
Saat itu pukul sepuluh pagi saat Evelyn dibangunkan oleh suara teleponnya yang berdering. Ia membuka matanya perlahan, namun segera menutupnya kembali saat merasa silau oleh cahaya yang masuk ke kamarnya melalui celah gorden.
Evelyn membuka kembali matanya setelah mulai terbiasa.
"Uh kepalaku, sakit sekali." desis Evelyn saat merasakan sakit yang tak tertahankan di kepalanya.
Gadis itu tampak mengangkat tangannya untuk memijit keningnya perlahan, berharap sakit yang menyerang kepalanya bisa berkurang. Evelyn yakin, jika dilihat dari kondisinya saat ini, bisa dipastikan kalau semalam ia pasti mabuk berat.
"Pasti aku terlalu banyak minum semalam." gumam Evelyn sembari menggelengkan kepalanya lelah.
"Huek," Evelyn menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Aku mual dan perutku terasa tak enak."
Menyadari kondisinya sedang dalam tak baik-baik saja, Evelyn meruntuki dirinya sendiri. Bukankah terakhir kali ia sudah bertekat untuk berhenti minum. Tapi apa ini, ia malah membiarkan dirinya mabuk berat lagi. Semua ini ia lakukan karena Ziva yang mengajaknya. Evelyn menggelengkan kepalanya sembari menghela napas. Jika itu orang lain, Evelyn tak akan bersedia minum banyak.
Gadis itu lalu mengedarkan pandangan ke area sekitarnya dan mengerutkan alisnya, merasa heran saat menyadari kalau ini adalah kamarnya sendiri.
"Aku di rumah ternyata?" gumamnya heran.
Tentu saja Evelyn heran.
Awalnya ia sempat berpikir kalau ia terbangun di kamar hotel atau mungkin di jalanan. Pikirkan saja, bagaimana ia bisa sampai di rumah dalam kondisi mabuk berat?
Jangankan untuk berhasil sampai di rumah dengan selamat, menyetir dengan benar saja ia pasti tak akan mampu. Lantas bagaimana caranya dia bisa pulang dan bangun dengan nyaman di tempat tidurnya?
Sembari menahan sakit pada kepalanya, Evelyn bergerak untuk mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur. Evelyn menuang air putih yang berada di atas nakas di samping tempat tidur ke dalam gelas dan meminumnya.
Masih merasakan sedikit pusing, Evelyn memilih untuk kembali memijit kening dan memejamkan kedua matanya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, mencoba menghilangkan rasa penat yang melanda hati dan pikirannya.
"Siapa yang mengantarkan aku pulang semalam? Kenapa aku tak ingat?" batin Evelyn..
Evelyn menghela. Apa-apaan ini. Sekacau apa sih dirinya hingga siapa yang sudah membawanya pulang saja ia sampai tak ingat.
__ADS_1
Apakah Ziva sahabatnya yang sudah membawanya pulang? Tapi itu jelas tidak mungkin. Ziva mana mungkin mampu mengangkat tubuhnya. Evelyn menggeleng. Bukan. Jelas bukan Ziva. Kalau begitu, siapa? Apakah kekasih Ziva yang sudah membantu membawanya pulang?
"Bisa jadi, bukan?" gumam Evelyn.
Evelyn menegak kembali air putih di gelas yang ia pegang saat tiba-tiba saja sebuah gambaran tentang apa yang terjadi semalam muncul di kepalanya. Sebuah bayangan yang membuat Evelyn terkejut pada dirinya sendiri.
Itu adalah bayangan di saat ia menarik dan mencium seorang pemuda asing dengan 'rakus'nya.
"Uhuk! Uhuk!" Evelyn tersedak air minumnya sendiri setelah mengingat sikap kurang ajar yang sudah ia lakukan semalam.
Dalam kondisi mábuk, ia pasti sudah berbuat hal konyol lagi dengan mencium seseorang tanpa tahu siapa dia.
"Apa yang aku lakukan? Mencium orang asing? Aku pasti sudah sint!ng" omelnya.
Evelyn mencoba menajamkan ingatannya, mencari tahu tentang apa yang terjadi semalam. Ia semakin mengerutkan dahinya, terus berusaha dengan keras mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Sembari memutar tubuhnya, mata Evelyn tampak melihat ke area sekitarnya, tampak mencari seseorang. Mungkin saja dirinya membawa seseorang ke rumahnya, sama seperti yang sudah ia lakukan saat liburan di Bali waktu itu. Dan untungnya tak ada siapa-siapa di kamar itu.
Evelyn lalu melirik ke bawah, menatap pakaian yang ia kenakan saat ini. Ini jelas masih gaun yang sama dengan yang ia kenakan semalam.
Tapi tunggu dulu! Apa ini? Kenapa dia memakai jaket? Jaket siapa pula yang sedang ia kenakan saat ini?
Evelyn kembali mengernyitkan alisnya. Ia jadi semakin bingung saja sekarang. Evelyn melepas jaket itu lalu menatapnya dengan lekat. Bagaimana ia bisa mengenakan pakaian asing ini. Milik siapakah ini? Dan tunggu! Wanginya... ah... Evelyn bisa mencium aroma yang tertinggal di jaket itu.
"Siapa pemilik jaket ini. Kenapa ini wangi sekali. Apa ini wangi tubuh pemiliknya?" gumamnya sembari kembali menghirup wangi dari jaket itu.
Namun di detik selajutnya, Evelyn buru-buru menggelengkan kepalanya saat menyadari hal konyol yang baru saja ia lakukan.
"Apa yang aku lakukan?" gumam Evelyn merasa heran dengan dirinya sendiri. "Harusnya aku tidak melakukan ini. Harusnya aku mencari tahu siapa pemilik jaket ini, bukan malah mengaguminya begini."
Evelyn menatap jaket itu lekat-lekat.
__ADS_1
"Siapapun pemilik jaket ini, bisa jadi dia adalah seseorang yang sudah aku cium sembarangan semalam. Aku akan mencari tahu tentang ini." ujar Evelyn lagi sambil melempar jaket itu ke atas ranjang yang ada di sebelahnya.
Evelyn memutuskan untuk mengurus jaket itu lagi nanti karena sekarang ia harus mengurus dirinya sendiri lebih dahulu. Ia butuh membereskan penampilannya yang bisa ia tebak pasti terlihat sangat kacau.
Evelyn dengan perlahan mencoba bergerak dari posisinya, turun dari tempat tidur, kemudian dengan langkah hati-hati berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Beberapa saat setelah selesai membersihkan dirinya, Evelyn duduk dan mematut dirinya di depan cermin rias-nya. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Evelyn menatap pantulan dirinya sendiri dengan pandangan heran.
Sejujurnya Evelyn masih merasa penasaran dengan bagaimana caranya dia bisa sampai di rumah? Apakah benar Ziva yang sudah membantunya sampai ke rumah ini? Tapi mana mungkin gadis itu kuat membawanya seorang diri.
"Apakah Ziva dibantu kekasihnya untuk membawaku pulang ke rumah? Kalau memang benar, haruskah aku mengucapkan terima kasih padanya." gumam Evelyn.
Evelyn menghela napasnya pelan, entah kenapa ia tidak bisa mengingat apapun saat ini. Namun, detik selanjutnya Evelyn menghentikkan kegiatannya mengeringkan rambutnya.
"Haruskah aku menanyakannya sendiri pada Ziva?" gumam Evelyn. Namun ia dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Ini bahkan bukan hal yang penting untuk ditanyakan pada Ziva."
Evelyn lalu memutar kepalanya, menatap kembali pada jaket yang masih berada di atas tempat tidurnya.
Dan tiba-tiba saja Evelyn tersadar kalau itu jelas sekali bukan jaket milik kekasih Ziva. Seingatnya kekasih Ziva bahkan tidak pernah menggunakan model jaket seperti itu. Lalu apakah masih bisa dikatakan kalau itu memang milik kekasih Ziva? Sepertinya bukan.
Lalu, apakah jaket itu milik seseorang yang sudah ia cium dengan sembarangan semalam?
Evelyn menyerah dengan segala rasa penasarannya. Ia lalu mencari tasnya yang ternyata berada di atas nakas. Ia bahkan tak tahu dimana terakhir kali meletakkan ponselnya. Dengan malas ia lalu melangkahkan kaki menuju nakas untuk meraih tas miliknya.
Evelyn lalu membuka tas dan mengambil ponselnya. Dan begitu ia membuka ponselnya, terlihat begitu banyak pesan yang berasal dari teman-teman dari grup sosialitanya yang ingin mengajaknya pergi berbelanja.
"Ah, aku terlalu malas untuk pergi." ujarnya dengan malas lalu melempar ponselnya ke sebelah bantalnya. "Aku tidak akan pergi berbelanja hari ini."
Evelyn memutuskan untuk mengakhiri pemikirannya dan bersiap keluar dari kamarnya menuju ruang olahraga yang berada di dekat taman belakang rumahnya. Ia harus berolahraga agar tubuhnya tidak terasa lemas.
***
__ADS_1