
Alvin memberhentikan motor yang ia kendarai di dekat kedai bubur ayam langganannya. Ia mematikan mesin motornya dan hendak turun.
"Alvin!"
Gerakan Alvin terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia menoleh ke sumber suara dan terkejut saat melihat seorang gadis cantik berdiri menyandar ke pintu mobilnya sembari melambaikan tangan padanya.
"Hai!" sapa gadis itu lagi.
Alvin hanya diam melongo di atas motornya. Ia bingung sekaligus heran. Sedang apa Evelyn ada di sini?
Evelyn melangkahkan kakinya, mendekati Alvin dengan senyum cerahnya.
"Nona Evelyn?"
"Kau memanggilku nona lagi?"
"Maaf."
"Evelyn saja, tolong." ujar gadis itu mengibaskan tangannya. "Kau itu kan temanku, bukan pelayan di rumahku. Aku bukan majikanmu, ingat?"
Alvin menganggukkan kepala sembari menggaruk tengkuknya. Ia perlahan turun dari motornya dan melepas helm yang ia kenakan dan kembali menatap Evelyn.
"Sedang apa anda di sini?"
"Makan."
"Hah?"
"Ini kan kedai bubur ayam, Alvin. Tentu saja aku kesini karena aku mau makan. Apalagi memangnya?"
"Benar juga." Alvin tersenyum canggung.
"Kau juga mau makan, kan?"
"Ah, benar."
"Kalau begitu, ayo. Aku sudah lapar sekali. Aku menunggumu sejak tadi di sini. Kau lama sekali datangnya." ujar Evelyn menarik tangan Alvin.
"Anda menungguku?"
"Ya, aku ingin makan bersama. Kau tahu? Daritadi pembeli bubur ayamnya selalu penuh dan aku takut kehabisan. Jelas aku tak ingin kehabisan dan sia-sia menunggumu." Evelyn terkekeh.
Seperti sudah sering kemari, Evelyn dengan cepat memesan bubur ayam dan dua es teh untuk mereka. Alvin menatap lucu tingkah sok tahu Evelyn karena mengetahui gadis itu baru dua kali datang kesini.
Jujur saja, sebelumnya Alvin masih merasa sakitnya semalam belum hilang. Tapi begitu melihat Evelyn, ia jadi bersemangat, seperti kembali sehat lagi.
"Kenapa anda menungguku." tanya Alvin berusaha mencari topik pembicaraan.
"Karena aku ingin mentraktirmu."
"Memangnya ada acara apa anda mentraktirku? Anda sedang ulang tahun?"
"Bukan."
"Merayakan keberhasilan sesuatu?"
"Tidak."
__ADS_1
"Lantas?"
"Kenapa kau bertanya. Tentu saja karena kita adalah teman. Bukankah ini yang di lakukan oleh teman? Mentraktir teman yang lain." jelas Evelyn.
"Ah, itu rupanya."
"Memangnya kau lupa, kita kan sudah berteman sekarang."
"Benar juga." Alvin mengangguk.
Tepat saat itu pesanan mereka datang. "Ini makanannya." ujar sang penjual.
"Terima kasih, paman." ujar Alvin ramah.
Evelyn dan Alvin segera menyantap bubur ayam itu dengan lahap.
"Aku yakin, lama-lama aku pasti semakin suka dengan makanan ini." ujar Evelyn terkekeh, menunjuk mangkuk miliknya.
Alvin mengangguk. "Makanan ini sangat enak, siapa yang bisa menolaknya."
"Benar." jawab Evelyn.
Tepat saat mereka tengah berbincang sembari menikmati bubur ayam itu, perhatian Alvin tersita oleh penjual bubur yang nampaknya tengah berbincang dengan pembeli lain.
Alvin bisa mendengar sang penjual yang tengah bercakap santai dengan pembeli lain yang hendak membayar.
"Nona yang di sana sudah membayar semua porsi bubur ayam hari ini. Dia meminta saya menggratiskan bubur ayam saya untuk pembeli lain." ujar sang penjual menunjuk ke arah Evelyn.
Alvin yang mendengar itu sontak menoleh pada Evelyn. "Anda benar sudah membayar semua porsi bubur ayam di sini?"
"Ya, memang benar. Aku tadi mengatakan pada penjualnya kalau aku ingin makan dengan temanku."
"Tapi kenapa harus dibeli semua?"
"Ya, karena aku tak ingin makanan yang dia jual habis. Jadi ku beli saja."
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Alvin tiba-tiba saja tersedak makanan yang ada di dalam mulutnya sendiri setelah mendengar perkataan yang Evelyn lontarkan. Ia terkejut saat mengetahui alasan Evelyn memesan semua porsi adalah untuk makan dengan dirinya.
Tangannya buru-buru terarah pada gelas di hadapannya dan langsung menenggak habis minuman itu.
Alvin meletakkan gelas minuman itu ke atas meja dengan bantingan kasar sementara sebelah tangan yang lain memukul-mukul dadanya.
"Kau baik-baik saja." Evelyn terlihat khawatir. "Masih butuh minuman lagi?"
"Tidak, nona jawab aku dulu. Nona serius membayar semua bubur ayamnya?" tanya Alvin.
"Serius."
"Semuanya, nona?"
Evelyn mengangguk dan sumringah. "Iya."
"Nona bercanda, kan?"
"Tidak. Sudah ku bilang padamu kan tadi. Pembelinya terlalu banyak dan aku tak ingin kehabisan. Aku tidak ingin gagal mentraktirmu, jadi aku memutuskan untuk membeli saja semua bubur ayamnya."
__ADS_1
"Nona, kita hanya butuh dua mangkuk untuk makan. Tapi kenapa-"
"Aku ingin makan dengan temanku. Jika buburnya habis kita akan makan apa?" Evelyn dengan santai mengaduk minumannya dengan sedotan lalu menyeruputnya sedikit. "Kurasa tak ada yang salah dengan itu."
Alvin tersenyum miris. Hal konyol apa ini? Baiklah, memang tak ada yang salah dengan itu. Itu adalah uang Evelyn. Tapi ini berlebihan.
Kenapa Evelyn harus melakukan hal sejauh ini untuk pertemanan. Mudah sekali dia mengeluarkan uang banyak hanya untuk makan siang. Entah kenapa tiba-tiba saja perut Alvin terasa mulas.
"Kau sakit perut?" tanya Evelyn melihat Alvin yang tengah memegang perutnya dengan sebelah tangan.
"Tidakkah anda terlalu berlebihan dengan ini?" Alvin tak menjawab pertanyaan Evelyn dan balik bertanya.
Evelyn menatap heran kemudian menggeleng. "Tidak. Mengeluarkan uang segitu tak masalah untukku."
Alvin seketika tersadar.
Evelyn kan bukan gadis biasa. Untuk mengeluarkan uang segitu tak akan mengganggu harinya sama sekali.
Sembari menggelengkan kepalanya, Alvin tersenyum tak percaya. Ia jadi merasa sedikit tak enak karena membuat Evelyn mengeluarkan banyak uang. Meski gadis itu bilang tak masalah tetap saja Alvin merasa tak enak.
Dua kali makan bersama selalu Evelyn yang membayar. Alvin harusnya membalas mentraktir Evelyn lain kali.
"Kita berpisah di sini!" ujar Evelyn setelah mereka keluar dari kedai bubur ayam itu.
Alvin mengangguk setuju, "Ngomong-ngomong terima kasih traktirannya hari ini."
"Tak masalah. Kita harus sering makan bersama seperti ini. Kau tau, ini menyenangkan untukku.
"Ya, kita makan lain lain kali." ujar Alvin. "Tapi-"
"Ya? Tapi kenapa?"
"Tapi bisakah lain kali anda biarkan aku saja yang mentraktir anda?"
Dengan cepat Evelyn mengangguk. "Setuju."
"Dan aku tidak ingin anda melakukan hal seperti ini lagi."
"Tapi kenapa?"
"Untuk makan siang berdua anda tidak harus mentraktir orang satu kampung, kan?"
Evelyn terkekeh.
"Aku sungguh tak masalah dengan itu. Hitung-hitung sedang berbagi."
Alvin menghela. "Intinya lain kali biarkan aku yang traktir."
"Baiklah, baiklah." ujar Evelyn. "Ngomong-ngomong sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku ada janji temu dengan teman-temanku setengah jam lagi."
"Oh, kalau begitu aku juga pamit." balas Alvin.
"Aku pergi dulu." Evelyn melambaikan tangannya kemudian melangkahkan kakinya menuju mobilnya
Sementara Alvin menaiki motornya. Ia juga harus lebih cepat sampai ke rumah untuk mengerjakan tugas kuliah dan juga beristirahat karena harus pergi bekerja beberapa jam lagi.
***
__ADS_1