
"Ya ampun. Ini bukan saat yang tepat." pekik Alvin sambil menendang ban motornya.
Pemuda itu kini tengah berdiri lemas di tepi jalan raya. Matanya memandangi motornya dengan raut kesal. Ya, ia sangat kesal. Bayangkan saja, pagi ini ia harus melakukan tugas presentasi di depan kelas tapi motornya malah bocor seperti ini.
Beberapa kali ia mencoba menyetop taksi, tapi tampaknya semua taksi sedang terisi oleh penumpang lain. Kenapa segalanya seolah dipersulit? Seperti hari ini memang ditakdirkan untuk menjadi hari sial untuknya.
"Aku harus menghubungi Dave untuk menumpang dengannya. Semoga saja dia belum berangkat." ujar Alvin dengan buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam tas ranselnya.
Alvin menghela saat Dave tak kunjung mengangkat telepon darinya.
"Kenapa dia tak mengangkat telepon dariku? Apa dia sudah berangkat kuliah?" Alvin bergumam.
Ia diam, berpikir siapa lagi yang bisa ia mintai bantuan. Sejujurnya ia tak dekat dengan banyak orang, bahkan di kampus ia hanya dekat dengan Dave seorang.
Tin! Tin!
Suara klakson terdengar di telinganya. Alvin yang sedang sibuk memainkan ponselnya langsung menoleh ke sumber suara.
Pemuda itu mengerutkan alisnya saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di belakang motornya. Ia melihat ke sekitarnya
Ia menatap heran pada mobil itu. Alvin tak tahu kenapa mobil itu berhenti, mobilnya bahkan tak menutupi jalan dan tak mengganggu arus lalu lintas karena jalanan itu adalah jalanan yang sepi.
Wajahnya berubah dingin saat jendela mobil di turunkan.
"Karina?"
"Ada masalah dengan motormu?"
Alvin tak menjawab. Ia masih berusaha menghubungi Dave.
Karina turun dari mobilnya dan menyandar pada badan mobil, menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Kau baik-baik saja? Apa ada yang bisa di bantu?"
"Bukan urusanmu." balas Alvin ketus.
Alih-alih tersinggung dengan perkataan Alvin, Karina malah tersenyum. Ia berjalan mendekat pada Alvin yang berdiri di trotoar.
Karina menatap motor Alvin beberapa saat sebelum beralih kembali pada pemuda itu.
"Sepertinya ban motormu bocor."
"Kau bisa melihatnya sendiri." ujar Alvin dingin.
"Baiklah," Jawab Karina santai.
"Kau bisa menumpang padaku kalau mau."
"Tidak perlu. Aku sedang menunggu Dave." ujar Alvin kembali mencoba menghubungi sahabatnya itu.
Karina melihat pada jam di tangannya. "Ini sudah siang. Kampus kita juga masih jauh. Kupikir kau akan terlambat jika menunggu Dave datang. "
"Aku bisa naik taksi."
"Ck, apalagi mencari taksi. Tak akan ada taksi kosong pada jam segini. Kupikir kau akan terlambat."
__ADS_1
"Ya, terima kasih sudah memberitahuku itu."
Karina terkekeh.
"Bagaimana? Kau ikut denganku saja?"
"Tidak, aku akan cari ojek saja."
"Ojek?" Karina kembali terkekeh, "ini bahkan bukan tempat yang sering di lalui oleh ojek."
"Pergilah saja, Karina! Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Aku tak akan meninggalkanmu dengan keadaan begini."
"Keadaan begini, apa maksudmu?"
"Kau sedang kesusahan. Tidak mungkin aku meninggalkanmu. Ayolah, akan lebih baik kalau kau ikut denganku."
Alvin menatap Karina ragu-ragu. Ia ingin menolak gadis itu tapi tugas kuliahnya juga penting.
"Bagaimana? Mau, kan?"
"Baiklah," Alvin pasrah.
Karina tersenyum, ia dengan cepat berjalan kembali menuju mobilnya. Membuka pintu mobil dan mempersilahkan Alvin untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Kita sudah sampai." kata Karina memberhentikan mobilnya di area parkir kampus.
"Ya, terimakasih tumpangannya." ujar Alvin buru-buru membuka mobilnya namun di tahan oleh Karina.
"Aku bisa mengantarkanmu pulang nanti siang." ujar Karina.
Setelah itu Alvin dan Karina turun bersamaan dari mobil milik Karina. Alvin bisa melihat banyak mahasiswa melihat ke arah mereka dengan tatapan heran.
Alvin paham.
Semua orang tahu kalau Alvin dan Karina sudah putus beberapa waktu lalu. Itu sebabnya mereka pasti terkejut melihat kebersamaan mereka. Tapi Alvin kan tak punya kewajiban untuk mengklarifikasi apa-apa pada mereka.
Dan tepat saat itu juga, Alvin melihat Steve yang awalnya tengah mengobrol dengan beberapa temannya di dekat area parkir,juga tengah melihat pada mereka.
Ah, bukan mereka, lebih tepatnya adalah Steve tengah menatap padanya dengan tatapan tajamnya.
"Steve pasti salah paham." gumam Alvin memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin bertemu pandang dengan lelaki itu.
Steve pasti berpikir kalau ia tengah menggoda Karina sekarang. Pemuda itu selalu saja salah paham mengenai dirinya.
Alvin bisa melihat Steve yang tengah bangkit dari posisinya dan dengan cepat melangkah, mendekat pada Karina.
"Sayang?"
Karina tersenyum, "Hai, Steve."
"Kenapa kau bisa datang bersama dengan pemuda bodòh ini?" kata Steve merangkul pundak Karina.
Karina menatap Steve lalu beralih lagi pada Alvin yang tengah berdiri dengan kepala menunduk, pemuda itu tampak canggung di posisinya.
__ADS_1
"Aku harus pergi. Terima kasih atas tumpangannya." ujar Alvin dengan cepat melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
Mengingat jika beberapa waktu lalu Steve juga meminta pada dirinya untuk menjauh dari Karina, membuatnya tak ingin berurusan lebih lama dengan pria berbadan besar seperti Steve.
Alvin tak ingin cari gara-gara.
Steve mendengar perkataan Alvin itu tapi ia hanya diam sembari mengangkat alisnya. Steve seolah tak ingin menanggapi apapun setelah mendengar Alvin bicara. Ia tak peduli dengan itu sekarang. Ia lebih tertarik melihat raut wajah Karina.
Kekasihnya itu hanya diam sambil menatap kepergian Alvin. Dan jujur saja, tatapan Karina itu membuat hati Steve terbakar cemburu.
Karina sendiri masih menatap kepergian Alvin dalam diam. Gadis itu seolah tak mendengar pertanyaan yang Steve lontarkan kepadanya beberapa saat lalu.
Steve menghela napas, mencoba mengontrol emosinya saat ini. Meskipun sejujurnya hatinya begitu panas.
"Sayang?"
Karina tersadar dan menoleh pada Steve. "Ya?"
"Kenapa tak dijawab?"
"Menjawab apa?" Karina memandang Steve dengan tatapan bingung.
"Aku sedang bicara padamu sejak tadi, kau tak dengar pertanyaanku?"
Karina mengusap wajahnya, "Ya ampun, maaf, sayang. Aku tak fokus tadi."
Steve tersenyum miris. Ia tahu alasan Karina sampai tak fokus dengan dirinya adalah karena ia tengah Alvin. Ini sungguh menjengkelkan bagi Steve, melihat kekasihnya masih memiliki rasa pada mantan kekasihnya.
"Aku bertanya, kenapa Alvin bisa datang ke kampus bersamamu?"
"Ah masalah itu. Aku, maksudku Alvin, ban motornya tadi bocor, jadi aku-"
"Kau memberinya tumpangan, begitu?" tebak Steve.
Karina menganggukkan kepalanya perlahan.
"Ya, semacam itu." Karina lalu menoleh pada Steve, menatap tak enak pada kekasihnya. "Aku hanya berniat membantunya. Kau tak masalah kan sayang?"
Steve diam beberapa saat. Pemuda itu menatap punggung Alvin dengan tajam. Tangannya tampak mengepal kuat.
Seingatnya kemarin ia sudah menyuruh Alvin untuk menjauh dari Karina, apapun itu alasannya. Ia juga tak peduli entah siapapun yang mendekati lebih dahulu.
"Sayang?" panggil Karina menyadari Steve tak kunjung menjawab.
"Ya?"
"Kau tak masalah kan?"
"Oh, ya. Tentu. Aku tak masalah sama sekali." ujar Steve tersenyum. "Tapi bukankah kau membencinya?"
"Aku baru menyadari kalau aku sama sekali tak membencinya. Aku bahkan menyesal sudah melakukan itu padanya."
"Begitukah?"
"Ya, aku pikir aku juga perlu minta maaf padanya untuk kesalahanku." ujar Karina tersenyum.
__ADS_1
Steve balas tersenyum. Namun tanpa Karina sadari, senyum di wajah Steve berubah menjadi raut kesal.
***