
Alvin hanya bisa menatap Daniel yang saat ini tengah menambah mangkuk ke tiganya.
Pada awalnya, Alvin berpikir orang seperti Daniel tak akan suka makan makanan seperti ini tapi nyatanya pemuda itu adalah orang yang makan paling banyak di antara mereka bertiga.
"Maafkan tentang ini." bisik Evelyn, tersenyum canggung.
Gadis itu menatap Alvin tak enak, seolah ia mengerti dengan raut terkejut di wajah Alvin. Sejak tadi Evelyn memang memperhatikan Alvin yang tampak terperangah melihat Daniel yang makan banyak sekali.
Jujur saja, selama beberapa detik sebenarnya Evelyn juga ikut terkejut melihat Daniel makan sebanyak itu. Selama ini Evelyn tak pernah melihat Daniel makan dengan porsi besar. Apa mungkin makanan macam ini memang masuk dengan selera sahabatnya itu.
Alvin tak kunjung menjawab perkataan yang Evelyn lontarkan. Pemuda itu tampak tak fokus dengan apapun selain pada Daniel yang tengah makan dengan lahapnya.
Evelyn menyenggol Alvin dengan lengannya, "hei, Alvin."
"Ya?" kali ini Alvin tersadar dari lamunannya.
"Dia seperti orang kelaparan."
Alvin terkekeh lalu kembali menatap Daniel, "Saya rasa, sahabat nona sangat menyukai bubur ayam."
"Tapi ini agak memalukan untuk dilihat" bisik Evelyn lagi. "Kau tak masalah, kan?"
"Masalah dengan apa?"
"Dengan ini. Awalnya aku memintamu mentraktirku tapi nyatanya kau malah membayar bubur ayamnya sampai lima kali lipat seperti ini."
Alvin hanya menanggapi perkataan Evelyn barusan dengan tertawa kecil, "Tentu tidak masalah. Ini bahkan tidak ada apa-apanya dengan apa yang anda lakukan terakhir kali."
Evelyn tau jelas apa yang Alvin maksud. Pemuda itu sedang membahas saat Evelyn membayar semua porsi bubur ayam beberapa waktu lalu.
"Kenapa kau terus membahas itu. Itu bahkan sudah tak penting lagi sekarang."
"Aku hanya sedang mencari perbandingan untuk anda. Lima mangkuk bubur ayam sama sekali bukan masalah yang besar jika dibandingkan dengan apa yang anda lakukan."
Evelyn mengangguk paham. "Ya, oke. Kalau itu bukan masalah untukmu, aku juga tak masalah."
Daniel yang sejak tadi fokus pada makanan di depannya tampak melirik kedua manusia di hadapannya. Ia menaikkan sebelah alisnya saat melihat keduanya hanya berbisik-bisik tanpa menyentuh makanan mereka.
"Kalian tidak makan?"
Pertanyaan Daniel itu berhasil membuat Evelyn dan Alvin tersadar dan saling menjauh satu sama lain.
"Makan." ujar Alvin menunjukkan isi mangkuknya yang tinggal setengah.
Daniel melirik Evelyn seakan ingin jawaban dari gadis itu tapi Evelyn langsung memalingkan wajahnya.
"Serius, daritadi kuperhatikan kerjaan kalian hanya mengobol saja. Ck, ck, kalian sungguh tak tahu cara menikmati makanan enak."
Evelyn dan Alvin saling tatap kemudian tersenyum dan langsung menyantap kembali bubur ayam mereka.
Dan, di saat mereka sedang menikmati makanan masing-masing, Evelyn diam-diam melirik ke arah Alvin dan mendapati pemuda itu bukannya memakan makanannya, justru tengah melamun, mengaduk-aduk bubur ayam miliknya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Evelyn menyentuh lengan Alvin.
Sentuhan itu membuat Alvin tersentak. Ia menatap tangan Evelyn yang bertengger di lengannya kemudian Alvin kembali mendongak, menatap Evelyn kebingungan.
"Ya?"
"Barusan aku bertanya, ada apa?"
Alvin mengerutkan alisnya semakin merasa bingung saja, "Aku kenapa?"
"Kenapa kau malah balik bertanya padaku?"
"Aku tak apa-apa." Alvin nyengir, menggaruk tengkuknya. "Memangnya yang anda lihat aku kenapa?"
"Kau terlihat agak murung."
Alvin buru-buru menyentuh wajahnya sendiri setelah mendengar pernyataan Evelyn. "Benarkah begitu?"
"Ya, kau bukannya makan tapi hanya mengaduk-aduk makananmu. Aku bahkan sempat berpikir kalau kau sedang sakit."
"Saya sehat-sehat saja."
"Baguslah, lalu apa kau ada masalah?" tanya Evelyn lagi. Setelah menyadari perkataannya, ia lalu buru-buru mengibaskan tangannya "Maksudku, itu adalah urusan pribadimu. Tapi aku sedikit merasa penasaran dengan apa yang membuatmu tampak sedikit berbeda dari biasanya. Kau sungguh tak sakit?"
"Tidak nona. Aku baik-baik saja."
"Kau yakin, kan?"
"Saya yakin."
"Ah, tentu saja bukan, aku sama sekali tidak masalah dengan itu."
"Tidak apa-apa Vin. Katakan saja dengan jujur kalau kehadirannya memang mengganggu. Apa kau tau? Sebenarnya aku juga merasakannya. Kehadirannya benar-benar mengganggu janji makan siang kita."
"Tidak, nona. Sungguh, bukan karena itu."
Nyatanya memang bukan karena itu karena saat ini Alvin sedang memikirkan gosip tentang dirinya yang menyebar di kampus. Ia tiba-tiba saja sadar kalau itu bukanlah gosip biasa karena saat pulang kuliah tadi beberapa mahasiswa tampak menatapnya dengan tatapan aneh.
"Kalau bukan karena Daniel, bukankah itu artinya ada hal yang lain. Jadi itu berarti aku benar jika mengatakan kau memang sedang memikirkan sesuatu, kan?"
Alvin terhenyak, seolah baru saja terjebak oleh pertanyaan Evelyn barusan.
"Teman-teman!"
Keduanya menghentikan perkataan dan menoleh pada Daniel yang tiba-tiba saja bicara.
"Aku tahu kalian sedang berbincang berdua, tapi-"
"Ada apa?" tanya Evelyn menatap curiga.
"Bisakah aku pesan semangkuk lagi?" ujar Daniel sembari menunjukkan mangkuk kosong di tangannya.
__ADS_1
***
"Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang." ujar Alvin sambil melepas sabuk pengaman dari tubuhnya.
"Tidak masalah." jawab Evelyn dengan senyum di wajahnya.
"Maaf karena harus repot-repot mengantarkan aku pulang seperti ini."
"Jangan sungkan begitu. Ini sama sekali bukan masalah besar untukku, Alvin."
Daniel yang mendengar perkataan Evelyn hanya memasang raut wajah seolah mengejek perkataan Evelyn barusan.
"Ya Alvin, dia tak akan masalah jika hanya mengantarkan dirimu pulang. Pikirkan saja kalau itu aku. Apa kau tau? Dia bahkan rela jadi supir pribadimu hari ini.." celetuk Daniel yang menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil Evelyn.
Evelyn menoleh dan menatap Daniel tajam. "Tutup saja mulutmu itu, Daniel.."
Daniel hanya menanggapi dengan gedikan bahu. Ia tak merasa sedang bicara sembarangan. Itu adalah sebuh kenyataan. Evelyn tampak seperti budak cinta dimatanya sekarang.
Bayangkan saja, beberapa waktu lalu, Alvin minta di antar di sebuah halte bis, tapi Evelyn malah menawarkan untuk mengantarkan Alvin sampai ke halaman rumahnya. Evelyn mana pernah mau membuang waktu seperti ini, kecuali kau adalah seseorang yang istimewa.
Alvin memang sudah seperti seseorang yang amat istimewa bagi Evelyn. Pemuda itu punya sesuatu yang membuatnya begitu istimewa dimata Evelyn.
"Ngomong-ngomong, ini rumahmu?" tanya Evelyn menatap ke arah rumah Alvin.
Alvin turut menoleh keluar mobil, menatap pada rumahnya. "Benar."
Evelyn mengangguk paham.
"Rumahku hanya sebesar ruang tamu anda." ujar Alvin lalu menyatap Evelyn nyengir.
"Boleh kami masuk?" tanya Daniel sumringah tapi Evelyn langsung memelototkan mata padanya.
"Tidak, kami tak masuk. Kami akan pulang saja." ujar Evelyn setelahnya.
"Tapi tak masalah jika anda ingin mampir?"
"Ya! Tentu sa-"
"TIDAK!" pekik Evelyn kembali memotong ucapan Daniel. "Aku tahu kau akan bekerja sore ini. Pasti kau butuh waktu untuk istirahat, kan? Bekerja di klub itu butuh banyak istirahat karena harus bekerja sampai pagi."
Daniel menatap Evelyn dan Alvin bergantian kemudian mengangguk.
"Ah, benar, kau pegawai di klub malam itu. Aku hampir lupa." Daniel mengetuk-ngetuk dahinya.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kau masuklah dan istirahat. Tubuhmu itu akan terasa lebih baik setelah kau beristirahat nanti."
Alvin menganggukkkan kepalanya. "Ya, sekali lagi terimakasih atas tumpangannya."
"Ya, sama-sama." ujar Alvin dengan cepat turun dari mobil milik Evelyn.
Setelah memberikan salam terakhir, Evelyn dengan cepat mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Alvin.
__ADS_1
Dan setelah memastikan mobil Evelyn telah menghilang di tikungan gang, Alvin langsung memasuki rumahnya.
***