
"Bukankah rugi bagi kita membayar biaya semester jika dosennya saja tak masuk kelas seperti ini." omel Dave seraya memasukan perlengkapan kuliahnya ke dalam tasnya.
Baru saja ada pemberitahuan kalau dosen yang akan mengajar di jam terakhir tak dapat hadir.
Alvin yang juga tengah memasukkan bukunya hanya menggedikkan bahunya santai. "Ya, rugi memang. Uang kita jadi sia-sia. Tapi mau bagaimana lagi?"
"Ya, setidaknya dia tetap hadir mau seburuk apapun harinya. Jika itu kita, dia pasti tak akan peduli dan tetap mencoret nama kita di buku absensi."
"Dan lebih parahnya lagi, kita di beritahu jika dia tak ada lima belas menit sebelum jam pulang. Dasar menyebalkan."
"Mau protes pun kita tak bisa."
"Benar. Mau protes pun hanya kita berdua saja yang tak suka. Teman-teman yang lain tampaknya biasa saja."
Alvin dan Dave mengedarkan pandangan mereka ke teman-temannya.
"Maksudku, hanya dia dosen yang jarang sekali masuk dan mengajar. Bayangkan saja Vin, dalam sebulan sudah dua kali dia tak hadir di jam kuliah kita. Buang-buang waktu saja kalau begini."
Tepat saat itu, ponsel yang ada di kantong Alvin berdering, notifikasi pesan masuk. Dengan cepat Alvin meraih ponselnya dan membaca pesan itu.
Beberapa detik ia tampak mengerutkan alisnya sambil membaca isi pesan itu. Dave bisa melihat raut wajah Alvin yang berubah.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Dave heran.
Alvin hanya diam, tak menjawab apapun. Hal itu membuat Dave jadi penasaran.
"Vin? Kau baik-baik saja, kan?"
"Pesan ini." gumam Alvin.
"Pesan apa?"
"Maksudku, ini adalah pesan dari Karina." ujar Alvin masih menatap layar ponselnya.
Dave sontak menaikkan sebelah alisnya, menatap tak suka. "Karina?"
"Ya."
"Oke, lalu apa?"
"Karina ingin bertemu denganku." lanjut Alvin sambil memasukkan ponselnya ke dalam kantong jaketnya. Dengan gerakan cepat ia memasukan barang kuliahnya ke dalam tas.
"Ingin bertemu denganmu?" Dave menatap gerakan buru-buru Alvin dengan bingung. "Tapi untuk apa?"
"Dia bilang dia membutuhkanku. Saat ini dia sedang dalam masalah besar."
"Masalah apa?"
__ADS_1
"Beberapa orang mengganggunya di taman belakang kampus."
"Lalu apa hubungannya dengan dirimu?"
Alvin menghentikan gerakannya mengepak isi tas dan menghela napas. "Dia minta tolong padaku, Dave."
"Ya, aku tau dia sedang minta tolong padamu. Tapi maksudku, kenapa harus kau? Dia kan punya pacar bertubuh besar yang bisa membantunya dengan mudah. Lalu kenapa malah meminta dirimu datang ke sana?"
Sejujurnya, Dave bukannya ingin ikut campur. Tapi Alvin adalah sahabat baiknya. Dan bagi Dave, Karina adalah mantan kekasih Alvin yang tidak di sukai sama sekali oleh Dave.
"Mana aku tahu." Alvin menjawab kesal.
"Tidak, tidak." Dave menahan Alvin. "Kalau begitu kau biarkan saja dia cari bantuan lain saja."
"Kau gila? Dia dalam bahaya, Dave. Tapi kau malah memintaku untuk membiarkannya sendirian saja di sana, begitu?"
"Ya, itu karena kalian tak ada hubungan apa-apa."
"Tapi membantu orang lain adalah kewajiban. Tak perlu punya hubungan apa-apa."
"Dan membantu orang lain juga harus mengetahui orang seperti apa. Masalahnya ini adalah Karina, si gadis ular, Vin."
"Aku pergi.." ucap Alvin setelah menutup resleting tasnya dengan buru-buru tanpa menjawab perkataan Dave sebelumnya.
"Tunggu!" tahan Dave.
"Apa?"
Alvin menghentikan langkahnya dan menoleh pada Dave. Alvin menatap lekat Dave yang saat ini juga tengah menatapnya.
"Kenapa?" tanya Dave.
"Tidak Dave. Kau tidak akan ikut. Aku akan pergi sendiri ke sana."
"Kenapa aku tak boleh ikut?"
"Karina memintaku datang sendiri. Dia tak ingin ada keramaian di sana yang akan membuatnya malu." ucap Alvin pada Dave.
"Dia diganggu orang tapi tak ingin mendapatkan pertolongan?" Dave menatap penuh curiga.
"Dia ingin di tolong, tapi-"
"Tapi hanya kau yang boleh kesana." potong Dave.
"Ya, dia tak ingin di ketahui orang."
"Itu dia masalahnya, Alvin. Karina butuh bantuanmu karena di ganggu preman. Tapi hanya kau yang datang. Bukankah lebih banyak orang akan lebih baik dalam mengusir preman." Ujar Dave, yang kemudian berbisik pada Alvin.. "Bukankah ini aneh?"
__ADS_1
"Aku tidak punya waktu untuk perdebatan ini, Dave." ujar Alvin membenarkan tali tasnya.
"Aku sedang tidak mengajakmu berdebat, Alvin. Tapi aku sedang menyadarkanmu kalau ada yang aneh dari semua ini."
"Aku pergi dulu." ujar Alvin acuh.
"Ayolah Alvin, sadarlah!" ujar Dave menahan lengan dari sahabatnya itu. "Apa kau lupa? Kalian itu sudah putus."
"Dave, Karina pernah menolongku satu kali saat aku sakit. Itu sebabnya aku berhutang budi padanya."
"Alvin, dengar dulu!"
"Apalagi, Dave?"
"Aku harus mengatakan padamu kalau kali ini entah kenapa perasaanku terasa tidak enak."
"Tidak enak?" ucap Alvin menatap dengan wajah heran pada Dave.
Dave menganggukkan kepalanya pelan. "Aku merasa ini adalah hal yang aneh."
Dave tak berbohong. Dalam hatinya berkata Alvin tak boleh pergi. Dan sekalipun Alvin pergi, Dave juga harus ikut menemaninya untuk memastikan kalau sahabatnya itu akan baik-baik saja.
"Kau hanya bereaksi berlebihan, Dave." ucap Alvin sambil menggeleng, ia lalu mengibaskan tangannya. "Tenang saja. Nanti kalau urusanku sudah selesai, aku akan langsung menghubungimu." kata Alvin dengan senyuman.
"Tapi Alvin.." cegah Dave sekali lagi mencoba untuk menahan Alvin.
"Apalagi, Dave?" Alvin menatap Dave jengah. Ia sungguh tak tahan lagi sekarang. Sahabatnya ini sungguh bertingkah seperti bodyguard-nya saja.
Sementara Dave, pemuda itu terlihat begitu khawatir membiarkan sahabatnya itu pergi seorang diri, "Kau harus menghubungiku. Kalau tidak aku akan segera untuk menyusulmu." ungkap Dave pada Alvin.
"Aku akan menghubungimu." ujar Alvin kemudian melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
Dave saat ini masih berdiri lemas, matanya terus menatap kepergian Alvin.
Jika boleh jujur, hatinya saat ini benar-benar tak tenang. Ya, sebenarnya hatinya tak pernah tenang jika Alvin berurusan dengan Karina.
Bagi Dave, selama ini Karina hanya memberi Alvin segala jenis kesusahan.
Dave menghela napasnya dalam-dalam, "Sudah bagus mereka putus. Lantas kenapa Karina meminta Alvin untuk menemuinya lagi, sih?
Setibanya di tempat yang di maksud, Alvin bingung karena tak melihat Karina. Alvin menatap ke area sekitarnya. Namun yang terlihat hanya beberapa mahasiswa yang lalu lalang dan tak ada penampakan dari Karina.
"Apa aku sudah terlambat?" gumam Alvin sambil terus menoleh kanan dan kirinya.
"tidak..." seru seseorang dari arah belakang. "Kau sangat tepat waktu."
Alvin sontak menolehkan pandangannya ke sumber suara di belakangnya. Namun Alvin mengernyit bingung saat melihat Steve, kekasih dari Karina berdiri tepat di hadapanya.
__ADS_1
Pemuda itu menatapnya dengan senyum sinis sambil memantul-mantulkan bungkusan plastik hitam yang ada di tangannya.
***