Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
64. Masih Memiliki Rasa


__ADS_3

"Berhentilah mengikutiku, Karina!" ujar Alvin kesal saat menyadari Karina tengah mengikutinya menuju parkiran kampus setelah jam kuliah berakhir.


"Aku hanya ingin bicara."


"Apapun alasannya, kau sungguh sangat mengganggu dengan mengikutiku begini."


Karina tampak tak peduli. Gadis itu tetap mengikuti Alvin, berjalan di belakang pemuda tampan itu.


"Kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku? Aku meneleponmu sejak tadi pagi."


Alvin mendecih, "Memangnya untuk apa aku mengangkat telepon darimu?"


"Untuk mengurangi rasa khawatirku."


Alvin menghentikkan langkah kakinya dan menatap Karina heran. "Apa?"


"Aku khawatir padamu, Alvin. Dan aku ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Kau semalam demam tinggi, tapi kenapa hari ini kau sudah masuk kuliah saja."


"Bukan urusanmu."


Setelah mengatakan itu, Alvin melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan Karina.


Tapi sepertinya Karina tak peduli. Gadis itu mengikuti Alvin seolah pemuda itu tak


"Alvin!"


"Berhentilah mengikuti aku Karina!" ujar Alvin jengah. "Apalagi yang kau mau dariku. Berhentilah menerorku seperti ini. Dan urus saja urusanmu sendiri."


"Kenapa kau tak mau bicara padaku?"

__ADS_1


Alvin tak menjawab dan terus saja melangkahkan kakinya. Ia bisa saja mengatakan pada Karina untuk jauh-jauh karena tak ingin mencari masalah dengan Steve. Tapi Alvin memilih diam. Ia memilih untuk merahasiakan perlakuan Steve padanya. Ia tak suka mengatakan hal-hal tak penting.


"Alvin!"


"Apa?" Alvin jengah.


"Berhentilah menghindar dan bicaralah padaku!"


"Aku tak ingin bicara apapun padamu. Tak ada hal yang perlu kita bicarakan."


Karina menatap Alvin yang masih tak mau berhenti dan menanggapi dirinya.


"Tadi malam."


Alvin kembali menghentikan langkahnya.


"Malam dimana aku merawatmu saat kau sakit. "Kau mengigau tentang aku."


Karina melanjutkan dengan senyum. "Kau mengigau, Alvin. Kau mengatakan kalau kau masih sangat mencintaiku dan bertanya kenapa aku menyia-nyiakan cintamu."


Mata Alvin membesar. Ia seolah baru mendapat informasi mengejutkan.


"Tidak perlu kaget." Kata Karina, tampak tenang. "Ini bukan hal yang mengejutkan. Kita pernah menjalin hubungan. Itu sebabnya aku tahu kau pasti belum bisa melupakan aku sepenuhnya."


Alvin menundukkan pandangannya.


"Kenapa malah diam? Apa kau tak percaya dengan perkataanku?"


Alvin tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya, tak percaya.

__ADS_1


"Tidak."


Karina mendecih, "Aku memang tak punya bukti. Tapi aku mendengarnya sendiri langsung dari mulutmu."


Karina menatap mata Alvin.


"Kau masih mencintaiku. Benar kan?" Karina bertanya penuh selidik. "Aku tahu kau masih mengharapkan aku."


Tubuh Alvin membeku. Benarkah ia melakukan itu saat sakit semalam. Namun buru-buru ia mengalihkan pandangannya dari Karina dan memandang ke arah lain.


Ia mengambil helm dari motornya dan hendak memakainya. Namun Karina dengan cepat memegang kedua lengan Alvin.


"Hei, Alvin. Jawab dulu pertanyaanku. Kau masih mencintaiku kan?"


Alvin diam beberapa saat, berpikir. Apakah benar kalau ia mengigau tentang Karina.


"Kau masih mengharapkan kita kembali bersama, kan?"


Alvin lalu mendengus. Ia menggelengkan kepala lalu melepaskan pegangan Karina pada lengannya.


"Kau mengada-ada Karina." ujar Alvin tersenyum kecut. "Sekarang minggir! Aku mau pulang."


Setelah mengatakan itu, Alvin dengan cepat mengenakan helmnya. Ia naik ke atas motor lalu menyalakan mesin motornya.


Alvin kemudian melajukan motornya dan menghilang di balik pintu gerbang kampus.


Karina sama sekali tidak menghentikannya lagi karena sibuk tersenyum. Entah kenapa ia yang awalnya kesal karena Alvin terus mengabaikannya menjadi lebih percaya diri.


Gadis itu tersenyum semakin lebar. "Aku yakin kalau dugaanku benar. Alvin masih memiliki rasa padaku."

__ADS_1


***


__ADS_2