanku saja." gumam Alvin menggedikkan bahunya.


"Hai, Alvin!" tegur salah seorang rekan kerja dengan tiba-tiba memegang bahu Alvin saat ia hendak menyalakan mesin motor.


"Kau mengagetkanku, Rasyit."


"Kenapa kaget? Ah, kau pasti melamun lagi. Kau ini hobi sekali melamun, ya?"


"Siapa yang melamun."


"Kau, tentu saja."


"Tidak." protes Alvin.


"Ya, itu terbukti saat kau sedang tak melayani pelanggan kau lebih banyak melamun dan sekarang kau melamun lagi."


Alvin terkekeh. "Aku bukan melamun. Aku hanya tak ingin bicara."


"Seram sekali."


"Benar, jadi kau jangan coba-coba dekati aku saat aku diam. Kalau tidak kau akan kecewa karena bicara dengan angin." ujar Alvin tertawa.


Rasyit tertawa kemudian diam, tampak memikirkan sesuatu.


"Apa itu alasannya gadis itu tak mau menyerahkannya langsung padamu."


"Ya?" Alvin menaikkan sebelah alisnya. "Gadis apa?"


"Tunggu dulu." ujar Rasyit tampak mencari sesuatu di kantong celananya. "Ada titipan untukmu."


"Titipan?"


"Ini untukmu." ujar Rasyit menyerahkan selembar kertas pada Alvin, "Seorang wanita menitipkan ini padaku di dalam tadi."


Alvin mengerutkan alisnya. "Ini apa?"


"Kartu nama."


"Iya, aku tau ini kartu nama. Tapi untuk apa dia memberikan ini padaku?"


Rasyit memutar bola matanya malas. "Agar kau bisa menghubunginya. Memangnya apalagi."


"Dan untuk apa aku menghubunginya?"


"Kau serius menanyakan hal itu?"


"Berkenalan?" tebak Alvin yang langsung dibalas anggukan oleh Rasyit. Rasyit kemudian berbisik. "Aku rasa dia ingin berkencan denganmu."


"Benar."

__ADS_1


Alvin menghela malas kemudian menyerahkan lagi kartu nama itu pada Rasyit. "Ambil kembali ini."


"Hei, kenapa malah dikembalikan?"


"Aku tidak butuh ini." ujar Alvin memutar kunci motornya.


"Tapi dia ingin kau menghubunginya."


"Dan aku tak akan melakukan itu." tolak Alvin sembari menaikkan standar motornya.


"Kau menolaknya?"


Alvin hanya membalas dengan senyum simpul.


Rekan kerja Alvin itu tampak meringis, "Sayang sekali, Alvin. Kau menolak sumber uang. Jika itu aku, aku pasti akan langsung menghubunginya di detik pertama aku mendapatkan kartu namanya."


"Kalau begitu kau bisa menghubunginya."


"Ck, apa kau sedang menghinaku? Orang yang dia inginkan adalah kau. Pria paling tampan di klub ini. Jika aku yang menghubunginya dia akan menghinaku habis-habisan bahkan di detik pertama dia mengangkat teleponku."


Alvin tertawa mendengar hal itu. "Jangan berlebihan."


"Aku bicara tentang kenyataan, Alvin. Ngomong-ngomong aku mendengar pembicaraan teman-teman yang lain. Mereka bilang kau idola baru di antara para pengunjung."


"Idola apa. Berhenti bicara omong kosong Rasyit."


"Aku mengatakan apa yang aku dengar, Alvin." Rasyit menepuk bahu Alvin. "Dan jika kau mendapat banyak tip dari pengunjung, bisakah kau bagikan sedikit padaku. Pendapatanku kurang akhir-akhir ini."


"Kau semakin ngawur saja." ujar Alvin lagi. "Lebih baik aku pulang sekarang sebelum kau semakin bicara ngawur."


"Baiklah, hati-hatilah di jalan."


"Ya, selamat malam." ujar Alvin menyalakan mesin dan mulai melajukan motornya, pulang ke rumah.


***


Alvin melemparkan kunci motornya ke atas meja ruang tamu di hadapannya. Ia menghembuskan napasnya lelah. Bekerja hingga subuh seperti ini sungguh menyiksa dirinya.


Jujur saja, saat ini Alvin memang lelah. Tubuhnya meriang sejak bekerja tadi, kepalanya juga amat pusing. Ia tahu kalau harusnya ini waktunya untuk tidur dan beristirahat tapi ia tak bisa tidur.


Apa yang terjadi di klub malam tadi cukup berhasil mengusik dirinya. Mulai dari Evelyn, Daniel dan usaha pelecehan itu. Semua hal sungguh terasa mengejutkannya baginya.


Sembari meringis Alvin kemudian menutup kedua matanya, jarinya memijit pelan pangkal hidungnya.


Sepertinya Alvin memang sakit.


Alvin membuka mata kemudian bangkit dari sofa menuju kamar. Ia berniat membersihkan dirinya setelah pulang bekerja. Meski sakit, ia tetap harus membersihkan diri.


Beberapa saat kemudian Alvin telah selesai membersihkan diri. Tanpa mengeringkan rambutnya yang basah, ia langsung membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Dalam diam, Alvin mengingat kembali apa yang Daniel ucapkan padanya.


Evelyn menyukainya? Apa benar begitu? Sudut bibir Alvin terangkat. Ia berusaha menahan dirinya agar tidak tersenyum saat mengingat hal itu.

__ADS_1


Tapi bagaimana jika sebenarnya tadi Daniel sedang berbohong. Bagaimana jika itu hanya cara Daniel bersenang-senang?


Benar. Alvin harusnya jangan merasa senang dulu mendengar apa yang Daniel katakan padanya. Ah, memikirkan ini justru membuat kepala Alvin semakin sakit saja.


Alvin memejamkan kedua matanya. Ia menahan rasa sakit yang sejak tadi terus menyerangnya. Sudah beberapa saat, tapi sakit kepalanya belum juga berkurang justru semakin bertambah parah.


Sembari menghela napasnya panjang, Alvin membuka kembali matanya lalu mengambil ponselnya dari atas nakas. Selama bekerja, ia bahkan tak menyentuh ponselnya, sama sekali.


Alvin duduk tegak di atas kasur kamar tidurnya dan melihat satu per satu catatan panggilan di ponselnya. Alisnya tampak berkerut saat melihat nama Karina muncul dari nama-nama yang ada di catatan panggilan itu.


Sontak saja tubuh Alvin menegang. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, tampak tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Itu jelas sekali dari Karina.


"Kenapa Karina menghubungiku?" gumamnya.


Dan saat itu juga tiba-tiba saja ponselnya kembali berbunyi, ternyata Karina menelepon.


"Kenapa dia menelepon," gumam Alvin.


Untuk beberapa saat, Alvin merasa bingung pada dirinya sendiri. Haruskah ia mengangkat telepon itu atau tidak usah saja.


Alvin gelisah selama beberapa detik sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya saja.


"Alvin! Hai, aku-"


"Kenapa kau meneleponku, Karina?"


"Begini, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu."


"Tentang apakah ini?"


Karina terdiam.


"Apa ini tentang Evelyn?" tebak Alvin.


"Ya, tapi-"


"Karina, kalau kau ingin bicara tentang masalah yang sama lebih baik aku tutup saja teleponnya. Aku tidak ingin mendengar keluhanmu tentang Evelyn lagi. Jadi, lupakan saja kalau kau ingin membicarakan sesuatu yang buruk tentang Evelyn."


Alvin bicara dengan nada ketus. Alvin sungguh tak ingin mendengar apapun tentang Evelyn dari Karina.


"Tidak. Jangan di tutup, oke!" tahan Karina.


"Apalagi sekarang?"


"Sekali saja." pinta Evelyn dengan nada memohon pada Alvin. "Aku memang menghubungi dirimu untuk membicarakan sesuatu tentangnya. Bisakah kita bicara satu kali saja."


Alvin memejamkan matanya. Hari ini sudah cukup penat untuknya. Ia berharap Karina tak membuatnya semakin sakit kepala.


"Baiklah." jawab Alvin memberi kesempatan sekali lagi. "kau mau bicara tentang apa?"


"Bisakah kau buka pintu rumahmu dulu?"


"Apa?"

__ADS_1


"Buka pintu rumahmu. Aku ada di luar."


***


__ADS_2