
"Mau sarapan dulu?" tawar Daniel, sementara matanya masih fokus menatap ke jalanan di depannya.
Evelyn yang tengah memainkan ponselnya menoleh pada Daniel. "Kau lapar?"
"Lumayan. Kau mau kita cari makan dulu?"
"Tak masalah." jawab Evelyn sembari menganggukkan kepalanya pelan. "Boleh saja."
"Kau pasti belum sarapan juga, kan?"
"Ya, memang belum." jawab Evelyn memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Aku baru selesai mandi setelah berolahraga saat kau datang ke rumahku."
"Benarkah?"
"Ya, aku bahkan sama sekali belum menyentuh sarapanku tadi."
"Bagus kalau begitu." kata Daniel mengerem mobilnya setelah melihat lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah. "Kebetulan aku punya rekomendasi restoran yang harus kau coba."
"Serius?"
"Ya,"
"Enak tidak?"
"Menurutku ini juara. Aku belum pernah menemukan yang lebih enak dari ini. Selain itu, makanannya juga enak dan bersih."
"Ya, kalau begitu aku mau coba juga." ujar Evelyn menganggukkan kepalanya. "Dimana restorannya?"
"Aku akan mengajakmu kesana pagi ini juga." ujar Daniel melajukan mobilnya menuju restoran yang ia maksud barusan.
Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di restoran yang Daniel maksud.
"Bagaimana makanannya?" tanya Daniel menyuap makanan ke dalam mulutnya. "Enak, kan?"
"Lumayan."
Daniel menaikkan sebelah alisnya, "Lumayan?"
"Ya," Evelyn mengangguk enteng.
__ADS_1
Hal itu membuat Daniel mendecih.
"Yang benar saja." ujar Daniel.
"Ada apa?"
"Ayolah, Eve." Daniel meletakkan sendok dan garpu ke atas piring. "Ini makanan yang sangat pantas untuk di acungi jempol. Bukankah luar biasa? Mereka baru saja buka tapi bisa menyuguhkan makanan seenak ini."
Evelyn menggedikkan bahunya, "Tapi bagiku ini memang hanya lumayan, Daniel."
"Ck, kenapa susah sekali menaklukan seleramu yang tinggi itu. Lain kali aku tak akan bereskpektasi tinggi tentang pendapatmu." Daniel menggelengkan kepalanya, menatap tak percaya pada Evelyn.
"Benar, lain kali kau harus mengingatnya agar tak mudah kecewa. Tak mudah membuatku puas tentang sesuatu."
"Ya, benar. Tak perlu tentang makanan. Bahkan laki-laki saja tak banyak yang bisa membuatmu senang, kan." Sindir Daniel.
Evelyn memutar bola matanya malas. "Kau sedang membahas topik yang berbeda, Daniel."
"Tidak, aku sedang membahas seleramu." balas Daniel. "Sejauh ini hanya ada satu orang yang bisa masuk kriteriamu. Omong-omong kapan kau akan mengajak orang itu makan bersama dengan aku dan Ziva?"
"Siapa?"
"Kau tau benar siapa yang aku maksud."
"Ya, bersama Ziva juga. Aku yakin Ziva juga pasti penasaran dengannya."
Evelyn mengerutkan dahinya.
"Tak biasanya kau mau makan bersama dengan orang asing."
"Ayolah, dia bukan orang asing. Lagipula sebagai sahabatmu aku menyukainya. Dia pemuda yang baik. Jika kami bertemu, aku bisa memperingatkannya agar berhati-hati denganmu "
"Apa maksudmu dengan berhati-hati denganku, memangnya aku kenapa?"
"Kau yang begini."
"Begini bagaimana? Bicara yang jelas, Daniel.
"Tidak. Lupakan saja." Daniel mengibaskan tangannya. "Intinya aku ingin kau mengajaknya agar kami bisa bertemu."
__ADS_1
Evelyn menatap Daniel selama beberapa detik sebelum menganggukkan kepalanya.
"Aku akan coba mengajaknya lain kali."
"Ya, kau ajak saja dia di pertemuan kita selanjutnya nanti." ujar Daniel senang. Namun tiba-tiba saja Daniel mendapat ide. Pemuda itu lalu menjentikkan jarinya, "…atau kau cukup katakan saja dimana alamat rumahnya."
"Aku bahkan tidak tahu dimana rumahnya. Kenapa memangnya?"
"Yah, kupikir aku bisa membantumu untuk menjemputnya nanti."
"Apa? Kau mau menjemputnya."
"Tentu saja, kenapa tidak." ujar Daniel diam sebentar, tampak berpikir kemudian mencondongkan tubuhnya pada Evelyn.
"Bagaimana kalau sekarang saja." ujarnya lagi.
"Apa yang sekarang?"
"Dia makan bersama kita disini. Di restotan ini. Bagaimana?"
Evelyn nyaris tersedak ludahnya sendiri.
"Kalau kau mau aku bisa menjemput Alvin kesini sekarang juga. Kau cukup katakan dimana rumahnya. Aku bisa pergi untuk menjemputnya."
"Jangan macam-macam, Daniel." omel Evelyn.
***
Evelyn keluar dari mobil dengan senyum tipis. Ia menatap jam di tangannya sebentar sebelum kemudian membungkuk untuk melihat kembali ke dalam jendela mobil.
"Terima kasih sudah mengantarkan aku ke kampus hari ini." kata Evelyn pada Daniel sembari menyampirkan tas selempangnya.
Daniel merespon dengan anggukan sementara matanya menatap ke dalam kampus Evelyn. "Kau yakin tidak ingin aku antar langsung ke gedung fakultasmu saja?"
"Tidak perlu." tolak Evelyn. "Aku bisa jalan kaki dari sini."
"Oke." Daniel mengangguk kecil. Ia menyalakan kembali mesin mobilnya. "Aku pergi dulu."
Evelyn mengangguk. "Selamat tinggal."
__ADS_1
"Selamat tinggal."
***